Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri

Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri
Petahana
Stéphane Séjourné

sejak 1 Desember 2024
Komisi Eropa
GelarMr. Komisaris
AtasanPresiden Komisi Eropa
Dicalonkan olehNegara anggota
sesuai dengan Presiden
Ditunjuk olehParlemen
disumpah oleh Dewan
Masa jabatan5 tahun
Dibentuk1958
Pejabat pertamaPiero Malvestiti
Gaji19,909 perbulan
Situs webec.europa.eu
Ucapan selamat Christophe Grudler (cuplikan), di Kamar Dagang dan Industri (CCI), Belfort, 18 Januari 2024

Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri (bahasa inggris: The Commissioner for Prosperity and Industrial Strategy) adalah anggota Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas perumusan dan pelaksanaan kebijakan industri, inovasi, dan strategi ekonomi jangka panjang Uni Eropa.[1] Portofolio ini berfokus pada peningkatan daya saing industri Eropa, penguatan kemandirian strategis, serta pengembangan sektor industri yang berkelanjutan dan inovatif.[2] Komisioner memiliki peran penting dalam mengkoordinasikan strategi lintas sektor, termasuk perdagangan, energi, pasar tunggal eropa, dan penelitian, untuk memastikan kebijakan industri selaras dengan tujuan ekonomi, sosial, dan lingkungan kawasan.[3]

Portofolio ini juga berperan dalam menghadapi tantangan global, seperti krisis ekonomi, pandemi, ketegangan geopolitik, dan persaingan teknologi internasional.[4] Melalui inisiatif strategis, dukungan penelitian dan inovasi, serta penguatan rantai pasok industri, Komisioner bertujuan memastikan kontinuitas produksi, stabilitas ekonomi, dan pertumbuhan industri yang resiliensi.[5] Peran ini menjadi pusat dalam upaya Uni Eropa untuk membangun industri yang kompetitif, berkelanjutan, dan adaptif terhadap perubahan global.[6]

Sejarah dan latar belakang

Uni Eropa
Bendera Uni Eropa

Artikel ini adalah bagian dari seri:
Politik dan pemerintahan
Uni Eropa

Pembentukan jabatan Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri merupakan respons terhadap kebutuhan Uni Eropa untuk memperkuat daya saing industri, keamanan ekonomi, dan kemandirian strategis kawasan di tengah dinamika global yang cepat berubah. Sejarahnya dapat ditelusuri melalui beberapa fase penting:

Krisis dan Tantangan Global Awal Abad ke-21

Sejak awal abad ke-21, Uni Eropa menghadapi berbagai tantangan global yang memengaruhi sektor industri dan strategi ekonomi kawasan.[7] Persaingan ekonomi internasional semakin ketat, didorong oleh pertumbuhan pesat negara-negara non-Eropa, perubahan teknologi, dan dinamika geopolitik yang kompleks.[8] Situasi ini menuntut adanya kebijakan industri yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berorientasi jangka panjang.[5] Krisis ekonomi global 2008–2009 menjadi salah satu titik penting yang menyoroti kerentanan industri Eropa.[9] Perlambatan ekonomi secara mendadak memengaruhi permintaan, produksi, dan rantai pasok di berbagai sektor. Krisis ini menegaskan perlunya strategi industri yang mampu menjaga daya saing, fleksibilitas, dan ketahanan ekonomi, serta memperkuat koordinasi kebijakan di tingkat Uni Eropa.[10]

Selain itu, perubahan teknologi yang cepat menuntut modernisasi sektor industri Eropa, termasuk adopsi digitalisasi, otomatisasi, dan teknologi tinggi.[11] Tantangan ini menekankan pentingnya investasi dalam inovasi, penelitian, dan pengembangan kapasitas produksi agar industri Eropa tetap relevan dalam ekonomi global.[12] Krisis energi, ketegangan geopolitik, dan risiko pasar global pada awal abad ke-21 juga memicu kebutuhan untuk diversifikasi sumber energi, penguatan rantai pasok strategis, dan kebijakan yang mendukung kemandirian industri.[13] Keseluruhan dinamika ini menjadi latar belakang penting bagi pembentukan portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri, yang bertujuan meningkatkan daya saing, kemandirian, dan keberlanjutan sektor industri Uni Eropa.[14]

Pandemi COVID-19 (2020–2021)

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia pada 2020 hingga 2021 memberikan dampak signifikan terhadap sektor industri dan ekonomi Uni Eropa.[15] Krisis ini mengungkap kerentanan rantai pasok global, terutama pada pasokan barang kritis seperti alat kesehatan, obat-obatan, peralatan elektronika, dan bahan baku industri. Ketergantungan yang tinggi terhadap impor menyoroti perlunya kemandirian strategis dalam produksi barang penting. Selama pandemi, banyak sektor industri mengalami gangguan produksi dan distribusi akibat pembatasan mobilitas, penutupan pabrik, dan penurunan permintaan.[16] Hal ini mendorong percepatan digitalisasi dan otomatisasi dalam industri, agar proses produksi dapat berlanjut dengan efisien meskipun terjadi pembatasan fisik.[15]

Selain itu, pandemi mendorong Uni Eropa untuk memperkuat kapasitas produksi lokal, termasuk pengembangan perusahaan farmasi dan alat kesehatan strategis.[17] Kebijakan stimulus ekonomi dan dukungan terhadap penelitian serta inovasi juga diintensifkan untuk memastikan kontinuitas produksi, mempercepat pengembangan teknologi baru, dan mempersiapkan industri menghadapi potensi krisis serupa di masa depan.[18] Pandemi COVID-19 menjadi pemicu bagi pembentukan kebijakan industri yang lebih resiliensi, menekankan pentingnya koordinasi antarnegara anggota dan integrasi antara sektor publik dan swasta. Pengalaman ini memberikan dasar bagi strategi Uni Eropa untuk meningkatkan kemandirian, daya saing, dan ketahanan industri dalam menghadapi tantangan global.[19]

Krisis Energi dan Ketegangan Geopolitik (2022)

Pada 2022, Uni Eropa menghadapi krisis energi yang signifikan akibat ketegangan geopolitik, terutama konflik Rusia–Ukraina.[20] Konflik ini menyebabkan gangguan pasokan gas, minyak, dan bahan baku industri penting, yang berdampak langsung pada biaya produksi, stabilitas industri, dan inflasi di seluruh kawasan.[21] Krisis ini menekankan perlunya diversifikasi sumber energi, pengembangan energi terbarukan, dan peningkatan efisiensi energi di sektor industri.[20] Uni Eropa mempercepat implementasi kebijakan energi yang mendukung kemandirian strategis, termasuk pembangunan infrastruktur energi alternatif, peningkatan kapasitas penyimpanan, dan pemanfaatan energi ramah lingkungan secara lebih luas.[22]

Selain itu, ketegangan geopolitik mendorong perlunya strategi industri yang mampu menahan guncangan eksternal dan menjaga kontinuitas produksi sektor-sektor strategis.[8] Situasi ini juga memicu pengembangan rantai pasok internal yang lebih resiliensi, sehingga Uni Eropa dapat mempertahankan stabilitas ekonomi dan mengurangi risiko ketergantungan pada pemasok dari luar kawasan.[23] Krisis energi dan ketegangan geopolitik 2022 menjadi salah satu faktor kunci dalam pembentukan portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri, yang bertujuan memperkuat kemandirian, daya saing, dan ketahanan industri Uni Eropa dalam menghadapi tantangan global.[24]

Persaingan Teknologi Global

Uni Eropa menghadapi persaingan teknologi global yang semakin ketat sejak awal abad ke-21, dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, China, dan Jepang menguasai sektor teknologi tinggi, termasuk semikonduktor, kecerdasan buatan, robotik, dan energi terbarukan.[25] Persaingan ini memengaruhi daya saing industri Eropa dan menuntut strategi yang lebih agresif dalam pengembangan teknologi domestik. Persaingan teknologi global mendorong Uni Eropa untuk mempercepat investasi dalam penelitian dan pengembangan, membangun ekosistem inovasi, dan mendukung kolaborasi antara universitas, lembaga penelitian, dan industri.[26] Upaya ini bertujuan untuk menciptakan teknologi baru yang dapat digunakan secara luas di sektor strategis, mulai dari manufaktur hingga layanan digital.

Selain itu, persaingan teknologi menekankan perlunya kemandirian strategis dalam rantai pasok kritis, seperti produksi semikonduktor, baterai, dan perangkat lunak.[27] Uni Eropa meluncurkan berbagai inisiatif, termasuk European Chips Act dan program Horizon Europe, untuk memastikan kawasan ini dapat bersaing secara efektif dan mandiri di pasar teknologi global.[28]

Persaingan ini juga memicu adopsi digitalisasi dan otomatisasi dalam industri Eropa, meningkatkan efisiensi produksi, dan memperkuat kapasitas inovasi. Strategi ini tidak hanya menekankan daya saing ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan kesiapan menghadapi perubahan teknologi di masa depan.[9]

Upaya Koordinasi Kebijakan di Tingkat Uni Eropa

Uni Eropa telah melakukan berbagai upaya koordinasi kebijakan untuk menghadapi tantangan industri dan ekonomi global secara kolektif.[29] Koordinasi ini mencakup pengintegrasian strategi industri, perdagangan, energi, dan riset, sehingga kebijakan yang diterapkan di seluruh negara anggota selaras dan efektif.[30] Koordinasi antarnegara anggota memungkinkan Uni Eropa untuk merumuskan standar dan regulasi industri yang seragam, mengurangi perbedaan prosedur nasional, serta memperkuat pasar tunggal.[31] Hal ini mempermudah perusahaan Eropa untuk bersaing secara adil, meningkatkan efisiensi produksi, dan mendorong inovasi lintas sektor.

Selain itu, koordinasi kebijakan juga mencakup penyusunan strategi investasi dan pendanaan untuk sektor industri prioritas.[32] Uni Eropa memastikan bahwa alokasi dana, insentif fiskal, dan dukungan penelitian diarahkan secara optimal untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat rantai pasok strategis, dan mendorong teknologi baru.[33]

Upaya ini juga melibatkan kerja sama lintas portofolio di Komisi Eropa, termasuk perdagangan, pasar internal, energi, dan riset, untuk memastikan integrasi kebijakan yang holistik.[34] Dengan demikian, Uni Eropa dapat menghadapi krisis global, fluktuasi pasar, dan disrupsi teknologi dengan pendekatan kolektif yang lebih tangguh.

Secara keseluruhan, koordinasi kebijakan di tingkat Uni Eropa menjadi fondasi bagi pembentukan strategi industri yang kohesif, mendukung kemandirian strategis, dan memperkuat daya saing industri kawasan di tengah dinamika global.[35]

Inisiatif Uni Eropa Terkait Strategi Industri

Uni Eropa telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis untuk memperkuat daya saing industri, mendorong inovasi, dan meningkatkan kemandirian strategis kawasan.[36] Inisiatif-inisiatif ini menjadi dasar bagi perumusan kebijakan dan portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri:

  • European Green Deal (2019) menjadi tonggak utama transformasi industri Eropa menuju ekonomi rendah karbon.[37] Inisiatif ini menetapkan target netralitas karbon pada 2050, mendorong penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, dan penerapan teknologi ramah lingkungan di seluruh sektor industri.[38] Tujuannya adalah menciptakan pertumbuhan industri yang sejalan dengan keberlanjutan lingkungan dan iklim.[38]
  • EU Industrial Strategy (2020) merumuskan peta jalan untuk meningkatkan daya saing industri Eropa di pasar global.[39] Strategi ini menekankan digitalisasi industri, pengembangan sektor strategis, serta perlindungan terhadap gangguan rantai pasok global.[40] Inisiatif ini juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan lintas negara anggota untuk membangun ekosistem industri yang kohesif dan tangguh.[41]
  • Horizon Europe (2021) merupakan program riset dan inovasi yang mendukung pengembangan teknologi baru dan inovasi di sektor industri.[42] Program ini memfasilitasi kolaborasi antara perusahaan, universitas, dan lembaga penelitian, sehingga meningkatkan kapasitas teknologi dan mempercepat penerapan inovasi dalam industri strategis.[42]
  • Critical Raw Materials Act (2022) dirancang untuk menjamin pasokan bahan baku kritis bagi industri Eropa, termasuk logam tanah jarang, dan material penting lainnya.[43] Inisiatif ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor dari luar Uni Eropa, meningkatkan kemandirian industri, dan mendukung stabilitas rantai pasok strategis.[44]
  • European Chips Act (2023) menargetkan penguatan kapasitas produksi semikonduktor di Eropa, mengingat teknologi ini menjadi komponen penting dalam industri digital, otomotif, dan elektronika.[45] Inisiatif ini mendorong investasi, penelitian, dan pembangunan fasilitas produksi, sehingga Uni Eropa dapat bersaing dalam industri teknologi tinggi global.[33]

Secara keseluruhan, inisiatif-inisiatif tersebut mencerminkan upaya Uni Eropa untuk mengintegrasikan pertumbuhan industri, inovasi teknologi, dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus meningkatkan kemandirian strategis kawasan terhadap tantangan global.[46]

Tugas dan Tanggung Jawab

Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri memiliki tanggung jawab yang luas, antara lain:

Merumuskan strategi industri Eropa untuk daya saing global

Komisioner bertugas mengembangkan kebijakan industri yang memungkinkan Uni Eropa mempertahankan posisi kompetitif di pasar global. Ini mencakup identifikasi sektor strategis, peta jalan teknologi, dan dukungan untuk pengembangan produk dan inovasi industri.[47]

Mengarahkan pertumbuhan berkelanjutan

Strategi industri harus selaras dengan tujuan lingkungan dan sosial, termasuk transisi energi bersih, pengurangan emisi karbon, serta adopsi teknologi ramah lingkungan di sektor manufaktur dan transportasi.[48]

Memperkuat kemandirian strategis

Komisioner mengurangi ketergantungan Uni Eropa pada impor bahan baku kritis dan teknologi tinggi melalui pengembangan rantai pasok internal, investasi di sektor strategis, dan dukungan bagi perusahaan lokal.[49]

Mengawasi implementasi kebijakan Pasar Tunggal

Jabatan ini memastikan standar, regulasi, dan program industri diterapkan secara seragam di semua negara anggota, sehingga perusahaan Eropa dapat bersaing secara adil dan konsisten di pasar tunggal.[50]

Mengkoordinasikan program riset dan inovasi industri

Komisioner bertanggung jawab atas program riset dan pengembangan teknologi tinggi, termasuk Horizon Europe, untuk mendukung pengembangan industri baru, inovasi teknologi, dan transfer pengetahuan antara akademisi dan industri.[51]

Membangun kemitraan industri lintas negara anggota

Komisioner memfasilitasi kolaborasi antar perusahaan, lembaga penelitian, dan pemerintah negara anggota, untuk proyek industri strategis yang meningkatkan efisiensi, kapasitas produksi, dan inovasi.[52]

Menjalin hubungan internasional

Komisioner bertugas menjalin kerja sama global dengan negara-negara mitra, memastikan perdagangan adil, kerjasama teknologi, dan kolaborasi inovasi yang selaras dengan kepentingan industri Eropa.[53]

Lingkup Kerja

Portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri mencakup sejumlah bidang kebijakan yang saling terkait dan berfokus pada peningkatan daya saing, inovasi, dan kemandirian strategis Uni Eropa. Lingkup kerja ini meliputi:

Strategi Industri Uni Eropa

Komisioner bertanggung jawab merumuskan strategi industri jangka panjang yang mengarahkan perkembangan sektor-sektor strategis, termasuk manufaktur, energi, transportasi, dan teknologi tinggi.[54] Strategi ini tidak hanya menekankan daya saing ekonomi, tetapi juga keberlanjutan dan inovasi teknologi. Peta jalan industri yang disusun mencakup target kapasitas produksi, pengembangan teknologi baru, dan mekanisme untuk menghadapi gangguan rantai pasok.

Pasar Tunggal dan Daya Saing Global

Lingkup ini mencakup pengawasan penerapan regulasi dan standar di seluruh negara anggota, agar produk dan jasa Eropa dapat bersaing secara adil dan efektif. Komisioner berperan memastikan integrasi pasar tunggal berjalan lancar, mendorong ekspor, memfasilitasi akses ke pasar global, dan memperkuat posisi industri Eropa dalam perdagangan internasional.[55]

Kebijakan Energi dan Bahan Baku Strategis

Komisioner memantau keamanan pasokan energi dan bahan baku yang menjadi fondasi industri strategis, termasuk semikonduktor, baterai, tanah jarang, dan logam kritis. Lingkup ini mencakup upaya diversifikasi sumber energi, peningkatan kapasitas energi terbarukan, serta pengembangan rantai pasok internal untuk mengurangi ketergantungan pada negara non-UE dan meningkatkan ketahanan industri.[56]

Transformasi Digital Industri

Digitalisasi industri menjadi fokus utama, termasuk penerapan teknologi informasi, otomasi, kecerdasan buatan, dan industri cerdas. Komisioner mengembangkan kebijakan yang mendukung adopsi teknologi digital di sektor manufaktur dan jasa, sehingga perusahaan Eropa dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan inovasi produk. Transformasi digital juga diarahkan untuk memperkuat daya saing global dan keberlanjutan industri.[57]

Riset, Inovasi, dan Teknologi Baru

Lingkup kerja ini mencakup pengelolaan program riset dan inovasi seperti Horizon Europe, serta dukungan bagi pengembangan startup teknologi dan pusat penelitian. Komisioner memastikan kolaborasi antara akademisi, perusahaan, dan lembaga riset berjalan efektif untuk menciptakan teknologi baru yang mendukung pertumbuhan industri strategis.[27]

Kebijakan Investasi dan Pendanaan Industri

Komisioner bertanggung jawab menyusun mekanisme investasi dan pendanaan bagi sektor industri prioritas, termasuk insentif fiskal dan subsidi untuk inovasi. Lingkup ini juga mencakup pengawasan penggunaan dana Uni Eropa untuk proyek industri, memfasilitasi akses modal bagi perusahaan kecil dan menengah, serta memastikan investasi mendukung target kemandirian strategis dan keberlanjutan.[58]

Secara keseluruhan, lingkup kerja Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri meliputi pengembangan kebijakan yang bersifat strategis, lintas sektor, dan lintas negara anggota. Tujuannya adalah menjaga daya saing industri, memperkuat kemandirian strategis, mendorong inovasi, dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di seluruh Uni Eropa.[59]

Manfaat

Portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri memberikan berbagai manfaat bagi Uni Eropa dan negara anggota, antara lain:

  • Stabilitas ekonomi jangka panjang: Dengan strategi industri yang terencana, Uni Eropa mampu menjaga stabilitas sektor industri, mengurangi volatilitas pasar, dan memastikan keberlanjutan produksi barang dan jasa strategis. Hal ini penting untuk menghadapi krisis ekonomi dan perubahan permintaan global.[60]
  • Kemandirian strategis: Kebijakan yang memfokuskan pada pengembangan kapasitas produksi internal dan rantai pasok lokal mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku dan teknologi kritis, meningkatkan ketahanan ekonomi kawasan terhadap guncangan eksternal.[61]
  • Penguatan posisi global: Strategi industri yang terkoordinasi meningkatkan daya saing produk Eropa di pasar internasional, memperkuat posisi Uni Eropa dalam negosiasi perdagangan, dan memungkinkan integrasi yang lebih efektif dalam rantai pasok global.[62]
  • Penciptaan lapangan kerja hijau dan berkualitas: Transformasi industri menuju energi bersih, digitalisasi, dan teknologi tinggi membuka peluang kerja baru di sektor strategis, sekaligus mendorong pengembangan keterampilan pekerja untuk menghadapi ekonomi masa depan.[63]
  • Kolaborasi inovasi antarnegara anggota: Dukungan terhadap proyek riset dan pengembangan menciptakan ekosistem inovasi yang melibatkan perusahaan, lembaga penelitian, dan pemerintah, meningkatkan kapasitas teknologi dan mempercepat penerapan inovasi di industri strategis.[64]

Tindakan Pengendalian

Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri menerapkan regulasi industri yang seragam di seluruh negara anggota untuk memastikan perusahaan Eropa beroperasi secara adil dan kompetitif. Pemantauan rantai pasok strategis dilakukan secara berkelanjutan untuk mengidentifikasi potensi gangguan dan memungkinkan tindakan mitigasi dilaksanakan lebih awal.[65]

Penyusunan peta jalan industri menjadi salah satu alat pengendalian strategis, menetapkan target, prioritas, dan strategi pengembangan sektor industri strategis sehingga tujuan kemandirian dan daya saing dapat tercapai secara efektif. Dukungan pendanaan riset dan investasi diarahkan kepada sektor prioritas dan perusahaan kecil maupun menengah, memungkinkan pengembangan kapasitas produksi, inovasi, dan adopsi teknologi baru.[2]

Selain itu, koordinasi dengan pemerintah negara anggota dan pemangku kepentingan industri memastikan implementasi kebijakan industri berjalan lancar, proyek strategis dapat diselesaikan sesuai rencana, dan dampak kebijakan terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan dapat dimaksimalkan. Pendekatan ini membantu menjaga stabilitas industri, meningkatkan daya saing, serta memperkuat kemandirian strategis Uni Eropa.[1]

Peringatan Dini

Fungsi peringatan dini menjadi salah satu aspek penting dalam portofolio Komisioner Eropa untuk Kemakmuran dan Strategi Industri. Sistem ini dirancang untuk memantau dan mengantisipasi potensi gangguan yang dapat mempengaruhi sektor industri Uni Eropa serta ekonomi kawasan secara keseluruhan.[66]

Pemantauan pasokan bahan baku kritis, termasuk logam tanah jarang, semikonduktor, dan produk strategis lainnya, dilakukan secara berkelanjutan. Hal ini bertujuan memastikan produksi industri tidak terganggu oleh krisis global, lonjakan permintaan mendadak, atau ketergantungan pada pemasok eksternal.[67]

Selain itu, analisis risiko harga energi, termasuk gas, listrik, dan bahan bakar, menjadi fokus penting. Komisioner melakukan evaluasi terhadap ketegangan geopolitik dan fluktuasi pasar yang dapat memengaruhi biaya produksi dan stabilitas industri. Informasi ini memungkinkan Uni Eropa merancang langkah-langkah mitigasi secara proaktif sebelum risiko menjadi ancaman serius.[68]

Pemodelan skenario krisis industri dan ekonomi juga diterapkan untuk mengantisipasi gangguan potensial, seperti perubahan teknologi mendadak, bencana alam, atau disrupsi rantai pasok global. Melalui pendekatan ini, kebijakan industri dapat disesuaikan secara cepat, menjaga stabilitas sektor industri, dan memastikan kesiapan Uni Eropa menghadapi tantangan eksternal.[69]

Selain pemantauan teknis, sistem peringatan dini ini juga mencakup koordinasi dengan negara anggota dan pemangku kepentingan industri, sehingga informasi kritis dapat segera ditindaklanjuti.[70] Dengan demikian, peringatan dini tidak hanya bersifat prediktif, tetapi juga menjadi alat pengambil keputusan strategis untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian industri Uni Eropa.[71]

Kritik dan Tantangan

Meskipun portofolio ini memiliki tujuan strategis yang jelas, terdapat sejumlah kritik dan tantangan yang dihadapi dalam implementasinya.[72] Salah satu isu utama adalah potensi tumpang tindih kewenangan dengan Komisioner Perdagangan, Pasar tuggal eropa, dan Riset & Inovasi, yang dapat mempersulit koordinasi kebijakan dan memperlambat pengambilan keputusan.[73]

Fokus pada kemandirian strategis juga menimbulkan risiko proteksionisme, seperti pembatasan impor atau preferensi bagi perusahaan Eropa, yang bisa menimbulkan ketegangan dengan mitra dagang global.[74] Selain itu, terdapat kesenjangan kemampuan antarnegara anggota; negara dengan basis industri kuat lebih mudah memanfaatkan program Uni Eropa dibandingkan negara dengan industri kecil atau berkembang, sehingga mekanisme subsidi atau dukungan tambahan menjadi penting.[75]

Pendanaan yang terbatas menjadi tantangan lain, karena transformasi industri hijau, digital, dan teknologi tinggi membutuhkan investasi besar, sementara anggaran Uni Eropa dan perbedaan prioritas politik antarnegara anggota dapat membatasi implementasi program strategis.[76] Resistensi politik juga muncul dari beberapa negara anggota yang khawatir kehilangan kedaulatan ekonomi akibat kebijakan industri yang terlalu terpusat di tingkat UE.[77]

Selain itu, Uni Eropa masih bergantung pada teknologi tinggi dari negara lain, termasuk semikonduktor, baterai, dan perangkat lunak, sehingga pencapaian kemandirian strategis memerlukan waktu, investasi, dan pengembangan kapasitas internal yang berkelanjutan.[78] Kompleksitas regulasi dan birokrasi, termasuk perbedaan standar nasional dan prosedur perizinan, juga dapat memperlambat pembangunan proyek industri strategis dan menambah biaya implementasi.[79]

Daftar Komisioner

No. Nama Negara Masa jabatan Komisioner
1 Piero Malvestiti  Italia 1958–1959 Komisi Hallstein I
2 Giuseppe Caron  Italia 1959–1963 Komisi I & II Hallstein
3 Guido Colonna di Paliano  Italia 1964–1967 Komisi Hallstein II
4 Hans von der Groeben  Jerman Barat 1967–1970 Komisi Rey
5 Wilhelm Haferkamp  Jerman Barat 1970–1973 Komisi Malfatti, Komisi Mansholt
6 Finn Olav Gundelach  Denmark 1973–1977 Komisi Ortoli
7 Étienne Davignon  Belgia 1977–1981 Komisi Jenkins
8 Karl-Heinz Narjes  Jerman Barat 1981–1985 Komisi Thorn
9 Lord Cockfield  Britania Raya 1985–1989 Komisi Delors I
10 Martin Bangemann  Jerman 1989–1994 Komisi Delors II & III
11 Raniero Vanni d'Archirafi  Italia 1992–1994 Komisi Delor III
12 Mario Monti  Italia 1994–1999 Komisi Santer
13 Frits Bolkestein  Belanda 1999–2004 Komisi Prodi
14 Charlie McCreevy  Irlandia 2004–2010 Komisi Barroso I
15 Michel Barnier  Prancis 2010–2014 Komisi Barroso II
16 Elżbieta Bieńkowska  Polandia 2014–2019 Komisi Juncker
17 Thierry Breton  Prancis 2019–2024 Von der Leyen Komisi I
18 Stéphane Séjourné  Prancis Since 2024 Von der Leyen Komisi II

Galeri

Lihat pula

Pranala luar

Referensi

  1. ^ a b Vice-President Séjourné, Executive (2025-07-16). "Stéphane Séjourné - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  2. ^ a b Vice-President Séjourné, Executive (1 Desember 2024). "Press statement by President von der Leyen on the next College of Commissioners". European Commission - European Commission. Diakses tanggal 2025-09-05.
  3. ^ Task Force, Clean Air (Oktober 2024). "Relationship Reset: EU-UK Collaboration on Climate and Energy". Clean Air Task Force (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  4. ^ Müftüler-Bac, Meltem; Aydın-Düzgit, Senem; Uzun-Teker, Ezgi (2024-07-02). "The EU's global strategic partner(ship): a tool for the maturation of European foreign policy?". European Security. 33 (3): 426–448. ISSN 0966-2839.
  5. ^ a b der Leyen, Ursula von (2025-09-04). "Ekaterina Zaharieva - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  6. ^ Fredrik Erixon, Andrea Dugo (Juli 2024). "A Strategy for a Competitive Europe: Boosting R&D, Unleashing Investment, and Reducing Regulatory Burdens |". ecipe.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-05.
  7. ^ Andrea Dugo, Fredrik Erixon (2020). Dahl, Arthur L.; Lopez-Claros, Augusto; Groff, Maja (ed.). The Challenges of the 21st Century. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 3–29. ISBN 978-1-108-47696-6. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ a b Santos, Edmarverson A. (2024-05-26). "Geopolitics in the 21st Century". Diplomacy and Law (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  9. ^ a b Australia, Tim Reserve Bank of (2025-07-10). "The Global Financial Crisis | Explainer | Education". Reserve Bank of Australia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  10. ^ Australia, Tim Reserve Bank Of (2025-07-24). "A new governance framework to safeguard the European Green Deal". rba.gov.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  11. ^ Alojaiman, Bader (2023-04-24). "Technological Modernizations in the Industry 5.0 Era: A Descriptive Analysis and Future Research Directions". Processes (dalam bahasa Inggris). 11 (5): 1318. ISSN 2227-9717.
  12. ^ Upadhyay, Arvind; Balodi, Krishna Chandra; Naz, Farheen; Di Nardo, Mario; Jraisat, Luai (2023-03-01). "Implementing industry 4.0 in the manufacturing sector: Circular economy as a societal solution". Computers & Industrial Engineering. 177 (-): 4–6. ISSN 0360-8352.
  13. ^ Hosseini Shekarabi, Seyed Ashkan; Kiani Mavi, Reza; Romero Macau, Flavio (2025-09-01). "Supply Chain Resilience: A Critical Review of Risk Mitigation, Robust Optimisation, and Technological Solutions and Future Research Directions". Global Journal of Flexible Systems Management (dalam bahasa Inggris). 26 (3): 681–735. ISSN 0974-0198.
  14. ^ Commission, Tim European (3 Desember 2024). "Competitiveness - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-05.
  15. ^ a b Bodnár, Katalin; Le Roux, Julien; Lopez-Garcia, Paloma; Szörfi, Béla (2020-11-10). "The impact of COVID-19 on potential output in the euro area". ECB Economic Bulletin (dalam bahasa Inggris). - (7): 2–10.
  16. ^ Subkhi, Mashadi (2024-09-06). "Dampak Krisis Rantai Pasok Global pada Dunia Bisnis". Universitas Alma Ata Yogyakarta. Diakses tanggal 2025-09-06.
  17. ^ Directorate-General, for Communication (2022). "The EU in 2021 - General Report on the Activities of the European Union". op.europa.eu (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-09-06.
  18. ^ Negara, Kementerian Sekretariat (04 September 2025). "Presiden Prabowo Pimpin Rapat Terbatas, Bahas Stabilitas dan Stimulus Ekonomi | Sekretariat Negara". www.setneg.go.id. Diakses tanggal 2025-09-06.
  19. ^ Bourdin, Sebastien; Cottereau, Victoire; Hermet, François; Jean‐Pierre, Philippe; Medeiros, Eduardo (2023-10-01). "How have Europe's outermost regions dealt with the economic and social consequences of the COVID‐19 crisis? Effects, policies and recommendations". Regional Science Policy & Practice. 15 (8): 1820–1841. ISSN 1757-7802.
  20. ^ a b Sari, Ratna; Ismira, Andi (Agustis 2020). "Retaliasi China terhadap Amerika Serikat dalam Konteks Perang Dagang". Hasanuddin Journal of International Affairs. Diakses tanggal 2025-09-06.
  21. ^ Emiliozzi, Simone (2024-01-11). "The European energy crisis and the consequences for the global natural gas market". CEPR (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  22. ^ Igliński, Bartłomiej; Kiełkowska, Urszula; Mazurek, Krzysztof; Drużyński, Sebsstian; Pietrzak, Michał B.; Kumar, Gopalakrishnan; Veeramuthu, Ashokkumar; Skrzatek, Mateusz; Zinecker, Marek (2024-12-30). "Renewable energy transition in Europe in the context of renewable energy transition processes in the world. A review". Heliyon. 10 (24): 6–15. ISSN 2405-8440.
  23. ^ Tagliapietra, Simone; Trasi, Cecilia (2024). "How Should Europe Think About Economic Security?". intereconomics (dalam bahasa Inggris). 59 (2).
  24. ^ Pinkwart, Andreas; Schingen, Gideon; Pannes, Anna-Tina; Schlotböller, Dirk (2022). "Improving Resilience in Times of Multiple Crisis: Commentary from a German Economic Policy Point of View". Schmalenbachs Zeitschrift Fur Betriebswirtschaftliche Forschung = Schmalenbach Journal of Business Research. 74 (4): 763–786. ISSN 2366-6153. PMC 9765372. PMID 36567895.
  25. ^ Friedberg, Aaron L. (2022-01-04). "The Growing Rivalry Between America and China and the Future of Globalization". Texas National Security Review (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  26. ^ Tung, Rosalie L.; Zander, Ivo; Fang, Tony (2023-12-01). "The Tech Cold War, the multipolarization of the world economy, and IB research". International Business Review. 32 (6): 102195. ISSN 0969-5931.
  27. ^ a b Mallik, Awadesh Kumar (2023-09-01). "The future of the technology-based manufacturing in the European Union". Results in Engineering. 19 (2): 101356. ISSN 2590-1230.
  28. ^ Hmaidi, Antonia (2024-04-09). "Huawei is quietly dominating China's semiconductor supply chain | Merics". merics.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  29. ^ European Union, TimEuropean Council Council of the (2 Desember 2021). "How the EU responds to crises and builds resilience". Consilium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  30. ^ McNamara, Kathleen R. (2024-09-01). "Transforming Europe? The EU's industrial policy and geopolitical turn". Journal of European Public Policy. 31 (9): 2371–2396. ISSN 1350-1763.
  31. ^ Clausing, Kimberly (10 Oktober 2024). "How Carbon Border Adjustments Might Drive Global Climate Policy Momentum". Resources for the Future (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  32. ^ Maria Graf, Eva (19 Juni 2025). "Euro Area: IMF Staff Concluding Statement of the 2025 Mission on Common Policies for Member Countries". IMF (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  33. ^ a b Terzi, Alessio; Sherwood, Monika; Singh, Aneil (2023-10-01). "European industrial policy for the green and digital revolution". Science and Public Policy. 50 (5): 842–857. ISSN 0302-3427.
  34. ^ Task Force, Tim Clean Air (6 Januari 2025). "Europe's Clean Industrial Deal". Clean Air Task Force (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  35. ^ Task Force, Tim Clean Air (20 Maret 2024). "A Vision for the EU Net-Zero Transition". Clean Air Task Force (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  36. ^ Tim European Council Council, of the European Union (5 Februari 2018). "EU industrial policy". Consilium (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  37. ^ Patel, Alysha (April 2021). "The EU Green Deal explained". https://www.nortonrosefulbright.com/en/knowledge/publications/c50c4cd9/the-eu-green-deal-explained (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  38. ^ a b Tim Commission, European (1 Februari 2023). "The Green Deal Industrial Plan - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  39. ^ GOSPODINOVA, Sonya (5 Mei 2021). "Updating the 2020 Industrial Strategy: towards a stronger Single Market for Europe\'s recovery". European Commission - European Commission. Diakses tanggal 2025-09-06.
  40. ^ Schunz, Simon (2022-12-31). "The 'European Green Deal' – a paradigm shift? Transformations in the European Union's sustainability meta-discourse". Political Research Exchange. 4 (1): 2085121.
  41. ^ Tim Clean Air, Task Force (10 Mei 2022). "A European Strategy for Carbon Capture and Storage". Clean Air Task Force (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  42. ^ a b Directorate-General for, Research and Innovation (2025-07-24). "Horizon Europe - European Commission". research-and-innovation.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  43. ^ Commission, European (15 Januari 2024). "Critical raw materials - European Commission". single-market-economy.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  44. ^ Brief, Policy (5 Desember 2023). "The Club Approach: Towards Successful EU Critical Raw Materials Diplomacy". Jacques Delors Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  45. ^ Ruck, Jan (24 November 2024). "A Geoeconomic Fix? European Industrial Policy on Semiconductors Amidst Global Competition". JCMS: Journal of Common Market Studies (dalam bahasa Inggris). 1 (20): 1–6. ISSN 1468-5965.
  46. ^ Commission, European (21 September 2024). "European Chips Act enters into force today - Questions and answers". PubAffairs Bruxelles (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  47. ^ Georgieva, Kristalina; Director, IMF Managing; Competitiveness, to the Eurogroup on a Strategy for European; Luxembourg (20 Juni 2024). "A Strategy for European Competitiveness". IMF (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  48. ^ Müller, Susanne (12 September 2019). "The EU Action Plan on Financing Sustainable Growth". www.switchtogreen.eu. Diakses tanggal 2025-09-06.
  49. ^ politik, Handels (01 September 2024). "The EU's Critical Raw Materials Strategy: Engaging with the World to Achieve Self-Sufficiency". Tænketanken Europa (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  50. ^ Scott Morton, Fiona M. (2025-06-04). "The three pillars of effective European Union competition policy". Bruegel | The Brussels-based economic think tank (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  51. ^ "From promise to delivery: Commission welcomes final European Parliament votes under 2014-2019 mandate". PRRI - Penelitian Umum & Peraturan Initiative. 2019-04-19. Diakses tanggal 2025-09-06.
  52. ^ Mejino-López, Juan (2025-06-20). "A European defence industrial strategy in a hostile world". Bruegel (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  53. ^ Müftüler-Bac, Meltem; Aydın-Düzgit, Senem; Uzun-Teker, Ezgi (2024-07-02). "The EU's global strategic partner(ship): a tool for the maturation of European foreign policy?". European Security. 33 (3): 426–448. ISSN 0966-2839.
  54. ^ Verdolini, Elena (8 Februaru 2024). "The European Union Policy Toolbox to Support Just Transition". Resources for the Future (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  55. ^ admin (2024-01-30). "Pasar Tunggal Uni Eropa Integrasi Ekonomi untuk Pertumbuhan dan Kesejahteraan Bersama". Fakultas Ekonomi Terbaik di Sumut (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-09-06.
  56. ^ Directorate-General, for Internal Market (13 Juli 2021). "EU and Ukraine kick-start strategic partnership on raw materials - European Commission". single-market-economy.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  57. ^ OF AUDITORS, EUROPEAN COURT (2020). "Special report: Digitisation European Industry". op.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  58. ^ Directorate-General, for Taxation and Customs Union (2 Juli 2025). "European Commission makes recommendations on tax incentives to accelerate the Clean Industrial Transition - European Commission". taxation-customs.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  59. ^ Admin European, Commission (31 Januari 2024). "Creative Europe Programme - Performance - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  60. ^ EUROPEAN, COMMISSION (24 September 2020). "COMMUNICATION FROM THE COMMISSION TO THE EUROPEAN PARLIAMENT, THE COUNCIL, THE EUROPEAN ECONOMIC AND SOCIAL COMMITTEE AND THE COMMITTEE OF THE REGIONS". eur-lex.europa.eu. Diakses tanggal 2025-09-06.
  61. ^ Schulze, Melanie Müller; Christina Saulich; Svenja Schöneich; Meike (24 Februari 2023). "From Competition to a Sustain­able Raw Materials Diplomacy". Stiftung Wissenschaft und Politik (SWP) (dalam bahasa Jerman). Diakses tanggal 2025-09-06. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  62. ^ Berg, Aslak (22 Januari 2025). "Europe and the global economic order". Centre for European Reform (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  63. ^ European, Commission (2021-07-14). "Delivering the European Green Deal - European Commission". commission.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  64. ^ Soral, Prakriti; Pati, Surya Prakash; Singh, Sanjay Kumar; Del Giudice, Manlio; Degbey, William Y. (2023-10-01). "Let Us Halt the Resurgence of Protectionism: Trade Openness, Innovation Ecosystem, and Workforce Diversity in the Knowledge-Based Economy". Management International Review (dalam bahasa Inggris). 63 (5): 759–789. ISSN 1861-8901.
  65. ^ European, Commission (18 Juli 2001). "GREEN PAPER: Promoting a European framework for Corporate Social Responsibility". European Commission - European Commission. Diakses tanggal 2025-09-06.
  66. ^ European, Commission (2015). "European Early Warning and Information Systems - European Commission". civil-protection-humanitarian-aid.ec.europa.eu (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  67. ^ Amelang, Sören (24 Februari 2023). "War in Ukraine: Tracking the impacts on German energy and climate policy". Clean Energy Wire (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  68. ^ Briefing, China (2025-08-18). "Hubungan Uni Eropa-Tiongkok Setelah Pemilu Eropa 2024: Sebuah Garis Waktu". Made-in-China.com. Diakses tanggal 2025-09-06.
  69. ^ Bednarski, Lukasz; Roscoe, Samuel; Blome, Constantin; Schleper, Martin C. (2025-03-12). "Geopolitical disruptions in global supply chains: a state-of-the-art literature review". Production Planning & Control. 36 (4): 536–562. ISSN 0953-7287.
  70. ^ Admin (2023-07-24). "Multi-hazard early warning systems: Mapping good practices around the world". www.undrr.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  71. ^ Sakkas, Georgios; Tsaloukidis, Ioannis; Kazantzidou-Firtinidou, Danai; Schneider, Iris; Kouskouna, Vassiliki; Hybbeneth, Nico; Berchtold, Claudia; Schlierkamp, Juliane; Miralles, Marta (2023). "The FIRE-IN project: Tsunami-risk related practitioner challenges and 3rd cycle overall results". Open Research Europe. 3: 5. ISSN 2732-5121. PMC 10858983. PMID 38343617.
  72. ^ HOFMANN, STEFANIE (13 Oktober 2005). "10 years on: Lessons Learned from the Institutional Evaluation Programme". www.eua.eu. Diakses tanggal 2025-09-06.
  73. ^ Begg, Iain; Bongardt, Annette; Csaba, László; Egenhofer, Christian; Lannoo, Karel; Pochet, Philippe; Soete, Luc; Torres, Francisco. "Europe 2020 – A Promising Strategy?" (dalam bahasa Inggris).
  74. ^ Studies Section, Economic (11 Februari 2024). "European Protectionism: Causes, Motives, and Consequences". trendsresearch.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-06.
  75. ^ Evenett, Simon J. (2019-03-01). "Protectionism, state discrimination, and international business since the onset of the Global Financial Crisis". Journal of International Business Policy (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 9–36. ISSN 2522-0705.
  76. ^ Coelho, Catarina; Neves, Catarina; Cruz-Jesus, Frederico (2025-11-01). "Exploring the EU sustainability divide: Analyzing disparities in climate investments". Energy Policy. 206: 114701. ISSN 0301-4215.
  77. ^ Green, Katadata (2024-07-18). "Uni Eropa Hadapi Krisis Pendanaan untuk Transisi Hijau". green.katadata.co.id. Diakses tanggal 2025-09-06.
  78. ^ Kaczmarczyk, Barbara; Lis, Karolina; Bogucka, Anna (2023-08-08). "Renewable Energy Management in European Union Member States". Energies (dalam bahasa Inggris). 16 (16): 5863. ISSN 1996-1073.
  79. ^ Century, National Research Council (US) Committee on Comparative National Innovation Policies: Best Practice for the 21st; Wessner, Charles W.; Wolff, Alan Wm (2012). National Support for Emerging Industries (dalam bahasa Inggris). National Academies Press (US). hlm. 339. ISBN 139780309255516. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement