Kognisi Terdistribusi
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (November 2025) |
Kognisi terdistribusi adalah sebuah pendekatan yang menyatakan bahwa kognisi adalah sebuah proses yang terdistribusi antara individu dan lingkungannya. Teori ini menekankan aspek kolaboratif dan aspek kebudayaan dalam sebuah konstruksi ilmu pengetahuan. Teori ini menghubungkan interaksi antara manusia dan elemen-elemen lainnya, dengan mempertimbangkan kognisi sebagai sebuah fenomena sosial; teknologi; dan budaya. Sistem ini pertama kali diperkenalkan oleh Edwin Hutchins pada 1995, dalam bukunya yang berjudul Cognition in the Wild.[1]
Konsep
Kognisi Terdistribusi adalah sebuah kerangka pemikiran yang berfokus pada interaksi manusia. Berbeda dengan teori kognisi tradisional yang hanya mempertimbangkan bagaimana memori individu bekerja tanpa mempertimbangkan faktor eksternal, kognisi terdistribusi mencakup ruang lingkup yang lebih luas, tidak hanya mempelajari proses kognitif individu. Kognisi terdistribusi mencakup mempelajari perilaku verbal, perilaku non-verbal, mekanisme koordinasi, dan bentuk-bentuk komunikasi antar individu.[1]
Kognisi terdistribusi mempelajari ketergantungan kompleks antar manusia, sehingga menggabungkan aspek kognisi dengan berbagai fenomena eksternal, seperti fenomena sosial; teknologi; serta budaya yang ada di sekitar individu. Kognisi terdistribusi juga menjelaskan mengenai cara individu memecahkan masalah secara bersama-sama, peran perilaku verbal dan nonverbal dalam setiap interaksi antarindividu, serta bagaimana pengetahuan dibagikan dan diakses oleh berbagai individu.[1]
Dalam kognisi terdistribusi, sebuah proses kognitif adalah sebuah sistem yang dapat berubah-ubah sesuai dengan situasi yang terjadi.[2] Proses kognitif ini dibatasi oleh hubungan fungsional berbagai elemen yang berpartisipasi di dalamnya, yang dapat menghasilkan tiga jenis proses kognitif, yaitu :
- Proses kognitif mungkin dapat terdistribusi dalam seluruh anggota sosial
- Proses kognitif dapat melibatkan koordinasi antara struktur internal dan eksternal
- Proses kognitif dapat terdistribusi seiring waktu, sehingga dapat mengubah sifat kejadian yang akan datang.[3]
Dari pendekatan ini, suatu sistem kognitif terdiri dari lebih dari satu orang dengan sifat kognitif yang berbeda dari yang lainnya, sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh anggota dalam sistem kognitif ini sangat bervariasi. Dengan adanya interaksi, pengetahuan-pengetahuan yang bervariasi dapat dikombinasi menjadi satu, sehingga terdistribusi ke seluruh bagian sistem kognitif.[2]
Di masa kini, teori kognisi terdistribusi banyak digunakan sebagai dasar dalam mendesain interaksi antara manusia dan komputer. Teori ini digunakan untuk memahami interaksi antarindividu dan teknologi yang ada, bagaimana manusia melakukan koordinasi dalam aktivitasnya menggunakan teknologi.[3]
Referensi
- ^ a b c Rogers, Y. (2006-01-01). Brown, Keith (ed.). Distributed Cognition and Communication. Oxford: Elsevier. hlm. 731–733. ISBN 978-0-08-044854-1.
- ^ a b "Distributed Cognition". The Decision Lab (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-04.
- ^ a b Hollan, James; Hutchins, Edwin; Kirsh, David (2000-06). "Distributed cognition: toward a new foundation for human-computer interaction research". ACM Transactions on Computer-Human Interaction (dalam bahasa Inggris). 7 (2): 174–196. doi:10.1145/353485.353487. ISSN 1073-0516.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


