Ki Ageng Gribig

Makam Ki Ageng Gribig

Ki Ageng Gribig merupakan seorang ulama pada masa Kesultanan Mataram yang dikenal sebagai penyebar agama Islam, khususnya di wilayah Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ia diyakini sebagai cicit dari Prabu Brawijaya (Bhre Kretabhumi) dari Kerajaan Majapahit, dan merupakan putra dari Raden Getayu bin R.M. Guntur (juga dikenal dengan nama Wasi Jolodoro atau Rangkanyana).

Ki Ageng Gribig juga dikaitkan dengan Situs Sareyan yang terletak di Dusun Sareyan, Kalurahan Wonokromo, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini dipercaya oleh masyarakat sebagai fondasi kuno dari masjid yang didirikan oleh Ki Ageng Gribig sebelum menetap di Jatinom.

Dalam perjalanan hidupnya, Ki Ageng Gribig sempat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Sekembalinya dari tanah suci, ia membawa oleh-oleh berupa kue dari Arab Saudi yang dibagikan kepada para santrinya. Karena jumlah kue tidak mencukupi untuk semua murid, ia meminta istrinya, Nyi Ageng Gribig, untuk membuat kue serupa agar seluruh murid dapat merasakannya. Kue tersebut kemudian dikenal sebagai Apem Yaqowiyu, yang dinamai dari doa penutup pengajian yang sering dibacakan oleh Ki Ageng Gribig: “Yā Qawiyyu Yā ‘Azīz, qawwinā wal-muslimīn; Yā Qawiyyu, warzuqnā wal-muslimīn”, yang berarti “Ya Tuhan Yang Maha Kuat dan Maha Perkasa, kuatkanlah kami dan seluruh kaum Muslimin; Ya Tuhan Yang Maha Kuat, berikanlah rezeki kepada kami dan seluruh kaum Muslimin.[1]

Profil

Ki Ageng Gribig memiliki nama asli Wasibagno Timur atau dikenal pula sebagai Syekh Wasihatno, merupakan seorang ulama terkemuka di Jawa dan keturunan Prabu Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit. Ia dikenal karena peranannya dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Desa Krajan, Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ki Ageng Gribig memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Mataram dan dikenal berjasa dalam mendukung perkembangan kerajaan tersebut. Sultan Agung dari Mataram bahkan sempat berniat mengangkatnya sebagai Bupati Nayaka. Namun, Ki Ageng Gribig menolak tawaran tersebut dan lebih memilih menjalani peran sebagai ulama daripada menjadi pejabat pemerintahan.[2]

Tradisi Yaqowiyu

Tradisi pembagian kue apem tersebut kemudian menjadi bagian dari upacara adat tahunan di Jatinom yang dikenal dengan Tradisi Yaqowiyu. Upacara ini diselenggarakan setiap tahun pada hari Jumat sekitar tanggal 15 bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, dan berlangsung di kompleks makam Ki Ageng Gribig. Apem yang dibagikan dalam tradisi ini dipercaya berasal dari kata Arab ‘affan, yang berarti “ampunan,” dan melambangkan permohonan ampun kepada Tuhan.

Di sekitar kompleks makam Ki Ageng Gribig terdapat sejumlah tempat bersejarah lainnya, seperti Masjid Agung Jatinom, Sendang Palampeyan, Sendang Suran, Guwa Belan, Masjid Tiban, dan Oro-Oro Tarwiyah. Tempat terakhir ini merupakan lokasi di mana Ki Ageng Gribig menanam tanah yang dibawanya dari Arafah, Mekah. Tanah tersebut dikumpulkan pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang dalam tradisi haji disebut sebagai Yaumul Tarwiyah, hari di mana para jamaah haji mempersiapkan air dalam jumlah besar sebagai bekal untuk menjalani wukuf di Arafah.[3]

Referensi

  1. ^ Darmoko, Darmoko. "PEMIKIRAN MITIS AKULTURATIF DALAM TEKS KI AGENG GRIBIG | Kawruh: Journal of Language Education, Literature and Local Culture" (dalam bahasa American English).
  2. ^ DIA, Yayasan (2019-09-14). "Ziarah di Makam Ki Ageng Gribig, Penyebar Agama Islam di Jatinom, Klaten". Ziarah di Makam Ki Ageng Gribig, Penyebar Agama Islam di Jatinom, Klaten (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-06-15.
  3. ^ Ayu, Isdiyana Kusuma; Paramitha, Pinastika Prajna; Alfiana, Lina; Anggraeny, Isdian (2023). "Legality Of Land And Building Objects In The Tomb Of Ki Ageng Gribig, Malang City". Widya Yuridika: Jurnal Hukum. 6 (1): 147–156. doi:10.31328/wy.v6i1.4030. ISSN 2620-5556.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement