Kerusuhan Tasikmalaya
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (April 2025) |
| Kerusuhan Tasikmalaya | ||||
|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Sentimen anti-Tionghoa di Indonesia | ||||
| Tanggal | 26 Desember 1996 | |||
| Lokasi | Kota Tasikmalaya | |||
| Metode | ||||
| Pihak terlibat | ||||
Kerusuhan Tasikmalaya adalah peristiwa kerusuhan anti-Kristen anti-Tionghoa yang terjadi pada tanggal 26 Desember 1996 di Kabupaten Tasikmalaya (sekarang wilayah Kota Tasikmalaya). Kerusuhan ini terjadi 77 hari setelah kerusuhan di Situbondo.
Latar belakang
Kerusuhan ini dilatar belakangi oleh masalah personal yang dilakukan salah seorang santri di Pondok Pesantren Riyadul Ulum Condong. Santri tersebut bernama Rizal. Dia dihukum karena kedapatan mencuri uang yang berjumlah Rp. 135.000 di lingkungan pesantren. Nursamsi selaku ayahnya yang berprofesi sebagai polisi berpangkat Kopral Dua tidak senang, sehingga memanggil pihak keamanan pesantren yang terdiri dari Habib dan Ichsan bersama Ustadz Mahmud Farid sebagai saksi untuk datang ke kantor polisi. Namun setibanya di kantor polisi, mereka bertiga justru dipukuli dan dianiaya.[1]
Akibatnya, Ustadz Mahmud Farid harus dirawat di rumah sakit dan banyak alumni yang menjenguknya. Selama dirawat, banyak kabar bohong yang beredar tentang kematiannya. Para santri di Tasikmalaya kemudian berkumpul melakukan doa bersama di Masjid Agung Tasikmalaya. Namun doa bersama ini justru berujung pada aksi perusakan toko-toko Tionghoa oleh massa yang tidak bertanggung jawab. Dengan kondisi yang demikian, para santri kemudian memisahkan diri dari massa tersebut.[2][3]
Peristiwa
Massa aksi berjalan ke Jalan K.H.Z. Mustofa menyasar ke sebuah supermarket yaitu Yogya Departmen Store. Berdasarkan informasi dari korban, massa berteriak “Ayo...jarah...jarah... Urang téh nyeri haté, adik urang téh dikaluarkeun dari Yogya” (Ayo...jarah...jarah... Aku sakit hati, adik aku dikeluarkan dari Yogya). Suasana semakin memanas ketika massa melempar batu dan menjarah supermarket tersebut.[3]
Pada pukul 15.00 WIB, kerusuhan semakin meluas dan massa yang terlibat dalam perusakan semakin banyak, terutama anak-anak sekolah yang baru saja bubar.[4][5] Toko Sinar Mas yang terletak di Jalan K.H.Z Mustofa juga tidak luput dari sasaran amukan massa. Massa rata-rata menyuarakan “lempar Cina....lempar Cina” sebelum melakukan pembakaran toko maupun gereja. Ada pula massa yang berteriak “Kami Pribumi” dengan suara lantang. Masyarakat Tasikmalaya juga menuliskan “Rumah Pribumi”, “Milik Pribumi”, dan sejenisnya agar mereka tidak dijadikan sasaran perusakan oleh massa tersebut. Selain di Jalan K.H.Z. Mustofa, massa juga bergerak ke Jalan Selakaso dan Jalan Cieunteung.[5] Beberapa tempat ibadah umat Kristen yang meliputi Gereja Katolik Salib Suci dan gereja yang ada di Selakaso, Cipatujah, Veteran, dan Wiratuningrat menjadi sasarannya.[4]
Sekitar pukul 16.00 WIB, massa kemudian bergerak menuju salah satu pabrik Tionghoa. Massa menyasar Pabrik Sabun Palem kemudian membakar atau menjarah beberapa mobil dan truk. Karyawan-karyawan pabrik merasa sangat khawatir karena massa mengepung pabrik di depannya. Menurut keterangan, mereka ada yang memegang tali untuk memanjat tembok belakang pabrik yang di belakangnya merupakan sawah.[6]
Kerusuhan terus meluas mencapai perbatasan Tasikmalaya–Garut. Pada sore malam harinya, kerusuhan baru dapat diatasi setelah Pangdam III Siliwangi bersama dengan K.H. Makmun memberikan klarifikasi melalui radio terutama membantah isu meninggalnya Ustadz Mahmud.[4]
Referensi
- ^ Junaedi 2021, hlm. 57-58.
- ^ Junaedi 2021, hlm. 59.
- ^ a b Tantoh & Sampurno 2020, hlm. 37.
- ^ a b c Junaedi 2021, hlm. 60.
- ^ a b Tantoh & Sampurno 2020, hlm. 38.
- ^ Tantoh & Sampurno 2020, hlm. 38-39.
Daftar pustaka
- M. Munandar, Soelaeman (2003). "Konflik multidimensi masyarakat Tasikmalaya: kajian konflik kerusuhan tanggal 26 Desember 1996 dan konflik pasca kerusuhan 1997-2001)". Perpustakaan Universitas Indonesia (dalam bahasa American English).
- Sujani (2007). "Kerusuhan Sosial di Tasikmalaya 1996 (Studi tentang Konflik Horizontal dalam Masyarakat Tasikmalaya)".
- Tantoh, Veren; Sampurno, Silverio Raden Lilik Aji (2020). "Kerusuhan Tasikmalaya 1996: studi kasus komunitas Tionghoa". Bandar Maulana. 25 (1): 32–41. ISSN 0854-9559.
- Junaedi, Anggi A (2021). "PERAN MEDIA DALAM MEMBANGUN OPINI PUBLIK TENTANG KERUSUHAN TASIKMALAYA 1996". Sinau : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora. 7 (1): 51–75. doi:10.37842/sinau.v7i1.61. ISSN 2685-1679.
Pranala luar
- Dokumentasi Kerusuhan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Tasikmalaya
- Muhammad, Erik (11 Agustus 2023). "Sejarah Kerusuhan di Tasikmalaya 1996 yang Dipicu Masalah Sepele". HarapanRakyat.com. Diakses tanggal 5 April 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


