Kerik Gigi


Kerik Gigi adalah tradisi mengerik gigi atau meruncingkan gigi pada wanita Suku Mentawai di Pulau Siberut, Sumatera Barat. Tradisi yang sudah turun temurun ini dipercaya sebagai cara bagi wanita Mentawai untuk tampil cantik dan sebagai tanda kedewasaan wanita suku Mentawai.[1] Selain itu, tradisi tersebut juga dipercaya membuat wanita lebih cantik dan menawan. Gigi yang dikerik atau diruncingkan tidak hanya satu gigi saja, melainkan semua (23) gigi mereka harus dikerik. Alat yang digunakan untuk meruncingkan gigi biasanya terbuat besi atau kayu.[2]

Bagi suku Mentawai, seorang wanita dapat dikatakan cantik apabila telah memenuhi tiga kriteria, yakni memiliki telinga yang panjang, tubuh yang berhiaskan tato, dan gigi yang runcing. Keinginan jiwa dalam memenuhi standar kecantikan yang sebenarnya bagi seorang wanita adalah agar setiap langkahnya dapat memberikan pesona bagi para lelaki yang melihatnya. Sehingga tradisi kerik gigi ini dimaknai sebagai salah satu perjuangan para wanita suku Mentawai dalam menemukan jati dirinya.[3]

Selain Tradisi Kerik Gigi, masyarakat Mentawai juga dikenal memiliki tradisi menghias tubuh mereka dengan tato. Menurut keyakinan suku Mentawai, manusia memiliki dua wujud, yaitu arwah dan tubuh yang tidak akan binasa. Apabila mereka tidak puas dengan penampilan fisiknya, mereka akan terkena penyakit dan ditarik ke dunia lain. Kepercayaan tersebut membuat warga suku Mentawai menghiasi tubuh mereka dengan tato dan mengubah bentuk gigi. Tujuannya adalah membuat jiwa mereka selalu bahagia dan panjang umur.[2]

Proses pengerikan

Proses kerik gigi wanita suku Mentawai dilakukan secara manual dengan alat dari besi yang telah diasah hingga tajam. Proses meruncingkan gigi ini dilakukan tanpa proses anestesi (bius). Pengerikan gigi ini memakan waktu yang cukup lama. Tidak jarang para wanita menantikan prosesi peruncingan gigi ini dengan tujuan agar dapat terlihat cantik dan menawan dengan bentuk gigi mereka. Biasanya prosesi ini diikuti oleh wanita yang akan menikah.[3]

Makna tradisi

Suku Mentawai memaknai tradisi ini sebagai sikap untuk mengendalikan diri dari enam sifat buruk manusia yang telah lama tertanam atau disebut juga sebagai Sad Ripu, yang terdiri atas hawa nafsu (Kama), tamak (Lobha), marah (krodha), mabuk (Maba), iri hati (Matsarya), dan bingung (Moha).[1]

Referensi

  1. ^ a b "Harus Menahan Sakit, Inilah Tradisi Kerik Gigi Bagi Wanita Mentawai - Semua Halaman - National Geographic". nationalgeographic.grid.id. Diakses tanggal 2025-11-02.
  2. ^ a b Michael Hangga Wismabrata (11-09-2022). "Mengenal Tradisi Kerik Gigi Wanita Suku Mentawai di Sumbar". KOMPAS.com. Diakses tanggal 02-11-2025.
  3. ^ a b Azura, Vania Dinda. "Mengenal Lebih Dekat Tradisi Kerik Gigi Bagi Para Perempuan Suku Mentawai". detiksumut. Diakses tanggal 2025-11-02.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement