Kerajaan Namatota
Kerajaan Namatota | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Ibu kota | Namatota | ||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Koiwai | ||||||
| Agama | Islam | ||||||
| Pemerintahan | Kerajaan, Petuanan | ||||||
| Ratu, Sendawan | |||||||
• ?–? | Ulantua | ||||||
• ?–? | Sifa | ||||||
• ?–1911 | Lamora | ||||||
• 1911–1946 | Mooi | ||||||
• 1946–1973 | Muhammad Kasim | ||||||
• 1973–2013 | Hayum | ||||||
• 2017–sekarang | Randi Asnawi | ||||||
| |||||||
| Sekarang bagian dari | |||||||
Kerajaan Namatota adalah sebuah kerajaan Islam yang berdiri di wilayah Kabupaten Kaimana sejak abad ke-16.[1][2] Kekuasaan Kerajaan Namatota berpusat di Pulau Namatota dan wilayahnya mencakup kawasan Teluk Arguni hingga Teluk Umar.[3] Kerajaan Namatota menjalin hubungan politik dan perdagangan dengan Kesultanan Tidore.[2]
Sejarah
Berdasarkan tutur sejarah suku Mairasi, awal mula Kerajaan Namatota adalah perpecahan dalam masyarakat di Pulau Miwara, Teluk Triton, Kaimana. Pada masa itu, Pulau Miwara adalah pelabuhan penting dalam jalur perdagangan wilayah di Pulau Papua dengan pedagang dari Seram dan Bugis-Makassar. Hal ini dikarenakan pedagang-pedagang tersebut tidak diizinkan oleh masyarakat untuk masuk ke wilayah penghasil di pedalaman. Pulau Miwara tersebut juga dipimpin oleh seorang raja yang memerintah dan memimpin aktivitas perniagaan tersebut. Jika ada pedagang yang langsung memasuki wilayah penghasil, sang raja akan memerintahkan kapal tersebut untuk ditenggelamkan dan awaknya dibunuh. Raja yang memimpin Pelabuhan Miwara hingga kejayaan disebut bernama Sendawan Mawara.[4]
Setelah terjadi perpecahan di antara masyarakatnya, Sendawan Mawara pergi meninggalkan wilayah tersebut dan sebagian masyarakat pindah ke Pulau Namatota (Kob'jai) dan mengangkat raja sendiri yang bernama Ulontua Keliobas (disebut juga Ulantua, Ulon Swarga, Wolangtua) yang berasal dari Gorom di Seram Timur yang merupakan moyang dari keluarga (marga) Ombaier penguasa Namatota.[4] Walaupun masyarakat Kowiai sendiri dan keluarga Ombaier mengatakan mereka berasal dari keturunan nenek moyang di Gunung Baik.[5] Inilah dimulainya pemerintahan Kerajaan Namatota.
Sedangkan masyarakat yang menetap di Pulau Miwara mengangkat pemimpin sendiri yang bergelar Orang Kaya dari keturunan raja sebelumnya. Kedua pemimpin masyarakat tersebut juga bergelar Sendawan (yang artinya 'orang kuat' atau 'orang perkasa') untuk mengabadikan nama pemimpin terdahulu. Tidak diketahui kapan perpecahan ini terjadi tetapi.[4] Masyarakat Lobo dan Miwara sendiri mengingat pemimpin terakhir yang mengatur perdagangan masyarakat lokal dengan wilayah luar bernama Raja Muda Neonda.[6]
Berdasarkan cerita masyarakat Kuri mereka mengakui kekuasaan raja (dengan istilah lokal ratu) Namatota karena berdasarkan sejarah pertarungan yang dilakukan oleh moyang Refideso dan moyang Ombaier untuk merebut kekuasaan raja yang diakhiri dengan kontes menyelam ke dasar gunung sambil membawa api, siapa yang muncul naik dengan api menyala dialah yang menang. Kontes tersebut dimenangkan oleh moyang Refideso, walau begitu terjadi perjanjian di mana ia tetap menjadi 'Ratu Gunung' dan moyang Ombair yang diberi mandat sebagai raja. Tidak diketahui pasti kapan peristiwa ini terjadi tetapi berarti terjadi setelah Namatota sudah memisahkan diri dari Miwara dan sudah menjadi wakil perantara perdagangan wilayah pedalaman (seperti suku Kuri) dengan wilayah luar.[4][7]
Pada saat pemerintah kolonial Hindia Belanda ingin membangun Fort Du Bus pada tanggal 24 Agustus 1828 di Lobo, Teluk Triton, di kaki Gunung Emansiri, upacara peresmian tersebut juga dihadiri oleh beberapa pemimpin lokal, yaitu Sendawan raja Namatota (namanya tidak tercatat), Kassa raja Lahakia, dan Lutu seorang orang kaya dari Mawara (Miwara) dan Lobo.[8]
Kerajaan Namatota juga memiliki pengaruh hingga wilayah pesisir bagian barat Mimika, di mana telah didirikan sebuah koloni Namatota. Seorang pemimpin masyarakat Kamoro bernama Naowa memiliki hubungan baik dengan raja Namatota bernama Mooi, karena ayahnya, Lamora, raja Namatota sebelumnya telah memberikan gelar raja kepadanya sebagai pemimpin Konfederasi Tarya We.[9][10]
Wilayah kekuasaan
Kerajaan Namatota merupakan salah satu kerajaan yang didirikan di Pulau Papua.[11] Wilayah Kerajaan Namatota awalnya mencakup sebagian besar wilayah Kabupaten Kaimana.[12] Walaupun wilayah utara Kaimana yang awalnya merupakan komisi/raja bawahan Namatota di bawah pemerintahan Raja Komisi Narawatu de facto memisahkan diri, karena pemerintahan Namatota saat itu lemah saat dipimpin Raja Lamora, dan putra sulungnya Mooi sebagai penggantinya masih sangat muda.[5][8]
Wilayah Kerajaan Namatota berada di Kampung Namatota yang dihuni oleh suku Koiwai.[13] Kekuasaan Kerajaan Namatota berpusat di Pulau Namatota.[3]
Hubungan politik
Kerajaan Namatota mulai berinteraksi dengan orang Belanda di Pulau Papua sejak tahun 1820-an, pada masa pemerintahan Raja Sendawan. Namun orang Belanda hanya mengunjungi wilayah Kerajaan Namatota sebagai persinggahan perahu-perahu untuk Pelayaran Hongi.[2] Pada masa kekuasaan Raja Wolang Tua di Kerajaan Namatota sejak akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Kesultanan Tidore membantu perluasan wilayah kekuasaan Kerajaan Namatota hingga mencakup sepanjang pantai bagian selatan pada kawasan Teluk Arguni.[2] Wilayah Kerajaan Namatota kemudian mencakup Teluk Arguni hingga ke Teluk Umar.[3] Karena bantuan Kesultanan Tidore dalam perluasan wilayah Kerajaan Namatota, pengangkatan kepala adat di wilayah taklukan Kerajaan Namatota dilakukan atas nama Sultan Tidore.[2]
Daftar penguasa Namatota
Berikut ini daftar penguasa Kerajaan Namatota:[5]


| Nama | Gelar | Waktu memerintah | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Wolangtoea | |||
| Sifa | adik | ||
| Lamora | ?–1911 | anak | |
| Mooi Boeserau | 1911–1946 | anak | |
| Muhammad Kasim | 1946–1973 | ||
| Hayum | 1973–2013 | ||
| Randi Asnawi | 2017–sekarang |
Bahasa dan keagamaan
Penduduk pesisir seperti Kerajaan Namatota dan Kerajaan Kaimana diperkirakan merupakan keturunan campuran dari masyarakat pedalaman Papua seperti suku Mairasi dan Kuri dengan pedagang-pedagang dari luar Papua (disebut seseran dalam bahasa Mairasi) terutama orang Seram, yang membentuk masyarakat etnik Koiwai. Walaupun keluarga raja dan bangsawan Namatota merupakan penutur bahasa Koiwai, wilayah pengaruh Namatota mencakup masyarakat yang berbahasa lain dalam rumpun Austronesia seperti Irarutu,[14] Kuri, Wamesa, dan Yeresiam, serta non Austronesia/Papua seperti Miere, Muri, Mairasi, dan Napiti.
Kerajaan Namatota merupakan kerajaan yang menganut Islam sebagai agama penguasanya sejak abad ke-16 Masehi.[1] Raja pertama di Kerajaan Namatota yang menjadi Muslim bernama Ulan Tua.[15] Di Kerajaan Namatota, Islam hanya menjadi identitas bagi penguasa Kerajaan Namatota dan tidak memiliki lembaga keagamaan untuk penyebaran ajarannya di kalangan rakyat, sehingga agama Islam tidak menjadi agama mayoritas yang dianut oleh rakyat Kerajaan Namatota. Penguasa Kerajaan Namatota hanya menjadikan Islam sebagai identitas untuk legitimasi kekuasaan dari Kesultanan Tidore yang memiliki kekuasaan yang luas di wilayah Papua. Karena itu, Islam tidak menjadi agama mayoritas di Kerjaaan Namatota hingga akhir paruh pertama abad ke-20.[1]
Referensi
Catatan kaki
- ^ a b c Mashad 2020, hlm. 171.
- ^ a b c d e Widjojo, M. S., dkk. (Februari 2025). Widjojo, M. S., Rusdiarti, S. R., dan Pamungkas, C. (ed.). Sejarah Pemerintahan dan Masyarakat Kaimana. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 24. ISBN 978-623-321-333-2. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ a b c Rengganis, Diah (Februari 2022). "Suka-Duka Mengenalkan NU di Kaimana, Papua Barat". Majalah Aula. XLIV (2): 48.
- ^ a b c d Mawara, Agustinus (2021-12-31). "PULAU MIWARA PUSAT NIAGA MASA LAMPAU: Tinjauan Sejarah Perdagangan Tradisional di Teluk Triton". Kebudayaan. 16 (2). Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (Kemendikbud). doi:10.24832/jk.v16i2.379. ISSN 2685-8088.
- ^ a b c Usmany, Dessy Polla (2014). Kerajaan Fatagar dalam Sejarah Kerajaan-Kerajaan di Fakfak Papua Barat. Yogyakarta: Kepel Press. hlm. 88–90. ISBN 978-602-1228-79-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Miwara, Agustinus (2022-07-30). "Miwara ke Ondor, Jalur Rempah Kaimana". Media Pustaka Papua. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ "Randi Asnawi Ombair, Dikukuhkan Jadi Raja Namatota Kaimana -". Kabar Triton. 2020-08-22. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ^ a b Usmany, Desy Polla (2017-06-03). "SEJARAH RAT SRAN RAJA KOMISI KAIMANA (History of Rat Sran King of Kaimana)". Jurnal Penelitian Arkeologi Papua Dan Papua Barat. 6 (1): 86–87. doi:10.24832/papua.v6i1.45. ISSN 2580-9237. Diakses tanggal 2021-04-24.
- ^ Harple, Todd S. "Controlling the Dragon: An ethno-historical analysis of social engagement among the Kamoro of South-West New Guinea (Indonesian Papua/Irian Jaya)". openresearch-repository.anu.edu.au. doi:10.25911/5d7a29e964c71. Diakses tanggal 2022-06-13.
- ^ Pouwer, Jan (2010). Gender, ritual and social formation in West Papua : a configurational analysis comparing Kamoro and Asmat. Leiden: KITLV Press. hlm. 119. ISBN 90-04-25372-6. OCLC 808384659.
- ^ Wishnu W., Conie (Juni 2022). Kanjeng Sunan Kalijaga, Jejak-Jejak Sang Legenda. Guepedia. hlm. 49. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Mashad 2020, hlm. 74.
- ^ Dinas Penanaman Modal , PTSP dan Tenaga Kerja Kabupaten Kaimana (2024). Profil Investasi Kabupaten Kaimana. Pusat Informasi Data Investasi Indonesia. hlm. 51. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Mashad 2020, hlm. 79.
- ^ Mashad 2020, hlm. 102.
Daftar pustaka
- Mashad, Dhurorudin (Juni 2020). Artawijaya (ed.). Muslim Papua: Membangun Harmoni Berdasar Sejarah Agama di Bumi Cendrawasih. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. ISBN 978-979-592-881-2. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.




