Kerajaan Batulappa

Kerajaan Batulappa atau Akkarungeng Batulappa adalah sebuah kerajaan yang pernah berdiri di utara Kabupaten Pinrang, kerajaan ini berpusat di Bungi, sekarang (Kecamatan Duampanua) pusat kerajaan telah mengalami beberapa kali pemindahan, dan terakhir terjadi pada masa kekuasaan Baso Puang Moseng Arung Temmate Arung Batulappa. Kerajaan Batulappa juga merupakan anggota Persekutuan Massenrempulu, wilayahnya sekarang menjadi bagian Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Sejak abad ke-14, daerah ini disebut Massenrempulu yang artinya meminggir gunung atau menyusur gunung. Sedangkan sebutan Enrekang dari Endeg yang artinya naik atau panjat serta dari sinilah asal muasalnya sebutan Endekan.

Akkarungeng Batulappa

StatusKerajaan Berdaulat (Akkarungeng Tungke).

Vassal Kerajaan Gowa (abad 17).

Kerajaan Berdaulat dari 1700-1905.

Proktetorat Hindia-belanda (1905-1941).

Proktetorat Jepang (1945).

Kerajaan Otonom pada Negara Indonesia Timur (1949).

Daerah Swapraja lingkup Provinsi Sulawesi (1949-1960).

Republik Indonesia (sekarang).
Pusat pemerintahanTirasa (Awal kerajaan)

Bamba

Watang Batulappa

Bungi (1875 hingga 1960)
Bahasa resmiPattinjo
Bahasa nasional yang diakui Pattinjo dan Bugis
Kelompok etnik
Bugis Pattinjo
Agama
Islam
PemerintahanAkkarungeng (Monarki)
• Arung Batulappa
Baso Puang Buttu Kanan (Abad 17)
• 
Wellangrungi (1700-1740)
• 
Arung Semagga (1840)
• 
La Baso Puang Moseng (1860)
• 
I Tjoma (sampai 1941)
• 
Andi Tanri (1941-1945)
• 
Andi Mangga (1945-2002)
Sekarang bagian dariKabupaten Pinrang, Republik Indonesia
Sunting kotak info
Sunting kotak info • Lihat • Bicara
Info templat
Bantuan penggunaan templat ini


Karena politik Devide At Impera belanda menggabungkan Batulappa dan Kassa ke dalam Persekutuan Ajatappareng, kejadian ini terjadi pada abad ke-20 atau tahun 1905, pada masa pemerintahan I Tjoma Arung Batulappa 1875-1941. Kerajaan Batulappa tetap masih ada pada 1905 hanya saja wilayahnya di gabungkan ke dalam Persekutuan Ajatappareng. Kemudian pada tahun 1905-1945 Kerajaan Batulappa mendapatkan status Zelfbestuur atau Pemerintahan Sendiri oleh Hindia Belanda.

Selanjutnya setelah proklamasi Republik Indonesia bersama dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan Kerajaan Batulappa menyatakan bergabung kedalam Indonesia, dan daerah-daerah di indonesia yang masih berbentuk monarki menjadi dan diteruskan status sebagai daerah swapraja atau pemerintahan sendiri dari tahun 1950-1960. Pada masa republik indonesia wilayah daerah Swapraja Batulappa atau Kerajaan Batulappa adalah bagian Negara Indonesia Timur yang merupakan Negara Bagian RIS.

Pada masa kerajaan, Batulappa membawahi beberapa Distrik dan Lili' (Negeri bawahan) serta beberapa daerah di utara Distrik Bungi (ibukota swapraja) pada 23 November 1890-1945 Kerajaan Batulappa berbatasan dengan Sawitto (dipisahkan oleh Sungai Sadang) di selatan, Enrekang (dipisahkan oleh Sungai Sadang) di timur, Selat Makassar dan Mandar di barat. Wilayah kerajaan ini sekarang menjadi Kabupaten Pinrang sekarang.

Peninggalan Sejarah dari kerajaan ini adalah Saoraja Batulappa di Desa Bungi, Kabupaten Pinrang.

Daftar Arung Batulappa

No Arung Masa Pemerintahan Keterangan
I ToManurung Palipada
II
III
IV
V
VI Matinro Pakalabinna Puang Cemba
VII Makkaraka Daeng Manrapi Puang Madeakaju Menikah dengan I Subahana anak dari Addatuang Sawitto di Pinrang, menurunkan Baso Puang Buttu Kanan Arung Batulappa dan Bosu Matindo Tallonganna Arung Kassa.
VIII Baso Puang Buttu Kanan

Matindo ri Batulappa

Abad 17/18

1665-1700

Memerintah dengan status

Negeri yang berdaulat, Ibukota kerajaan berada di Tirasa generasi kesepuluh dari Tomanurung Palipada.

IX Wellangrungi

Matindo ri Batulappa

1700-1740 Menggantikan ayahnya
X Arung Conra Puang Maling

Matinro ri Sikkirina

1745-1775 Menggantikan ayahnya
XI Arung Sompa 1775-1815 Sekaligus menjabat Arung Buttu VII,

menggantikan saudaranya Arung Conra sebagai Arung Batulappa

XII Arung Semagga 1815-1840 Periode kepemimpinan beliau, terjadi perubahan besar dalam penataan pemerintahan Hindia Belanda di willayah sulawesi dan daerah taklukannya.

Tahun 1824, terjadi pembaharuan atas perjanjian Bongaya 1667, yakni pada tanggal 9 agustus 1824 yang ditandatangani oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dengan raja-raja di Sulawesi Selatan

XIII Luwu Puang Ponding 1840-1862 Seorang perempuan, pemerintahannya sebagai tanda pusat kerajaan di wilayah pegunungan sebelum berpindah ke Bungi. Digantikan oleh sepupunya sebagai Arung Batulappa.
XIV Andi Baso Puang Moseng Arung Temmate 1862-1875 Membuka & memindahkan ibukota dari Batulappa pegunungan ke Bungi dan dikenal dengan gelar

Babae ri Batulappa dan Bulurumppena Bungi-Pinrang, cucu dari Arung Batulappa ke XII

XV I Tjoma

Matinroe ri Bungi

1875-1941 Menggantikan Pamannya sebagai Arung Batulappa. Anak La Tanri Arung Buttu

Memerintah dalam waktu cukup lama, Petta Tjoma wafat pada tahun 1941. Merupakan istri dari La Naki Arung Maiwa. Namanya diabadikan menjadi Jl. Andi Cuma di Bungi.

XVI Andi Tanri Petta Arungnge Karaeng Lolo.

Matinroe ri Bungi

1941-1945 Menggantikan Nenek beliau, mendirikan Saoraja dan memiliki Kantor Arung Batulappa di Bungi, menjabat sebagai Arung Malolo sebelum naik tahta.
XVII Andi Mangga Petta Tanri.

Matinroe ri Bungi

1945-2002 Menggantikan ayahandanya yang wafat, Kerajaan Batulappa bergabung ke Republik Indonesia.

Status Batulappa diteruskan menjadi Swapraja di lingkup NIT (Negara Indonesia Timur) hingga 1950 dan status Swapraja lingkup Daerah Sulawesi hingga 1960. Menjadi Kepala Swapraja.

Masa kemerdekaan tahun 1945 juga bertepatan dengan naik tahta H. Andi Mangga menjadi Arung Batulappa sekaligus Kepala Swapraja, sampai dengan pembentukan Kabupaten Pinrang pada tahun 1960, status wilayah kerajaan batulappa yang telah dijelaskan sampai menjadi sebuah Swapraja sebagai bukti eksistensi dari perpanjangan pemerintahan lokal bersistem Akkarungeng. Perangkat pemerintahan dan adat juga tersusun secara sistematis, di mana seorang Arung atau Raja selaku pemimpin dan pengendali negara juga berperan sebagai pemangku dan ketua adat. Susunan pemerintahan di Batulappa bertahan sampai tahun 1960, dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Arung Batulappa sebagai pemimpin kerajaan, bersifat diwariskan baik anak, ayah, ibu, kemenakan, maupun paman.
  2. Arung Malolo, sebagai Putra Mahkota alias pewaris tahta.
  3. Sullebatang Batulappa/ Sullewatang Batulappa, pembantu Arung dalam sistem Akkarungeng yang sifatnya sebagai wakil dalam pemerintahan sehari-hari, sulle berarti pengganti/mewakilkan dan watang/batang berarti badan/diri.
  4. Pabbicara Batulappa.
  5. Maddika, terdapat tiga jabatan Maddika yang bertugas mendampingi dan menjadi penasehat Arung dalam pemerintahan sehari-hari juga bertugas sebagai pengawas, yaitu Maddika Baraba di Sanja', Maddika Waru di Waru dan Maddika Passolengang di Maung.
  6. Qadhi atau Mufti Kerajaan bertugas dalam bidang keagamaan Islam selaku agama resmi negara.
  7. Arung Lili' memimpin daerah Palili' atau pada masa Swapraja disebut Kepala distrik
  8. Jennang atau Kepala Kampong
  9. Suro
Andi Tanri Petta Arungnge Karaeng Lolo, Arung Batulappa (1941-1945), pemerintahannya sebagai masa Batulappa menuju modernisasi kerajaan, riwayat pemerintahan yang cukup singkat.

Silsilah Kerajaan

Tomanurung yang datang dari Palli Kallupini ke Batulappa, kemudian mendirikan sebuah kerajaan di perkampungan Tapporan, Batulappa. Makna dari kata Batulappa karena sang Tomanurung tersebut dilantik menjadi Raja diatas batu datar yang besar, masyarakat pada waktu itu menyebutnya sebagai Batu Malappa dengan perkembangan menjadi Batulappa. Pusat kerajaan pada waktu itu dipindahkan ke Kampung Rada lebih dikenal (Batulappa), kemudian Bamba, dan terakhir di Bungi.

Matinro Pakalabinna Puang Cemba merupakan keturunan dari Tomanurung Palipada, beliau menikah dengan perempuan bernama Makke melahirkan Makkaraka Daeng Manrapi Puang Madeakaju, Makkaraka Daeng Manrapi menikah dengan Subahana anak Addatuang Sawitto di Pinrang dari pernikahan tersebut lahir dua orang putra Baso Puang Buttu Kanan yang menjadi Arung di Batulappa dan Bosu Matindo Tallonganna menjadi Arung di Kassa.

Baso Puang Buttu Kanan sebagai Arung Batulappa IX menikah dengan Puang Bosse Pinra, memiliki anak laki-laki bernama Wellangrungi Arung Batulappa Matinro ri Sikkirina. Selanjutnya, Puang Wellangrungi Arung Batulappa X yang menggantikan ayahandanya ini menikah dengan perempuan bernama Puang Bosso Enrekang, dari pernikahan ini lahir:

  1. Arung Conra Puang Maling Arung Batulappa XI (beliau tidak memiliki anak) sehingga tahta Arung Batulappa diteruskan oleh adiknya, Sompa.
  2. Arung Sompa Arung Batulappa XII sekaligus menjadi Arung Buttu Enrekang VII, beliau menikah dengan Buba Batulappa, kemudian melahirkan:

Arung Semagga Arung Batulappa XIII (menggantikan ayahandanya) menikah dengan Puang Balu Panette dari pernikahan tersebut melahirkan:

  • Tanete Daeng Maraja Arung Buttu Enrekang XII.
  • Luwu Puang Ponding Arung Batulappa XIV (seorang perempuan), beliau menikah dengan laki-laki dari Enrekang yang bernama Kandusung Puang Lebang cucu dari Toalala Arung Enrekang VIII, Luwu Puang Ponding melahirkan Puang Malatta menikah dengan Puang Mallimongan dari pernikahan tersebut, lahir Hajrah Puang Tolaja (cucu Luwu Puang Ponding) beliau menikah dengan La Pamassangi anak dari La Majjalekka Daeng Patompo Arajang Binuang, dan La Pamassangi bersaudara kandung dengan La Mattulada Arajang Binuang, pernikahan tersebut melahirkan Andi Maradjina istri Andi Tanri Arung Batulappa.

Kembali kepada Arung Sompa Arung Batulappa XII sekaligus Arung Buttu Enrekang VII menikah dengan I Fatimah Enrekang, yang melahirkan:

  1. Loppa Puang Cullung, istri La Kassang Daeng Silasa Arung Kassa merangkap Arung Buttu.
  2. Buku' menikah dengan Datu Lanrisang dari Jampue, dari pernikahan ini lahir:

La Baso Puang Moseng Arung Batulappa XV (beliau tidak mempunyai keturunan). Beliau menggantikan sepupunya Luwu Puang Ponding sebagai Arung Batulappa, karena Luwu Puang Ponding ikut dengan suami beliau dan tidak menetap di Batulappa.

La Tanriangka Arung Buttu Enrekang XI (menggantikan kakeknya Arung Sompa sebagai Arung Buttu Enrekang), selanjutnya La Tanriangka Arung Buttu Enrekang XI menikah dengan I Batari binti La Kassang Daeng Silasa Arung Kassa merangkap Arung Buttu, dari pernikahan ini dilahirkan:

  1. I Tjoma Arung Batulappa, seorang perempuan yang diangkat anak oleh Pamannya Baso Puang Moseng Arung Batulappa, Petta Tjoma dipersiapkan oleh Puang Moseng untuk menjadi Arung Batulappa setelah beliau dalam hal ini (Arung Malolo). Pada saat masih berusia remaja, Petta Tjoma dinikahkan dengan La Naki bin Toancalo Arung Maiwa, Arung Amali, Tomarilaleng Bone bin La Pasanrangi Muhammad Arsyad Petta Cambang Arung Malolo Sidenreng. Seminggu setelah pernikahan I Tjoma dan La Naki, Baso Puang Moseng Arung Batulappa mangkat. Selanjutnya tahta Arung Batulappa diserahkan kepada I Tjoma yang menjadi Arung Batulappa selama 65 tahun pemerintahan menjadikan beliau sebagai pemegang tahta kerajaan terlama di Jazirah Sulawesi Selatan pada waktu itu. Suami beliau yakni, La Naki Karaeng Matua kemudian naik tahta menjadi Arung Maiwa pada tahun 1918, dari pernikahan I Tjoma Arung Batulappa dengan La Naki Arung Maiwa, lahir seorang putri tunggal bernama Andi Unga.
  2. La Pasinringi Puang Patumbung.


I Tjoma Arung Batulappa 1875-1941 menikah dengan La Naki Arung Maiwa, menurunkan seorang putri tunggal bernama Andi Unga, putri tunggal dari pasangan Arung Batulappa dan Arung Maiwa ini kemudian dinikahkan dengan seorang Pangeran dari Gowa yang bernama Andi Kiti Petta Lolo KaraengTa Ballapangka putera dari La Ishak Manggabarani Karaeng Bontoala, Karaeng Mangeppe Datu Pammana, Jinerala' Bone, Arung Matoa Wajo XLIII dengan I Yangkene Daeng Te'ne Karaeng Tanete.

Pernikahan Andi Kiti Petta Lolo KaraengTa Ballapangka dengan Andi Unga, melahirkan putra dengan status anak pattola' atau anak arung matasa' (pewaris kerajaan) bernama Andi Tanri Petta Arungnge Karaeng Lolo Arung Batulappa 1941-1945.

Anak yang lahir dari pernikahan tersebut yang kemudian menjadi Arung Matasa' ri Batulappa menggantikan neneknya Almarhumah I Tjoma Arung Batulappa. Andi Tanri Petta Arungnge Karaeng Lolo Arung Batulappa 1941-1945 memiliki putra dan putri:

  • Dari Isteri yang bernama Andi Maisori, lahir Andi Mangga Arung Batulappa XVII dan Andi Saribulan.
  • Dari Isteri yang bernama Andi Maradjina lahir Andi Dellung Petta Caramming, Andi Lante, Andi Madjadi, Andi Babe, Andi Cuma Arung Batulappa XVIII, Andi Kene, dan Andi Coke.
  • Dari Isteri yang bernama Andi Hanisuh Petta Andi anak dari Andi Ahmad Arung Enrekang XII, lahir Andi Parenrengi.

Konfederasi Massenrempulu

Menurut sejarah,pada mulanya kawasan massenrempulu atau sekarang Kabupaten Enrekang merupakan suatu kerajaan besar yang bernama Malepong Bulan, kemudian kerajaan ini bersifat manurung dengan sebuah persekutuan yang menggabungkan 7 kawasan atau kerajaan yang lebih dikenal Pitue Massenrempulu yaitu:

Kerajaan Endekan yang dipimpin oleh Arung (Raja)/Puang Endekan,

Kerajaan Batulappa yang dipimpin Arung Batulappa

Kerajaan Kassa yang di pimpin Arung Kassa,

Kerajaan Tallu Batu Papan Duri yang merupakan gabungan dari Buntu Batu dan Alla' masing masing di pimpin oleh Arung

kemudian Kerajaan Maiwa yang di pimpin Arung Maiwa,

Kerajaan Letta dipimpin Arung Letta

Kerajaan Baringin dipimpin Arung Baringin Akan tetapi terjadi kekurangan anggota pada sekitar abad-17. Pitue Massenrempulu kemudian berganti nama menjadi Lima Massenrempulu karena Kerajaan Letta dan Kerajaan Baringin keluar dari persekutuan.

Peta Kerajaan Batulappa 1600

Kemudian pada tahun 1905 Kerajaan Batulappa digabung dan bergabung dalam Persekutuan Ajatappareng (Adjatampareng) salah satu Konfederasi kerajaan yang berdiri di wilayah barat Sulawesi Selatan.

Sidenreng (1523)

Suppa (1523)

Sawitto (1523)

Alitta (1523)

Rappang (1523)

Batulappa (1905)

Kassa (1905)

Mallusetasi (1905)

Masa Kolonialisme

Pada zaman pendudukan Belanda di tahun 1905 pembagian administratif di Sulawesi dan Dependensinya dimulai dari Gubernur Celebes yang berkedudukan di Makassar, terdapat daerah Afdeling (setingkat Daerah tingkat II) yang dipimpin oleh Asisten Residen, Onderafdeling (Daerah tingkat II) yang dimpimpin oleh Contruler/Tuan Petoro, kemudian tiap tiap Onderafdeling terdiri atas Zelfbestuur.

(Status Zelfbestuur berarti daerah tersebut dipimpin oleh pribumi dan memiliki wewenang mengatur rumah tangganya).

Afdeling Parepare yang meliputi wilayah Konfederasi Massenrempulu & Konfederasi Ajatappareng

  • Onderafdeling Pinrang meliputi Zelfbestuur Batulappa, Zelfbestuur Sawitto, Zelfbestuur Suppa, dan Zelfbestuur Kassa
  • Onderafdeling Enrekang meliputi Zelfbestuur Maiwa, Zelfebstuur Enrekang, Zelfbestuur Alla, Zelfbestuur Buntu Batu, Zelfbestuur dan Zelbestuur Malua
  • Onderafdeling Sidenreng-Rappang hanya meliputi 2 Zelbestuur yaitu Sidenreng dan Rappang
  • Onderafdeling Barru meliputi Zelfbestuur Mallusetasi, Zelfbestuur Barru, Zelfbestuur Tanete dan Zelfbestuur Balusu

Masa Kemerdekaan

Setelah merdeka Kerajaan Batulappa menjadi bagian pada lingkup pemerintahan NIT (Negara Indonesia Timur) yang merupakan negara bagian pada Republik Indonesia Serikat hingga 1950. Lalu, statusnya diteruskan menjadi Daerah Swapraja lingkup provinsi Sulawesi, Republik Indonesia. Provinsi Sulawesi meliputi Daerah Parepare yang didalamnya meliputi Kawedanan Pinrang, dan Kawedanan tersebut terletak adanya Swapraja Batulappa hingga 1960. Keadaan tersebut bertahan hingga 1960, yang di mana terjadi pembentukan Kabupaten Pinrang. Bekas wilayah Kerajaan Batulappa menjadi Kecamatan Duampanua, selanjutnya seiring dengan berjalannya waktu Kecamatan Duampanua mengalami pemekaran wilayah, terbentuk Kecamatan Cempa dan Kecamatan Batulappa, Kabupaten Pinrang sekarang.

Peninggalan Kerajaan

Saoraja Batulappa merupakan rumah Raja yang memerintah di Kerajaan ini, selain menjadi tempat tinggal bagi keluarga Raja, juga menjadi tempat berlangsungnya proses pemerintahan. Saoraja dibangun berdasarkan tempat sang Arung berkedudukan sesuai dengan pusat kerajaan. Pendirian Saoraja terjadi pada masa pemerintahan I Tjoma Arung Batulappa di Bungi, lalu pada masa pemerintahan Andi Tanri Arung Batulappa beliau mendirikan Saoraja Camming dan setelahnya, juga dibangun Saoraja yang menjadi kediaman resmi H. Andi Mangga Arung Batulappa terakhir.

  • Saoraja Camming, di Bungi.
  • Saoraja Batulappa, di Bungi
  • Kantor Arung Batulappa, Zelfbestuur Boengi-Batoelapa (Bungi-Batulappa) merupakan bangunan kantor yang dibangun pada masa pemerintahan Andi Tanri di Bungi, sekarang menjadi Masjid Nurul Iman Bungi.
  • Lapangan I Coma Arung Batulappa di Lampa.
  • Lapangan Andi Tanri Arung Batulappa di Bungi.
  • Diabadikan nama jalan Andi Tjuma ( I Coma Arung Batulappa XV) di Desa Bungi.
  • Masjid Besar Bungi (Nurul Iman), dahulunya pada masa pemerintahan Arung Batulappa Petta Tanri halaman dan masjid sebelum dibangun, merupakan Rumah Sakit dan penjara, tetapi seiring dengan perkembangan, maka tanah dan bekas bangunan Rumah Sakit dan penjara tersebut di Waqaf-kan oleh Arung Batulappa Petta Tanri dan memerintahkan untuk didirikan Masjid.
  • Kompleks Makam Raja-raja Batulappa di Bungi (Halaman belakang Masjid Nurul Iman Bungi) , Yang Dimakamkan: Almh. I Tjoma Arung Batulappa, Almh. Andi Unga Binti La Naki Arung Maiwa (Ibunda Andi Tanri Arung Batulappa), Alm. La Naki Arung Maiwa (kakek Andi Tanri), Alm. Andi Tanri Arung Batulappa, Almh. Andi Maradjina (Permaisuri Andi Tanri), putra-putri Andi Tanri yakni Alm. Andi Mangga Arung Batulappa terakhir, Almh. Andi Tja (Istri Andi Mangga), Alm. Andi Madjadji, Almh. Andi Dellung Petta Caramming, Alm. Andi Babe, Alm. Andi Parenrengi, Almh. Andi Saribulan
  • Trisula Arung Batulappa
  • Arajang
  • Lukisan
  • Keramik dan Furniture Saoraja

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement