Kepercayaan alam baka Mesir Kuno

Adegan mendetail dari Papirus Hunefer (ca 1375 SM) ini memperlihatkan jantung Hunefer tengah ditimbang di atas neraca Maat dan disandingkan dengan bulu kebenaran, oleh Anubis yang berkepala jakal. Thoth yang berkepala burung ibis, sang juru tulis para dewa, mencatat hasilnya. Jika jantungnya lebih ringan dari bulu tersebut, Hunefer diperkenankan untuk melangkah ke alam baka. Jika tidak, ia akan dilahap oleh Ammit yang telah menanti. Vignyet semacam ini merupakan ilustrasi yang lazim ditemukan dalam kitab kematian Mesir.[1]

Kepercayaan alam baka Mesir Kuno berpusat pada serangkaian ritual rumit yang dipengaruhi oleh berbagai aspek kebudayaan Mesir. Agama merupakan penyokong utama, mengingat fungsinya sebagai praktik sosial penting yang menyatukan seluruh rakyat Mesir. Sebagai contoh, banyak dewa Mesir yang berperan dalam menuntun jiwa-jiwa yang telah mangkat mengarungi alam baka. Seiring dengan berkembangnya sistem tulisan, gagasan-gagasan keagamaan mulai dicatat dan menyebar dengan pesat ke seluruh penjuru masyarakat Mesir. Pemantapan dan perwujudan doktrin-doktrin ini tertuang dalam penciptaan teks-teks alam baka, yang mengilustrasikan serta menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh mereka yang telah tiada demi menyelesaikan perjalanan tersebut dengan selamat.

Doktrin agama Mesir mencakup tiga ideologi alam baka: kepercayaan akan dunia bawah, kehidupan abadi, dan kelahiran kembali jiwa. Dunia bawah, yang juga dikenal sebagai Duat, hanya memiliki satu jalan masuk yang dapat dicapai dengan menyusuri makam mendiang. Pemandangan pertama yang akan menyambut sebuah jiwa saat memasuki ranah ini adalah sebuah lorong yang dijajari oleh deretan patung-patung menakjubkan, termasuk salah satu perwujudan dewa berkepala elang, Horus. Jalan yang ditempuh menuju dunia bawah ini mungkin berbeda antara raja-raja dan rakyat jelata. Setelah masuk, roh-roh tersebut dihadapkan pada dewa agung lainnya, yakni Osiris. Osiris akan menimbang kebajikan dari jiwa yang telah wafat itu dan menganugerahkan kedamaian di alam baka bagi mereka yang dianggap pantas. Konsep 'kehidupan abadi' bagi masyarakat Mesir sering kali dipandang sebagai kelahiran kembali yang tiada akhir. Oleh karena itu, jiwa-jiwa yang telah menjalani kehidupan mereka dengan luhur akan dituntun menuju Osiris untuk dilahirkan kembali.[2]

Demi merengkuh alam baka yang ideal, berbagai amalan harus dilaksanakan semasa hidup seseorang. Hal ini dapat mencakup berperilaku adil dan mematuhi ajaran-ajaran dalam akidah Mesir. Selain itu, masyarakat Mesir sangat menekankan pentingnya ritual-ritual yang diselenggarakan setelah kehidupan seseorang berakhir. Dengan kata lain, merupakan tanggung jawab mereka yang masih hidup untuk menunaikan tradisi-tradisi terakhir yang diwajibkan, agar mereka yang telah tiada dapat segera menyongsong takdir akhir mereka. Pada akhirnya, memelihara moral keagamaan yang luhur baik oleh yang hidup maupun yang mati, serta kepatuhan terhadap berbagai tradisi, akan menjamin kelancaran transisi mendiang menuju dunia bawah.

Masyarakat Mesir mendambakan untuk tetap dapat menjalankan pekerjaan serta menikmati hobi mereka di alam baka.[3] Sungai-sungai dan bentang alam dengan tanah yang subur bagi para petani diyakini turut ada di alam baka, dan lukisan benda-benda pada dinding makam, seperti perahu, dipercaya dapat mewujudkan benda-benda tersebut di alam baka bagi mendiang pengguna atau pemiliknya.[3]

Referensi

  1. ^ "Egyptian Book of the Dead". Egyptartsite.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-09-26. Diakses tanggal 2012-08-18.
  2. ^ Mojsov, Bojana (2001). "The Ancient Egyptian Underworld in the Tomb of Sety I: Sacred Books of Eternal Life". The Massachusetts Review. 42 (4): 489–506. JSTOR 25091798.
  3. ^ a b Williams, Ann R., ed. (2022). Treasures of Egypt: A Legacy In Photographs from the Pyramids to Cleopatra. Foreword by Fredrik Hiebert. Washington, D.C.: National Geographic. hlm. 109. ISBN 978-1-4262-2263-4.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement