Kepentingan

Kepentingan adalah suatu sifat yang dimiliki oleh entitas yang membawa arti atau menimbulkan perbedaan. Sebagai contoh, Perang Dunia II adalah sebuah peristiwa yang penting, dan Albert Einstein adalah seorang tokoh yang penting karena dampak yang mereka berikan terhadap dunia. Namun, terdapat perbedaan pandangan dalam literatur akademik mengenai jenis perbedaan apa yang diperlukan agar sesuatu disebut penting. Menurut pandangan pengaruh kausal, sesuatu dianggap penting apabila ia memiliki dampak kausal yang besar terhadap dunia. Akan tetapi, pandangan ini ditolak oleh sejumlah teoritikus yang berpendapat bahwa diperlukan aspek tambahan: bahwa dampak tersebut harus menghadirkan perbedaan dari segi nilai. Hal ini kerap dipahami dalam kaitannya dengan bagaimana sesuatu yang penting memengaruhi kesejahteraan manusia. Dari sudut pandang ini, Perang Dunia II dianggap penting bukan semata karena membawa perubahan besar, melainkan karena perubahan itu menimbulkan dampak negatif yang mendalam terhadap kesejahteraan manusia yang terlibat. Perbedaan yang dimaksud biasanya dipahami secara kontrafaktual sebagai perbandingan antara kondisi dunia yang ada dengan kondisi dunia yang akan terjadi seandainya entitas penting tersebut tidak pernah ada. Sering kali juga diperdebatkan bahwa klaim tentang kepentingan bersifat kontekstual atau bergantung pada ranah tertentu. Artinya, klaim itu secara eksplisit maupun implisit selalu mengandaikan adanya suatu ranah tempat sesuatu itu dinilai bermakna. Misalnya, belajar untuk ujian adalah hal yang penting dalam konteks kesuksesan akademik, tetapi tidak demikian dalam konteks sejarah dunia. Kepentingan pun hadir dalam tingkatan: sesuatu disebut penting jika keberadaannya, dalam ranah tertentu, lebih bermakna dibandingkan sebagian besar entitas lainnya dalam ranah yang sama.

Istilah "kepentingan" kerap digunakan secara tumpang tindih dengan sejumlah istilah lain yang berdekatan makna, seperti "kebermaknaan", "nilai", dan "kepedulian". Para teoritikus sering berupaya menjelaskan istilah-istilah ini dengan membandingkannya, untuk menunjukkan apa yang mereka miliki bersama serta bagaimana mereka berbeda. Sebuah kehidupan yang bermakna biasanya juga penting dalam arti tertentu. Namun, kebermaknaan memiliki syarat tambahan: kehidupan tersebut harus diarahkan oleh Niat sang pelaku dan tertuju pada perwujudan tujuan yang lebih tinggi. Dalam beberapa konteks, menyebut sesuatu itu penting sama artinya dengan menyebutnya bernilai. Namun secara lebih umum, kepentingan tidak merujuk pada nilai itu sendiri, melainkan pada adanya perbedaan nilai. Perbedaan ini bisa pula bersifat negatif: beberapa peristiwa disebut penting karena menimbulkan akibat yang sangat buruk. Kepentingan sering dipandang sebagai ciri yang objektif, berbeda dengan sikap subjektif seseorang yang peduli atau menganggap sesuatu itu penting. Idealnya, keduanya beririsan: manusia secara subyektif peduli pada hal-hal yang obyektif memang penting. Namun, keduanya dapat pula terpisah: ada orang yang peduli pada hal-hal remeh, atau gagal peduli pada hal-hal yang sungguh penting. Sejumlah teoritikus membedakan antara kepentingan yang bersifat instrumental, yakni yang terkait dengan pencapaian tujuan tertentu dengan kepentingan yang bersumber pada nilai intrinsik atau final. Perbedaan lain yang dekat adalah antara kepentingan yang bersifat relatif terhadap seseorang dan kepentingan yang mutlak atau tak terbatas.

Konsep kepentingan menempati posisi sentral dalam banyak bidang dan persoalan. Banyak orang mendambakan untuk menjadi penting atau menjalani kehidupan yang penting. Namun, telah diperdebatkan bahwa hal ini tidak selalu merupakan tujuan yang baik, sebab kepentingan juga dapat terwujud secara negatif: dengan menimbulkan kerugian besar sehingga menghasilkan perbedaan nilai yang penting, tetapi negatif. Hasrat umum yang berhubungan erat dengan ini antara lain keinginan akan kekuasaan, Kekayaan, dan ketenaran. Dalam ranah Etika, kepentingan suatu hal sering menentukan bagaimana seseorang seyogianya bertindak terhadap hal tersebut—misalnya dengan memberi perhatian atau dengan melindunginya. Dalam hal ini, kepentingan adalah sebuah sifat normatif, yakni bahwa klaim kepentingan menjadi dasar alasan bagi tindakan, emosi, dan sikap lainnya. Dari sisi psikologis, pertimbangan mengenai tingkat kepentingan berbagai aspek dalam suatu situasi membantu individu menyederhanakan kompleksitasnya dengan hanya berfokus pada ciri-ciri yang paling signifikan.

Perdebatan utama dalam konteks makna kehidupan berkisar pada pertanyaan apakah kehidupan manusia itu penting pada skala kosmik. kaum nihilis dan absurdis umumnya menjawab secara negatif. Pandangan pesimistis semacam ini dapat, dalam kasus tertentu, menimbulkan krisis eksistensial. Dalam bidang kecerdasan buatan, penerapan kemampuan penalaran buatan untuk menilai kepentingan suatu informasi menghadirkan tantangan besar ketika berhadapan dengan kompleksitas situasi dunia nyata.

Definisi dan ciri-ciri esensial

Kepentingan adalah sebuah sifat yang dimiliki oleh entitas yang menghadirkan perbedaan nyata di dalam dunia.[1][2] Dengan demikian, sesuatu hanya dapat disebut penting apabila ia memberi dampak terhadap dunia di sekitarnya. Sebagai contoh, Perang Dunia II merupakan peristiwa bersejarah yang penting, baik karena penderitaan yang ditimbulkannya maupun karena perubahan politik jangka panjang yang dihasilkannya.[3] Atau dalam ranah Kedokteran, Alexander Fleming adalah seorang tokoh penting karena ia menemukan Penisilin, yang sejak saat itu memberi perubahan besar bagi kesehatan banyak orang.[4] Sebaliknya, hal-hal yang tidak memiliki kepentingan dapat dihapus tanpa menimbulkan perubahan berarti bagi dunia.[5] Meskipun demikian, tampaknya menghadirkan perbedaan saja belumlah cukup: bahkan hal-hal sepele sekalipun biasanya menghasilkan perbedaan, walau sangat remeh. Sebuah definisi yang tidak diperdebatkan tetapi bersifat sirkular menyatakan bahwa sesuatu itu penting bila ia menghasilkan perbedaan yang penting.[1][2][6]

Berbagai usulan telah diajukan untuk memberikan penjelasan yang lebih substansial mengenai hakikat perbedaan ini. Upaya ini diperlukan agar dapat merumuskan definisi yang tepat, yang mampu membedakan antara hal penting dan hal tidak penting.[7][1][2] Gagasan yang mendasari pendekatan ini ialah bahwa terdapat banyak cara untuk menghasilkan suatu perbedaan yang penting, dan harus ada unsur yang sama di antara semuanya.[7][1][2] Menurut pandangan pengaruh kausal, yang terutama ialah sejauh mana dampak kausal suatu hal dalam ranahnya atau terhadap dunia secara keseluruhan.[7] Banyak teoritikus menambahkan syarat lain, yakni bahwa dampak tersebut mesti menyentuh nilai intrinsik dunia, sering kali dalam bentuk peningkatan kesejahteraan seseorang.[8][9] Perbedaan antara pandangan-pandangan ini membawa implikasi penting. Misalnya, ada yang berpendapat bahwa kehidupan manusia tidak memiliki arti penting pada tingkat kosmik bila diukur dari dampak kausalnya, tetapi memiliki arti bila ditinjau dari perbedaan nilai yang dihasilkannya.[7]

Aspek-aspek sentral lain dari kepentingan adalah sifatnya yang bergantung pada konteks—yaitu bahwa klaim kepentingan hampir selalu menilai makna suatu hal dalam kaitannya dengan suatu ranah tertentu—dan sifatnya yang relasional—yakni bahwa sejauh mana dampak dinilai biasanya selalu dibandingkan dengan dampak entitas lain dalam ranah yang sama.[7][6] Kepentingan juga muncul dalam derajat: semakin penting suatu hal, semakin besar pula perbedaan yang ditimbulkannya.[7][8]

Referensi

  1. ^ a b c d Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Frankfurt1982
  2. ^ a b c d Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Benbaji2001
  3. ^ "World War II". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 28 June 2022.
  4. ^ Morris, Chris (28 March 2016). "10 wonder drugs that changed our lives forever". CNBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 24 June 2022.
  5. ^ Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Kahane2021b
  6. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Kahane2022
  7. ^ a b c d e f Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Kahane2021a
  8. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Nozick1990
  9. ^ Tugendhat, Ernst (4 October 2016). "2. "Good" and "Important"". Egocentricity and Mysticism: An Anthropological Study (dalam bahasa Inggris). Columbia University Press. ISBN 978-0-231-54293-7.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement