Kekeringan air di Teheran


Kekeringan air di Teheran merupakan bagian dari masalah kekurangan air yang melanda seluruh Iran. Dalam beberapa dekade terakhir, negara ini menghadapi krisis air parah yang berdampak pada jutaan penduduk di berbagai wilayah.

Penyebab utama krisis ini adalah perubahan lingkungan, pengelolaan sumber daya yang buruk, serta praktik pertanian yang tidak berkelanjutan. Ketiga faktor tersebut menyebabkan penurunan besar pada cadangan air permukaan dan air tanah. Eksploitasi air berlebihan untuk kebutuhan industri dan pertanian memperburuk kondisi, menimbulkan ketidakamanan pangan, serta memicu migrasi internal dari wilayah kering ke daerah yang lebih basah. Penerapan teknik pertanian yang tidak efisien dan pembangunan bendungan berskala besar turut mengganggu sistem air alami, mempercepat penyusutan sungai dan danau. Selain faktor lingkungan, unsur politik juga berperan dalam memperburuk situasi. Subsidi yang salah sasaran dan korupsi yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menjadi hambatan besar dalam upaya penanganan krisis air di Iran.[1]

Rincian

Kota Teheran, yang menampung sekitar 18 persen populasi Iran, menjadi contoh paling jelas dari krisis air nasional yang dihadapi negara tersebut. Kesenjangan dalam pasokan air di ibu kota sangat mencolok.[2] Wilayah miskin sering mengalami keterbatasan suplai air bersih dan harus bergantung pada air dengan kualitas berbahaya bagi kesehatan. Sebaliknya, kawasan elit dan kaya termasuk tempat tinggal para pejabat tinggi pemerintahan serta anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) umumnya tidak terpengaruh oleh kekurangan air. Ketimpangan ini mencerminkan kegagalan kebijakan distribusi air dan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap pengelolaan sumber daya air di wilayah perkotaan terbesar Iran.[3]

Iran menghadapi krisis air parah akibat kombinasi perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, dan salah urus selama puluhan tahun. Negara ini telah mengeksploitasi sumber air secara berlebihan, yang memperburuk masalah ketahanan pangan dan mendorong migrasi internal. Praktik pertanian yang tidak efisien serta pembangunan bendungan secara masif telah mengganggu aliran alami air, mempercepat penurunan cadangan air tanah dan permukaan. Di sisi lain, faktor politik seperti subsidi yang salah sasaran dan korupsi yang terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperdalam krisis ini. Ketidakadilan dalam pengelolaan air telah memicu protes publik di berbagai wilayah dan menimbulkan ketegangan internasional terkait perebutan sumber daya air lintas batas. Di ibu kota Teheran, krisis ini terlihat paling nyata. Kota tersebut menghadapi kekeringan ekstrem akibat penurunan curah hujan, eksploitasi air tanah berlebihan, dan infrastruktur distribusi yang usang. Sistem pengelolaan air Iran kini didominasi kepentingan politik, di mana IRGC dan kelompok berpengaruh lainnya mengendalikan proyek-proyek air demi keuntungan ekonomi dan kekuasaan, bukan untuk memenuhi kebutuhan publik.[4]

Referensi

  1. ^ Calabrese, Dr John (2024-05-23). "Iran: Running Out of Time to Avoid Running Out of Water?". Modern Diplomacy (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-06.
  2. ^ "Tehran Residents Report Further Water Issues Despite Government Claims Of Fix". Radio Free Europe/Radio Liberty (dalam bahasa Inggris). 2023-06-14. Diakses tanggal 2025-11-06.
  3. ^ Nasri Roodsari, Elmira; Hoseini, Parian (2021-11-27). "An assessment of the correlation between urban green space supply and socio-economic disparities of Tehran districts—Iran". Environment, Development and Sustainability. 24 (11): 12867–12882. doi:10.1007/s10668-021-01970-4. ISSN 1387-585X.
  4. ^ Kim, Kyungmee; Swain, Ashok (2017). Crime, Corruption, Terrorism and Beyond: A Typology of Water Crime. Cham: Springer International Publishing. hlm. 95–111. ISBN 978-3-319-50160-4.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement