Kekecewaan Besar

Bagian dari seri tentang
Adventisme
Sejarah dan Latarbelakang

Kekristenan
Reformasi Protestan
Anabaptis
Gerakan Miller

Tokoh-tokoh Pendiri

Ellen G. White
Joseph Bates · Uriah Smith
J. N. Andrews · James White

Institusi dan Lembaga

Sekolah, Universitas·
Rumah Sakit, Klinik, Panti Asuhan·
Daftar Gereja Advent di Indonesia

Teologi dan Ajaran

Hari Sabat

Skisma dan Sekte sempalan


Gerakan Advent Hari Ketujuh Pembaharuan
Persekutuan Advent Hari Ketujuh Davidian
Advent Christian Church
Church of God General Conference
Ranting Daud


Kekecewaan Besar adalah sebuah reaksi atas perkiraan William Miller, pemimpin gerakan Millerite, yang menyatakan bahwa Yesus Kristus akan kembali ke bumi pada tahun 1844 sebagai Kedatangan Kedua. Berdasarkan kajiannya atas kitab Daniel 8 selama Kebangkitan Besar Kedua, "pembersihan tempat kudus" yang dilakukan Daniel adalah pembersihan dunia dari dosa ketika Kristus datang, sehingga ia menganjurkan kepada segenap manusia untuk mempersiapkan diri. Ketika Yesus tidak muncul pada 22 Oktober 1844, Miller dan pengikutnya kecewa.[1][2][3][4]

Peristiwa ini ditafsirkan lain oleh umat Advent yang datang kemudian dan membentuk Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Mereka berpendapat bahwa tanggal 22 Oktober bukanlah kedatangan Yesus kembali, tetapi awal dari pekerjaan penebusan dosa terakhir Yesus, pembersihan di tempat kudus surgawi, yang mengarah kepada Kedatangan Kedua.[1][2][3][4]

Perkiraan Miller tentang Kedatangan Kedua

William Miller melakukan studi atas Alkitab selama tahun 1831 hingga 1844, berdasarkan studinya akan Alkitab, khususnya nubuat Daniel 8:14:[5] "Sampai lewat dua ribu tiga ratus petang, lalu tempat kudus itu akan dipulihkan dalam keadaan yang wajar". Sebagai hasil studinya itu, ia mengkhotbahkan kedatangan Yesus Kristus kembali ke bumi.[6]

Pendekatan Miller terhadap Alkitab adalah menyeluruh, metodis, intensif dan luas. Prinsip utamanya "seluruh bagian Alkitab itu penting" dan tidak ada bagian yang boleh diabaikan. Untuk memahami sebuah doktrin, Miller mengatakan seseorang perlu "mengumpulkan semua bagian dari kitab suci tentang subjek yang ingin Anda ketahui; kemudian biarkan setiap kata membentuk pengaruh yang tepat, dan jika Anda dapat membentuk teori tanpa kontradiksi, Anda tidak akan salah." Ia berpendapat bahwa Alkitab ditafsirkan dengan Alkitab itu sendiri. Dengan membandingkan ayat dengan ayat, seseorang dapat mengungkap makna Alkitab. Dengan cara demikian, Alkitab menjadi otoritas seseorang, sedangkan jika pemikiran orang lain atau tulisan-tulisan mereka dijadikan dasar, maka otoritas eksternal itulah yang menjadi pusat perhatian, bukan ajaran Alkitab itu sendiri.[7] Pedoman Miller mengenai penafsiran nubuat Alkitab dibangun atas konsep yang sama yang ditetapkan dalam aturan umumnya. Alkitab, sejauh yang dipahami Miller dan para pengikutnya, adalah otoritas tertinggi dalam semua masalah iman dan doktrin.[8]

Pandangan Kedatangan Kedua

Gerakan Millerite memperhatikan kembalinya Yesus, secara harfiah dan kasat mata, dari awan-awan langit. Revolusi Prancis merupakan salah satu dari beberapa faktor yang menyebabkan banyak pelajar Alkitab di seluruh dunia yang memiliki keprihatinan yang sama dengan Miller, untuk menyelidiki nubuat-nubuat waktu Daniel dengan menggunakan metodologi penafsiran historisisme. Mereka menyimpulkan, dengan meyakinkan, bahwa akhir dari nubuatan 1.260 "hari" di Daniel 7:25 [9] pada tahun 1798 menandai dimulainya era "zaman akhir". Selanjutnya mereka mempertimbangkan 2.300 "hari" di Daniel 8:14. [10]

Ada tiga hal yang ditentukan Miller tentang ayat ini:[11]

Tafsiran Miller tentang nubuat Daniel 2.300 hari dan hubungannya dengan nubuat tujuh puluh pekan.
Surat Perintah Artahsasta I (457 BC), sebagaimana tercatat dalam Ezra, memulai masa 70 "pekan". Tahun raja berkuasa dihitung dari tahun baru ke tahun baru mengikut "tahun kenaikan" raja itu. Tahun baru Persia dimulai pada bulan Nisan (Maret–April), sedangkan Yahudi pada bulan Tishri (September–Oktober).
Akhir 70 "masa" adalah pembaptisan Yesus pada 27 M dan penyalibannya pada 31 M.
  1. bahwa 2.300 hari simbolis itu melambangkan 2.300 tahun yang sebenarnya, sebagaimana dibuktikan dalam Yehezkiel 4:6 [12] dan Bilangan 14:34;[13]
  2. bahwa tempat kudus itu melambangkan bumi atau gereja; dan
  3. dengan mengacu pada 2 Petrus 3:7,[14] bahwa 2.300 tahun berakhir dengan terbakarnya bumi pada Kedatangan Kedua.

Miller menghubungkan penglihatan 2.300 hari itu dengan nubuat tujuh puluh kali tujuh masa (pekan) dalam Daniel 9. Ia menyimpulkan bahwa 70 pekan adalah 490 tahun pertama dari 2.300 tahun. 490 tahun itu dimulai dengan perintah untuk membangun kembali dan memulihkan Yerusalem. Alkitab mencatat empat dekrit mengenai Yerusalem setelah pembuangan ke Babel:

  1. 536 SM: Perintah Koresh untuk membangun kembali kuil.[15]
  2. 519 SM: Perintah Darius I untuk menyelesaikan pembangunan kuil.[16]
  3. 457 SM: Perintah Artahsasta I dari Persia.[17]
  4. 444 SM: Perintah Artahsasta kepada Nehemia untuk menyelesaikan tembok di Yerusalem.[18]

Keputusan Artahsasta yang terakhir memberi wewenang kepada Ezra untuk menetapkan hukum dan mengangkat pejabat-pejabat tinggi serta hakim-hakim bagi negara Yahudi yang dipulihkan. Hal ini juga memberinya dana tak terbatas untuk membangun kembali apapun yang dia inginkan di Yerusalem.[19]

Dengan demikian, Miller menyimpulkan bahwa tahun 457 SM adalah awal dari nubuatan 2.300 "hari" (yakni tahun), yang berarti bahwa nubuatan tersebut akan berakhir sekitar tahun 1843–1844 (457 SM + 2.300 tahun = 1843 M). Maka, Kedatangan Kristus yang Keduaakan terjadi sekitar waktu itu.[11]

Miller berasumsi bahwa “pembersihan tempat kudus” melambangkan pemurnian bumi dengan api pada Kedatangan Kristus yang Kedua. Dengan menggunakan prinsip interpretatif yang dikenal sebagai prinsip hari-tahun (yakni "hari" dalam Alkitab dianggap sebagai "tahun"), Miller percaya—dan memprediksi—bahwa Kristus akan kembali pada "sekitar tahun 1843". Miller mempersempit jangka waktu tersebut ke suatu waktu di tahun Yahudi 5604, dengan menyatakan: "Prinsip-prinsip saya secara singkat adalah bahwa Yesus Kristus akan datang kembali ke bumi ini, membersihkan, memurnikan, dan mengambil alih bumi ini, bersama dengan semua orang kudus, suatu waktu antara tanggal 21 Maret 1843 dan 21 Maret 1844"[20] Tanggal 21 Maret 1844 berlalu tanpa kejadian berarti, tetapi mayoritas pengikut Miller tetap mempertahankan iman mereka.

Setelah diskusi dan studi lebih lanjut, Miller mengadopsi tanggal baru—18 April 1844—berdasarkan kalender Yahudi Karait (berbeda dengan kalender Rabbinik).[21] Sekali lagi, tanggal 18 April berlalu tanpa kedatangan Kristus. Dalam Advent Herald edisi 24 April, Joshua Himes menulis bahwa semua "tanggal yang diharapkan dan dipublikasikan" telah berlalu dan mengakui bahwa mereka telah "keliru mengenai waktu yang tepat dari berakhirnya nubuatan". Josiah Litch menduga bahwa orang Advent mungkin "hanya keliru mengenai peristiwa yang menandai akhirnya". Miller menerbitkan sebuah surat "untuk beriman pada saat Kedatangan Kedua," yang menuliskan, "Saya mengakui kesalahan saya, dan mengakui kekecewaan saya; tetapi saya tetap percaya bahwa hari Tuhan sudah dekat, bahkan sudah di ambang pintu."[22]

Perkiraan Terakhir: 22 Oktober 1844

Pada bulan Agustus 1844, pada suatu pertemuan perkemahan di Exeter, New Hampshire, Samuel S. Snow menyampaikan sebuah penafsiran baru, yang kemudian dikenal sebagai "pesan bulan ketujuh" atau "seruan tengah malam yang sesungguhnya". Dalam sebuah diskusi rumit berdasarkan tipologi kitab suci, Snow menyampaikan kesimpulannya (masih berdasarkan nubuat 2.300 hari dalam Daniel 8:14) bahwa Kristus akan kembali pada "hari kesepuluh bulan ketujuh tahun ini, 1844".[23] Dengan menggunakan kalender Yahudi Karait lagi, ia menetapkan tanggal ini jatuh pada 22 Oktober 1844. "Pesan bulan ketujuh" ini "menyebar dengan kecepatan yang tak tertandingi dalam pengalaman Millerit" di antara masyarakat umum.

Tanggal 22 Oktober berlalu tanpa insiden, sehingga menimbulkan perasaan kecewa di antara banyak pengikut Miller.[24] Henry Emmons, seorang Millerit, kemudian menulis:

Saya menunggu sepanjang hari Selasa [22 Oktober] dan Yesus yang terkasih tidak datang; Saya menunggu sepanjang pagi hari Rabu, dan tubuh saya masih sehat seperti sebelumnya, tetapi setelah pukul 12 saya mulai merasa lemah, dan sebelum gelap datang saya membutuhkan seseorang untuk membantu saya naik ke kamar, karena kekuatan alami saya hilang dengan cepat, dan saya terbaring tak berdaya selama 2 hari tanpa rasa sakit—sakit karena kekecewaan.[25]

Akibat

Kaum Millerit harus berhadapan dengan harapan-harapan hancur mereka sendiri, belum lagi kritikan pedas dan bahkan kekerasan fisik dari masyarakat. Banyak pengikut Miller meninggalkan harta benda mereka untuk menanti kedatangan Kristus kembali. Pada tanggal 18 November 1844, Miller menulis kepada Himes tentang pengalamannya:

Beberapa orang bertanya dengan nada mengejek, "Kalian tidak naik?" Bahkan anak-anak kecil di jalan terus menerus berteriak kepada orang yang lewat, "Kalian punya tiket untuk naik?" Iklan-iklan yang beredar, baik yang paling bergaya maupun populer [...] mengolok-olok dengan cara yang paling memalukan tentang "jubah putih orang-orang kudus" dalam Wahyu 6:11, 'naik,' dan hari besar 'pembakaran.' Bahkan [khotbah] mimbar-mimbar dicemari oleh pengulangan laporan-laporan palsu dan memalukan tentang 'jubah kenaikan', dan para pendeta menggunakan kekuatan dan pena mereka untuk menambah katalog ejekan dalam terbitan berkala yang paling memalukan pada masa itu.[26]

Beberapa kekerasan fisik terhadap Millerit dilaporkan. Sebuah gereja Millerit dibakar di Ithaca, New York, dan dua gereja dirusak di Dansville dan Scottsville. Di Loraine, Illinois, segerombolan orang menyerang jemaat Millerit dengan pentungan dan pisau, sementara sekelompok orang di Toronto dilempari tar dan bulu. Sebuah tembakan terjadi pada pertemuan kelompok Kanada lainnya di sebuah rumah pribadi.[27]

Pengikut Millerit, termasuk pemimpinnya, pada umumnya merasa bingung dan kecewa. Tanggapan mereka juga beragam: sebagian terus menantikan kedatangan Kristus setiap hari, sementara yang lain meramalkan tanggal yang berbeda-beda—di antaranya April, Juli, dan Oktober 1845. Ada yang berteori bahwa dunia telah memasuki milenium ketujuh—"Sabat Agung", dan karena itu, orang-orang yang diselamatkan tidak boleh bekerja. Sebagian lainnya bertindak seperti anak-anak, mendasarkan kepercayaan mereka pada perkataan Yesus di Markus 10:15: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa tidak menerima Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." J.D. Pickands menggunakan Wahyu 14:14–16 [28] untuk mengajarkan bahwa Kristus sekarang sedang duduk di atas awan putih dan umat harus berdoa agar Ia turun. Telah ada spekulasi bahwa mayoritas pengikut Miller melepaskan keyakinan mereka dan mencoba membangun kehidupan kembali, sejumlah besar lainnya bergabung dengan gerakan Shaker, sedangkan sebagian lain bergabung kembali dengan denominasi mereka sebelumnya.[29]

Pada pertengahan tahun 1845, garis doktrinal di antara berbagai kelompok Millerite mulai menguat, menekankan perbedaan satu sama lain, yang dideskripsikan oleh George R. Knight sebagai "pembentukan sekte". Pada masa ini, terdapat tiga kelompok Millerite utama—selain kelompok yang sudah meninggalkan kepercayaan mereka.[30] Kelompok Millerite pertama yang besar yang masih percaya pada Kedatangan Kristus yang Kedua berfokus pada kepercayaan "pintu tertutup". Kepercayaan ini dipopulerkan oleh Joseph Turner dan didasarkan pada tafsiran Millerite terhadap Matius 25:1–13,[31] yakni kisah Perumpamaan Sepuluh Gadis.[32][33] "Penutupan pintu" ditafsirkan sebagai penutupan masa percobaan. Seperti yang dijelaskan Knight, "Setelah pintu ditutup, tidak akan ada keselamatan tambahan. Gadis-gadis bijaksana (orang-orang percaya sejati) akan berada di dalam kerajaan, sedangkan gadis-gadis bodoh dan semua orang lainnya akan berada di luar."[34] Kepercayaan ini kehilangan landasannya karena timbulnya keraguan mengenai pentingnya tanggal 22 Oktober 1844—jika tidak terjadi apa-apa pada tanggal tersebut, maka tidak akan ada pintu tertutup. Penentangan terhadap kepercayaan tertutup ini dipimpin oleh Himes dan membentuk kelompok kedua pasca-1844. Fraksi ini segera menguasai keadaan, bahkan berhasil mengubah Miller menjadi mendukung sudut pandang mereka. Pengaruh mereka diperkuat dengan diselenggarakannya Konferensi Albany. Gereja Kristen Advent berakar pada kelompok pasca Kekecewaan Besar ini.

Kelompok Millerite pasca-kekecewaan besar ketiga juga mengklaim, seperti kelompok yang dipimpin Hale dan Turner, bahwa tafsiran tanggal 22 Oktober adalah benar; alih-alih Kristus telah kembali secara tak kasatmata, mereka menyimpulkan bahwa peristiwa yang terjadi pada tanggal 22 Oktober 1844 itu benar-benar berbeda. Teologi kelompok ketiga ini tampaknya bermula pada tanggal 23 Oktober 1844—sehari setelah Kekecewaan Besar. Pada hari itu, selama sesi doa bersama sekelompok umat Advent, Hiram Edson yakin bahwa “terang akan diberikan” dan “kekecewaan mereka akan terjelaskan”.[35] Pengalaman Edson membawanya pada studi lanjutan tentang topik tersebut dengan O.R.L. Crosier dan F.B. Hahn. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa anggapan Miller bahwa tempat suci itu melambangkan bumi adalah keliru. “Tempat kudus yang harus dibersihkan dalam Daniel 8:14 bukanlah bumi atau gereja, melainkan tempat kudus yang di surga.” [36] Jadi, tanggal 22 Oktober bukan menandai Kedatangan Kristus yang Kedua, melainkan sebuah peristiwa surgawi. Dari kelompok ketiga ini muncul Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, dan penafsiran tentang Kekecewaan Besar ini membentuk dasar bagi doktrin Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang Penghakiman Penyelidikan Ilahi pra-Kedatangan. Penafsiran mereka diterbitkan pada awal tahun 1845 di Day Dawn.

Hubungan dengan Baha'i

Para penganut Agama Baha'i percaya bahwa sebagian besar penafsiran Miller mengenai tanda-tanda dan tanggal kedatangan Yesus adalah benar.[37] Mereka percaya bahwa penggenapan nubuat Alkitab tentang kedatangan Kristus terjadi melalui seorang pendahulu agama mereka sendiri, yaitu Báb, yang menyatakan bahwa dirinya adalah "Yang Dijanjikan" pada tanggal 23 Mei 1844, dan mulai mengajar secara terbuka di Persia pada bulan Oktober 1844.[38][39]

Beberapa buku dan pamflet Baha'i menyebutkan tentang Millerites, ramalan yang digunakan oleh Miller dan Kekecewaan Besar, terutama pengikut Baha'i William Sears dalam buku Thief in the Night.[40][41][42] Tahun 1844 Masehi bertepatan dengan tahun 1260 Hijriah. Sears menghubungkan nubuat Daniel dengan Kitab Wahyu di Perjanjian Baru untuk mendukung ajaran Baháʼí, dengan menafsirkan tahun 1260 sebagai "satu masa, satu masa, dan setengah masa" dari Daniel 7:25 (3 dan 1/2 tahun = 42 bulan = 1.260 hari). Dengan menggunakan prinsip yang sama seperti yang digunakan William Miller, Sears menguraikan teks-teks ini ke dalam tahun 1260 Hijriah, atau 1844 Masehi.[40]

Penganut Baha'i meyakini bahwa jika William Miller tahu tahun 1844 adalah juga tahun 1260 H, maka ia mungkin mempertimbangkan bahwa ada tanda-tanda lain yang perlu dicari. Penafsiran Baha'i atas bab 11 dan 12 Kitab Wahyu, bersama dengan ramalan Daniel, dijelaskan oleh 'Abdu'l-Baha, putra pendiri Agama Baha'i, kepada Laura Clifford Barney dan diterbitkan pada tahun 1908 dalam Bab 10, 11 dan 13 dari Beberapa Pertanyaan yang Dijawab. Penjelasan yang diberikan dalam Bab 10 mengacu pada ayat-ayat Alkitab yang sama yang digunakan William Miller, dan sampai pada kesimpulan yang sama tentang tahun di mana kita dapat mengharapkan 'pembersihan tempat suci' yang ditafsirkan oleh 'Abdu'l-Bahá sebagai 'fajar' dari 'Wahyu' baru – tahun 1844 M.[butuh rujukan][ kutipan diperlukan]

Pandangan Lainnya

Kekecewaan Besar dipandang oleh beberapa sarjana sebagai contoh fenomena psikologis disonansi kognitif.[43] Teori ini diajukan oleh Leon Festinger untuk menggambarkan kepercayaan baru terbentuk dan peningkatan penyebaran agama dengan tujuan mengurangi ketegangan atau disonansi yang diakibatkan oleh ramalan yang gagal.[44] Menurut teori tersebut, pengikut dan simpatisan Miller mengalami disonansi setelah kegagalan nubuat Kedatangan Kedua pada tahun 1844, sehingga berbagai penjelasan baru bermunculan sebagai upaya mengatasi Kekecewaan Besar.

Referensi

  1. ^ a b "Seventh-day Adventist Church emerged from religious fervor of 19th Century". 4 October 2016. Diakses tanggal 27 December 2016.
  2. ^ a b "Apocalypticism Explained – Apocalypse!". Frontline – PBS. Diakses tanggal 27 December 2016.
  3. ^ a b "The Great Disappointment and the Birth of Adventism". Diarsipkan dari asli tanggal 28 February 2021. Diakses tanggal 27 December 2016.
  4. ^ a b "Adventist Review Online – Great Disappointment Remembered 170 Years On". 23 October 2014. Diakses tanggal 27 December 2016.
  5. ^ "Daniel 8:14 (Versi Paralel) - Tampilan Ayat - Alkitab SABDA". alkitab.sabda.org. Diakses tanggal 2025-02-27.
  6. ^ Knight 2000, hlm. 38.
  7. ^ Miller, William (November 17, 1842), The Midnight Cry (PDF), hlm. 4
  8. ^ Knight 2000, hlm. 39–42.
  9. ^ Daniel 7:25:NIV
  10. ^ Knight 2000, hlm. 42–44.
  11. ^ a b Knight 2000, hlm. 44–45.
  12. ^ Ezekiel 4:6:NRSV
  13. ^ Numbers 14:34:NRSV
  14. ^ 2 Peter Peter&chapter=3:7#KJV 3:7:KJV
  15. ^ Ezra 1:1–4:NIV
  16. ^ Ezra 6:1–12:NIV
  17. ^ Ezra 7:NIV
  18. ^ Nehemiah 2:NIV
  19. ^ Ezra 7:11-26
  20. ^ William to Joshua V. Himes, February 4, 1844.
  21. ^ Knight 1993, pp. 163–164.
  22. ^ Bliss, Sylvester (1853). Memoirs of William Miller. Boston: Joshua V. Himes. hlm. 256.
  23. ^ Samuel S. Snow, The Advent Herald, August 21, 1844, 20.
  24. ^ "The Great Disappointment | Grace Communion International". www.gci.org. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-23. Diakses tanggal 2015-11-20.
  25. ^ Knight 1993, pp. 217–218.
  26. ^ White, James (1875). Sketches of the Christian Life and Public Labors of William Miller: Gathered From His Memoir by the Late Sylvester Bliss, and From Other Sources. Battle Creek: Steam Press of the Seventh-day Adventist Publishing Association. hlm. 310.
  27. ^ Knight 1993, pp. 222–223.
  28. ^ Revelation 14:14–16:NRSV
  29. ^ Cross, Whitney R. (1950). The Burned-over District: A Social and Intellectual History of Enthusiastic Religion in Western New York. Ithaca, NY: Cornell University Press. hlm. 310.
  30. ^ Knight 1993, p. 232.
  31. ^ Matthew 25:1–13:RSV
  32. ^ Dick, Everett N. (1994). William Miller and the Advent Crisis. Berrien Springs, Michigan: Andrews University Press. hlm. 25.
  33. ^ Matthew 25:11–12:NRSV
  34. ^ Knight 1993, p. 236.
  35. ^ Knight 1993, p. 305.
  36. ^ Knight 1993, pp. 305–306.
  37. ^ Momen, Moojan (1992). "Fundamentalism and Liberalism: towards an understanding of the dichotomy". Baháʼí Studies Review. 2 (1).
  38. ^ Cameron, G.; Momen, W. (1996). A Basic Bahá'í Chronology. Oxford, UK: George Ronald. hlm. 15–20, 125. ISBN 0-85398-404-2.
  39. ^ Shoghi Effendi Rabbani. God Passes By. hlm. 9.
  40. ^ a b Sears, William (1961). Thief in the Night. London: George Ronald. ISBN 0-85398-008-X.
  41. ^ Bowers, Kenneth E. (2004). God Speaks Again: An Introduction to the Bahá'í Faith. Baha'i Publishing Trust. hlm. 12. ISBN 1-931847-12-6.
  42. ^ Motlagh, Hushidar Hugh (1992). I Shall Come Again (Edisi The Great Disappointment). Mt. Pleasant, MI: Global Perspective. hlm. 205–213. ISBN 0-937661-01-5.
  43. ^ O'Leary, Stephen (2000). "When Prophecy Fails and When It Succeeds: Apocalyptic Prediction and Re-Entry into Ordinary Time". Dalam Albert I. Baumgarten (ed.). Apocalyptic Time. Brill Publishers. hlm. 356. ISBN 90-04-11879-9. Examining Millerite accounts of the Great Disappointment, it is clear that Festinger's theory of cognitive dissonance is relevant to the experience of this apocalyptic movement.
  44. ^ James T. Richardson. "Encyclopedia of Religion and Society: Cognitive Dissonance". Hartland Institute. Diakses tanggal 2006-07-09.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement