Kebakaran keraton Surakarta 1985
Sasana Handrawina, dibangun kembali setelah kebakaran ini | |
| Tanggal | 31 Januari 1985 |
|---|---|
| Waktu | 21.30 WIB |
| Durasi | ± 4 jam 30 menit |
| Tempat | Keraton Surakarta Hadiningrat |
| Lokasi | Surakarta, Jawa Tengah, Indonesia |
| Koordinat | 7°34′41″S 110°49′39″E / 7.57806°S 110.82750°E |
| Penyebab | Hubungan pendek |
| Tewas | 0 |
| Kerugian harta benda | 4 bangunan utama beserta bangunan lain di sekelilingnya rata tanah:
|
Pada Kamis, 31 Januari 1985, sekitar pukul 21.30 WIB, sebuah kebakaran terjadi di kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat di Surakarta.[1][2][3] Mulanya api terlihat di Sasana Parasdya, lalu menyebar dan membumihanguskan sejumlah bangunan utama keraton, termasuk Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Ageng Prabasuyasa, dan Dalem Pakubuwanan. Api baru padam pukul 02.00 WIB hari berikutnya.[4][5]
Kebakaran ini merupakan yang terbesar dan terparah dalam sejarah Kasunanan Surakarta. Sebelum itu, kebakaran selalu dapat diatasi sebelum api menjalar seperti yang terjadi di Panggung Sanggabuwana (1954), Gondorasan (1970-an), dan Dalem Tasik Wulan (1981).[6]
Kronologi

Pada malam kejadian, Kamis, 31 Januari 1985, Pakubuwana XII baru selesai memimpin upacara caos dahar, pemberian sesaji tolak bala, di Sasana Parasdya. Pukul 21.00 WIB, Sunan meninggalkan tempat upacara untuk pulang ke Brotodiningratan.
Tak berselang lama, sekitar pukul 21.30 WIB, Nyi Lurah Sukarsih, abdi dalem pesinden bedaya yang bermalam di Bangsal Paningrat, mendengar bunyi letupan diikuti hawa panas. Setelah ditelusuri, api sudah berkobar membakar langit-langit Sasana Parasdya. Sukarsih lalu mencari pertolongan.
Dari Sasana Parasdya, api menjalar ke bangunan-bangunan sekitar yang memang saling terhubung. Ke arah timur, api melahap Sasana Sewaka, beserta Bangsal Paningrat dan Bangsal Maligi yang mengitarinya, lalu merambat ke Sasana Handrawina di sisi selatan.
Sementara ke arah barat, api melalap Dalem Ageng Prabasuyasa yang di dalamnya terdapat ruangan seperti Krobongan, Kamar Gadhing, Kamar Ageng, Gedhong Pusaka dan Bangsal Prabasana; berikut bangunan di sekelilingnya seperti Panti Siyaga dan Panti Busana. Dari Prabasuyasa, api menjalar ke Dalem Pakubuwanan yang juga meliputi Pendapa Dayinta, Jonggring Salaka, Sanggar Singan serta Kantoran Dalem.
Kebakaran meluas dan membesar dengan cepat antaranya karena bangunan keraton sebagian besarnya berbahan kayu dengan atap sirap. Ruangan di antara langit-langit dan atap juga diisi bahan peredam panas dari ijuk yang mudah terbakar.[4][7]



Pemadaman api
Letak markas pemadam kebakaran yang tidak jauh dari keraton membuat kebakaran ini cepat diketahui. Armada bantuan juga datang dari Klaten, Sukoharjo, Sragen, dan Pangkalan AURI.
Namun, pemadaman terhambat tata ruang keraton yang identik dengan tangga berundak, pintu-pintu sempit, dan tembok-tembok yang membentuk semacam labirin. Akibatnya, selain mobil damkar tidak dapat mendekat ke pusat kebakaran, petugas juga kesulitan mencari jalan.
Sementara alat pemadam yang tersedia di dalam keraton difokuskan untuk menyelamatkan benda-benda pusaka. Itu pun tidak semuanya terselamatkan.
Sekitar tengah malam kobaran api mulai mengecil, pertanda sebagian besar bangunan kayu sudah ludes jadi abu. Api akhirnya dapat dipadamkankan sekitar pukul 02.00 WIB.[4]
Penyelidikan
Laboratorium Kriminologi Polda Jawa Tengah menyimpulkan bahwa kebakaran ini adalah kecelakaan yang dipicu oleh kortsluiting.[8]
Percikan api diyakini muncul dari kabel-kabel tua yang dipasang sejak 1934, saat listrik masih bertegangan 110 volt. Kabel lama tersebut seharusnya diganti ketika listrik bertegangan 220 volt dipasang pada 1970-an, namun terkendala dana.
Pihak keraton pun sebenarnya menyadari tingginya risiko kebakaran, sehingga pada malam hari mereka memilih mematikan aliran listrik di sejumlah tempat rawan seperti Sasana Pustaka, perpustakaan keraton.[4][9]
Pembangunan kembali
Persiapan
Pembersihan reruntuhan kebakaran dimulai pada siang hari yang sama, 1 Februari 1985.[10] Abu, arang, serta puing-puing dimasukkan ke dalam karung karena akan dilarung.[11] Dikerjakan oleh abdi dalem bersama personil militer dan pegawai Dinas Pekerjaan Umum, seluruhnya ada 2.115 karung ukuran 1 kuintal.[5]
Khusus area Prabasuyasa, pembersihan dilakukan langsung oleh para putri raja dan abdi dalem terpilih untuk menyelamatkan sisa-sisa pusaka, perhiasan, dan harta benda lain yang masih tercecer.[12]
Pada 4 Februari, Pakubuwana XII melaporkan musibah ini kepada presiden Soeharto di Jakarta. Keesokannya presiden membentuk Panitia Swasta Pembangunan Kembali Keraton Surakarta, atau dikenal sebagai Panitia 13. Diketuai Surono Reksodimedjo, tim ini bertugas mempersiapkan sumber daya dan dana. Soeharto secara khusus juga menyumbangkan separuh gajinya selama 5 bulan.
Bertepatan 40 hari peristiwa kebakaran, pada 4 dan 6 April, karung-karung berisi sisa kebakaran dilarung di Pantai Parangkusumo. Upacara ini dilakukan karena reruntuhan keraton dianggap masih keramat.[5][13]
Pelaksanaan
Dalam beberapa bulan saja Panitia 13 sudah menghimpun dana sumbangan sebanyak 1,4 miliar rupiah. Pada 21 Juni dimulailah prosesi adat untuk persiapan pembangunan kembali keraton dengan menanam kepala rusa di area Sasana Sewaka. Lalu pada 12 Juli giliran area Gedhong Pusaka di Prabasuyasa yang ditanami kepala kerbau bule dan naga simbolis.[14]
Puncaknya, pada 17 Agustus 1985, digelar upacara sesaji rajasuya di bekas Dalem Ageng Prabasuyasa. Kembali, kepala hewan dan aneka sesaji yang dikumpulkan dari tempat-tempat bersejarah kerajaan Mataram Islam ditanam untuk menandai peletakan batu pertama pembangunan kembali keraton setelah kebakaran.
Rangkaian prosesi ini tidak dilakukan serta merta karena disesuaikan perhitungan adat. Dan Panitia 13 secara seksama mengikuti aturan semacam itu. Perihal pekerja pembangunan misalnya, mereka harus memakai ikat kepala dan kain samir. Atau untuk kebutuhan kayu, secara khusus ditebang dari Alas Donoloyo seperti saat Pakubuwana II pertama kali membangun keraton Surakarta.[5]
Meski begitu, pembangunan juga tidak mulus-mulus saja. Pada 1986, proyek terhenti 8 bulan karena perbedaan pendapat terkait pemakaian kembali tiang-tiang besi yang selamat dari kebakaran.[15] Lalu pada 10 Juli 1987 sempat terjadi kebakaran lagi di tengah pembangunan Bangsal Maligi.[16]
Setelah menghabiskan biaya sebesar 3,7 miliar rupiah, bangunan-bangunan baru yang meliputi kompleks Sasana Sewaka, Dalem Ageng Prabasuyasa, dan Dalem Pakubuwanan akhirnya diresmikan pada 17 Desember 1987. Selain bangunan baru, sejumlah bangunan yang sudah lapuk juga ikut direhabilitasi yakni Srimanganti Lor dan Kidul, Sasana Pustaka, Wiwara Kenya, Sasana Wilapa, dan Selasar Pakubuwanan. Adapun restorasi Sasana Handrawina ditangguhkan sampai tersedia dana.[17]

Untuk menanggulangi kejadian serupa, pembangunan ini juga menyertakan sistem penggera kebakaran dan 7 pompa hidran.[18]
Sasana Handrawina
Setelah sempat terbengkalai, pembangunan kembali Sasana Handrawina dilakukan pada 1997 dengan dana sumbangan yang dikumpulkan dari 15 pengusaha dan perusahaan nasional, dikoordinasi oleh Menparpostel Joop Ave.
Seperti sebelumnya, pembangunan didahului dengan aneka upacara dan persiapan. Kayu-kayu tiang utama sebagian ditebang dari Alas Donoloyo, sisanya didapat dari hutan Perhutani di Randublatung, Cepu, Blora, Mantingan, Purwodadi, dan Kebonharjo.
Meski bangunan baru ini dibuat semirip mungkin dengan aslinya, sejumlah penyesuaian juga dilakukan seperti penggantian lantai dari batu bata menjadi marmer hingga penambahan dinding kaca untuk keperluan pendingin udara.
Bangunan anyar Sasana Handrawina diresmikan pada 19 Desember 1997, yang juga mencakup pemugaran Sasana Hadi, Bangsal Smarakata, Kori Kamandungan, Srimanganti, Sasana Wilapa, dan Balerata.[19][20]
Kebakaran lain
| Tanggal | Waktu | Tempat | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 23 Januari 1922 | 03.00 | Kartipura | Api diperkirakan berasal dari dalam gudang di Kartipura, kantor arsitek istana R.T. Wreksadiningrat, dan baru diketahui pukul 03.30 oleh seorang abdi dalem pangeran Hangabehi. Tumpukan kayu di sekitar gudang membuat api cepat membesar dan melalap tiang-tiang, berujung dengan ambruknya atap gudang tersebut. Kebakaran dapat dipadamkan pukul 04.30.[21] |
| 1 Juni 1938 | 13.15 | Sasana Dayinta | Api berkobar membakar Sasana Dayinta, kediaman resmi Ratu Hemas, permaisuri Pakubuwana X. Beruntung kejadian ini berlangsung saat hari penggajian abdi dalem, sehingga banyak yang membantu pemadaman dan api tidak menyebar ke bangunan lain. Api disebut pertama muncul di kuda-kuda atap, namun sumbernya tidak diketahui. Dugaan hubungan pendek juga diketepikann karena tidak ada kabel listrik di area atap.[22] |
| 18 November 1954 | ± 00.00 WIB | Panggung Sanggabuwana | Kebakaran terjadi tengah malam, diduga karena hubungan pendek di lantai atas menara. Petugas pemadam kebakaran yang segera datang tidak dapat berbuat banyak karena tekanan air tidak cukup kuat untuk menjangkau api yang membakar lantai 4 dan atap. Api baru padam sekitar pukul 03.00.[23][24] Renovasi awal dikerjakan seadanya karena keterbatasan biaya dan selesai pada 30 September 1959.[25] Pemugaran menyeluruh baru dilakukan dengan bantuan dana Repelita II dan selesai pada 7 Mei 1978.[26] |
| 15 Agustus 1981 | 16.45 WIB | Dalem Tasik Wulan, kompleks Keputren | Jilatan api mula-mula terlihat di bubungan atap rumah. Setelah langkah pertama untuk memadamkannya gagal, segera dilakukan evakuasi pusaka dan harta benda yang tersimpan di dalamnya. Rumah berbentuk limasan yang dibangun sekitar 1810 ini pun habis dimakan api. Turut terbakar sebuah guci, sebuah kotak penyimpan pusaka, dan 3 buah lemari. Api tidak menyebar karena sayap bubungan atap bangunan utama yang menyambung dengan rumah tersebut dapat dipatahkan. Pemadam kebakaran juga segera datang.[6] |
| 10 Juli 1987 | 18.20 WIB | Bangsal Maligi | Saat pembangunan kembali Bangsal Maligi sudah memasuki pemasangan atap, kobaran api melahap kira-kira 50 m² atap bangunan. Api diduga berasal dari percikan mesin las saat pemasangan talang tembaga. Pekerja tidak menyadarinya dan pulang, sementara api merembet membakar kertas aluminum pelapis atap dan membesar, membakar sirap atap dan langit-langit. Kobaran api dapat dipadamkan setelah 70 menit. Kerugian diperkirakan sekitar 15 juta rupiah.[16] Dua pekerja belakangan divonis 8 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Surakarta karena dianggap lalai dan membahayakan cagar budaya.[27] |
Rujukan
- ^ "Javanese palace badly damaged by fire" [Keraton Jawa rusak parah dilalap api]. New Straits Times (dalam bahasa Inggris). 1 Februari 1985.
- ^ Setiadi, Bram; Hadi, Qomarul; Trihandayani, Danang Suryo (2001). Raja di Alam Republik: Keraton Kasunanan Surakarta dan Paku Buwono XII. Bina Rena Pariwara. ISBN 9789799056153.
- ^ Poespaningrat, Pranoedjoe (2008). Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: Dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru. B.P. Kedaulatan Rakyat.
- ^ a b c d "Geger Kesunanan". Tempo (majalah). 9 Februari 1985.
- ^ a b c d Budihastuti, Erni (2010). Studi tentang Interpretasi Serat Kalang dalam Pembangunan Kembali Keraton Kasunanan Surakarta Tahun 1987 (S1 thesis). Universitas Sebelas Maret.
- ^ a b "Kiai Dudo Minta Pengasuh". Tempo (majalah). 5 September 1981.
- ^ Isbandiyah, G.R.A. Koes (2008). Kebijakan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam Pengelolaan Tanah dan Bangunan setelah Keputusan Presiden Nomor 23 Tahun 1988 tentang Status dan Pengelolaan Keraton Kasunanan Surakarta di Kelurahan Baluwarti Kota Surakarta (S2 thesis). Universitas Diponegoro.
- ^ "Faulty wiring cause of palace fire" [Kabel aus penyebab kebakaran keraton]. New Straits Times (dalam bahasa Inggris). 5 Februari 1985.
- ^ "Terbakarnya Kraton Surakarta: Karena Dosa?". Amal Bakti. April 1985.
- ^ "Istana-istana Tanpa Tuah". Tempo (majalah). 16 Februari 1985.
- ^ "Ocean grave for palace ashes" [Segara jadi kuburan abu keraton]. New Straits Times (dalam bahasa Inggris). 10 Februari 1985.
- ^ "Robohnya Keraton Kami". Tempo (majalah). 16 Februari 1985.
- ^ "Palace ashes to be thrown into ocean". The Straits Times (dalam bahasa Inggris). 9 Februari 1985.
- ^ "Proyek Kepala Naga". Tempo (majalah). 6 Juli 1985.
- ^ "Keraton Tanpa Siul". Tempo (majalah). 25 Oktober 1986.
- ^ a b "Lagi, Api Di Keraton Solo". Tempo (majalah). 18 Juli 1987.
- ^ "Wayang Syukuran di Kraton Surakarta". Gatra: Majalah Warta Wayang. No. 1 Th. 1988.
- ^ "Pembangunan Keraton Yang Terbakar". Tempo (majalah). 19 Desember 1987.
- ^ Sasono Hondrowino : Masa Lampau dan Kini (PDF) (buklet). 1997.
- ^ Karjoko, Lego (2005). Budaya Hukum Keraton Surakarta Dalam Pengaturan Tanah Baluwarti Sebagai Kawasan Cagar Budaya (S2 thesis). Universitas Diponegoro.
- ^ "Brand in de Kraton" [Kebakaran di Kraton]. De nieuwe vorstenlanden (dalam bahasa Belanda). 24 Januari 1922.
- ^ "Brand in den Kraton" [Kebakaran di Kraton]. De locomotief (dalam bahasa Belanda). 2 Juni 1938.
- ^ "Toren Songobono afgebrand" [Panggung Sanggabuwana terbakar]. De locomotief (dalam bahasa Belanda). 19 November 1954.
- ^ "Panggung Sanggabuana te Solo afgebrand" [Panggung Sanggabuwana di Solo terbakar]. De vrije pers (dalam bahasa Belanda). 20 November 1954.
- ^ "Kraton Surakarta Hadiningrat". Kunthi (dalam bahasa Jawa). No. 2 Th. III. 1972.
...panggung Songgobuwono mau kobong. Saikiné wis dibangun manèh, nanging nganti sapréné pembangunan panggung Songgobuwono mau durung sampurna...
[Panggung Sanggabuwana tadi terbakar. Sekarang sudah dibangun kembali, namun sampai kini pembangunannya belum sempurna] - ^ Soeharto (1985). Diorama Kraton Surakarta Hadiningrat. Tiga Serangkai (penerbit).
- ^ "Setelah Raja Memberi Ampun". Tempo (majalah). 19 Desember 1987.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


