Jurnalisme damai
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Mei 2025) |
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Artikel ini perlu dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria sebagai entri Wikipedia. Bantulah untuk mengembangkan artikel ini. Jika tidak dikembangkan, artikel ini akan dihapus. |
Artikel ini perlu diwikifikasi agar memenuhi standar kualitas Wikipedia. Anda dapat memberikan bantuan berupa penambahan pranala dalam, atau dengan merapikan tata letak dari artikel ini.
Untuk keterangan lebih lanjut, klik [tampil] di bagian kanan.
|
Jurnalisme damai adalah istilah yang digunakan bagi gaya dan teori jurnalisme yang melaporkan suatu kejadian mengenai perang dan konflik dengan menggunakan bingkai pemberitaan yang lebih luas, berimbang, dan akurat. Ruang lingkup kerja dari jurnalisme damai didasarkan pada peliputan informasi tentang konflik dan perdamaian.[1] Dalam hal ini, bersifat damai berarti bentuk pemberitaan yang dapat menciptakan peluang bagi sebagian masyarakat untuk menjadi pertimbangan dan cara untuk menghargai penyelesaian tanpa kekerasan terhadap suatu konflik yang sedang terjadi.[2]
Ide pendekatan jurnalisme damai dikembangkan oleh Johan Galtung pada tahun 1970an. Kemudian dikembangkan oleh Jake Lynch dan Annabel McGoldrick tentang praktik jurnalisme damai pada tahun 1990-an.[3]
Jurnalisme damai berbeda dengan jurnalisme perang. Jurnalisme perang adalah pelaporan kejadian yang berfokus pada peristiwa kekerasan sebagai penyebab konflik dan yang dapat memicu peningkatan konflik.[4] Jurnalisme perang cenderung mengekspos dan menekankan semangat untuk bertikai dan bermusuhan di antara pihak yang sedang berkonflik. Sedangkan jurnalisme damai berupaya menghindari perang atau kekerasan.[5]
Peran
Peran dari jurnalisme damai adalah untuk menyebarkan informasi dengan tujuan mempromosikan pemahaman, toleransi, dan perdamaian dalam masyarakat. Jurnalisme damai berfokus pada pemberitaan yang tidak memprovokasi konflik, menghindari sensasionalisme, dan membangun dialog yang konstruktif.[6]
Berikut adalah beberapa peran jurnalisme damai:
- Mempromosikan pemahaman: Jurnalisme damai berusaha menyampaikan informasi yang akurat, seimbang, dan mendalam untuk membantu masyarakat memahami berbagai isu yang kompleks. Tujuannya adalah mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara kelompok-kelompok yang berbeda dan menghindari terjadinya kesalahpahaman yang dapat memicu konflik.
- Mendorong dialog yang konstruktif: Jurnalisme damai berupaya untuk menciptakan ruang dialog yang sehat dan konstruktif antara berbagai pihak yang memiliki pandangan yang berbeda. Ini melibatkan pemberitaan yang memperhatikan sudut pandang yang beragam dan memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk berbicara.
- Memperkuat perdamaian: Jurnalisme damai dapat memainkan peran penting dalam memperkuat perdamaian di masyarakat. Dengan memberitakan contoh-contoh keberhasilan dalam penyelesaian konflik dan menyoroti inisiatif perdamaian, jurnalisme damai dapat menginspirasi dan mendorong tindakan yang mempromosikan harmoni dan rekonsiliasi.
- Mencegah kekerasan dan konflik: Dengan menyebarkan informasi yang akurat dan menghindari pemberitaan yang memprovokasi, jurnalisme damai dapat membantu mencegah terjadinya kekerasan dan konflik. Dengan memberikan liputan yang obyektif dan bertanggung jawab, jurnalisme dapat mengurangi ketegangan antara kelompok-kelompok yang berbeda dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penyelesaian konflik secara damai.
Jurnalisme damai memegang peran penting dalam membangun masyarakat yang lebih harmonis dan berkelanjutan. Dengan pendekatan yang bertanggung jawab dan peduli terhadap dampaknya, jurnalisme damai dapat menjadi alat yang kuat untuk memperkuat pemahaman, dialog, dan perdamaian di dalam suatu masyarakat.
Referensi
- ^ Said, Irwanti (2020-05-20). "MEDIA DAN KONFLIK : MEWUJUDKAN JURNALISME DAMAI". Jurnal Mimbar Kesejahteraan Sosial (dalam bahasa Inggris). 3 (1). ISSN 2655-0911.
- ^ Juditha, Christiany (2016). "JURNALISME DAMAI DALAM BERITA KONFLIK AGAMA TOLIKARA DI TEMPO.CO". Penelitian dan komunikasi publik. 20 (2): 97. doi:https://doi.org/10.33299/jpkop.20.2.642. Diarsipkan dari asli tanggal 2013-08-12. Diakses tanggal 2023-05-25. ; ; ;
- ^ Budianto, Heri (2012). Komunikiasi dan Konflik. Jakarta: PT Showcase Indonesia Dotcom. hlm. 390. ISBN ISBN 978-602-18684-0-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ Media, Kompas Cyber (2022-01-26). "Jurnalisme Damai dan Jurnalisme Perang, Apa Bedanya?". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2023-05-25.
- ^ Andarini, Rindang Senja (2014). "Jurnalisme Damai dalam Pemberitaan Ahmadiyah pada Harian Jawa Pos". Ilmu Komunikasi. 3 (1): 88. doi:https://doi.org/10.14710/interaksi.3.1.85-93. ;
- ^ Rengkaningtias, Ayu Usada (2019). "Jurnalisme Damai (Peace Journalism) dalam Kerukunan Antarumat Beragama (Analisis Framing Kompas.com terhadap Isu Rohingnya)". Jurnal Kajian Islam Interdisipliner. 2 (2): 4. doi:https://doi.org/10.14421/jkii.v2i2.1084. ;
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


