Johana Sunarti Nasution
Artikel biografi ini berkualitas rendah karena ditulis menyerupai resume atau daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae). |
| Johana Sunarti Nasution | |
|---|---|
![]() Johana Sunarti sekitar tahun 1960-an | |
| Lahir | Johana Sunarti Gondokusumo 1 November 1923 Surabaya, Hindia Belanda |
| Meninggal | 21 Maret 2010 (umur 86) Jakarta, Indonesia |
| Nama lain | Bu Nas |
| Suami/istri | |
| Anak | 2 termasuk Ade Irma Suryani |
Johana Sunarti Nasution (nama gadis: Gondokusumo; 1 November 1923 – 21 Maret 2010) adalah istri dari Jenderal Besar Abdul Haris Nasution, Panglima Divisi Siliwangi.
Johana memiliki kontribusi di bidang sosial terlepas dari karier militer suaminya yang didasarkan pada kesetiaan terhadap negara. Ia merupakan putri dari Gondokusumo, pejuang angkatan Soetomo yang lahir di Surabaya, 1 November 1923 dan telah melahirkan dua orang putri, Hendrianti Saharah Nasution dan Ade Irma Suryani Nasution yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September.[1]
Semasa hidupnya, Johana dan rekan-rekannya mengorganisasi Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial sebuah gerakan nasional yang memberikan ruang kepada para sukarelawan dan melembagakan pelayanan sosial, yang pada tahun 1981 mencakup 23 kelompok non-pemerintah nasional, 18 dewan koordinasi kesejahteraan sosial di tingkat provinsi, 17 sekolah yang telah memiliki fakultas di bidang pekerjaan sosial, dan 9 lembaga pemerintah nasional.[2] Johana dikenal aktif dalam berbagai aktivitas sosial, di antaranya mendirikan Yayasan Bina Wicara "Vacana Mandira", Yayasan Jambangan Kasih, Yayasan "Pembinaan dan Asuhan Bunda", Yayasan "Panti Usada Mulia" dan Yayasan Santi Rama.
Dedikasinya terhadap negara melalui berbagai jasa dan aktivitas sosial, Johana mendapatkan anugerah sejumlah tanda kehormatan dari pemerintah, di antaranya Satyalantjana Kebaktian Sosial pada tahun 1971, Lencana Satya Bhakti Utama Persit Kartika Chandra Kirana (20 Februari 1989), Bintang perjuangan Angkatan 45 (17 Agustus 1995), dan Bintang Mahaputera Utama (15 Agustus 1995). Sementara, sejumlah penghargaan dari luar negeri yang pernah diterimanya adalah Centro Culturale Italiano Premio Adelaide Ristori Anno VIII pada tahun 1976, penghargaan Ramon Magsaysay Award for Public Service (31 Agustus 1981), serta penghargaan Paul Harris Fellow Award Rotary Foundation of Rotary International Amerika pada tahun 1982.[1]
Secara khusus, Penghargaan Ramon Magsaysay yang Johana terima pada 31 Agustus 1981 dianugerahkan atas kepemimpinannya dalam gerakan sukarelawan, melembagakan layanan sosial melalui kerja sama oleh beragam kelompok sipil dan agama, sekolah serta lembaga pemerintah.[2]
Kehidupan pribadi

Johana menikah dengan Abdul Haris Nasution pada 30 Mei 1947 di Ciwidey, Bandung,[3][4] bersamanya dia memiliki dua anak perempuan, yakni Hendrianti Saharah Nasution dan Irma Suryani Nasution. Irma tewas dalam peristiwa G30S pada 6 Oktober 1965. Suaminya meninggal pada tahun 2000 dalam usia 82[5] pada 6 September 2000 di Jakarta setelah menderita stroke dan kemudian koma.[6][7] Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.[8] Hendrianti Saharah meninggal pada tahun 2021 dalam usia 69.[9]
Kontribusi di Organisasi
- Pendiri Yayasan Ikrar Bhakti (dari Persit)
- Penasehat DNIKS
- Pendiri dan Ketua I Yayasan Bina Wicara “Vacana Mandira”
- Pendiri dan Ketua Yayasan Jambangan Kasih
- Pendiri dan Ketua Yayasan “Pembinaan dan Asuhan Bunda”
- Ketua Yayasan “Sayap Ibu” Pusat
- Pendiri dan Ketua yayasan Kasih Adik
- Ketua Bidang Dana FNKTRI
- Pendiri dan Ketua “Panti Usada Mulia”
- Pendiri dan Ketua I Yayasan Santi Rama
- Ketua Raad van Gemachtigen van Deventer-Maas Stichting
- Ketua Koordinator International Social Service Indonesia (ISSI)
Penghargaan dan Tanda Jasa
- Tanda Kehormatan Satya Lantjana Kebaktian Sosial 2/101971
- Centro Culturale Italiano Premio Adelaide Ristori Anno VIII 20/9 tahun 1976
- 1981 Ramon Magsaysay Award for Public Service 31 Agustus 1981 Manila, Filipina
- Paul Harris Fellow Award Rotary Foundation of Rotary International 1982 Amerika
- Lencana Satya Bhakti Utama Persit Kartika Chandra Kirana, 20 Februari 1989
- Bintang perjuangan Angkatan 45 tanggal 17 Agustus 1995
- Bintang Maha Putra Utama tanggal 15 Agustus 1995
Wafat

Pada Minggu, 21 Maret 2010, Johana wafat dalam usia 86 tahun, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Jakarta Pusat, karena sakit yang dideritanya.
Referensi
- ^ a b "Mengenal Sosok Alm. Johana Sunarti Nasution". www.viva.co.id. 2010-03-21. Diakses tanggal 2023-11-18.
- ^ a b "BREAKING BIASES: A selection of women who received the Ramon Magsaysay Award". rmaward.asia. Diakses tanggal 2023-11-18.
- ^ "Mengenal Sosok Alm. Johana Sunarti Nasution". VIVA.co.id. 21 Maret 2010. Diakses tanggal 29 Januari 2021.
- ^ Mukhti, M.F. (23 Mei 2019). "Perkawinan Perjuangan". historia.id. Diakses tanggal 29 Januari 2021.
- ^ yuli, ed. (21 Maret 2010). "Istri Jenderal Nasution Wafat dalam Usia 87 Tahun". Kompas.com. Diakses tanggal 26 Desember 2016.
- ^ Jenderal Besar Nasution Wafat, Liputan6.com, 7 September 2000, diakses 3 Februari 2016
- ^ "[INDONESIA-NEWS] FORUM KEADILAN - Jenderal AH Nasution Wafat". Diarsipkan dari asli tanggal 2017-05-11. Diakses tanggal 2016-02-03.
- ^ Suasana Duka Menyelimuti Pemakaman Pak Nas, Liputan6.com, 6 September 2000, diakses 3 Februari 2016
- ^ Liputan6.com (2021-06-18). "Yanti Nasution, Putri Sulung Jenderal (Purn) AH Nasution Meninggal Dunia". liputan6.com. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



