Jancy Raib
Jancy Raib merupakan seorang tokoh militer Indonesia dan birokrat yang menjabat sebagai Wali Kota Ujungpandang (sekarang Makassar) dari tahun 1983 hingga 1988.
Masa kecil dan karier militer
Jancy memulai kariernya dalam kemiliteran sejak tahun 1945 pada masa permulaan Revolusi Nasional Indonesia. Ia bergabung dengan Gerakan Pemuda Kelasykaran di daerah Enrekang serta bergerilya dengan kesatuan Harimau Indonesia/LAPRIS di sekitar Makassar, Gowa, Takalar, Barru dan Pangkajene Kepulauan. Pada tahun yang sama, Jancy ditahan oleh pasukan KNIL di Pare-Pare selama setahun hingga berhasil membebaskan diri pada tahun 1946. Ia kemudian melakukan konsolidasi berbagai kesatuan militer pro-Republik Indonesia yang bercokol di Makassar, yang pada saat itu sudah menjadi ibukota dari Negara Indonesia Timur.[1]
Jancy kemudian dipindahtugaskan ke ibukota Republik Indonesia di Yogyakarta sebagai perwira untuk urusan hubungan masyarakat dan informasi pada Batalyon XVI, yang beranggotakan tentara dari Sulawesi Selatan. Setelah revolusi berakhir, pada tanggal 3 Maret 1950 Jancy kembali ke Makassar sebagai bagian dari staf informasi dan hubungan masyarakat dari Komisi Militer Indonesia Timur. Sekitar dua bulan kemudian, pada tanggal 4 Mei 1950 Jancy, masih berada di dalam Komisi Militer Indonesia Timur, diperintahkan untuk memimpin komandan peleton pelajar di depot batalion I. Jancy kembali dipindahkan pada tanggal 10 Agustus di tahun yang sama ke Distrik Militer Makassar dan Bonthain. Jancy kemudian bertempur melawan sisa-sisa KNIL yang menolak untuk menyatakan kesetiaannya dengan Indonesia tepat dua bulan kemudian pada tanggal 10 Oktober 1950.[1]
Pada tahun 1951, Jancy yang sudah menjadi anggota organik angkatan darat dipromosikan sebagai kepala staf operasi komando militer kota besar Makassar. Beberapa waktu kemudian, pada tanggal 1 Oktober di tahun yang sama status "operasi" di dalam nomenklatur komando militer kota besar dihapus. Jancy kemudian dipindahkan ke Ambon pada tahun 1953 untuk menjadi ajudan dari Panglima Tentara dan Teritorium VII, Gatot Soebroto, yang sedang menghadapi pemberontakan dari para perwira di dalamnya yang menamakan diri sebagai Permesta.[1]
Pada tahun 1954, Jancy menjalani penugasan dalam kesatuan tempur sebagai komandan kompi II di Batalyon Infanteri 704/Paliama. Pada saat yang bersamaan, ia menjalani pendidikan perwira di Bandung. Ia sempat ditempatkan sebagai perwira di Staf Umum II Tentara dan Teritorium VII di Makassar sebelum dilantik menjadi Komandan Batalyon Infanteri 001/ROI II Satria di Makassar.[1]
Pada akhir tahun 1950an, terjadi reorganisasi di dalam struktur komando kewilayahan Angkatan Darat yang memecah Tentara dan Teritorium VII menjadi beberapa komando daerah militer. Makassar menjadi markas dari Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin, dan Jancy kemudian bertugas di dalam kesatuan tersebut sebagai pejabat sementara komandan Brigade Infanteri II merangkap asisten teritorial dari pangdam saat itu, M. Jusuf. Pada tanggal 11 September 1965, Jancy dipindahtugaskan ke Komando Daerah Militer XV/Pattimura yang baru dibentuk sebagai komandan resimen induk, yang bertugas sebagai lembaga pendidikan untuk menghasilkan tamtama dan bintara serta pelatihan bagi anggota kodam. Setelah kurang lebih tujuh tahun bertugas di jabatan tersebut, dari 1972 hingga 1976 ia menjabat sebagai inspektur jenderal daerah militer Hasanuddin. Jancy kemudian ditugaskan untuk mengomandani Komando Resor Militer 141 yang bermarkas di Bone sebelum pensiun dari dinas militer pada tanggal 31 Desember 1979.[1]
Jancy kemudian menjabat sebagai Wali Kota Makassar dari 1983 hingga 1988.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f Ma'mur, Nuraeni (2007). Walikota Makassar legenda di timur: persembahan 400 tahun kota Makassar. Yapensi & Pemerintah Kota Makassar. hlm. 64–65. ISBN 978-979-15038-0-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


