Jalan tinggal

Exhibition Road di London, Inggris, di mana area pejalan kaki dan lalu lintas jalan hanya dibatasi sebagian
Jalan woonerf di Rijswijk, Belanda

Jalan tinggal atau jalan berbagi (bahasa Inggris: living street) adalah jenis jalan yang dirancang dengan memperhatikan kepentingan pejalan kaki dan pesepeda. Jalan semacam ini juga berfungsi sebagai ruang sosial yang memungkinkan anak-anak bermain dan mendorong interaksi sosial dalam skala manusia secara aman dan legal. Jalan hidup mempertimbangkan akses bagi semua pejalan kaki, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.[1] Meskipun masih dapat digunakan oleh kendaraan bermotor, desain jalan ini bertujuan untuk mengurangi kecepatan dan dominasi lalu lintas bermotor. Dengan berkurangnya dominasi kendaraan bermotor, ruang publik menjadi lebih ramah bagi transportasi umum dan kegiatan sosial lainnya.

Konsep jalan tinggal menerapkan prinsip ruang bersama (shared space), yaitu dengan mengurangi batas yang tegas antara area pejalan kaki dan kendaraan sehingga tercipta ruang terpadu tanpa segregasi antar moda transportasi. Parkir kendaraan biasanya dibatasi pada area tertentu yang telah ditentukan.

Prinsip desain jalan ini pertama kali dipopulerkan di Belanda pada tahun 1970-an, dan istilah Belanda woonerf (terj. har.'kawasan hunian') sering digunakan sebagai sinonim dari jalan tinggal.

Desain

Desain jalan tinggal bertujuan untuk mendorong berjalan kaki dan bersepeda secara aman, dengan menempatkan pejalan kaki sebagai prioritas utama. Konsep ini dicapai dengan membatasi penggunaan dan parkir mobil, sehingga kenyamanan kendaraan bermotor berkurang dan minat terhadap moda transportasi berkelanjutan meningkat. Upaya ini diwujudkan melalui infrastruktur yang lebih baik, pelambatan lalu lintas, integrasi jalur jalan kaki dan sepeda dengan transportasi umum, kebijakan pengembangan kawasan serbaguna, peraturan yang memperhatikan kelompok rentan dan pekerja komuter, serta edukasi lalu lintas bagi masyarakat. Pendukung konsep ini meyakini bahwa desain jalan yang berhasil tidak bisa hanya bergantung pada satu tindakan terpisah, tetapi harus merupakan pendekatan terpadu dan menyeluruh yang menggabungkan semua faktor tersebut dalam satu rancangan yang harmonis.[1]

Desain lingkungan

Pengelolaan air hujan di sepanjang trotoar

Elemen desain lingkungan dalam living street berperan penting dalam mengurangi limpasan air hujan dan menekan efek pulau panas perkotaan.[2] Infrastruktur hijau seperti tanaman tepi jalan, taman resapan air, dan strategi serupa menjadi semakin penting karena limpasan air hujan kini menjadi salah satu sumber pencemaran yang berkembang pesat.[3] Permukaan kedap air menolak air hujan, sehingga mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air. Air limpasan ini kemudian membawa berbagai polutan di permukaan seperti garam jalan, pupuk, oli, atau bahan kimia dari kendaraan.[3] Ketika air ini mengalir ke saluran pembuangan yang langsung terhubung ke perairan umum, polutan tersebut dapat mencemari air dan merusak keseimbangan nutrisi serta kesehatan ekosistem perairan. Melalui desain lingkungan yang berkelanjutan, pengelolaan air hujan dapat menjaga air tetap bersih dan bebas dari kontaminan.

Infrastruktur hijau seperti perkerasan berpori (permeable paving), penampung bioretensi, dan saluran bioswale merupakan strategi untuk mengurangi dampak limpasan air hujan.[3] Perkerasan berpori dapat diterapkan pada trotoar, jalur sepeda, area parkir, maupun jalan dengan lalu lintas rendah, agar air dapat meresap ke dalam tanah dan mengurangi limpasan menuju saluran air di sekitar.[4] Sistem ini juga membantu menyaring air melalui lapisan tanah sebelum mencapai titik resapan akhir.[3] Sementara itu, penampung bioretensi dan bioswale biasanya ditempatkan di area taman tepi jalan atau lengkungan trotoar (curb bulb-outs) untuk menampung dan menyaring limpasan air. Swale terdiri atas saluran dalam yang ditanami vegetasi lokal dengan lapisan tanah rekayasa yang mampu menampung air dalam jumlah besar serta menyaring padatan dan kontaminan lainnya.[3]

Selain pengelolaan air hujan, pohon-pohon jalan dan kanopi kota juga berperan dalam memberikan keteduhan dan melindungi permukaan dari sinar matahari langsung. Pohon membantu mengurangi volume air hujan yang mencapai tanah dan menurunkan suhu sekitar serta meningkatkan kualitas udara.[5] Kombinasi keteduhan dan pengelolaan air hujan ini dapat memperpanjang usia infrastruktur jalan, menghemat biaya perawatan, serta meningkatkan kualitas hidup melalui penurunan suhu udara, pengurangan polusi, dan peningkatan kualitas air.[3]

Langkah-langkah pelambatan lalu lintas

Penyeberangan jalan
Persimpangan yang ditinggikan, untuk menandakan kendaraan tidak memiliki hak penuh atas jalan dan harus waspada terhadap pejalan kaki

Untuk mengembalikan fungsi jalan sebagai area bermain anak-anak sekaligus tempat bagi masyarakat untuk berkumpul dan bersosialisasi, dapat diterapkan berbagai langkah traffic calming atau pelambatan lalu lintas. Upaya ini dapat mencakup pemasangan polisi tidur, perubahan permukaan jalan, atau chicane buatan. Langkah-langkah tersebut akan memaksa pengendara untuk melaju dengan kecepatan wajar, berbeda dengan papan tanda yang sering kali kurang efektif memengaruhi perilaku pengemudi. Dengan demikian, pengendara akan lebih sadar terhadap tindakannya serta memperhatikan pengguna jalan lain.[6] Langkah pelambatan lalu lintas lainnya termasuk persimpangan dan penyeberangan jalan yang ditinggikan hingga sejajar dengan permukaan jalan, untuk menandakan bahwa kendaraan tidak memiliki hak penuh atas jalan dan harus waspada terhadap pejalan kaki. Chicane, jalanan yang dipersempit, dan bundaran dibuat untuk memperlambat kendaraan hingga kecepatan yang lebih aman. Selain itu, kawasan bebas mobil yang luas, trotoar lebar dan terang, pulau pejalan kaki (refuge island), lampu penyeberangan, serta marka zebra memberikan fasilitas yang aman dan nyaman bagi pengguna jalan yang lebih rentan. Konsep woonerf di Belanda menggabungkan sebagian teknik pelambatan lalu lintas ini, tetapi melangkah lebih jauh dengan menerapkan konsep jalan tinggal di mana batas ruang antara kendaraan dan pejalan kaki dihilangkan, sehingga pejalan kaki dapat mengakses seluruh area jalan. Pengembangan lingkungan jalan dengan mengisi ruang kosong atau area parkir besar di sekitar jalan juga menjadi salah satu cara untuk mendorong aktivitas berjalan dan bersepeda. Konsep ini membuat jalan lebih menarik, lebih nyaman diakses, dan lebih mendukung mobilitas aktif.[7] Selain itu, memindahkan area parkir ke bagian belakang bangunan seperti di banyak negara Eropa memberikan prioritas bagi pejalan kaki dan pesepeda di area depan toko.[8]

Secara keseluruhan, jalan tinggal berfokus untuk memfasilitasi pergerakan manusia, bukan sekadar kendaraan. Desainnya bertujuan mengatasi masalah seperti jalan arteri berkecepatan tinggi, jumlah persimpangan yang minim, serta ketiadaan trotoar.[7] Di dalamnya dapat terdapat jalur khusus transportasi umum, trotoar, dan jalur sepeda yang dirancang untuk melayani seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang usia, pendapatan, atau kemampuan fisik. Langkah seperti penyediaan jalur sepeda dan trotoar yang aman serta terawat akan mendukung terciptanya kebiasaan bertransportasi aktif di masyarakat.[2] Strategi desain tambahan seperti median jalan dapat berfungsi sebagai area aman bagi pejalan kaki sekaligus menandakan keberadaan mereka bagi pengendara, sementara penyempitan jalur dan curb bulb-outs dapat memperpendek jarak penyeberangan. Polisi tidur dan bundaran membantu menghilangkan kesan jalan sebagai jalur cepat layaknya jalan raya.[2] Dengan penerapan strategi ini, kecepatan kendaraan dapat dikurangi sehingga meningkatkan keselamatan bagi seluruh pengguna jalan. Selain itu, penggunaan papan tanda, lampu lalu lintas, dan penerangan yang memadai dapat memperkuat kesadaran bahwa jalan tersebut merupakan ruang bersama.[2] Sistem ini memungkinkan penggunaan ruang yang lebih efisien untuk mengangkut lebih banyak orang dibandingkan dengan sistem yang berfokus pada kendaraan.[7]

Kawasan kompak dan serbaguna

Kawasan serbaguna di Glasgow, Skotlandia

Pengembangan kawasan yang kompak dan serbaguna merupakan salah satu strategi penting dalam konsep jalan tinggal, karena cara penggunaan lahan sangat memengaruhi jarak perjalanan dan moda transportasi yang dipilih masyarakat. Bersepeda umumnya dilakukan untuk jarak di bawah 3 km, sedangkan berjalan kaki lebih sering untuk jarak di bawah 1 km.[8] Jika tujuan perjalanan berada dalam jarak yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau bersepeda, maka masyarakat cenderung memanfaatkan trotoar dan jalur sepeda sebagai bagian dari rutinitas perjalanan mereka. Selain itu, lingkungan yang padat dan terintegrasi juga membuat transportasi umum menjadi pilihan yang realistis karena kepadatan penduduk akan menciptakan jumlah penumpang yang memadai untuk mendukung keberlanjutannya.[7] Para pendukung konsep ini menyarankan pembentukan pusat-pusat lingkungan yang kuat dengan akses lokal yang mudah—bukan dengan memisahkan area komersial dan permukiman seperti yang umum dilakukan—karena pemisahan tersebut justru mendorong ketergantungan pada kendaraan bermotor akibat jarak perjalanan yang lebih jauh. Pendekatan serbaguna ini diharapkan dapat menciptakan kondisi yang lebih berkelanjutan dan layak huni.[9]

Lihat pula

Referensi

  1. ^ a b "Complete Streets: Best Policy and Implementation Practices" (PDF). American Planning Association. Diakses tanggal 14 December 2020.
  2. ^ a b c d "Living Streets: A Guide for Los Angeles" (PDF). JSTOR. Diakses tanggal 14 December 2020.
  3. ^ a b c d e f "Green Infrastructure: How to Manage Water in a Sustainable Way". NRDC. Diakses tanggal 14 December 2020.
  4. ^ "Permeable Pavement". NACTO. 29 June 2017. Diakses tanggal 14 December 2020.
  5. ^ Burden, Dan (2006). "Urban Street Trees" (PDF). Walkable.org. Diakses tanggal December 15, 2022.
  6. ^ Bull, Julian (2011). "Share the Road" (PDF). Landscape Architecture Australia (130): 53–57. JSTOR 45141823. Diakses tanggal 14 December 2020.
  7. ^ a b c d "Implementing Living Streets". JSTOR. 10 April 2014. Diakses tanggal 14 December 2020.
  8. ^ a b Pucher, John; Buehler, Ralph (2010). "Walking and Cycling for Healthy Cities" (PDF). Built Environment. 36 (4): 391–414. doi:10.2148/benv.36.4.391. JSTOR 23289966. Diakses tanggal 14 December 2020.
  9. ^ "Creating equitable, healthy, and sustainable communities" (PDF). EPA. Diakses tanggal 14 December 2020.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement