Idrus Tintin

Idrus Tintin atau dipanggil dengan nama Derus (10 November 1932 – 14 Juli 2003) adalah sorang seniman dan budayawan asal Riau, Indonesia. Ia dikenal sebagai tokoh yang berperan besar dalam mengembangkan teater Melayu modern di Riau. Sebagai penghargaan pada dunia seni membuat namanya diabadikan untuk sebuah gedung pertunjukan di kota Pekanbaru, yakni Anjung Seni Idrus Tintin yang terletak tidak jauh dari Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II.[1]

Kehidupan Awal dan Pendidikan[2]

Idrus Tintin lahir di Rengat, Riau, 10 November 1932 pada saat Indonesia masih memperjuangkan kemerdekaan. Ia dibesarkan dalam keluarga keturunan Melayu asli Riau. Ayahnya bernama Tintin berasal dari Lubuk Ambacang, Indragiri yang sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Kuantan Singingi, Riau.

Ayahnya berprofesi sebagai nahkoda kapal di Jawatan Pelayaran Indonesia yang kemudian dipindahtugaskan ke Laut Cina Selatan, Tarempa, Kepulauan Riau. Pada 14 Desember 1941, pasukan Jepang membombardir wilayah Tarempa. Sekitar 300 orang masyarakat sipil menjadi korban ketika itu termasuk ayah Idrus Tintin yang meninggal pada tahun 1942.

Setelah ayahnya meninggal dunia, ia tinggal bersama ibu dan ketiga saudaranya pindah ke Rengat. Ia kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Rakyat.Ia juga sempat inggal di asrama penampungan yatim piatu Dai Toa Kodomo Ryo milik Pemerintah Jepang. Di asrama inilah Idrus mulai mengenal dunia seni drama teater.

Pada akhir tahun 1944, Idrus Tintin pindah ke Tembilahan untuk melanjutkan pendidikannya di Sekolah Muhammadiyah, namun tida berhasil diselesaikan. Setahun berikutnya, ia kembali ke Rengat untuk meneruskan pendidikan SMP, sambil melanjutkan hobinya bermain teater. Ia pernah menempuh pendidikan di SMA Sore Tanjung Pinang.

Karier[3]

Saat masih berusia 16 tahun, tepatnya di bulan Februari 1949, Idrus bergabung menjadi anggota TNI. Setahun berikutnya, ia mulai bertugas sebagai Staf Q Brigade DD Angkatan Darat di Tanjung Pinang.

Meskipun sebagai anggota TNI, pada 1952, Idrus mendirikan sebuah sanggar sandiwara bernama Gurinda di Tarempa. Kesulitan membagi waktu antara dunia seni dan pekerjaanya sebagai pegawai negeri ia pun mengundurkan diri dari jabatannya.

Pada tahun 1959, Idrus merantau ke Pulau Jawa untuk menimba ilmu dan memperluas wawasan seputar dunia seni peran. Disanalah, ia mulai berkenalan dengan seniman teater ternama ibukota seperti Asrul Sani, Ismet M. Noor, Teguh Karya, Rendra, B. Jayakesuma, Chairul Umam, Soekarno M. Noor, dan masih banyak lagi.

Pertemuannya dengan seniman di ibukota menjadi awal perkenalan Idrus dengan dunia teater modern.

Meninggal

Ia meninggal pada usia 71 tahun, tepatnya pada 14 Juli 2003 akibat penyakit stroke. Ia meninggalkan 7 orang anak dan dua orang istri. Ia dikuburkan di pemakaman raja-raja Rengat di Mesjid Raya Rengat Indragiri Hulu.[4]

Karya

Daftar Puisi

Berikut adalah beberapa puisi karya Idrus Tintin:[5][6]

  • Elegi Nelayan Tua
  • Sahabat
  • Hidup Kian Menarik
  • Kumpulan Asap yang Menyala
  • Burung Waktu
  • Pesan Seorang Ayah kepada Anaknya
  • Doa
  • Malam Qadar
  • Senja
  • Krakatau
  • Nyanyian Angsa
  • Renungan Menjelang Tidur
  • Sampai Tiba Giliran
  • Camar Duka
  • Dalam Badai
  • Sajak Hitam
  • Catatan Seorang Lelaki
  • Kutulis Harapan
  • Catatan Harian Seorang Kelasi
  • Semangat
  • Pemain Gambus
  • Akhir Kata
  • Sekiranya Bukan Kalau
  • Tanah Kelahiran
  • Singapura
  • Asrama Dai-To-A
  • Di Kelenteng Senggarang
  • Puaka I
  • Ular Itu

Penghargaan

Pada tahun 1996, ia menerima Anugerah Sagang kategori Seniman atau Budayawan terpilih Yayasan Sagang. Kemudian pada tahun 2001, ia di nobatkan sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) kategori Seni Teater oleh Dewan Kesenian Riau.[7][8]

Pada tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjabat kala itu menganugerahkan Bintang Budaya Parama Dharma. Bintang ini dianugerahkan orang yang dianggap berjasa besar di bidang budaya yang berakhlak dan berbudi pekerti baik.[9]

Referensi

  1. ^ Setiawan, Wawan. (3 September 2016). "Idrus Tintin, Budayawan Riau yang Rela Keluar dari TNI demi Kecintaan pada Teater". Potretnews.com | Diakses pada 11 Agustus 2025
  2. ^ Irawan, Novita Asri. (31 Maret 2023). "Sosok Idrus Tintin, Seniman Riau yang Diabadikan Menjadi Nama Gedung di Kota Pekanbaru". Sabangmeraukenews.com | Diakses pada 11 Agustus 2025
  3. ^ Irawan, Novita Asri. (31 Maret 2023). "Sosok Idrus Tintin, Seniman Riau yang Diabadikan Menjadi Nama Gedung di Kota Pekanbaru". Sabangmeraukenews.com | Diakses pada 12 Agustus 2025
  4. ^ Riau Kepri. (9 Augustus 2025). "Idrus Tintin (1937-2003): Seniman Multi Talenta Nasional dari Kuantan Singingi". Riaukepri.com | Diakses pada 12 Agustus 2025
  5. ^ Sepenuhnya.com. "Kumpulan Puisi Karya Idrus Tintin". Sepenuhnya.com | Diakses pada 12 Agustus 2025
  6. ^ Jendela Sastra. "Puisi-puisi Idrus Tintin". Jendelasastra.com | Diakses pada 12 Agustus 2025
  7. ^ Fakhriyani. (25 Aug 2024). "Idrus Tintin Tokoh Budayawan dan Seniman Besar Riau". RRI | Diakses pada 11 Agustus 2025
  8. ^ Data Pokok Kebahasaan dan Kesastraan - Kemdikbud. "Anugerah Sagang (1996)". Kemdikbud.go.id | Diakses pada 11 Agustus 2025
  9. ^ DetikNews. (8 November 2011). "Benyamin S dan Tintin Dapat Bintang Budaya dari SBY". Detik.com | Diakses pada 11 Agustus 2025

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement