Idappaccayatā

Terjemahan dari
idappaccayatā
Inggrisspecific conditionality,
this/that conditionality,
convergence of conditional factors,
this conditionedness
Paliidappaccayatā, idappaccayata
Sanskertaidaṃpratyayatā, idampratyayata
Jepang此縁性
(rōmaji: shienshō)
Daftar Istilah Buddhis

Idappaccayatā (Pali: idappaccayata; Sanskerta: idaṃpratyayatā) adalah istilah dalam Buddhisme yang diterjemahkan sebagai "kondisionalitas khusus" atau "kondisionalitas ini/itu". Istilah ini merujuk pada prinsip kausalitas: bahwa segala sesuatu muncul dan ada karena sebab (atau kondisi) tertentu, dan akan lenyap ketika sebab (atau kondisi) tersebut dihilangkan. Prinsip ini dinyatakan dalam rumus sederhana berikut yang diulang ratusan kali dalam khotbah-khotbah Buddhis:

Ketika ini ada, itu ada.
Dari munculnya ini timbul munculnya itu.
Ketika ini tidak ada, itu tidak ada.
Dari lenyapnya ini timbul lenyapnya itu.

Idappaccayatā (kondisionalitas khusus), sebagaimana dinyatakan dalam rumus di atas, diidentifikasi sebagai salah satu ungkapan utama dari doktrin paṭiccasamuppāda (kemunculan yang saling bergantungan).

Etimologi

Istilah Pali idappaccayatā tersusun dari tiga kata Pali: ida, paccaya, dan . Penerjemah Patrick Kearney menjelaskan istilah-istilah tersebut sebagai berikut:[1]

Paccaya berasal dari kata kerja pacceti ([...] “kembali kepada,” secara kiasan “bergantung pada,” “menemukan pegangan”). Secara harfiah berarti “dukungan,” dan dalam penggunaannya berarti “alasan, sebab, dasar, kondisi.” Bagian lain dari gabungan kata ini adalah: ida, yang berarti “ini;” serta akhiran abstrak - .

Bhikkhu Dhammanando memberikan penjelasan berikut:[2]

Idappaccayatā [sama dengan] idaṃ + paccaya + tā.

‘Idaṃ’ berarti ‘ini’, merupakan bentuk tunggal netral nominatif atau akusatif dari kata sifat/kata ganti ‘ima’. Namun, ketika ‘idaṃ’ muncul dalam kata majemuk, dengan penghilangan niggahīta, ia dapat mewakili berbagai bentuk kasus oblique dari ‘ima’. Dalam konteks ini, para komentator memahaminya sebagai ‘imesaṃ’, bentuk jamak genitif — ‘dari ini’.

‘Paccaya’ [sama dengan] ‘paccayā’ (bentuk jamak nominatif) — kondisi.

Akhiran ‘-tā’ membentuk kata benda yang menyatakan keadaan, mirip dengan akhiran bahasa Inggris ‘-ness’.

Secara harfiah: “keadaan-kondisi-dari-ini.”

Terjemahan alternatif

Istilah ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan beberapa istilah berikut:

  • Kausalitas (Ajahn Brahmavamso)
    • Kausalitas khusus – U Thittila (Book of Analysis)
    • Kausalitas yang secara khusus dapat ditetapkan – Pe Maung Tin (The Expositor)
  • Kondisionalitas – Jeffrey Hopkins (Tibetan, Sanskrit, English Dictionary)[3]
    • Kondisionalitas ini/itu – Thanissaro Bhikkhu
    • Kondisionalitas khusus – Ajahn Payutto; Bodhi/Ñāṇamoli (Connected Discourses, Middle Length Discourses dan lain-lain)
  • Konvergensi faktor-faktor kondisional – Ajahn Payutto
  • Dengan hanya kondisi-kondisi ini – Jeffrey Hopkins
  • Sifat terkondisi dari segala sesuatu – Maurice Walshe (Long Discourses)
  • Keterkondisian ini – Patrick Kearney

Ungkapan paṭiccasamuppāda

Idappaccayatā (kondisionalitas ini/itu), sebagaimana dinyatakan dalam rumus ini/itu, diidentifikasi sebagai salah satu ungkapan utama dari doktrin paṭiccasamuppāda (kemunculan yang saling bergantungan).[a]

  • Thich Nhat Hanh menyatakan: "Buddha menjelaskan kemunculan yang saling bergantungan dengan sangat sederhana: 'Ini ada, karena itu ada. Ini tidak ada, karena itu tidak ada. Ini menjadi ada, karena itu menjadi ada. Ini lenyap, karena itu lenyap.' Kalimat-kalimat ini muncul ratusan kali dalam tradisi Utara maupun Selatan. Inilah asal mula Buddhisme."[4]
  • Peter Harvey menyatakan: Dalam bentuk abstraknya, doktrin ini berbunyi: "Ketika itu ada, ini menjadi ada; dari munculnya itu, ini muncul; ketika itu tidak ada, ini tidak ada; dari lenyapnya itu, ini lenyap." (S.II.28) Hal ini menegaskan prinsip kondisionalitas, bahwa segala sesuatu, baik mental maupun fisik, muncul dan ada karena keberadaan kondisi tertentu, dan akan lenyap ketika kondisi tersebut dihilangkan: tidak ada sesuatu pun (kecuali Nibbana) yang berdiri sendiri.[5]
  • Christina Feldman menyatakan: "Prinsip dasar dari kemunculan yang saling bergantungan sesungguhnya sangat sederhana. Buddha menggambarkannya dengan mengatakan: 'Ketika ini ada, itu ada. / Dengan munculnya ini, itu muncul. / Ketika ini tidak ada, itu pun tidak ada. / Dengan lenyapnya ini, itu lenyap.' Ketika seluruh siklus perasaan, pikiran, sensasi tubuh, seluruh siklus batin dan jasmani, tindakan, dan gerakan berlangsung di atas landasan ketidaktahuan — itulah yang disebut samsara."[6]
  • Joseph Goldstein menyatakan: "Inti dari ajaran Buddha adalah prinsip kemunculan yang saling bergantungan: karena ini, itu muncul; ketika ini lenyap, itu pun lenyap. Hukum kemunculan yang saling bergantungan merupakan kunci untuk memahami bukan hanya kelahiran manusia yang berharga, tetapi juga proses kehidupan itu sendiri, dengan segala penderitaan dan keindahannya."[butuh rujukan]
  • Rupert Gethin: "Rumus singkat lainnya menyatakan prinsip kausalitas (idaṃpratyayatā) sebagai ‘ini ada, itu ada; ini muncul, itu muncul; ini tidak ada, itu tidak ada; ini lenyap, itu lenyap’. (Majjhima Nikāya iii. 63; Saṃyutta Nikāya v. 387; dan lain-lain) ...rumus singkat ini dengan jelas menyatakan bahwa rahasia alam semesta terletak pada sifat kausalitas — cara satu hal menimbulkan hal lainnya."[7]

Kesamaan dengan paṭiccasamuppāda

Ajahn Payutto menjelaskan idappaccayatā sebagai nama lain dari paṭiccasamuppāda.[8] Ajahn Payutto mengutip bagian dari sutta Pali S. II. 25–26:[8]

Baik Tathāgata muncul maupun tidak, prinsip kondisionalitas khusus [idappaccayatā] tetap konstan, pasti, dan merupakan hukum alam. Setelah sepenuhnya tercerahkan dan menembus kebenaran ini, seorang Tathāgata menyatakannya, mengajarkannya, menjelaskannya, merumuskannya, mengungkapkannya, dan menganalisisnya. Dan ia berkata: ‘Lihatlah! Dengan ketidaktahuan sebagai kondisi, muncul bentukan-bentukan kehendak.... Maka, para bhikkhu, kenyataan ini (tathatā), ketidakmenyimpangan ini (avitathatā), ketidakberubahan ini (anaññathatā) — kondisionalitas khusus ini (idappaccayatā) — inilah yang disebut kemunculan yang saling bergantungan.’

Pengalaman langsung

Glosarium Access to Insight menekankan bahwa idappaccayatā berkaitan dengan pengalaman langsung. Glosarium tersebut menyatakan:[9]

Nama ini untuk prinsip kausalitas yang ditemukan Buddha pada malam Pencerahannya menekankan bahwa, dalam rangka mengakhiri penderitaan dan tekanan batin, proses kausalitas sepenuhnya dapat dipahami dalam kerangka kekuatan dan kondisi yang dialami secara langsung, tanpa perlu merujuk pada kekuatan yang bekerja di luar ranah pengalaman langsung.

Rumus ini/itu

Terjemahan rumus ini/itu

Terdapat banyak terjemahan atas rumus idappaccayatā yang dibuat oleh para sarjana dan penerjemah kontemporer.

Penerjemah kontemporer Thanissaro Bhikkhu memberikan terjemahan berikut:[10]

Ketika ini ada, itu ada.
Dari munculnya ini timbul munculnya itu.
Ketika ini tidak ada, itu tidak ada.
Dari lenyapnya ini timbul lenyapnya itu.

Rupert Gethin menerjemahkannya sebagai berikut:[7]

Ini ada, itu ada;
ini muncul, itu muncul;
ini tidak ada, itu tidak ada;
ini lenyap, itu lenyap’.
(Majjhima Nikāya iii. 63; Saṃyutta Nikāya v. 387; dan lain-lain)

Analisis

Thanissaro Bhikkhu menganalisis makna dari rumus ini/itu sebagai berikut:[11]

Buddha menyatakan kondisionalitas ini/itu dalam sebuah rumus yang tampak sederhana:

Ada banyak cara untuk menafsirkan rumus ini, tetapi hanya satu yang sesuai baik dengan susunan kata dalam rumus maupun dengan cara yang kompleks dan dinamis dalam menggambarkan contoh hubungan kausalitas dalam Kanon. Cara tersebut adalah dengan melihat rumus ini sebagai interaksi antara dua prinsip kausal: satu linear dan satu sinkronis, yang berpadu membentuk pola non-linear. Prinsip linear — yang mencakup (2) dan (4) sebagai pasangan — menghubungkan peristiwa, bukan objek, sepanjang waktu; sedangkan prinsip sinkronis — (1) dan (3) — menghubungkan objek dan peristiwa pada saat kini. Kedua prinsip ini saling berpotongan, sehingga setiap peristiwa dipengaruhi oleh dua set kondisi: masukan yang bekerja dari masa lalu dan masukan yang bekerja dari masa kini. Meskipun masing-masing prinsip tampak sederhana, interaksi di antara keduanya menghasilkan konsekuensi yang sangat kompleks.

Lihat juga

Catatan

  1. ^ Rumus ini/itu dianggap mewakili ungkapan utama dari pratītyasamutpāda (kemunculan yang saling bergantungan)

Referensi

  1. ^ This is how I heard it, oleh Patrick Kearney
  2. ^ Pali Term: Idappaccayatā
  3. ^ "Tibetan, Sanskrit, English Dictionary" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2015-02-20. Diakses tanggal 2013-08-17.
  4. ^ Thich Nhat Hanh 1999.
  5. ^ Harvey 1990.
  6. ^ Feldman, Christina. "Dependent Origination," http://www.dharma.org/ij/archives/1999a/christina.htm. Diakses 25 Februari 2011.
  7. ^ a b Gethin 1998.
  8. ^ a b Significance of Dependent Origination, oleh Ajahn Payutto
  9. ^ Access to Insight glossary
  10. ^ Bhikkhu Thanissaro, Assutavā Sutta: Uninstructed (SN 12.61), Access To Insight, tanggal akses=5 Juni 2013
  11. ^ Wings to Awakening, Introduction

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement