Herawati Sudoyo
| Herawati Sudoyo | |
|---|---|
| Lahir | 2 November 1951 Pare, Kediri |
| Pekerjaan | Dokter, Peneliti, Ahli Biologi Molekuler Dosen |
Herawati Sudoyo (lahir 2 November 1951) adalah seorang ahli biologi molekuler asal Indonesia.[1] Ia dikenal sebagai pionir dalam bidang genetika forensik di Indonesia dan telah berkontribusi dalam pengembangan teknik analisis DNA untuk identifikasi forensik.[2] Herawati merupakan ilmuwan senior dan peneliti utama di bidang keanekaragaman genom manusia dan penyakit di Institut Nanoteknologi Mochtar Riady (MRIN). Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan memimpin laboratorium DNA forensik pertama di Indonesia.[3] Pada tahun 2008, perempuan kelahiran Pare, Kediri ini menerima Habibie Award atas perannya dalam meletakkan dasar pemeriksaan DNA forensik yang digunakan untuk mengidentifikasi pelaku bom bunuh dirI.[3]
Pendidikan
Herawati merupakan seorang ilmuwan dan profesor dibidang biologi. Ia memulai studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Pada tahun 1977, ia berhasil memperoleh gelar Sarjana Kedokteran. Setelah menyelesaikan gelar Sarjana tersebut, Dr.Herawati kemudian melanjutkan studi lanjutan ke jenjang Magister di Pascasarjana Universitas Indonesia. Selama menjalani pendidikannya, Herawati semakin mendalami bidang biomedis dan ilmu kesehatan. Pada tahun 1985, ia menyelesaikan pendidikan S-2 dengan gelar Magister Biomedis (M.Biomed). Setelah itu, Herawati melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-3 di Monash university, Australia, di Departemen Biokimia. Pada tahun 1990, ia berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Biokimia.[4]
Karier
Herawati Sudoyo memulai kariernya pada tahun 1978, ia telah mengabdikan dirinya sebagai staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.[5] Dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan membawanya mendirikan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pada tahun 1993, yaitu sebuah institusi yang kemudian menjadi pusat penelitian genetika dan biologi molekuler terkemuka di Indonesia. Sebagai salah satu pionir dalam analisis DNA forensik, Herawati dipercaya memimpin Unit Identifikasi DNA Forensik di Lembaga Eijkman[6] sejak tahun 2004 hingga 2021. Di bawah kepemimpinannya, unit ini memainkan peran penting dalam berbagai investigasi forensik, termasuk identifikasi pelaku dalam kasus-kasus terorisme di Indonesia. Selain itu, sejak tahun 2005, ia juga aktif berbagi keahliannya sebagai staf pengajar di berbagai institusi akademik, termasuk di PTIK, Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, dan Universitas Diponegoro.[7]
Pada tahun 2022, Herawati bergabung dengan Institut Nanoteknologi Mochtar Riady (MRIN)[2] sebagai ilmuwan senior dan peneliti utama dalam bidang keanekaragaman genom manusia dan penyakit. Di institusi ini, ia terus berkontribusi dalam penelitian biomedis yang berfokus pada genetika dan kesehatan manusia. Selain itu, perannya sebagai Ketua Komisi Ilmu Kedokteran di Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia[8] menunjukkan pengaruhnya yang luas dalam pengembangan ilmu kedokteran dan bioteknologi di tingkat nasional dan internasional.[9]
Penghargaan
Dr. Herawati telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam bidang ilmu pengetahuan dan penelitian. Pada tahun 1991-1992 beliau memperoleh sebuah penghargaan dalam ajang Toray Foundation Research Award.[10] Kemudian pada tahun 1992 beliau memperoleh kembali sebuah penghargaan dalam ajang Third World Academy of Science Award. Bukan hanya itu saja pada tahun 1993-11996, Dr. Herawati juga menjadi Penerima Riset unggulan terpadu. Dan setelah itu tepat pada tahun 2007 beliau diberikan Wing Kehormatan kedokteran kepolisian,sedangkan pada tahun 2008, beliau kembali dianugerahi dalam ajang Habibie Award, yaitu sebuah penghargaan yang diberikan kepada individu yang turut berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi di indonesia. Kemudian pada tahun yang sama juga, beliau menerima Australian Alumni Award of Scientific and Research Inovation.[11] Pada 2019, ia meraih penghargaan Cendekiawan Berdedikasi 2019 dari Kompas.[12]
Penelitian
Teknik Analisis DNA
Metode yang dikembangkan oleh Herawati Sudoyo berawal dari ledakan bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia atau Bom Kedubes Australia 2004, pada tanggal 9 September 2004. Saat itu pihak kepolisian ditantang untuk segera mengidentifikasi pelaku dan mengungkap kelompok di baliknya. Kejadian itu menewaskan 10 korban dan mencederai lebih dari 180 orang.[13] Mobil boks yang mengangkut bom hancur total dan tak ada bagian tubuh yang memungkinkan untuk diidentifikasi dengan metode konvensional, seperti sidik jari, profil gigi, apalagi pengenalan wajah. Persoalan berikutnya, bagaimana menentukan mana pelaku dan mana korban? Solusi persoalan pertama adalah identifikasi DNA. Singkatan dari deoxyribonucleic acid, DNA adalah rantai informasi genetik yang diturunkan. DNA inti mengandung informasi dari orang tua: ayah dan ibu. Persoalan kedua diatasi dengan mengembangkan strategi pengumpulan dan pemeriksaan serpihan tubuh berbasis prediksi trajektori ledakan bom dan posisi pelaku. Sebagai orang yang paling dekat dengan bom, serpihan pelaku akan terlontar lebih jauh dibanding serpihan korban.[14]
Teori yang dikembangkan tim Hera bersama Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri ternyata betul. Jaringan tubuh yang berasal dari tempat-tempat terjauh memiliki profil DNA yang sama. Hasil ini kemudian dibandingkan dengan profil DNA keluarga dekat yang dicurigai. Kurang dari dua minggu, tim gabungan Eijkman-Polri berhasil mengidentifikasi pelakunya. Disebut Disaster Perpetrator Identification (DPI), teknik ini melengkapi Disaster Victim Identification (DVI) yang biasa digunakan untuk identifikasi korban bencana massal. Penelitian mengenai genetika manusia Indonesia dengan fokus keragaman genetik terkait dengan penyebaran penyakit memang salah satu kegiatan Lembaga Eijkman.[15]
Penelitian DNA Madagascar dan Indonesia
Dr. Herawati Sudoyo beserta dengan Murray P. Cox, Michael G. Nelson (Selandia Baru), Meryanne K. Tumonggor (Arizona), dan Francois-X. Ricaut (Prancis) menyimpulkan bahwa nenek moyang penduduk Madagaskar adalah orang Indonesia. Studi yang dilakukan sejak tahun 2005 tersebut, dilakukan dengan melakukan pencocokan DNA. 2.745 sampel penduduk Indonesia yang berasal dari 12 pulau yaitu Sumatra, Nias, Mentawai, Jawa, Bali, Sulawesi, Sumba, Flores, Lembata, Alor, Pantar dan Timor, dicocokkan dengan 266 sampel penduduk Madagaskar. Sampel DNA penduduk Madagaskar berasal dari tiga kelompok besar etnik yang dibedakan berdasarkan budaya dan tempat tinggal, yaitu: Mikea (pemburu), Vezo (nelayan), dan Merina (dataran tinggi). Marka genetik yang digunakan adalah DNA mitokondria, kromosom Y. Kami mengambil sampel darah dari penduduk Indonesia dan Madagaskar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan, dari 2.745 sampel DNA Indonesia, 45 orang membawa motif Malagasi. Di mana motif tersebut terdapat pada 58 sampel dari 226 total sampel penduduk Madagaskar.[16] Hasil uji DNA ini membuktikan adanya hubungan darah antara penduduk Madagaskar dan Indonesia. Hasil pemetaan genetik di Indonesia terdahulu, memperlihatkan gambaran sejajar antara penyebaran bahasa dengan penyebaran variasi genetik.[17]
Referensi
- ^ "Profil Herawati Sudoyo". merdeka.com. 2025-03-20. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ a b "PI-Herawati Sudoyo – Mochtar Riady Institute for Nanotechnology" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ a b Shetty, Priya (2012-09-01). "Herawati Sudoyo: champion of basic science in Indonesia". The Lancet (dalam bahasa English). 380 (9844): 797. doi:10.1016/S0140-6736(12)61437-8. ISSN 0140-6736. PMID 22939673. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
- ^ "PI-Herawati Sudoyo – Mochtar Riady Institute for Nanotechnology". mrinstitute.org. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "Genetika Bangsa Indonesia I dr. Herawati Supolo Sudoyo, M.S., Ph.D. – OVIS UI" (dalam bahasa American English). 2022-08-08. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "Profil Prof Herawati Sudoyo, Perempuan di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman". Tempo. 7 Januari 2022 | 19.15 WIB. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ Arif, Ahmad (2019-06-27). "Membumikan Genetika Manusia Indonesia". kompas.id. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D". cisdi.org. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ Aninda, Nirmala (2020-12-18). "Herawati Sudoyo, Pakar Virus yang Bermimpi Jadi Arsitek". Bisnis.com. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ Profil Anggota Aipi (PDF). hlm. 94. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ^ "Inspiratif! 7 Ilmuwan Wanita Indonesia Ini Berhasil Melakukan Penemuan yang Mengubah Dunia! - CewekBanget". cewekbanget.grid.id. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ Media, Kompas Cyber. "Mengenal Herawati Sudoyo, Peraih Penghargaan Cendekiawan Berdedikasi Kompas Halaman all - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "PI-Herawati Sudoyo – Mochtar Riady Institute for Nanotechnology" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-09.
- ^ "Herawati Sudoyo, Menguak Jasad Teroris hingga Nenek Moyang Orang Madagaskar". detiknews. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "Herawati Sudoyo: Memajukan Dunia Penelitian Dan Ilmu Pengetahuan". Elle Indonesia. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "Herawati Sudoyo, Pelacak DNA Dari Pemboman Sampai Madagaskar". Langit Perempuan (dalam bahasa American English). 2015-12-28. Diakses tanggal 2025-03-20.
- ^ "Tes DNA Buktikan Orang Indonesia dan Madagaskar Bersaudara". detiknews. Diakses tanggal 2025-03-20.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


