Hasan Asy'ari

KH. Hasan Asykari (Mbah Mangli)
Nama lainMbah Hasan Mangli
KebangsaanIndonesia Indonesia
PekerjaanPendiri Pondok Pesantren Mangli Magelang
IstriHajjah Umi Hasanah (almh)
Hajjah Qomariah (almh)
Hajjah Siti Fatimah (almh)
Hajjah Noor Rohmah
KeturunanA. Hajjah Umi Hasanah
1. Gus Thohir
2. Ning Ma'unah
3. Ning Aliyah
4. Ning Ma'iyah
5. Ning Bahiyah

B. Hajjah Siti Qomariyah
1. Ning Zahroh(Alm)
2. Ning Zainab
3.Ning Mardhiyah
4.Gus Muhammad Said
5. Ning Chusnul Khatimah
6. Gus Achmad Maghfur
7. Ning Fatimah(Alm)
8. Ning Chalimah

C. Hajjah Siti Fatimah
1. Gus Muhammad Saad
2. Gus Muhammad Said(Alm)
3. Gus Achmad Ridho
4. Gus Zen Muhammad
5. Gus Muhammad Anis

D. Hajjah Noor Rohmah
1. Ning Hamdhanah
2. Ning Hasanah
3. Gus Musyafa' Asykari

Kiai Haji Hasan Asykari, yang juga dikenal sebagai Mbah Hasan Mangli[1] adalah seorang ulama kharismatik dan pendakwah dari Dusun Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, sebuah dusun di lereng Gunung Andong. Ia merupakan seorang mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Magelang.[2] .[3] Ia dimakamkan di lingkungan Pesantren Mangli, tempat awal ia berdakwah kepada masyarakat umum.

Biografi

Mbah Mangli atau KH. Hasan Asykari adalah seorang tokoh ulama' yang masyhur dengan kewalian serta karamahnya , beliau merupakan mursyid thoriqoh qodiriyah waa naqsyabandiyah. Beliau lahir di Jepara pada Hari Jum'at legi tanggal 17 Agustus 1928 dini hari. Beliau merupakan putra kedua dari Kyai Imam bin Abu Suja' Jepara yang menurut beberapa sumber masih keturunan Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati sedangkan dari garis ibu beliau merupakan keturunan dari Kyai Ageng Hasan Besari tokoh kyai besar yang menurunkan para ulama' terkemuka juga termasuk keturunan Sunan Kalijaga. Sedangkan beliau wafat pada Minggu 26 Oktober 1996 di makamkan di Pondok Pesantren Mangli, Girirejo, Ngablak, Magelang.[4]

Pendidikan

Mbah Mangli mendapat pendidikan dan berguru kepada beberapa Masyayikh, diantaranya :
1. Ayahanda beliau ( Kyai Imam Bin Umar bin Abu Sujak ) yang makamnya di Mantingan Jepara Oleh ayahanda beliau, mbah mangli mendapat pendidikan yang sangat ketat dan sangat disiplin. Diantara yang di ajarkan ayahandanya adalah menghafal kitab-kitab fiqih seperti kitab Fatchul Qarib dan maknanya. Oleh ayahandanya ini beliau juga belajar Al Qur'an beserta tafsirnya baik makna maupun nasakh mansukhnya.

2. Mbah Mangli juga melalang buana belajar kepada para masyayikh diantaranya yang masyhur kepada
- KH. Ma'mun Ahmad (Kudus)
- KH. Arwani Amin (Kudus)
- Syech KH. Ahmad Mandurah (Sampang Madura)
- KH. Ibnu Hajar (Wonosobo)
- KH. Sirodj (Payaman Magelang)
- KH. Rohmad ( Kleteran Magelang)
- KH. Khozin (Bendo Pare)

3. Mbah Mangli juga diriwayatkan berguru pada para masyayikh di Cirebon dan Banyumas dan lainya.

Aktivitas

Tarekat

Mbah Mangli berbaiat thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyyah kepada KH. Arwani Amin (Kudus ). Diceritakan oleh salahsatu Istri Mbah Mangli yaitu Nyai Hajjah Siti Fatimah (Ibu Gus Ahmad Ridho Pengasuh PP. Al-Hasan Kuwarasan Wujil Bergas Kab. Semarang ) yang pernah diantar Mbah Mangli untuk berbaiat Thoriqoh kepada KH. Arwani Amin (Kudus) jika Mbah Mangli pernah didawuhi / diperintah oleh KH. Arwani Amin agar menerima baiat Thoriqoh Kholidiyyah Naqsyabandiyyah dari Masyarakat umum akan tetapi beliau tidak bersedia. Karena ketakdziman Mbah Mangli kepada gurunya dan putra gurunya. Jika orang lain menghendaki berbaiat thoriqoh kepada Mbah Mangli, Mbah Mangli menyarankan agar berbaiat thoriqoh kepada KH. Ulin Nuha Arwani Kholifah Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyah sepeninggal KH. Arwani Amin (Kudus )

Mendirikan Pesantren

Pada 1959, Mbah Mangli mendirikan pondok pesantren salafiyah namun tidak memberikan nama resmi. Lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Mangli dan sosok KH. Hasan Asykari dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama ini diberikan masyarakat karena ia menyebarkan Islam dengan basis dari Kampung Mangli,Girirejo, Ngablak, Kabupaten Magelang. Dikampung inilah yang selanjutnya Al Marhum Mbah Mangli di makamkan yang sampai kini makamnya sangat ramai diziarai oleh jama'ah.

Sepeninggal Mbah Mangli, Pondok Pesantren Mangli diteruskan oleh menantu beliau yakni Simbah KH. Munir dan para putranya. Namun peran dakwah dan pelayanan pendidikan kepada umat tidak hanya itu saja, para putra beliau juga banyak khidmah kepada umat . Diantaranya Gus Saad yang banyak mengisi kajian kajian islam, Gus Ahmad Ridho yang sekarang mendirikan Pondok Pesantren di Kabupaten Semarang yakni Pondok Pesantren Al Hasan Kuwarasan tafa'ulan dengan nama Mbah Mangli, lalu Ning Hasanah beserta suami beliau Gus Achmad Rifa'i yang mendirikan Pondok Pesantren di Ngasinan Grabag Magelang, di tempat ini juga dibangun Mabes Hasany yang diperuntukan untuk pusat kegiatan sosial keagamaan yang sering diadakan kegiatan kegiatan keagamaan yang di asuh oleh Gus Musyafa' Asykari yang beliau memang sangat familiar di masyarakat dalam membersamai para jama'ah khususnya kalangan muda. Dan masih banyak lagi dzuriyah beliau yang khidmah dan dakwah kepada masyarakat meneruskan jejak lampah abahnya.

Dakwah

Selain khidmah dengan mendirikan dan mengajar di Pondok Pesantren Mbah Mangli juga syi'ar dan dakwah melalui pengajian pengajian yang dilaksanakan setiap selapan sekali diberbagai tempat, ada yang unik di pengajian beliau yakni tanpa pengeras suara sama sekali, namun anehnya konon semua jama'ah yang niat mengikuti pengajian akan tetap dapat mendengar suara mbah mangli walaupun berada jauh dari podium, namun untuk jama'ah yang hadir untuk niat lain walaupun berada dekat dengan podium akan tetap tidak dapat mendengarkan suara pidato beliau.

Sepeninggal Mbah Mangli pengajian selapanan diteruskan oleh menantu beliau yakni KH. Munir sampai sekarang. Adapun sebagian tempat dan waktunya :

  1. Masjid Mangli

Dilaksanakan setiap hari Ahad di Masjid dusun Mangli, Girirejo, Ngablak, Magelang. Sebelum dan setelah pengajian berlangsung biasanya para jama'ah berziarah di makam Mbah Mangli yang berada di komplek Pondok Pesantren di samping Masjid . Di sepanjang jalan menuju masjid jama'ah akan di manjakan oleh deretan masyarakat yang menjajakan berbagai daganganya sebagian besar adalah hasil bumi di sekitar dusun ini, mulai dari buah-buahan, berbagai sayuran, makanan khas, sampai berbagai anyaman, kedai kopi dan masih banyak lagi.

2. Langgar Linggan, Mejing, Candimulyo

Dilaksanakan setiap hari Kamis Wage di sebuah surau atau mushola yang sering disebut Langgar Linggan di dusun Mejing, Candimulyo, Magelang. Di Pengajian Kamis Wage ini ada fakta unik yang menyertainya, yaitu sampai sekarang masih banyak ratusan jama'ah yang melakukan riyadhoh jalan kaki berangkat dan pulangnya dari rumah masing-masing, padahal jarak dari rumah sampai lokasi pengaijian sangatlah jauh banyak yang jaraknya lebih dari 50 km, kebanyakan dari daerah kaliangkrik, kajoran, windusari Wonosobo ada juga yang dari Banjarnegara, dan sepanjang pinggiran jalan yang dilintasi akan banyak sekali masyarakat yang menyediakan makanan, minuman, jamuan gratis untuk para pejalan kaki tersebut.

3. Masjid Balak, Pakis, Magelang

Dilaksanakan setiap Hari Kamis Kliwon bertempat di Masjid Al Falah, Dusun Balak, Rejosari, Pakis, Magelang

4. Langgar Ndalem Tegaron

Dilaksanakan setiap hari Kamis Pon, di Langgar ndalem Tegaron, Tegalsari, Salaman, Magelang .

Dan masih banyak lagi tempat tempat Mbah Mangli mengadakan pengajian di Magelang maupun di Luar Kota Magelang.

.[5] Apabila mengadakan pengajian, Mbah Mangli tidak pernah menggunakan pengeras suara, tetapi bagi jamaah yang memang,niat sungguh-sungguh akan tetap dapat mendengar ceramah beliau .[6]

Kisah Teladan

Mbah mangli adalah seorang ulama yang memiliki Psikokinesis tinggi,[7] ia dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka dan langsung dapat memberikan nasihat dengan tepat sasaran.[8]

Referensi

Catatan kaki

  1. ^ Setiawan, Aji (2013-10-30). "Mbah Mangli Ulama Karismatik dari Magelang". Republika Online. Diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-13. Diakses tanggal 2017-08-20.
  2. ^ Murtaufiq, Sudarto (2013-11-02). "KH Hasan Ash'ari (Mbah Mangli), a Charismatic Ulama from Magelang Central Java". www.muslimedianews.com. Muslimedia News - Media Islam | Voice of Muslim. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-20. Diakses tanggal 2017-08-20.
  3. ^ Sajad, Abdullah (2016-04-08). "Mbah Mangli Magelang". Suara Pesantren. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-20. Diakses tanggal 2017-08-20.
  4. ^ Administrator (2015-03-14). "Mbah Mangli: Wali Allah Yang Tidak Pernah Mau Mengikuti Gus Dur". www.nugarislurus.com (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-20. Diakses tanggal 2017-08-20.
  5. ^ Edi (2012), hlm. 19.
  6. ^ Fadholly (2016-04-04). "Kisah Mbah Mangli dan Abah Guru Sekumpul". Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki. Diarsipkan dari asli tanggal 2017-08-20. Diakses tanggal 2017-08-20.
  7. ^ Amin (2008), hlm. 175.
  8. ^ Pendekartidar (2012-08-01). "Kharisma Mbah Kiai Mangli". Pendekar Tidar (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-10-18. Diakses tanggal 2017-08-20.

Bibliografi

https://syekhermaniamagelang.blogspot.com/2026/04/biografi-mbah-mangli.html?m=1

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement