Govardhan Puja

Govardhan Puja
Lukisan pesta Annakut yang dipersembahkan kepada ikon Krishna di Nathdwara, akhir abad ke-18.
Nama lainAnnakoot
Dirayakan olehHindu
JenisHindu
MaknaMemperingati Sri Krishna mengangkat Bukit Govardhan
TanggalPratipada Tithi dari Shukla Paksha di bulan Kartik
Tahun 202522 Oktober
FrekuensiSetiap tahun
Terkait denganDiwali

Govardhan Puja (IAST: Govardhana-pūjā), juga dikenal sebagai Annakut yang berarti “gunungan makanan”,[1][2][3][4] adalah sebuah festival Hindu yang dirayakan pada hari pertama fase terang bulan Kartika, yaitu hari keempat rangkaian Diwali.[5][6] Pada hari ini, para penyembah memuja representasi Bukit Govardhan yang dibuat dari kotoran sapi,[4] serta menyiapkan dan mempersembahkan berbagai macam hidangan vegetarian kepada Dewa Krishna sebagai ungkapan rasa syukur.[7]

Bagi para penganut Vaishnava, hari ini memperingati peristiwa dalam Bhagavata Purana ketika Krishna mengangkat Bukit Govardhan untuk melindungi para penduduk Vrindavan dari hujan badai yang dahsyat. Peristiwa tersebut melambangkan perlindungan ilahi kepada mereka yang sepenuhnya berlindung kepada-Nya.[8] Dalam ritualnya, para penyembah mempersembahkan “gunungan makanan” yang secara simbolis merepresentasikan Bukit Govardhan, sebagai bentuk peringatan sakral dan pembaruan iman dalam berlindung kepada Tuhan.[5]

Festival ini diperingati oleh berbagai denominasi Hindu di seluruh India maupun komunitas Hindu di luar negeri. Govardhan Puja memiliki kedudukan penting dalam berbagai aliran Vaishnava, seperti Pushtimarg Sampradaya, Gaudiya Sampradaya, dan Swaminarayan Sampradaya.

Krishna memegang Govardhan, sebuah legenda bersejarah, digambarkan di banyak kompleks candi Hindu besar. Panel ini berasal dari kuil Hoysaleswara, Halebidu Karnataka (sekitar tahun 1150 M). Blok batu tersebut dipahat untuk menggambarkan legenda Krishna, dan Indra di baliknya.

Awal mula

Krishna menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Braj, sebuah wilayah yang oleh para penyembah dikaitkan dengan berbagai kisah ilahi dan kepahlawanan Krishna bersama sahabat-sahabat masa kecilnya.[4] Salah satu peristiwa terpenting yang dijelaskan dalam Bhagavata Purana[4] adalah peristiwa ketika Krishna mengangkat Bukit Govardhan, sebuah bukit rendah yang terletak di tengah kawasan Braj.[4] Menurut Bhagavata Purana, para gembala penghuni hutan di sekitar Govardhan biasa merayakan musim gugur dengan memberikan penghormatan kepada Indra, dewa hujan dan badai. Krishna, yang ingin meruntuhkan kesombongan Indra, meminta para penduduk desa untuk tidak melakukan pemujaan kepada Indra pada tahun itu.[9] Hal ini membuat Indra murka.[10]

Walaupun Krishna masih sangat muda dan lebih kecil usianya daripada hampir semua orang di desa, ia dihormati karena kebijaksanaan dan kekuatan besar yang dimilikinya. Karena itu, penduduk Gokul mengikuti sarannya. Indra, yang melihat penghormatan mereka beralih dari dirinya kepada Krishna, menjadi semakin marah dan memutuskan untuk menurunkan badai hebat beserta hujan deras sebagai bentuk kemurkaannya. Untuk melindungi penduduk dari bencana tersebut, Krishna mengangkat Bukit Govardhan dengan jari kelingkingnya dan menjadikan bukit itu tempat berlindung bagi seluruh warga dan ternak. Setelah tujuh hari badai tanpa henti, Indra akhirnya mengakui kekalahannya ketika melihat penduduk Gokul tetap selamat, lalu menghentikan hujan. Karena itu, hari tersebut kemudian diperingati sebagai festival penghormatan kepada Bukit Govardhan melalui giriyajña, yaitu persembahan besar berupa aneka makanan dan hidangan. Krishna kemudian menampakkan diri dalam wujud bukit dan menerima persembahan warga.[4][11]

Ritus dan Perayaan

Sejak peristiwa itu, Govardhan menjadi salah satu pusat ziarah utama di wilayah Braj bagi para penyembah Krishna. Pada hari Annakut, para penyembah melakukan parikrama atau mengelilingi bukit sambil membawa persembahan makanan sebuah ritus kuno Braj yang dipopulerkan oleh Chaitanya Mahaprabhu. Parikrama ini menempuh jarak sekitar sebelas mil dan dilalui melalui berbagai kuil kecil tempat para peziarah meletakkan bunga dan persembahan lainnya. Beberapa penyembah melakukan parikrama dengan cara dandavat, yaitu bersujud penuh tubuh secara berulang, yang dapat memakan waktu hingga 10–12 hari.[4][12]

Keluarga-keluarga membuat miniatur Bukit Govardhan dari kotoran sapi, dihias dengan figur sapi kecil serta rumput dan ranting yang melambangkan pepohonan. Menjelang Annakut, biasanya disiapkan 56 jenis hidangan (chappan bhog) untuk dipersembahkan pada waktu malam. Seorang anggota kasta penggembala memimpin ritus tersebut dengan mengelilingi bukit buatan itu bersama seekor sapi dan seekor banteng, kemudian diikuti oleh keluarga-keluarga desa. Setelah persembahan selesai, mereka menyantap makanan suci tersebut. Festival ini sering menarik kerumunan besar, termasuk para brahmana Chaube dari Mathura.[4]

Annakut dirayakan pada hari keempat Diwali, sehingga ritus-ritusnya berkaitan erat dengan rangkaian lima hari perayaan Diwali. Jika tiga hari pertama Diwali berfokus pada doa untuk menyucikan dan mendatangkan kemakmuran, maka hari Annakut menjadi momen untuk mengungkapkan rasa syukur atas anugerah Krishna.[13]

Rujukan

  1. ^ Babb, Lawrence A. (1996). Absent lord : ascetics and kings in a Jain ritual culture. Internet Archive. Berkeley, Calif. : University of California Press. ISBN 978-0-520-20323-5.
  2. ^ "Govardhan Puja - Govardhan Puja Legends, Govardhan Pooja Celebrations". festivals.iloveindia.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-29.
  3. ^ Richardson, E. Allen (2014-08-12). Seeing Krishna in America: The Hindu Bhakti Tradition of Vallabhacharya in India and Its Movement to the West (dalam bahasa Inggris). McFarland. ISBN 978-0-7864-5973-5.
  4. ^ a b c d e f g h Eck, Diana L. (2013-03-26). India: A Sacred Geography (dalam bahasa Inggris). Harmony/Rodale/Convergent. ISBN 978-0-385-53192-4.
  5. ^ a b Livingston, Morson (2015-07-10). The Hidden Revelation: “My Passion Is Spirituality; My Mission Is to End Homelessness and Hunger.” (dalam bahasa Inggris). Xlibris Corporation. ISBN 978-1-5035-8408-2.
  6. ^ Dās, Mukundcharan (2007). Hindu Rites & Rituals: Sentiments, Sacraments & Symbols (dalam bahasa Inggris). Swaminarayan Aksharpith. ISBN 978-81-7526-356-7.
  7. ^ Mukundcharandas; Das, Jnaneshwar (2007). Hindu rites & rituals: sentiments, sacraments & symbols. Swaminarayan Aksharpith (Edisi 1st ed). Amdavad, India: Swaminarayan Aksharpith. ISBN 978-81-7526-356-7.
  8. ^ "3rd Guinness World Record for Annakut". BAPS (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-29.
  9. ^ Vanamali (2012-05-22). The Complete Life of Krishna: Based on the Earliest Oral Traditions and the Sacred Scriptures (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-1-59477-690-8.
  10. ^ NEWS, SA (2025-10-17). "Govardhan Puja 2025 | Date & Story | Who lifted Govardhan Hill?". SA News Channel (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-29.
  11. ^ "DISKUS: The journal of the British Association for the Study of Religions (BASR)". basr.ac.uk. Diakses tanggal 2025-11-29.
  12. ^ Holdrege, Barbara A (Mei 2018). "The Dynamics of Sanskritising and Vernacularising Practices in the Social Life of the Bhāgavata Purāṇa". The Journal of Hindu Studies. 11 (1): 21–37.
  13. ^ "Govardhan Puja Vidhi: How to do Govardhan Puja at home, basic rituals to perform". The Times of India. 2024-10-22. ISSN 0971-8257. Diakses tanggal 2025-11-29.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement