Godzilla: The Planet Eater
Godzilla: The Planet Eater merupakan film animasi Jepang yang dirilis pada tahun 2018. Film ini disutradarai oleh Kōbun Shizuno dan Hiroyuki Seshita, serta dikerjakan oleh Toho Animation, Polygon Pictures, dan berkolaborasi dengan Netflix. Film ini adalah penutup dari trilogi anime Godzilla, melanjutkan kisah dari Godzilla: Planet of the Monsters (2017) dan Godzilla: City on the Edge of Battle (2018). Naskah film ini digarap oleh Gen Urobuchi, bersama Yūsuke Kozaki dan Sadayuki Murai.
Para pengisi suara untuk film ini mencakup nama-nama terkenal seperti Mamoru Miyano, Takahiro Sakurai, Kana Hanazawa, Tomokazu Sugita, Yuki Kaji, dan Junichi Suwabe. Pada film kali ini menceritakan perjuangan umat manusia dan para sekutunya dari bangsa alien saat mereka menghadapi makhluk misterius bernama Ghidorah, yang dipuja sebagai entitas ilahi oleh salah satu ras asing. Di sisi lain, sang tokoh utama, Haruo Sakaki, harus menghadapi konflik batin yang mendalam antara harapan dan keputusasaan setelah bentrokan mereka dengan Godzilla dan Mechagodzilla City.[1]
Film ini pertama kali tayang di Jepang pada 9 November 2018, dan dirilis secara internasional melalui platform Netflix pada 9 Januari 2019.
Alur Cerita
Setelah Mechagodzilla City dihancurkan, Haruo Sakaki menghadapi dilema: Yuko Tani masih hidup, tetapi hanya karena nanologam yang menyatu dengan tubuhnya. Ia tak sanggup mengakhiri hidup Yuko, dan rasa bingung serta putus asa itu dimanfaatkan oleh Metphies, pendeta dari ras Exif, untuk memengaruhinya. Di tengah keputusasaan itu, manusia yang tersisa mulai memandang Godzilla sebagai kekuatan alam tak terhindarkan, sementara Metphies memperkenalkan ajaran tentang makhluk ilahi bernama Ghidorah, yang diyakini bisa "membersihkan" dunia.
Dengan melakukan ritual, Metphies memanggil Ghidorah, makhluk dari dimensi lain yang muncul sebagai tiga leher panjang melengkung dari langit. Ghidorah tak tersentuh oleh senjata manusia dan melawan hukum fisika, membuatnya mustahil dilawan. Ia mulai menyerang Godzilla dan tampak tak bisa dikalahkan.
Saat Haruo mengetahui kebenaran tentang rencana Metphies dan ancaman Ghidorah, ia mendapatkan bantuan dari Maina dan Miana, dua perempuan dari ras Houtua yang terhubung dengan entitas legendaris, Mothra. Miana dibunuh oleh Metphies, tetapi Haruo memperoleh kekuatan dari kenangan Yuko dan bantuan Maina untuk melawan pengaruh Metphies.
Dengan menghancurkan jimat yang menghubungkan Metphies dengan Ghidorah, Haruo memutus jalur komunikasi makhluk itu ke dunia ini. Akibatnya, Ghidorah menjadi rentan terhadap hukum alam dan akhirnya bisa dihancurkan oleh Godzilla. Metphies pun ikut binasa bersama kehancuran Ghidorah.
Setelah keadaan tenang, manusia mulai hidup berdampingan dengan Houtua dalam harmoni, menjalani kehidupan yang sederhana dan seimbang dengan alam. Namun, Haruo menyadari bahwa sisa nanologam Mechagodzilla masih ada, dan suatu hari bisa digunakan kembali, membangkitkan ambisi serta kehancuran yang pernah terjadi.
Untuk mencegah hal itu, Haruo membawa Yuko—yang masih hidup karena nanologam—dalam sebuah pesawat dan terbang langsung menuju Godzilla. Mereka berdua dihancurkan, dan dengan pengorbanan itu, Haruo memastikan umat manusia tidak akan kembali ke jalur kehancuran karena teknologi.
Referensi
- ^ "GODZILLA: THE PLANET EATER Press Notes, Trailer and Pics From Toho". www.scifijapan.com (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-06-10.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


