Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Dayeuhkolot
| Gereja Santo Fransiskus Xaverius | |
|---|---|
| Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Paroki Dayeuhkolot | |
| Informasi umum | |
| Lokasi | Dayeuhkolot, Bandung, Jawa Barat |
| Negara | Indonesia |
| Denominasi | Gereja Katolik Roma |
| Arsitektur | |
| Status | Gereja paroki |
| Status fungsional | Aktif |
| Tipe arsitektur | Gereja |
| Administrasi | |
| Keuskupan | Bandung |
| Klerus | |
| Uskup | Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. |
Gereja Santo Fransiskus Xaverius yang bernama resmi Gereja Paroki Santo Fransiskus Xaverius, Dayeuhkolot adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Dayeuhkolot, Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Fransiskus Xaverius. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Bandung.[1]
Sejarah
Kehadiran umat Katolik di wilayah Dayeuhkolot mulai tercatat sejak tahun 1955. Pada masa awal ini, umat Katolik belum memiliki tempat ibadat sendiri dan mengikuti Misa di bangunan dapur umum milik tentara yang berada dalam lingkungan asrama militer. Bangunan tersebut digunakan secara bergantian oleh umat Katolik dan umat Kristen Protestan, mencerminkan situasi awal yang bersifat darurat dan ekumenis.
Perkembangan komunitas umat berlanjut, dan pada tahun 1961, wilayah Dayeuhkolot diresmikan sebagai stasi oleh Pastor Frans Lubbers, OSC, sebagai bagian dari pelayanan pastoral Paroki Santo Paulus, Bandung. Sejak saat itu, karena keterbatasan sarana, perayaan Misa dilakukan secara bergantian di rumah-rumah umat.
Pada tahun 1964, barak bekas dapur umum tersebut direnovasi sedemikian rupa hingga tampak dan layak digunakan sebagai tempat ibadat, meskipun masih sangat sederhana. Bangunan hasil renovasi ini berfungsi sebagai gereja sederhana dengan ukuran sekitar 6 meter × 25 meter, dan menjadi pusat kegiatan ibadat umat Katolik di Dayeuhkolot pada masa itu. Pada tahun 1967, Mayor Yogie Suardi Memet, selaku perwakilan militer, menyerahkan secara simbolik kunci bangunan dapur umum yang telah direnovasi, kepada umat Katolik dan Protestan. Penyerahan ini menandai pengakuan resmi atas penggunaan bangunan tersebut sebagai tempat ibadat kedua komunitas keagamaan tersebut.
Seiring pertumbuhan umat dan kebutuhan pastoral yang semakin besar, pada tahun 1985 bangunan gereja mengalami pemindahan dan keluar dari lingkungan asrama militer. Langkah ini menjadi awal dari upaya umat untuk memiliki lokasi gereja yang lebih permanen dan mandiri.
Selanjutnya, pada tahun 1994, lokasi gereja ditetapkan di lingkungan Yon Zipur 3 Kodam III/Siliwangi, Dayeuhkolot. Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1995, pembangunan gedung gereja dimulai. Namun, pada tahun 1996, pembangunan tersebut terpaksa dihentikan sementara akibat situasi sosial dan keamanan yang tidak kondusif. Selama masa ini, perayaan Misa dipindahkan ke barak markas tentara.
Setelah situasi membaik, pembangunan gedung gereja berjalan hingga akhirnya pada 22 Desember 2001, umat dapat merayakan Misa untuk pertama kalinya di bangunan gereja yang baru, meskipun pembangunannya masih belum sepenuhnya selesai.[2]
Pada tahun 2014, Dayeuhkolot ditetapkan sebagai kuasi paroki. Hal ini menandai persiapan untuk kemandirian pastoral Gereja Dayeuhkolot. Pada tahun 2018, Kuasi Paroki Santo Fransiskus Xaverius Dayeuhkolot secara resmi diresmikan menjadi Paroki. Hal ini ditandai dengan Perayaan Ekaristi pada 2 Desember 2018.
Stasi
Paroki Dayeuhkolot mencakup dua buah stasi, yakni:
- Stasi Ratu Semesta Alam, Manggahang
- Stasi Santo Yusuf Pekerja, Majalaya
Referensi
- ^ Paroki di Keuskupan Bandung
- ^ "Sejarah Gereja Santo Fransiskus Xaverius Dayeuhkolot di Bandung". nuBandung.id. 16 Juni 2023. Diakses tanggal 24 Desember 2025.
Lihat pula
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.





