Gereja Kristus Raja, Cigugur

Gereja Kristus Raja
Gereja Kristus Raja, Paroki Cigugur
Gereja Kristus Raja, Cigugur
PetaKoordinat: 6°58′7.38934″S 108°27′20.86736″E / 6.9687192611°S 108.4557964889°E / -6.9687192611; 108.4557964889
Informasi umum
LokasiJalan Rumah Sakit Nomor 7, Cigugur, Kuningan, Jawa Barat 45552
NegaraIndonesia
DenominasiGereja Katolik Roma
Sejarah
DedikasiKristus Raja
Arsitektur
StatusParoki
Status fungsionalAktif
Administrasi
ParokiCigugur
DekenatPriangan
KeuskupanBandung
Klerus
UskupAntonius Subianto Bunjamin, O.S.C.

Gereja Kristus Raja, Cigugur adalah sebuah gereja paroki Katolik yang berlokasi di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Indonesia. Gereja ini berada di bawah pengelolaan Keuskupan Bandung dan merupakan bagian dari Dekanat Priangan. Secara parokial, Gereja ini merupakan Paroki Cigugur. Gereja ini dinamai menurut Kristus Raja, gelar Yesus Kristus. Gereja ini dikelola oleh para imam Ordo Salib Suci.

Gereja ini terletak bersebelahan dengan Rumah Sakit Sekar Kamulyan sebagai bagian dari jaringan Rumah Sakit Borromeus.

Sejarah

Agama Djawa Sunda

Sebagai salah satu daerah di kaki Gunung Ciremai, Cigugur dikenal sebagai pusat Agama Djawa Sunda (ADS), yakni sebuah gerakan keagamaan dan kebudayaan yang didirikan Pangeran Kusuma Adiningrat yang dikenal juga sebagai Pangeran Madrais. ADS berkembang sebagai spiritualitas pribumi Sunda yang menekankan penyempurnaan roh melalui semedi, pembentukan jati diri, dan usaha mengenal Sang Pencipta lewat kesadaran diri. Pada pertengahan abad ke-20, ADS memiliki ribuan pengikut dan berkedudukan di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur. Namun, karena tidak termasuk agama resmi negara, ADS mengalami banyak hambatan sosial, administratif, dan politis, terutama menjelang dan sesudah kemerdekaan.[1]

Salah satu persoalan besar yang dihadapi pengikut ADS adalah legalitas perkawinan. Hal ini dialami Sakim, seorang PNS dari Cigugur, yang pernikahannya menurut adat ADS tidak diakui pemerintah. Dalam kebingungan mencari jalan keluar, Sakim pergi ke Cirebon untuk menemui Pangeran Tedja Buana, pemimpin ADS saat itu. Pangeran kemudian mengarahkan Sakim ke Pastoran Gereja Santo Yusuf, Cirebon, untuk berkonsultasi dengan Pastor Hidayat Sasmita, OSC. Pastor Hidayat menilai bahwa Sakim perlu mendapatkan pendampingan iman. Setelah melalui katekese, Sakim dibaptis pada 29 Juli 1964 dengan nama baptis Paulus, dan tercatat sebagai umat Katolik pertama di Cigugur.[1]

Peristiwa ini memicu ketegangan antara pemerintah, pengikut ADS, dan komunitas gereja setempat. Namun hubungan pribadi antara Pangeran Tedja Buana dan Pastor Hidayat justru semakin menguat. Dalam masa krisis ADS, Pangeran Tedja Buana mendapat kesempatan untuk tinggal (titirah) di Pastoran Gereja Santo Yusuf. Di sana ia mengalami pergulatan batin yang kemudian dipahami sebagai pemaknaan baru atas sebuah wahyu lama ADS, yaitu Camara Bodas ("Cemara Putih"). Wahyu tersebut ditafsirkan sebagai menunjuk kepada Kristus, sehingga memberikan arah baru bagi perjalanan imannya.[1]

Pada 21 September 1964, Pangeran Tedja Buana menulis Surat Pernyataan yang menyatakan pembubaran ADS dan keputusan pribadinya untuk masuk agama Katolik.[2] Keputusan ini mengguncang Cigugur. Karena kesetiaan kepada pemimpinnya, sekitar 1.600 kepala keluarga pengikut ADS menyatakan diri siap dibaptis. Setelah melalui pembinaan iman, mereka diterima dalam Gereja Katolik. Peristiwa ini dikenang sebagai "Peristiwa Cigugur", yakni satu peristiwa konversi massal terbesar di Jawa Barat.[3]

Perkembangan umat Cigugur

Gereja Katolik di Cigugur berdiri pada tahun 1965, yang menjadi pusat baru bagi umat Katolik Sunda di kawasan tersebut. Sejak saat itu Cigugur berkembang menjadi komunitas Katolik yang khas, dengan membawa identitas budaya Sunda secara kuat. Sejarah Katolik di wilayah Bandung dan Priangan sebelumnya telah berjalan sejak akhir abad ke-19, dengan peran awal para biarawan Serikat Yesus (SJ), yang diikuti oleh para religius Ordo Salib Suci (OSC) sejak 1926. Namun, Cigugur sendiri baru tersentuh misi Katolik setelah Keuskupan Bandung berdiri tahun 1961.[3]

Pada awal 1960-an, sebelum Peristiwa Cigugur, tidak ada satu pun umat Katolik atau gereja di Cigugur. Dominasi ADS dan Islam sangat kuat. Masuknya ribuan eks-ADS menjadi Katolik membawa perubahan besar bagi daerah tersebut. Di tengah proses masuknya ribuan orang ke Gereja Katolik, muncul kekhawatiran di kalangan umat Cirebon bahwa langkah para pastor terlalu berisiko secara politis. Dari luar, berkembang pula stigma yang mengaitkan ADS dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) ataupun dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). Sementara itu, sejumlah umat Katolik memiliki kedekatan dengan Partai Katolik, sehingga muncul kecemasan bahwa Gereja dapat terseret dalam konflik politik nasional, terutama menjelang tragedi Gerakan 30 September 1965. Namun, berkat dukungan para imam OSC seperti Pastor Kooiman, OSC, proses penerimaan umat eks-ADS tetap dapat berlangsung. Belakangan refleksi sejarah menilai bahwa masuknya umat ADS secara massal itu justru menyelamatkan komunitas eks-ADS dari kemungkinan dampak politik yang lebih buruk.[3]

Karena penambahan jumlah umat berlangsung secara masif, Gereja memberi perhatian besar pada pendalaman iman umat baru, terutama melalui katekese. Imam-imam OSC bahkan menyusun katekismus berbahasa Sunda agar ajaran Gereja dapat dipahami secara lebih mendalam dan dekat dengan budaya setempat. Upaya inkulturasi ini diperkuat oleh tiga orang imam OSC yang berasal dari Belanda, yakni Pastor Mathias Kuppens OSC, Pastor W. Straathof OSC, dan Pastor Anton Rutten OSC. Mereka menerjemahkan teks liturgi Bahasa Latin ke dalam Bahasa Sunda. Hal ini menjadi langkah progresif guna membantu umat menghayati misa dengan bahasa ibu mereka. Dalam bidang musik liturgi, tokoh-tokoh lokal turut menciptakan sejumlah lagu sejak 1964, dengan memadukan syair Alkitab dengan pupuh Sunda seperti Kinanti, Mijil, Asmarandana, Sunan Ambu, hingga Pupundenati. Lagu-lagu tersebut kerap diiringi degung atau gamelan Sunda, sehingga liturgi Katolik di Cigugur berkembang menjadi perayaan iman yang sangat khas dan berakar kuat pada budaya Sunda.[3]

Pemekaran

Pada 20 April 2022, bertepatan dengan Perayaan 90 Tahun Keuskupan Bandung, Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., meresmikan pemekaran Paroki Cisantana sebagai pemekaran dari Paroki Cigugur. Hal ini menjadikan Cisantana sebagai paroki ke-30 dalam wilayah Keuskupan Bandung.[4]

Yubileum 2025

Dalam rangka Yubileum 2025, Gereja Kristus Raja Cigugur ditetapkan sebagai satu dari sembilan gereja dengan Porta Sancta (Pintu Suci) dalam wilayah Keuskupan Bandung.[5] Uskup Bandung Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. membuka Porta Sancta Cigugur pada 1 Februari 2025.

Seren taun

Seren taun atau pesta adat Nutu atau, yang dalam kalender Sunda dikenal sebagai Rayagungan, merupakan tradisi syukur agraris masyarakat Sunda yang telah dijaga sejak masa Pangeran Madrais oleh komunitas eks-ADS. Tradisi ini berakar pada ungkapan hormat kepada alam dan rasa syukur atas hasil bumi, yang merupakan salah satu nilai utama dalam kehidupan masyarakat Cigugur. Setelah komunitas ADS memeluk iman Katolik, pesta adat ini tidak ditinggalkan. Sebaliknya, maknanya diperdalam dan diselaraskan dengan spiritualitas Gereja, dipahami sebagai "ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Mahaagung dan Mahamurah".[6]

Perayaan nutu/seren taun dihidupkan kembali oleh umat Katolik pada tahun 1967, tetapi sempat terhenti karena berbagai tekanan eksternal. Tradisi ini kemudian diformalkan secara pastoral dalam rapat Dewan Paroki tahun 1982, sehingga upacara adat ini memiliki tempat yang jelas dalam kehidupan liturgis dan kultural paroki.

Sejak saat itu, seren taun kembali dirayakan secara rutin dan menjadi wadah inkulturasi yang memadukan iman Katolik dengan budaya Sunda tanpa saling meniadakan. Hingga kini, seren taun menjadi salah satu identitas khas dari Gereja Kristus Raja Cigugur.

Bangunan

Gereja Kristus Raja Cigugur terdiri atas bangunan satu lantai. Kebudayaan Sunda tampak di dalam gereja, dengan adanya sejumlah ornamen khas Budaya Sunda yang diletakkan di sekitar gereja, termasuk di panti imam.

Galeri

Eksterior
Interior
Fasilitas penunjang

Referensi

  1. ^ a b c "Sejarah, Inilah Umat Katolik Pertama di Cigugur, Jawa Barat". EndeNews.com. 7 Maret 2021. Diakses tanggal 30 November 2025.
  2. ^ "Sejarah Agama Djawa Sunda di Cigugur Kuningan 1939-1964". UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016. Diakses tanggal 30 November 2025.
  3. ^ a b c d "Gereja Sunda di Cigugur". JejakKatolikNusantara. Juni 2015. Diakses tanggal 30 November 2025.[butuh sumber yang lebih baik]
  4. ^ "Majalah Komunikasi Keuskupan Bandung Edisi 499" (PDF). Mei 2022. Diakses tanggal 30 November 2025.
  5. ^ "Ini 9 Gereja Tempat Uskup Bandung Awali Yubileum 2025". Katolikpedia.id. 9 Januari 2025. Diakses tanggal 12 Januari 2025.
  6. ^ Subiantoro, Ignasius Herry (2018). "Pertunjukan Ritual Seren Taun Di Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat". Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Lihat pula

Pranala luar


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement