George IV dari Britania Raya

George IV
Portret oleh Thomas Lawrence, 1822.
Raja Britania Raya dan Irlandia
Raja Hannover
Berkuasa29 Januari 1820 – 26 Juni 1830
Penobatan19 Juli 1821
PendahuluGeorge III dari Britania Raya
PenerusWilliam IV
Perdana Menteri
Kelahiran(1762-08-12)12 Agustus 1762
Istana St James, London
Kematian26 Juni 1830(1830-06-26) (umur 67)
Kastel Windsor, Berkshire
Pemakaman15 Juli 1830
Kapel St George
PermaisuriCaroline dari Brunswick
KeturunanPutri Charlotte dari Wales
Nama lengkap
George Augustus Frederick
WangsaHannover
AyahGeorge III dari Britania Raya
IbuCharlotte,
Permaisuri Britania Raya
Tanda tanganGeorge IV

George IV (George Augustus Frederick; 12 Agustus 1762 – 26 Juni 1830) adalah Raja Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia dan juga Hanover sejak kematian ayahnya George III, pada tanggal 29 Januari 1820 hingga kematiannya sepuluh tahun kemudian. Dari tahun 1811 sampai penobatannya, ia menjabat sebagai Pangeran Wali selama penyakit mental ayahnya kambuh.

George IV memimpin gaya hidup mewah yang memberikan kontribusi untuk mode pada masa Perwalian Britania. Dia adalah seorang pelindung dari bentuk-bentuk baru liburan, gaya dan rasa. Dia menugaskan John Nash untuk membangun Royal Pavilion di Brighton dan merombak Istana Buckingham, dan Sir Jeffry Wyatville untuk membangun kembali Kastel Windsor. Dia berperan penting dalam membangun fondasi dari Galeri Nasional, London dan King's College London.

Dia memiliki hubungan yang buruk baik dengan ayah dan istrinya, Caroline Brunswick, dan ia bahkan melarang untuk menghadiri penobatannya.

Pada masa pemerintahannya, George IV mengalami berbagai peristiwa penting yang turut memengaruhi sejarah Inggris. Salah satu momen paling menonjol adalah ketika ia, meskipun dengan berat hati, terpaksa menyetujui Emansipasi Katolik pada tahun 1829. Keputusan ini membuka jalan bagi umat Katolik untuk menduduki jabatan politik di Inggris dan Irlandia, sebuah langkah yang ia pribadi tolak tetapi tidak dapat dihindari karena tekanan politik yang terus meningkat, terutama dari Perdana Menteri Duke of Wellington dan tokoh reformasi seperti Daniel O'Connell.

Sebagai seorang raja, George IV juga mencatatkan dirinya dalam sejarah melalui kunjungan kenegaraannya. Ia menjadi raja Inggris pertama yang melakukan kunjungan resmi ke Irlandia sejak Richard II pada akhir abad ke-14. Kunjungan ini mencerminkan upayanya untuk menunjukkan kepedulian terhadap wilayah yang sering kali merasa terabaikan oleh pemerintahan Inggris. Setahun setelah kunjungan tersebut, pada tahun 1822, George melakukan perjalanan bersejarah ke Edinburgh. Dengan bantuan Sir Walter Scott, seorang novelis dan penyair terkenal, perjalanan ini diatur untuk mempererat hubungan antara Inggris dan Skotlandia. Perjalanan tersebut menjadikannya raja Inggris pertama yang mengunjungi Skotlandia sejak pertengahan abad ke-17 dan dianggap sebagai momen simbolis dalam memperbaiki hubungan yang sempat tegang.

Sayangnya, kehidupan pribadi George IV diliputi tragedi. Anak sah satu-satunya, Putri Charlotte, yang merupakan harapan besar bagi kelangsungan dinasti, meninggal dunia pada tahun 1817 dalam usia muda setelah melahirkan. Kehilangan Charlotte menjadi pukulan besar, tidak hanya bagi George tetapi juga bagi seluruh bangsa. Tragedi ini semakin dalam dengan kematian adiknya, Pangeran Frederick, Duke of York, pada tahun 1827 tanpa memiliki keturunan. Dengan tidak adanya pewaris langsung, takhta kemudian diwarisi oleh adik laki-laki George, William IV, setelah kematian George IV pada tahun 1830.

Meskipun pemerintahannya sering kali dikritik karena gaya hidupnya yang boros dan kepribadiannya yang kontroversial, masa kekuasaan George IV juga menandai periode penting dalam transisi politik dan budaya Inggris. Ia dikenang sebagai patron seni yang mendukung arsitektur, mode, dan budaya, meninggalkan warisan seperti Brighton Pavilion dan koleksi seni yang berharga, sekaligus menjadi simbol kompleks dari perubahan yang terjadi di era tersebut.

Kehidupan awal

George lahir di Istana St James, London, pada 12 Agustus 1762, anak pertama dari Raja George III dan Charlotte dari Mecklenburg-Strelitz. Sebagai putra sulung penguasa Inggris, dia secara otomatis diangkat menjadi Adipati Cornwall dan Adipati Rothesay saat lahir; lalu diangkat menjadi Pangeran Wales dan Earl of Chester beberapa hari kemudian. Pada tanggal 18 September tahun yang sama, dia dibaptis oleh Thomas Secker, Uskup Agung Canterbury. Orang tua baptisnya adalah paman dari pihak ibu, yaitu Adolphus Frederick IV, Adipati Mecklenburg-Strelitz (diwakilkan oleh Lord Chamberlain, William Cavendish, Adipati Devonshire ke-4); paman dari pihak ayah, yaitu Pangeran William, Adipati Cumberland; dan neneknya Putri Augusta, Janda Putri Wales. George adalah siswa yang berbakat, dan ia dengan cepat dapat belajar berbicara bahasa Prancis, Jerman, dan Italia, selain bahasa Inggris.

Pada usia 18 tahun, Pangeran George diberikan tempat tinggal terpisah, sebuah kebebasan yang jarang diberikan pada usianya di kalangan keluarga kerajaan. Namun, alih-alih mengikuti jejak ayahnya yang dikenal sederhana dan bebas skandal, George dengan cepat terjun ke dalam gaya hidup mewah yang penuh kemewahan, minuman keras, dan hubungan romantis dengan banyak wanita. Masa kecilnya yang penuh kekerasan emosional dan fisik dari orang tuanya membentuk dirinya menjadi pribadi yang impulsif dan cenderung menghindari tanggung jawab.

Terlepas dari itu, George adalah seorang orator berbakat, baik dalam keadaan sadar maupun mabuk. Dia dikenal memiliki selera seni yang luar biasa, meskipun sering kali terlalu mahal, terutama dalam mendekorasi Carlton House, tempat tinggalnya yang baru. Di sana, ia menciptakan istana yang mewah dengan desain yang mencerminkan kecintaannya pada seni dan budaya, meskipun biayanya sangat tinggi.

Pada usia 21 tahun, tepatnya tahun 1783, George menerima hibah sebesar £60.000 (setara dengan £7.685.000 hari ini) dari Parlemen, ditambah dengan pendapatan tahunan sebesar £50.000 (setara dengan £6.404.000 hari ini) dari ayahnya. Namun, dana ini jauh dari cukup untuk memenuhi gaya hidup borosnya. Bahkan, hanya untuk memelihara istalnya, George menghabiskan sekitar £31.000 per tahun.

George kemudian mendirikan tempat tinggalnya di Carlton House, yang segera menjadi pusat kehidupan sosial dan pesta-pesta mewah. Namun, perilaku borosnya ini memicu permusuhan yang semakin mendalam antara dirinya dan ayahnya, Raja George III. Sang Raja, yang dikenal konservatif secara politik dan mendukung penghematan, kecewa dengan gaya hidup pewarisnya. Ketegangan semakin meningkat ketika George bersikap menentang prinsip-prinsip politik ayahnya dan lebih mendukung politikus radikal seperti Charles James Fox.

Kehidupan Pangeran George saat itu menjadi cerminan dari kontradiksi yang terus melekat dalam dirinya—di satu sisi, ia adalah seorang pemuda yang penuh bakat dan apresiasi terhadap seni, tetapi di sisi lain, ia juga sosok yang tidak mampu menahan dorongan-dorongan impulsif yang merugikannya secara pribadi dan finansial. Hubungan yang tegang dengan ayahnya hanya memperburuk situasi, menciptakan jarak emosional yang semakin lebar antara pewaris dan penguasa takhta.

Saat dia mencapai usia 21 tahun, sang pangeran menjadi tergila-gila dengan Maria Fitzherbert. Maria adalah orang biasa (meskipun cucu dari seorang baronet), enam tahun lebih tua darinya, dua kali menjanda, dan seorang Katolik Roma. Namun demikian, sang pangeran bertekad untuk menikahinya. Ini tentu melanggar hukum dari Act of Settlement 1701, yang melarang pasangan seorang Katolik untuk naik takhta, dan Royal Marriages Act 1772, yang melarang pernikahannya tanpa persetujuan Raja.

Miniatur potret oleh Richard Cosway, c. 1780–82

Meskipun demikian, pasangan itu melangsungkan upacara pernikahan pada 15 Desember 1785 di rumah Fitzherbert yang berada di Park Street, Mayfair. Secara hukum Negara itu tidak sah, karena tidak adanya persetujuan dari Raja. Namun, Fitzherbert percaya bahwa dia adalah istri kanonis dan sejati sang pangeran, dan menganggap hukum Gereja lebih tinggi dari hukum Negara. Untuk alasan politik, hubungan mereka tetap dirahasiakan dan Fitzherbert berjanji untuk tidak mengungkapkannya.

Pangeran George terjerat hutang karena gaya hidupnya yang selangit. Ayahnya menolak untuk membantunya, memaksanya keluar dari Carlton House dan tinggal di kediaman Fitzherbert. Pada 1787, sekutu politik pangeran mengusulkan untuk meringankan utangnya dengan hibah parlemen. Hubungan George dengan Fitzherbert dicurigai, dan pengungkapan pernikahan ilegal akan membuat skandal negara dan menghancurkan proposal parlemen untuk membantunya. Bertindak atas otoritas Pangeran George, pemimpin Whig, Charles James Fox menyatakan bahwa cerita itu adalah fitnah. Fitzherbert tidak senang dengan penolakan publik atas pernikahan tersebut dengan istilah yang begitu keras dan mempertimbangkan untuk memutuskan hubungannya dengan George. Dia menenangkannya dengan meminta anggota Whig lain, Richard Brinsley Sheridan, untuk menyatakan kembali pernyataan tegas Fox dengan kata-kata yang lebih hati-hati. Sementara itu, Parlemen memberikan sang pangeran £161.000 (setara dengan £21.765.000 hari ini) untuk membayar utangnya dan £60.000 (setara dengan £8.111.000 hari ini) untuk perbaikan Carlton House.

Kehidupan pernikahan dan simpanannya

Hutang Pangeran George terus menumpuk, dan ayahnya menolak memberikan bantuan kecuali dia menikahi sepupunya, Putri Caroline dari Brunswick. Caroline dikenal sebagai pribadi yang sembrono, dengan bau badan yang menyengat, dan gaya bicaranya yang sering kali cabul. Pada tahun 1795, George akhirnya setuju untuk menikah dengannya. Mereka melangsungkan pernikahan pada 8 April 1795 di Kapel Kerajaan, Istana St. James.

Namun, pernikahan itu berubah menjadi bencana. Keduanya sama sekali tidak cocok satu sama lain. Mereka secara resmi berpisah setelah kelahiran anak tunggal mereka, Putri Charlotte, pada tahun 1796, dan tidak pernah hidup bersama lagi setelahnya. Meskipun telah menikah dengan Caroline, George tetap memiliki hubungan yang dekat dengan Maria Fitzherbert sepanjang hidupnya, meskipun hubungan tersebut beberapa kali mengalami keterasingan.

Wanita simpanan George termasuk Mary Robinson, seorang aktris yang dia bayar untuk meninggalkan pekerjaannya; Grace Elliott, mantan istri dari seorang dokter; dan Frances Villiers, Countess of Jersey, yang mendominasi hidupnya selama beberapa tahun. Di kemudian hari, gundiknya adalah Marchioness of Hertford dan Marchioness Conyngham. George cenderung memilih wanita yang lebih tua sebagai simpanannya, lebih mencari kasih sayang dan pendampingan emosional daripada sekadar hubungan seksual.

Masalah utang George, yang jumlahnya luar biasa sebesar £630.000 pada tahun 1795 (setara dengan £69.246.000 hari ini), dilunaskan (setidaknya untuk sementara) oleh Parlemen. Karena tidak mau memberikan hibah langsung untuk melunasi hutang ini, itu memberinya tambahan sebesar £65.000 (setara dengan £7.144.000 hari ini) per tahun. Pada tahun 1803, tambahan £60.000 (setara dengan £5.829.000 hari ini) ditambahkan, dan hutang-hutang George pada tahun 1795 akhirnya dihapuskan pada tahun 1806, meskipun hutang yang telah dia keluarkan sejak tahun 1795 tetap ada.

Pada tahun 1804, perselisihan muncul atas hak asuh Putri Charlotte, yang menyebabkan sang Putri ditempatkan di bawah pengasuhan Raja. Hal itu juga menuntun penyelidikan oleh Komisi Penyelidikan Parlemen terhadap perilaku Putri Caroline setelah suaminya menuduhnya memiliki anak di luar nikah. Penyelidikan membebaskan Caroline dari dakwaan tetapi masih mengungkapkan perilaku Caroline yang sangat sembrono.

Pangeran wali

Profil oleh Sir Thomas Lawrence, c. 1814
Potret dengan jubah Garter oleh Lawrence, 1816

Pada akhir tahun 1810, kesehatan mental Raja sekali lagi menjadi buruk, ditambah karena kematian putri bungsunya, Putri Amelia. Parlemen setuju untuk mengikuti preseden tahun 1788; tanpa persetujuan Raja, Lord Chancellor membubuhkan segel pada surat paten yang menyebutkan Komisaris Utama. Paten surat tidak memiliki Royal Sign Manual, tetapi disegel atas permintaan resolusi yang disahkan oleh kedua Dewan Parlemen. Komisaris Utama ditunjuk oleh surat paten, atas nama Raja, kemudian menandai pemberian Royal Assent untuk mengesahkan rancangan undang-undang menjadi Undang-Undang Kabupaten 1811. Parlemen membatasi beberapa kekuasaan Pangeran Wali (yang mana adalah Pangeran Wales). Pembatasan berakhir satu tahun setelah pengesahan UU. Pangeran Wales menjadi Pangeran Wali pada 5 Februari 1811.

Selama periode ini, George menaruh minat aktif pada masalah gaya dan selera, dan rekan-rekannya seperti pesolek Beau Brummell dan arsitek John Nash menciptakan gaya Regency. Di London, Nash merancang teras Regency Regent's Park dan Regent Street. George mengambil ide baru untuk membangun Paviliun Brighton sebagai istana tepi laut yang fantastik, diadaptasi oleh Nash dalam gaya "Gotik India" yang terinspirasi oleh Taj Mahal, dengan interior "India" dan "Cina" yang mewah.

Pemerintahan

Ketika George III meninggal pada tahun 1820, Pangeran Wali, yang saat itu berusia 57 tahun, naik tahta sebagai George IV. Saat penobatannya, ia mengalami obesitas, yang kemungkinan disebabkan oleh kecanduan laudanum. Hubungan George IV dengan istrinya, Caroline, telah memburuk sejak lama. Mereka hidup terpisah sejak 1796, dan keduanya diketahui berselingkuh. Pada tahun 1814, Caroline meninggalkan Inggris dan menetap di benua Eropa, tetapi ia kembali saat penobatan suaminya untuk menegaskan haknya sebagai permaisuri. Namun, George menolak mengakui Caroline sebagai ratu dan meminta duta besar Inggris memastikan bahwa penguasa negara lain juga tidak mengakui Caroline. Nama Caroline bahkan dihapus dari Buku Doa Umum, liturgi resmi Gereja Inggris, atas perintah kerajaan.

Raja berusaha menceraikan Caroline, tetapi penasihatnya memperingatkan bahwa proses perceraian bisa memicu publikasi skandal tentang perselingkuhan George sendiri. Akibatnya, ia mengajukan Pains and Penalties Bill ke Parlemen, sebuah RUU yang memungkinkan hukuman hukum tanpa pengadilan formal. RUU itu dirancang untuk membatalkan pernikahan dan mencabut gelar Ratu Caroline. Namun, RUU tersebut sangat tidak populer di kalangan publik dan akhirnya ditarik dari Parlemen. Meski begitu, George tetap melarang Caroline menghadiri penobatannya di Westminster Abbey pada 19 Juli 1821. Pada hari yang sama, Caroline jatuh sakit dan meninggal beberapa minggu kemudian, pada 7 Agustus.

Penobatan George IV menjadi salah satu yang paling mewah dan mahal, dengan biaya sekitar £243.000 (setara dengan sekitar £23.558.000 pada tahun 2023). Sebagai perbandingan, penobatan ayahnya hanya menghabiskan sekitar £10.000. Meskipun biayanya tinggi, acara ini sangat populer. Pada tahun 1821, George menjadi raja Inggris pertama yang melakukan kunjungan kenegaraan ke Irlandia sejak Richard II. Setahun kemudian, ia mengunjungi Edinburgh selama tiga minggu dalam perjalanan yang diatur oleh Sir Walter Scott. Dengan kunjungannya ini, George menjadi raja Inggris pertama yang mengunjungi Skotlandia sejak pertengahan abad ke-17.

Potret oleh Sir David Wilkie menggambarkan George selama perjalanannya ke Skotlandia pada tahun 1822.

Kesehatan yang menurun dan penyebab kematian

Tahun-tahun terakhir George ditandai dengan meningkatnya kerusakan fisik dan mental serta penarikan dirinya dari urusan publik. Pada bulan Desember 1828, seperti ayahnya, George hampir buta total karena katarak, dan menderita encok parah di tangan dan lengan kanannya sehingga dia tidak dapat lagi menandatangani dokumen. George mengonsumsi laudanum untuk melawan nyeri kandung kemih yang parah, yang membuatnya dalam keadaan terbius dan mengalami gangguan mental selama berhari-hari. Dia menjalani operasi untuk menghilangkan katarak pada bulan September 1829, saat itu dia secara teratur meminum lebih dari 100 tetes laudanum sebelum acara kenegaraan.

Pada musim semi tahun 1830, tanda-tanda kematian George semakin nyata. Pada Senin pagi (31 Mei 1830), George menyampaikan dengan ketenangan khasnya kepada salah satu sahabat terdekat dan terlamanya, bahwa telah diusulkan untuk memanggil nasihat medis tambahan. Namun, beliau merasa yakin bahwa penyakitnya tidak dapat dihentikan, dan bahwa segala cara untuk meringankan penderitaannya sudah dilakukan sejauh mungkin. Menanggapi suatu komentar mengenai perubahan di kementerian, Sang Raja berkata, “Sudahlah, jangan kita bicarakan politik, aku sudah selesai dengan itu, dan aku yakin segalanya akan berjalan dengan baik.” Suara Raja terdengar tegas, ketenangan diri serta kelembutan sikapnya tidak terganggu, dan beliau menegaskan bahwa dirinya menikmati kenyataan bahwa ia tidak pernah dengan sengaja berbuat salah atau menyakiti siapa pun.[1]

Dinyatakan pula, dengan sumber yang dapat dipercaya, bahwa sang Raja sempat beberapa kali berbincang dengan adiknya, Putri Mary, dalam kesempatan itu Raja memberikan petunjuk mengenai pengaturan setelah wafatnya, dan berulang kali menegaskan, “Ingat apa yang kukatakan, jangan lupakan pesanku.” Meskipun begitu, sang Raja tetap tenang. Ia masih bisa berbicara dengan orang lain tentang hal-hal sehari-hari dengan ceria. Ia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda takut atau khawatir. Namun, dari pesan dan keinginan yang ia sampaikan mengenai urusan setelah kematiannya, jelas terlihat bahwa Raja sadar betul akan rapuhnya kondisinya dan menyadari bahwa ia bisa saja segera dipanggil ke kehidupan lain.[2]

Para dokter telah lama sadar bahwa wafatnya kemungkinan besar akan datang secara mendadak, dan sang Raja sendiri telah siap menerima panggilan yang menggetarkan itu dengan kerelaan dan kepasrahan. Peringatan tentang hal ini sudah disampaikan kepadanya dua minggu sebelumnya, dan sang Raja dengan khidmat berucap, “Kehendak Tuhanlah yang jadi.” Dalam minggu terakhir hidupnya, beliau berbicara sangat sedikit, dengan suara lemah, kadang nyaris tak terdengar maupun tak jelas. Berbicara hingga terdengar di kamar tampak menyakitkan baginya, seolah membutuhkan tenaga yang melampaui sisa kekuatan tubuhnya yang rapuh. Segala urusan resmi terasa amat melelahkan, bahkan memengaruhi suasana hatinya.

Pada Kamis malam muncul beberapa gejala yang menandakan krisis penyakit Sang Raja: dahak semakin bercampur darah, pertanda adanya pembuluh darah yang pecah. Raja sendiri sadar betul akan akibat tak terelakkan dari gejala penyakit ini.

Beliau tengah terbaring ketika serangan maut menimpanya. Halaman yang berjaga segera mengangkat tubuh Yang Mulia sesuai dengan gerakan jarinya. Raja lalu dibantu untuk duduk di kursi di sisi ranjang. Seketika perubahan tampak jelas pada wajahnya—mata Raja terpaku, bibirnya bergetar, dan beliau tampak hendak jatuh pingsan. Para tabib segera dipanggil, dan para pelayan bergegas menolong Sang Raja dengan sal volatile, eau de Cologne, dan stimulan lain yang tersedia di meja. Pada saat itu, Raja berusaha mengangkat tangannya ke dada, sambil lemah berucap, “Ya Tuhan! Aku sekarat;” dan beberapa detik kemudian berkata, “Ini adalah kematian;” cukup jelas terdengar oleh halaman, di pundaknya kepala Raja bersandar. Sang Raja wafat di hari sabtu pukul 3:15 pada tanggal 26 Juni 1830.

Para dokter tiba di kamar sesaat setelah beliau wafat, dan membantu meletakkan jasad sang Raja di atas sofa. Seluruh anggota rumah tangga kemudian memasuki kamar tuan mereka yang telah mangkat; hingga pukul sembilan malam, jasad Raja masih terbuka untuk dilihat oleh para pelayan, dan banyak air mata tercurah dari para abdi tua atas kehilangan seorang tuan yang dermawan dan penuh belas kasih.

Wajah Yang Mulia sesaat setelah wafat tidak memperlihatkan tanda-tanda kejang atau kesakitan di detik terakhir. Namun, dadanya tampak membengkak, begitu pula perut dan kakinya, sedangkan bagian atas tubuhnya menunjukkan tanda-tanda jelas dari penderitaan dan pengurusan yang amat parah.[3]

Profil litograf George IV, oleh George Atkinson, dicetak oleh C. Hullmandel, 1821

Hasil otopsi menunjukkan bahwa penyebab kematiannya adalah pendarahan saluran pencernaan akibat pecahnya pembuluh darah di perut. Dokter juga menemukan tumor besar “seukuran jeruk” di kandung kemihnya, jantung yang membesar dengan katup sangat terkalsifikasi, serta dikelilingi timbunan lemak yang banyak. Raja kemudian dimakamkan di Kapel St George, Kastil Windsor, pada 15 Juli 1830.

Karakteristik dan Kepribadian

Kontroversi dalam Penilaian Sejarah

Banyak orang hanya membicarakan kepribadian George dari skandalnya bersama Caroline. Skandal itu membuatnya dicap sebagai suami yang lemah, korup, tidak bermoral, dan dipermalukan. Akibatnya, penilaian terhadap George dalam sejarah hanya berputar di sudut pandang sempit itu. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks—ada di antara gambaran “pria patah hati” dan “pria tanpa hati.”

Menurut Erie Roberts dalam artikelnya "George and Maria: A Reinterpretation of King George IV and the Queen Caroline Affair," cara yang lebih tepat untuk memahami George dan hubungannya dengan perempuan adalah dengan melihat juga pernikahan rahasianya dengan Maria Fitzherbert pada Desember 1785, dan hubungannya dengan anak adopsi mereka, Minny Seymour. Dari surat-surat mereka, tampak sisi George yang berbeda sama sekali: penuh gairah, penuh perhatian serta kasih sayang, dan setia.[4] Roberts menekankan bahwa dengan hanya fokus pada skandal Caroline, para sejarawan modern akhirnya menciptakan gambaran yang sangat berat sebelah tentang George. Mereka lebih banyak menyoroti reaksi kalangan radikal dan rakyat kecil terhadap skandal itu, tanpa pernah mempertanyakan kebenaran dari citra karikatural George maupun Caroline yang dibentuk saat itu.

Thomas W. Laqueur, misalnya, menggambarkan George sebagai “suami bodoh yang dipermainkan” (bumbling cuckold) atau bahkan “tukang pesta yang tak bermoral.” Marilyn Morris menambahkan bahwa kartun politik di masa itu sering melukiskan George sebagai “suami kasar.” Namun baik Laqueur maupun Morris tidak pernah melangkah lebih jauh untuk menguji apakah citra itu benar adanya. Padahal, satu hal adalah memaparkan karikatur dalam surat kabar, hal lain adalah menganggapnya sebagai kebenaran sejarah.

Selain bukti dari masa itu yang memang bias, para sejarawan modern juga sering terjebak pada pilihan kata yang menggiring citra George. Misalnya, Anna Clark menulis bahwa Caroline “dibuang ke pengasingan” dan menghabiskan waktunya dengan “seorang pelayan Italia yang tampan,” sementara George di Inggris “berfoya-foya.” Clark lupa menyebut bahwa Caroline sendiri memilih pergi ke luar negeri secara sukarela dengan imbalan uang, dan “pelayan Italia” itu sebenarnya adalah kekasihnya. Begitu juga, Hunt menulis bahwa Caroline di Italia melakukan “perilaku ceroboh,” sedangkan George di Inggris disebut melakukan “kemerosotan moral yang terang-terangan.” Padahal, istilah-istilah itu sebenarnya mengacu pada hal yang mirip, tapi dipilih dengan konotasi yang berbeda—satu terdengar ringan, yang lain sangat menghakimi.

Dengan cara inilah, baik sumber dari masanya maupun penulisan modern, akhirnya menghasilkan gambaran George yang berat sebelah, penuh prasangka, dan jauh dari adil. Aspek lain dari kepribadian George yang sering hilang dalam sejarah sosial modern tentang Skandal Ratu Caroline adalah perannya sebagai seorang ayah. Ketika digambarkan sebagai ayah, baik dalam kajian modern maupun pers pada masanya, George biasanya dipotret secara sangat negatif. Ia sering dipandang sebagai sosok laki-laki berkuasa dalam masyarakat patriarkal yang menindas, yang dengan sengaja dan kejam memperlakukan Caroline secara buruk, baik sebagai istri maupun sebagai seorang ibu.

Mungkin alasan mengapa peran George sebagai ayah sering diabaikan adalah karena Putri Charlotte meninggal di usia muda. Namun, sejak tahun 1798 George sebenarnya telah menjadi ayah 'tidak resmi' ketika Maria mengadopsi Mary “Minney” Dawson-Damer (née Seymour). Maria kemudian secara resmi mengadopsi Minney pada tahun 1804 setelah melalui persidangan panjang, dengan bantuan kesaksian George. Sejak awal hingga akhir hayatnya, George terlibat dalam kehidupan Minney—mulai dari membiayai pendidikannya (suatu tindakan yang sulit disebut antifeminis), hingga mendukung pernikahannya dengan George Dawson-Damer.

Dari surat-surat yang saling dipertukarkan antara Minney dan George, terlihat jelas kasih sayang antara ayah dan anak yang penuh kehangatan. Beberapa surat mereka masih ada, dan masing-masing dipenuhi ungkapan cinta antara ayah dan anak. Sewaktu kecil, Minney menulis surat dengan panggilan “My dear Prinny”, dan ketika dewasa, ia menulis dengan penuh ketulusan, bahkan pernah berkata: “Bolehkah saya memberanikan diri mengatakan, sebelum mengakhiri surat ini, bahwa anak baptis kecil Paduka Raja adalah seperti yang perasaan baik hati Paduka harapkan adanya pada saya.”

George pun tak kalah menyentuh dalam surat-suratnya. Dalam salah satu surat ulang tahun untuk Minney—yang ditulis tak lama setelah ibunya (Ratu Charlotte) wafat—George menegaskan bahwa meskipun sedang berduka, ia tetap merayakan dengan penuh kegembiraan hari ulang tahun Minney, yang baginya merupakan momen penuh sukacita. Hubungan antara Minney dan George benar-benar seperti ayah dan anak, bukan karena darah, melainkan karena kasih sayang. Perhatian dan kelembutan yang ia tunjukkan pada 'putri'-nya memberikan gambaran berbeda dari sosok George yang selama ini diterima begitu saja oleh banyak kajian feminis modern.

Jika dikumpulkan, surat-surat George dengan Maria maupun dengan Minney menjadi bukti kuat yang menentang citra dirinya sebagai sosok amoral, korup, dan lemah seperti yang digambarkan pers kontemporer maupun sejarawan modern. Sebaliknya, yang muncul dari surat-surat itu adalah sosok George yang penuh gairah dan sangat peduli pada perempuan yang ia anggap sebagai istri dan anaknya—meski hukum mungkin tidak mengakuinya. George juga tampak sebagai representasi dari kritik balik terhadap narasi feminis modern. Surat-surat tersebut memperlihatkan gambaran seorang anak lelaki yang dikendalikan ayahnya, yang dipaksa menikah demi kewajiban dan uang, bukan karena cinta. Seandainya George adalah seorang perempuan, aspek kehidupannya ini pasti sudah banyak diteliti—alih-alih hanya Skandal Caroline.

Peran Sosial dan Dukungan Pribadi

Menurut salah satu biografi kontemporer sang Raja, Hannibal Evans Lloyd, George IV digambarkan sebagai:

“Seorang pangeran yang adil dan penuh kasih, sahabat yang baik, serta pelindung besar bagi sastra dan seni, juga bagi setiap lembaga yang dapat meningkatkan kebahagiaan dan kejayaan rakyatnya. Contoh dukungan Yang Mulia terhadap sastra dan seni begitu banyak hingga tidak mungkin seluruhnya dicatat di sini.”

Bukti nyata kepedulian George IV terhadap perkembangan intelektual dan budaya terlihat dari sejumlah langkah besar yang ia dukung. Pada 1821, atas usulan Uskup Salisbury, ia mendirikan Royal Society of Literature, sebuah lembaga prestisius yang diberinya piagam resmi serta dana tahunan £1000 (setara sekitar £154,000 di tahun 2025). Dana ini digunakan untuk memberi tunjangan bagi sepuluh anggota kehormatan, sekaligus mendanai sayembara esai dan puisi. Meski sempat diperdebatkan manfaatnya, lembaga ini kemudian tumbuh menjadi wadah penting yang menghasilkan banyak karya berharga dan melibatkan tokoh-tokoh sastra ternama dari dalam maupun luar negeri.

Setahun kemudian, pada 1822, George IV memprakarsai proyek nasional untuk mendokumentasikan sejarah militer Inggris. Proyek ambisius ini mencatat setiap pertempuran, jasa tiap korps dan resimen, nama individu yang berjasa, hingga lukisan panji-panji dan trofi yang diraih dalam peperangan. Di tahun yang sama, Parlemen juga meminta restu raja untuk menerbitkan ulang karya para sejarawan kuno Inggris—dan George IV menyambutnya dengan penuh antusias.

Pada Januari 1823, George IV memberikan salah satu sumbangan terbesarnya bagi dunia pengetahuan: ia menghadiahkan perpustakaan berharga peninggalan George III kepada bangsa Inggris. Dalam surat yang ditujukan kepada Perdana Menteri Lord Liverpool, ia menegaskan bahwa langkah ini bukan semata untuk memperkaya literatur nasional, melainkan juga sebagai bentuk penghormatan kepada ayahnya. Ia menggambarkan George III sebagai sosok yang “hidup dengan penuh kebajikan, baik dalam peran publik maupun kehidupan pribadi.[5]

Pada 1824, sebuah proyek lain diwujudkan: membentuk Galeri Nasional lukisan, gagasan lama George III. Koleksi pertama diperoleh dengan membeli karya seni milik Mr. Angerstein seharga £57.000. Koleksi ini kemudian berkembang melalui pembelian dan hadiah, termasuk 16 lukisan yang diberikan oleh Sir George Beaumont. Andaikan lembaga ini berdiri lebih awal, kemungkinan besar galeri di Dulwich dan koleksi Fitzwilliam di Cambridge juga bisa menjadi bagian darinya.

Pada tahun yang sama, Raja menyumbangkan £500 untuk pembangunan monumen mengenang James Watt, serta mendanai monumen bagi Raja James II di St. Germain’s, tempat ditemukannya kembali makamnya.

Pada tahun 1815, ketika pemahat Canova datang ke Paris untuk menuntut kembali karya seni yang telah dijarah oleh Prancis dari Italia, ia juga mengunjungi ibu kota Inggris dan diperkenalkan kepada George yang saat itu masih menjadi Pangeran Regent, yang menyambutnya dengan sangat ramah serta menghadiahkannya sebuah kotak tembakau berhias berlian. George juga memesan kepadanya pembangunan mausoleum untuk menghormati Kardinal York. Selain itu, Canova mengerjakan sejumlah karya untuk George, termasuk kelompok patung Mars dan Venus (yang dimaksudkan melambangkan Perang dan Perdamaian), sebuah patung Nymph berbaring, The Three Graces, serta beberapa karya lainnya.

Pada tahun 1817, setelah menerima patung raksasa Buonaparte dari Prancis yang dipahat oleh Canova, Pangeran Regent memberikan patung itu kepada Duke of Wellington. Padahal, Canova sebelumnya sangat didukung oleh keluarga Buonaparte. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa karya yang ia buat untuk menghormati mereka justru akhirnya diberikan kepada orang yang menghancurkan kekuasaan mereka.

Kedermawanan George IV juga sangat terkenal, baik melalui sumbangan besar untuk amal publik maupun bantuan kepada orang-orang yang sedang kesulitan. Pada tahun 1825–1826, ketika para penenun di Spitalfields mengalami penderitaan yang sangat berat dan banyak penggalangan dana dilakukan untuk membantu mereka, George menyumbang tiga kali, masing-masing sebesar £1000 (setara dengan £119,428 di tahun 2025) dari kantong pribadinya.

Sekitar tahun 1790, saat George masih menjadi pangeran, ia sangat bertekad untuk mendapatkan £800 (setara dengan £110,000 – £130,000 di tahun 2025). Begitu uang itu ia terima, ia langsung mengenakan sepatu bot, melepas mantel dan rompinya, mengganti pakaiannya menjadi yang sederhana tanpa lencana kebesaran, menyisir rambutnya ke belakang hingga ke atas kepala, lalu memakai topi lebar, dan berjalan keluar tanpa dikenali.

Pada waktu yang sama, ada seorang perwira tentara yang baru saja pulang dari Amerika bersama istri dan enam anaknya. Mereka sangat miskin, sampai-sampai sang perwira berniat menjual jabatannya demi melunasi utang— sebuah keputusan yang bisa menghancurkan masa depan keluarganya. Pangeran George, secara kebetulan, mendengar kisah menyedihkan ini. Karena tak ingin melihat seorang prajurit yang berjasa hidup menderita, ia memutuskan untuk memberikan uang itu secara langsung. Ia pergi ke sebuah penginapan kecil di dekat Covent Garden, bertanya tentang keluarga tersebut, dan diarahkan ke sebuah kamar. Di sana, ia melihat sendiri betapa memprihatinkannya kondisi keluarga itu. Terkejut dan terharu, ia tidak hanya menyerahkan uang £800 itu, tapi juga menyarankan sang perwira untuk menemui Kolonel Lake di alamat tertentu agar bisa mendapatkan bantuan lebih lanjut. Setelah mengatakan hal itu, sang pangeran langsung pergi—tanpa mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada keluarga tersebut.

Salah satu tindakan pertam George IV setelah naik takhta adalah memberikan piagam kerajaan beserta subsidi tahunan sebesar £400 untuk Literary Fund, sebuah lembaga amal sastra.

Ia juga dikenal karena kemurahan hatinya kepada seniman. Saat mendengar kondisi sulit komponis Ludwig van Beethoven, George mengirim £200 (setara dengan £24.000 di tahun 2025) kepadanya. Ia juga memberi bantuan tahunan sebesar £100 (setara dengan £11.000–£12.000 di tahun 2025) kepada dramawan O’Keefe. Kepada penyanyi dan aktor Michael Kelly, yang telah mendapat perlindungannya sejak 1787, George secara konsisten menyumbangkan £100 setiap kali Kelly mengadakan malam pertunjukan khusus.

Ketika Thomas Sheridan muda, yang terjerat utang karena gaya hidup boros, dan hendak berangkat ke Tanjung Harapan, George melunasi utangnya dan menyiapkan segala perlengkapan perjalanannya. Saat Sheridan datang berterima kasih di Carlton House, George berkata: “Aku menghormati ayahmu dan berharap yang terbaik untukmu. Aku sendiri miskin, tapi terimalah ini sebagai tanda niat baikku.” Sambil menyerahkan banknote £100.

George juga membeli karya pelukis miniatur Muss, yang baru saja menyelesaikan salinan kecil dari Perjamuan Terakhir karya Raphael, seharga £1.500. Sayangnya, uang itu hilang setelah istri sang pelukis menaruhnya di bank Fauntleroy yang kemudian bangkrut. Pada Desember 1821, George mendengar tentang kesulitan hidup Phoebe Hessel, seorang perempuan berusia 108 tahun di Brighton yang pernah lama bekerja sebagai pemandu mandi laut. Karena sudah tua dan tak bisa bekerja lagi, ia hanya bergantung pada belas kasih. Ketika ditanya apa yang membuatnya bahagia, Phoebe menjawab: “Setengah guinea per minggu akan membuat saya senang seperti seorang putri.” George pun memberinya tunjangan tersebut.

Kebaikan George IV kepada staf dan orang-orang di sekitarnya telah disebutkan sebelumnya, dan banyak anekdot menyenangkan tentang hal ini telah diterbitkan. Salah satu sifat paling mulia dari seorang raja adalah belas kasih, dan diketahui bahwa George IV tidak pernah lebih bahagia daripada ketika ia dapat menggunakan hak istimewa mulia untuk memberi pengampunan. Bahkan kisah lemah lembut sang Raja ini pernah dimuat dalam sebuah majalah bulanan:

Seorang pengamat yang biasa hadir di pengadilan kerajaan untuk urusan publik pernah berkata kepada temannya mengenai laporan para pelaku yang dijatuhi hukuman mati: “Jika Anda bisa melihat dan mendengar apa yang saya lihat dan dengar, Anda mungkin enggan menceritakan hal itu dengan ringan.” Petugas rumah tangga kemudian mengambil selembar kertas, berjalan ke perapian, meletakkan tangan kanan di atas mantel marmer, memegang kertas di tangan kiri, dan menatap wajah pengamat itu sambil berkata: “Bayangkan Yang Mulia berdiri di sini, setelah sidang berakhir, dan Recorder of London membawa daftar para penjahat yang dijatuhi hukuman mati—sebagian besar dari mereka tidak memiliki teman, dan mungkin semua tanpa harapan ampun. Betapa sedikit yang mereka atau dunia ketahui, bahwa pembela terkuat bagi pengampunan mereka adalah sang pangeran! Dia yang dunia, menilai tanpa belas kasih, menganggap terlalu asyik dengan kemewahan dan kesenangan kerajaan untuk peduli pada penderitaan rakyatnya—padahal ia meneliti satu per satu kasus mereka, menimbang tingkat kesalahan pelaku, dan apakah hukum benar-benar menuntut nyawa pelaku, sambil menyampaikan argumen yang layak bagi seorang pemimpin bijak dan baik, sebagai sumber belas kasihan bagi seluruh bangsa!

Dalam banyak kasus, permohonan George berhasil, dan ia membela mereka yang tidak memiliki pembela lain dengan argumen yang adil dan bijaksana. Selain itu, George IV juga dikenal adil dalam distribusi jabatan gereja, memberi peluang bagi para pemimpin gereja berdasarkan bakat dan kebajikan mereka sendiri.

Serta ada dua anekdot yang menunjukkan toleransi dan kebaikan hatinya:

  1. Saat menjadi Pangeran Regent, ia memanggil berbagai pendeta di kapelnya di Brighton. Salah satunya, Rev. Pearson, memberikan khotbah yang berbeda dari biasanya sehingga teman-temannya khawatir kemajuan kariernya terhambat. Namun, sang pangeran malah berterima kasih dan kemudian menunjuknya sebagai Dean of Salisbury.
  2. Suatu pagi Minggu, Raja sempat memarahi seorang pelayan tanpa alasan serius. Uskup Winchester menegur bahwa raja tidak dalam keadaan tepat untuk menerima sakramen. Alih-alih marah, George berterima kasih dan mengembalikan pelayan itu ke posisinya, sehingga ia sendiri merasa tenang kembali.

Pada 1821, pemimpin kulit hitam atau pangeran Rataffe dari Madagaskar mengunjungi Inggris. Sang Pangeran seorang Kristen baru, tetapi terkejut dengan banyaknya perpecahan agama di Inggris. George pun kemudian berkata "Yakinlah, Pangeran, mereka tetap orang-orang yang baik. Mereka mungkin berbeda dalam hal-hal kecil, tapi dalam hal-hal penting mengenai iman Kristen, mereka sepenuhnya sepakat dan bersatu hati. Dan izinkan saya menambahkan, bahwa setiap bantuan, kebaikan, dan perlindungan yang diberikan kepada para misionaris di negaramu akan saya anggap dan hargai seolah-olah itu diberikan langsung kepada saya."[6]

Daftar pustaka dan Bacaan lebih lanjut

  • Baker, Kenneth. "George IV: a Sketch." History Today 2005 55(10): 30–36. Issn: 0018-2753 Fulltext: Ebsco
  • Baker, Kenneth (2005). George IV: A Life in Caricature. London: Thames & Hudson. ISBN 0-500-25127-4.
  • David, Saul (2000). Prince of Pleasure: The Prince of Wales and the Making of the Regency. Grove Press. ISBN 0-8021-3703-2.
  • De-la-Noy, Michael (1998). George IV. Stroud, Gloucestershire: Sutton Publishing. ISBN 0-7509-1821-7.
  • Derry, John W. (1963). The Regency Crisis and the Whigs. Cambridge University Press.
  • Gash, Norman. Lord Liverpool (1985).
  • Haeger, Diane. The Secret Wife of King George IV (2001) excerpt and text search Diarsipkan 2023-07-31 di Wayback Machine.
  • Hibbert, Christopher. "George IV (1762–1830)," Oxford Dictionary of National Biography (2004); good summary by leading scholar; online at many libraries
  • Hibbert, Christopher. George IV: The Rebel Who Would Be King (1974, 2007) excerpt and text search Diarsipkan 2023-07-31 di Wayback Machine.
  • Hibbert, Christopher (1972). George IV, Prince of Wales, 1762–1811. London: Longman. ISBN 0-582-12675-4.
  • Hibbert, Christopher (1973). George IV, Regent and King, 1811–1830. London: Allen Lane. ISBN 0-7139-0487-9.
  • Lloyd, H. E. (1830) . London, Truettel and Würtz, Treuttel jun and Richter. [Pdf] Retrieved from the Library of Congress, https://www.loc.gov/item/03026703/.
  • Machin, G. I. T. (1964). The Catholic Question in English Politics 1820 to 1830. Oxford: Oxford University Press.
  • Parissien, Steven (2001). George IV: The Grand Entertainment. London: John Murray. ISBN 0-7195-5652-X. excerpt and text search Diarsipkan 2023-07-31 di Wayback Machine.
  • Smith, E. A. (1999). George IV. Yale University Press. ISBN 0-300-07685-1.; excerpt and text search Diarsipkan 2021-05-06 di Wayback Machine.
  • Smith, E. A. "Caroline (1768–1821)", Oxford Dictionary of National Biography, (2004); online edn, 2008

Referensi

  1. ^ "George IV; memoirs of his life and reign,". Library of Congress, Washington, D.C. 20540 USA. Diakses tanggal 2025-08-19.
  2. ^ "George IV; memoirs of his life and reign,". Library of Congress, Washington, D.C. 20540 USA. Diakses tanggal 2025-08-19.
  3. ^ Lloyd, Hannibal Evans (1830). George IV: memoirs of his life and reign (dalam bahasa english). London: Truettel and Würtz, Treuttel jun and Richter. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ^ CHAPTER IV. Cambridge University Press. 2011-07-07. hlm. 92–121.
  5. ^ Lloyd, Hannibal Evans (1830). George IV: memoirs of his life and reign (dalam bahasa english). London: Truettel and Würtz, Treuttel jun and Richter. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  6. ^ Lloyd, Hannibal Evans (1830). George IV: memoirs of his life and reign (dalam bahasa english). London: Truettel and Würtz, Treuttel jun and Richter. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)


George IV dari Britania Raya
Cabang kadet Wangsa Welf
Lahir: 12 Agustus 1762 Meninggal: 26 Juni 1830
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
George III
Raja Britania Raya dan Irlandia
Raja Hannover

29 Januari 1820 – 26 Juni 1830
Diteruskan oleh:
William IV

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement