Ganrang
Alat musik ganrang dari Suku Makassar | |
| Alat musik perkusi | |
|---|---|
| Nama lain | Gandrang |
| Klasifikasi | Membranofon |
| Hornbostel–Sachs | 211.252.12 (Membranofon berbadan kerucut, dengan dua membran yang dapat dipakai) |
| Pencipta | Suku Makassar |
Ganrang atau gandrang yang dalam Bahasa Indonesia disebut gendang, adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Suku Makassar.[1] Alat musik ini bukan hanya berfungsi sebagai pengiring tarian tradisional, tetapi juga menjadi penanda diadakannya berbagai upacara adat. Dentuman-dentuman yang dihasilkan dari alat musik ini terbukti masih dapat menarik minat masyarakat modern dan dinikmati berbagai kalangan. Ganrang masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Sulawesi Selatan dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 186/M/2015.[2][1]
Sejarah
Ganrang telah dimainkan jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia, khususnya pada masa pemerintahan Kerajaan Gowa. Jika menilik eratnya penggunaan Ganrang dalam pertunjukan Tari Pakarena yang diperkirakan telah dipentaskan dan mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-16, maka Gandrang kemungkinan besar telah digunakan dalam lingkup istana pada masa itu. Meskipun tidak diketahui secara pasti waktuGandrang mulai dijadikan instrumen irama oleh masyarakat suku Makassar, keberadaannya telah sedemikian melekat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Ganrang kemungkinan besar masuk ke Sulawesi Selatan melalui proses interaksi dan perdagangan dengan masyarakat luar pada masanya.[3]
Terdapat sebuah cerita rakyat yang mengisahkan awal keberadaan gandrang sebagai alat hiburan di masyarakat. Cerita ini melibatkan I Lolo Bajo Karaeng Sanrobone, generasi pertama Sanrobone (Makassar), yang mengadakan sayembara untuk menciptakan barang yang bermanfaat. Pemenang sayembara menceritakan tentang sebuah gandrang yang sangat besar, hingga seorang manusia dewasa dapat duduk bersila di atasnya. Setiap kali gandrang besar ini dipukul, rakyat akan berdatangan. Terinspirasi dari cerita inilah, I Lolo Bajo memerintahkan untuk menciptakan hiburan-hiburan menggunakan gandrang.[4]
Proses pembuatan dan karakteristik
Gandrang dibuat dari kayu nangka atau kayu cempaka yang bagian dalamnya dilubangi dan dihaluskan untuk menghasilkan resonansi suara yang jernih. Bagian ujung kayu kemudian ditutup menggunakan kulit kambing tipis yang telah dikeringkan selama beberapa hari. Kulit tersebut diikat dengan rotan atau benang nilon serta dilengkapi cincin penyelip yang umumnya terbuat dari logam atau serat ijuk. Cincin ini berfungsi sebagai pengatur tingkat kekencangan kulit agar tetap stabil saat dimainkan. Dalam proses pemasangan, kulit kambing biasanya direndam terlebih dahulu dalam air dingin selama kurang lebih dua jam untuk memudahkan penyesuaian. Jenis kulit yang digunakan memengaruhi karakter bunyi yang dihasilkan, yakni suara “tak” dari kulit kambing jantan dan “dung” dari kulit kambing betina. Berdasarkan penggunaan membran dari kulit hewan tersebut, gandrang termasuk ke dalam klasifikasi alat musik membranofon. Alat pemukul gandrang dibuat dari tanduk kerbau yang diruncingkan sesuai kebutuhan penabuh dan dikenal dengan sebutan bakbalak dalam bahasa setempat.[5]
Jenis
Ganrang Mangkasarak
Ganrang jenis ini adalah gendang yang berukuran cukup besar, sehingga disebut juga dengan Ganrang Lompo (gendang besar). Ganrang Mangkasarak ditabuh pada saat upacara adat penyucian dan pemberkatan benda-benda pusaka kerajaan, yang dikenal sebagai kalompoang atau gaukang. Benda-benda pusaka ini, seperti keris, mahkota, atau bendera yang dikeramatkan dan dianggap memiliki tuah tersendiri, serta sangat terkait dengan mitologi To Manurung dalam kepercayaan Bugis Makassar. Oleh karena fungsi utamanya dalam upacara adat tersebut, Ganrang Mangkasarak juga dikenal dengan nama Gandrang Kalompoang dan Gandrang Gaukang.[4]
Ganrang Pakarena
Ganrang jenis ini memiliki diameter yang lebih kecil, sekitar 30–40 cm. Fungsi utamanya adalah sebagai alat musik pengiring tari-tarian tradisional, termasuk Tari Pakarena (tari kipas). Dalam pertunjukan Tari Pakarena, gandrang merupakan sumber bunyi utama. Tabuhan yang cukup keras dari ganrang mengiringi gerakan penari perempuan yang lembut dan gemulai, menjadi simbolisasi karakter laki-laki yang kuat dan energik. Dalam tarian Pakarena, biasanya digunakan 2 hingga 4 buah ganrang, dengan tabuhan yang disesuaikan dengan keahlian penabuh dan gerakan penari. Ganrang Pakarena adalah jenis gandrang yang paling umum digunakan untuk keperluan pementasan.[4]
Ganrang akmancak (pamancak)
Ganrang jenis ini adalah ganrang yang terkecil di antara ketiganya, dengan diameter 20–25 cm. Alat musik ini digunakan dalam pertunjukan seni bela diri Makassar, yang disebut akmancak. Ganrang ini ditabuh untuk memeriahkan suasana permainan silat, dengan menggunakan paling sedikit dua buah ganrang. Ganrang akmancak dapat dimainkan dengan tangan atau menggunakan alat pukul gendang yang terbuat dari kayu atau rotan. Karena bobotnya yang ringan, ganrang ini dapat dimainkan dengan cara duduk, berdiri, atau bahkan sambil berjalan mengikuti gerakan pesilat, hanya berdasarkan keahlian penabuh ganrang. Bagian luar ganrang umumnya dicat berwarna merah dan dapat dihias sesuai keinginan. Dalam konteks pernikahan adat Makassar, Ganrang pamancak berfungsi sebagai musik iringan untuk pertunjukan manca' kanrejawa. Manca' kanrejawa adalah jenis kesenian pencak silat khas Makassar yang menampilkan satu atau dua orang pesilat. Sebagai musik iringan pencak silat, ganrang pamancak memiliki jenis tabuhan tersendiri yang disebut tunrung pamancak. Dalam perkawinan adat Makassar, tunrung pamancak memiliki tiga bagian musik, yaitu tunrung pannyungke, tunrung pamancak, dan tunrung pannongkok. Pertunjukan pamancak dalam perkawinan adat Makassar memiliki arti penting sebagai wujud penghormatan terhadap rekan atau saudara seperguruan yang melangsungkan perkawinan.[6]
Fungsi dan penggunaan
Gandrang adalah alat musik yang biasa dibunyikan dan dimainkan pada waktu-waktu tertentu. Penggunaannya meliputi upacara adat, penyambutan, perkawinan, seperti perkawinan adat Makassar, pagelaran atau pertunjukan, pengiring tarian tradisional, termasuk Tari Pakarena, dan pertunjukan seni bela diri Makassar, akmancak atau manca’ kanrejawa. Ketika dimainkan, alat musik ini menandai kesakralan suatu acara dan tidak boleh dimainkan sembarang waktu. Paganrang adalah sekelompok orang yang berjumlah 4-5 anggota. Masing-masing anggota paganrang memiliki peran tersendiri dalam memainkan alat musik ganrang, sehingga menghasilkan bunyi khas alat tersebut.[7]
Catatan kaki
- ^ a b "Ganrang Konjo: Searching for Rhythm in Bulukumba, South Sulawesi". aural archipelago (dalam bahasa American English). 2018-08-28. Diakses tanggal 2026-01-28.
- ^ referensi 2015.
- ^ "GANRANG - Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2026-01-28.
- ^ a b c bpnbsulsel 2015.
- ^ "Gandrang #SBM » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-01-16.
- ^ isi 2017.
- ^ kemenparekraf 2025.
Buku
- Ganrang Pamanca’ Dalam Upacara Perkawinan Adat Makassar Di Gowa Sulawesi Selatan. UPA Perpustakaan ISI Yogyakarta. 2017-06-01.
Sumber daring
- "Ganrang". Budaya Kita Kemendikbud.
- "Gandrang, Alat Musik Tradisional Makassar". Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan. 2015-05-27. Diakses tanggal 2025-06-20.
- "Ganrang Adat". KEMENTERIAN PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA. Diakses tanggal 2025-06-20.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


