Flamurtari FC

Flamurtari
Nama lengkapFlamurtari Football Club
JulukanKuq e Zinjtë (Merah dan Hitam)
Flota Kuq e Zi (Armada Merah dan Hitam)
Berdiri23 Maret 1923; 103 tahun lalu (1923-03-23) sebagai Shoqëria Sportive Vlorë
StadionStadion Flamurtari
(Kapasitas: 9,500[1])
PemilikBashkia Vlorë, TRK MW Group
PresidenAlbania Sinan Idrizi
Pelatih kepalaItalia Francesco Moriero
LigaLiga Super Albania
2024–25Liga Pertama Albania, ke-2 dari 12 (promosi)
Kostum kandang
Kostum tandang
Kostum ketiga

Flamurtari Football Club adalah klub sepak bola profesional asal Albania yang berbasis di Vlorë. Klub ini bermain di Liga Super Albania, yaitu divisi tertinggi dalam sistem liga sepak bola di negara tersebut.

Didirikan pada tahun 1923, klub ini merupakan salah satu yang tertua di Albania sekaligus salah satu yang paling sukses, dengan torehan satu gelar Liga Super Albania (1991), empat Piala Albania, dan dua Piala Super Albania. Flamurtari juga dikenal karena kiprahnya di kompetisi Eropa pada tahun 1980-an, terutama saat mencapai babak 16 besar Piala UEFA musim 1987–88, di mana mereka berhasil mengalahkan raksasa Spanyol Barcelona di Vlorë, meskipun akhirnya kalah secara agregat.

Sejarah

Awal berdiri

KS Flamurtari Vlorë didirikan pada 23 Maret 1923 dengan nama Shoqeria Sportive Vlorë, dengan Milto Korçari sebagai presiden pertama klub, Malo Ismaili sebagai sekretaris, dan Faslli Zoga sebagai bendahara. Klub ini dibentuk untuk membuat kegiatan olahraga menjadi lebih terorganisasi dan populer, dengan fokus utama pada sepak bola. Kebutuhan finansial klub dipenuhi melalui sumbangan para anggota serta berbagai kegiatan yang diselenggarakan di kota Vlorë. Shoqeria Sportive memainkan pertandingan sepak bola pertamanya melawan Shoqëria Sportive Jeronim de Rada, sebuah tim lokal yang dibentuk oleh para pelajar dari Vlorë. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 2–2. Sepanjang tahun 1920-an, klub ini memainkan beberapa pertandingan persahabatan melawan tim-tim lain dari Albania maupun luar negeri. Shoqeria Sportive Vlorë juga menjadi anggota pendiri Federasi Sepak Bola Albania dan berpartisipasi dalam kejuaraan nasional pertama. Pertandingan resmi pertamanya berlangsung di Vlorë melawan Skënderbeu Korçë, yang berakhir dengan kemenangan 2–0. Dalam kejuaraan perdananya, Shoqeria Sportive menempati posisi terbawah klasemen dengan dua kemenangan dan enam kekalahan.

Perang Dunia II

Pada musim 1931, Shoqeria Sportive finis di posisi terakhir klasemen Liga Super Albania, yang membuatnya terdegradasi ke Liga Pertama Albania musim berikutnya. Mereka berhasil promosi kembali ke kasta teratas pada musim 1933, setelah menjadi runner-up Liga Pertama Albania.

Musim 1934 dimulai dengan berbagai masalah besar bagi tim dan berakhir dengan cara yang paling buruk. Kuqezinjte hanya mampu meraih satu hasil imbang dan kalah di semua pertandingan lainnya, menutup musim dengan selisih gol −32. Situasi ini menuntut perombakan total, yang akhirnya terjadi pada tahun 1935, ketika Kristaq Strati terpilih sebagai presiden klub. Dia dengan cepat menata kembali staf klub dan menjalin kerja sama dengan tim-tim amatir lokal di Vlorë, sehingga berhasil merekrut pemain-pemain muda berbakat. Tim pun mengubah gaya bermainnya, dengan lebih menekankan pada teknik dan kecepatan, serta mulai mengembangkan gaya permainan khas mereka sendiri berkat kerja keras Besim Qorri, salah satu aktivis awal klub. Untuk melengkapi perubahan besar ini, dewan klub memutuskan untuk mengganti nama tim dari Shoqëria Sportive Vlorë menjadi Shoqata Sportive Ismail Qemali. Musim berikutnya menunjukkan hasil yang lebih positif. Shoqata Sportive Ismail Qemali menempati peringkat ketujuh dari delapan tim, dengan tiga kemenangan, tiga hasil imbang, dan delapan kekalahan, serta selisih gol −21 (mencetak 14 gol dan kebobolan 35). Meskipun tim mencatat beberapa hasil impresif, mereka juga harus menelan kekalahan telak 11–0 dari rivalnya, Tirana, yang menjadi hasil terburuk dalam sejarah klub. Musim 1937 berjalan hampir sama seperti musim sebelumnya, dengan tim mengakhiri kompetisi di peringkat ke-9 dari 10 tim.

Pada 7 April 1939, Italia menginvasi Albania dan menjadikannya protektorat Italia. Namun, pihak penjajah tetap berusaha menjaga agar kegiatan sepak bola terus berlangsung. Karena itu, kejuaraan tahun 1939 dimulai pada 1 Juli 1939. Delapan tim dibagi dalam dua grup berisi empat tim, dan bermain dengan sistem gugur dua leg untuk menentukan semifinalis. Shoqata Sportive. Ismail Qemali diundi menghadapi Teuta. Pertandingan pertama dimainkan di Kavajë pada 2 Juli, berakhir imbang 1–1. Laga kedua digelar di Lapangan Shallvare, Tirana, pada 6 Agustus 1939, dan dimenangkan Teuta 3–2. Pertandingan ini menjadi salah satu pertandingan sepak bola pertama yang disiarkan melalui Radio Tirana, oleh jurnalis Albania Anton Mazreku. Setelah pertandingan berakhir, Shoqata Sportive Ismail Qemali mengajukan banding atas hasil tersebut, dengan alasan bahwa menit-menit terakhir pertandingan dimainkan dalam kegelapan total dan hasilnya dipengaruhi oleh kurangnya pencahayaan. Komisi Teknis memutuskan bahwa pertandingan harus diulang. Pada 10 September 1939, kembali di Lapangan Shallvare, kedua tim bertemu lagi untuk menentukan siapa yang lolos. Namun, Teuta tampil lebih unggul dan memenangkan pertandingan dengan skor 3–1, yang berarti Shoqata Sportive Ismail Qemali tersingkir dari turnamen.

1945–1980

Shoqata Sportive Ismail Qemali resmi dibuka kembali pada November 1944. Pada musim pertamanya, yaitu kejuaraan tahun 1945, tim ini finis di peringkat keempat dari enam tim. Tak lama kemudian, klub mengalami perubahan nama, menjadi Klubi Sportiv Flamurtari Vlorë pada 22 Juni 1946. Pada tahun 1951, klub sempat berganti nama menjadi Puna Vlorë, tetapi kembali menggunakan nama Flamurtari pada 1958.

Flamurtari meraih kesuksesan awal dengan mencapai final kejuaraan sebanyak dua kali, yaitu pada musim 1946 dan 1948, meskipun keduanya berakhir dengan kekalahan—termasuk kekalahan 6–2 dari Partizani Tirana di final 1948. Pada 1954, tim ini meraih trofi pertamanya dengan memenangkan Piala Spartak setelah menang telak 6–0 atas Vllaznia. Momentum itu berlanjut hingga ke final Piala Albania tahun 1960. Perjalanan menuju final tersebut sangat berkesan. Mereka menang atas Besa Kavajë berdasarkan jumlah tendangan sudut, lalu membuat comeback dramatis 4–3 di semi final melawan Skënderbeu Korçë. Namun di final, mereka kalah tipis 1–0 dari Dinamo Tirana. Setelah periode awal yang menjanjikan itu, performa klub stabil di posisi tengah klasemen selama beberapa tahun berikutnya.

Generasi Emas

Memasuki tahun 1980-an, Flamurtari Vlorë mengalami kebangkitan besar yang menegaskan statusnya sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola Albania. Setelah finis di peringkat 8 pada musim 1980–81, mereka langsung melonjak menjadi runner-up liga pada musim berikutnya. Trofi mayor pertama klub datang pada Piala Albania 1985, ketika mereka mengalahkan KF Partizani.

Musim 1985–86 menjadi musim yang paling berkenan dalam sejarah klub. Flamurtari finis sebagai runner-up liga hanya karena selisih gol, dan meraih debut bersejarah di Piala UEFA melawan FC Barcelona. Pada leg pertama di Vlorë, mereka unggul 1–0 sebelum kebobolan gol penyeimbang di menit-menit akhir yang membuat pertandingan berakhir 1–1. Di leg kedua di Camp Nou, mereka menahan imbang Barcelona 0–0, tersingkir hanya karena aturan gol tandang, tetapi meninggalkan kesan mendalam sebagai “penakluk raksasa”. Pada musim yang sama, Flamurtari juga menjadi runner-up liga dan Piala Albania.

Klub kembali lolos ke Piala UEFA pada 1987–88. Mereka mengalahkan Partizan Beograd dengan agregat 3–2, berkat gol penentu dari Sokol Kushta di leg kedua. Kemudian, mereka mencetak sejarah dengan mengalahkan Wismut Aue 2–1 secara agregat, menjadi tim Albania pertama yang mencapai putaran ketiga kompetisi Eropa. Di babak itu, mereka kembali bertemu FC Barcelona. Flamurtari sempat mengejutkan publik Camp Nou dengan unggul 1–0 di babak pertama, meski akhirnya kalah 4–1. Namun, mereka membalas dengan kemenangan 1–0 di leg kedua di Vlorë, meskipun tetap tersingkir secara agregat. Perjalanan enam pertandingan di Eropa ini mengukuhkan reputasi mereka sebagai tim Albania yang tangguh.

Pada musim bersejarah yang sama, 1987–88, Flamurtari juga memenangkan Piala Albania untuk kedua kalinya dengan mengalahkan KF Partizani 1–0. Setelah finis di peringkat tiga pada tahun 1989, mereka mencapai puncak prestasi domestik pada musim 1990–91, ketika berhasil menjuarai Liga Super Albania untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, unggul enam poin dari pesaing terdekat. Mereka juga memenangkan Piala Super Albania tahun itu, menyempurnakan gelar ganda mereka.

1990

Setelah jatuhnya rezim komunis, Flamurtari Vlorë memasuki periode sulit dengan kepergian banyak pemain kunci yang mencari peluang di luar negeri. Klub memulai musim 1991–92 dengan pengurangan enam poin karena masalah keuangan, meskipun akhirnya tetap finis di peringkat keenam. Krisis semakin dalam pada musim berikutnya, ketika mereka nyaris terdegradasi, finis di peringkat ke-13 dari 16 tim. Meski begitu, tim menunjukkan ketangguhan dengan berinvestasi di akademi muda dan merekrut bakat-bakat baru, yang segera membuahkan hasil. Pada musim 1993–94, Flamurtari finis di peringkat kedua, berkat rekor tak terkalahkan di Stadion Flamurtari, meskipun performa tandang mereka buruk. Dua musim berikutnya, mereka stabil di peringkat keempat.

Musim 1996–97 menjadi yang terbaik di era pasca-komunis. Flamurtari memulai musim dengan penampilan luar biasa, memuncaki klasemen hingga kompetisi terhenti akibat Kerusuhan Albania 1997. Ketika Federasi Sepak Bola Albania memutuskan secara kontroversial untuk melanjutkan sisa pertandingan hanya di Tirana, Flamurtari tidak dapat berpartisipasi karena alasan keamanan dan keterbatasan finansial. Akibatnya, KF Tirana keluar sebagai juara, sementara Flamurtari finis di peringkat ketiga. Tahun-tahun setelah itu menjadi masa terburuk dalam tiga dekade bagi klub, dengan pencapaian terbaiknya hanya peringkat ke-11 dari 16 tim pada musim 1998–99.

Pendukung

Para pendukung Flamurtari Vlorë dikenal sebagai yang paling bersemangat di Albania. Mereka juga merupakan kelompok pendukung terbesar di negara itu, mencakup setidaknya 20% dari seluruh warga Albania. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa tidak ada klub sepak bola lain yang berbasis di kota Vlorë. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dukungan terhadap Flamurtari mulai menurun.

Meskipun penjualan tiket dan jumlah pemegang tiket musiman meningkat pesat sejak tahun 1999, yang sebelumnya menjadi periode dengan rata-rata penonton terendah dalam sejarah klub, jumlah penontonnya tetap jauh lebih sedikit dibandingkan era Komunis. Ada dua kelompok suporter utama yang mendukung Flamurtari, yaitu “Dragonjtë Kuqezi” (Naga Merah dan Hitam) dan “Flota Kuqezi” (Armada Merah dan Hitam). Kelompok terakhir biasanya menempati tribun timur, yang umum dikenal sebagai “Tribuna C.”

Rivalitas

Rival utama Flamurtari Vlorë adalah KF Vllaznia Shkodër. Pada tahun 1970-an, kedua klub ini dikenal sebagai tim yang memainkan gaya sepak bola paling indah di Albania, dan pertandingan antara keduanya selalu menarik banyak penonton. Hubungan antara kedua klub, baik di dalam maupun di luar lapangan, sering kali penuh ketegangan, dan bentrokan antarpendukung kerap terjadi.

Rivalitas lainnya melibatkan klub-klub ibu kota: Dinamo Tirana, KF Tirana, dan Partizani Tirana. Persaingan dengan tim-tim ibu kota ini berakar dari pertandingan-pertandingan klasik pada dekade 1980-an. Selain itu, ada juga rivalitas yang lebih ringan dengan Apolonia Fier dan Teuta. Pertemuan melawan Teuta sering disebut sebagai “Derby Pesisir”.

Stadion

Stadion Flamurtari

Sebelum memiliki stadion sendiri, klub ini bermain di lapangan yang dikenal dengan nama "Varri i Halimit" (yang berarti “Makam Halimi”). Lapangan tersebut terletak di dekat Uji i Ftohtë, wilayah yang kini menjadi pusat latihan klub. Stadion baru dibangun pada tahun 1961 dengan kapasitas awal 6.500 penonton, kemudian diperluas menjadi 11.000 pada tahun 1975 setelah dilakukan renovasi. Pada masa kejayaan klub, stadion ini sering dipadati hingga 15.000 penonton, dan ketika Flamurtari menghadapi Barcelona dalam Piala UEFA tahun 1987, jumlah penontonnya mencapai 18.500 orang, yang menjadi rekor kehadiran tertinggi sepanjang sejarah stadion.

Antara tahun 2004 dan 2012, stadion ini mengalami renovasi besar-besaran dengan bantuan Federasi Sepak Bola Albania. Hasilnya, stadion diubah menjadi stadion dengan kursi penuh (all-seater) berkapasitas 8.500 penonton. Selain pembangunan tribun dan pemasangan kursi, area parkir baru juga dibangun, serta lampu sorot (floodlight) dipasang untuk pertama kalinya.

Lambang dan warna klub

Warna tradisional klub Flamurtari Vlorë adalah merah dan hitam, mengikuti warna bendera Albania yang digunakan oleh Ismail Qemali saat memproklamasikan kemerdekaan Albania di Vlorë pada 28 November 1912. Ketika klub ini didirikan, disepakati bahwa warna tim akan sama dengan warna bendera nasional, karena simbol tersebut memiliki makna sejarah yang penting bagi kota Vlorë.

Lambang pertama Flamurtari dirancang pada tahun 1930, menjelang pertandingan resmi pertama klub di kejuaraan sepak bola Albania yang perdana. Desainnya dibuat menyerupai lambang kota Vlorë. Setelah Perang Dunia II, klub mengubah lambangnya menjadi berbentuk perisai, dengan huruf 'F' berwarna hitam di tengah berlatar belakang merah. Pada 1980-an, lambang klub kembali berubah meskipun bentuk dan gayanya tetap dipertahankan dan klub hanya menempatkan huruf 'F' di seragam pemain, bukan lambang penuh, hingga tahun 2000. Pada 3 Agustus 2015, klub mengumumkan bahwa lambang akan diubah menjelang musim 2015–16 sebagai bagian dari strategi rebranding. Namun, keputusan ini langsung mendapat penolakan keras dari para penggemar dan pemerintah kota, yang tidak menyetujui perubahan tersebut maupun desain barunya.[2][3] Bentuk perisai diganti dengan lingkaran, menampilkan huruf 'F' dan setengah gambar burung elang berkepala dua, sebagaimana yang terdapat di bendera Albania.

Sebuah foto pertandingan resmi pertama, yang diambil pada 6 April 1930, menunjukkan para pemain mengenakan kaus putih dengan garis hitam tebal melintang di dada, celana hitam, dan kaus kaki hitam. Desain ini umum digunakan di Inggris, tempat Milto Korçari, presiden Flamurtari sekaligus pegawai kantor pos, memesan seragam tersebut. Kemudian, pada 1937, tim mengadopsi garis-garis vertikal dan mulai bermain dengan kaus merah bergaris hitam tipis vertikal, celana hitam, dan kaus kaki hitam. Pada tahun-tahun awal sejarah klub, emblem tim juga tercantum pada seragam, tetapi kemudian diganti dengan huruf emas 'F' yang dijahit di tengah dada.

Setelah Perang Dunia II, tim mulai menggunakan seragam merah, celana putih, dan kaus kaki merah. Dalam beberapa kejuaraan, mereka memakai celana hitam menggantikan putih, menyerupai desain tim nasional Albania. Seragam tandang sepenuhnya berwarna putih, yang menjadi favorit penggemar karena mengingatkan pada tim nasional. Pada 1960-an, seragam utama kembali berubah. Seragam baru berwarna putih dengan tiga garis vertikal di bagian tengah (merah–hitam–merah), dipadukan dengan celana dan kaus kaki hitam. Seragam merah yang sebelumnya digunakan sebagai seragam kandang kini menjadi seragam tandang tim utama, tetapi tetap dipakai sebagai seragam kandang untuk tim muda. Pada 1975, klub kembali membalikkan penggunaannya, seragam merah dengan celana putih dan kaus kaki merah kembali menjadi seragam kandang utama, sedangkan seragam putih dengan tiga garis tengah dipakai untuk pertandingan tandang.

Tahun 1981 menandai awal era baru bagi klub. Selain munculnya generasi pemain muda berbakat dan hasil gemilang di lapangan, seragam baru diperkenalkan, yang hingga kini masih digunakan dengan hanya sedikit perubahan. Seragam tersebut mirip dengan yang digunakan pada akhir 1930-an: merah dengan garis-garis hitam vertikal tipis, celana merah, dan kaus kaki merah, sementara seragam tandang tetap sama seperti sebelumnya. Seragam ini menjadi ikonik di kalangan penggemar, bukan hanya karena warnanya yang merupakan warna kebangsaan Albania, tetapi juga karena prestasi besar yang diraih tim pada periode tersebut. Selama bertahun-tahun, seragam kandang tidak mengalami perubahan besar. Desainnya tetap hampir sama, hanya warna utama yang terkadang merah atau hitam, serta warna celana dan kaus kaki yang berganti antara merah dan hitam. Sementara itu, seragam tandang tetap hampir tidak berubah sejak 1981, dengan variasi serba putih hanya digunakan dalam lima musim.

Seragam ketiga diperkenalkan untuk pertama kalinya pada tahun 2005, untuk merayakan gelar juara Liga Pertama Albania. Seragam ini sepenuhnya berwarna merah, mulai dari kaus, celana hingga kaus kaki. Namun, seragam tersebut jarang digunakan dan dihentikan pada musim berikutnya. Pada 2007, untuk pertama kalinya dalam sejarah klub, nomor punggung berwarna emas diperkenalkan (sebelumnya selalu berwarna putih). Pada Liga Super Albania musim 2011–12, tim mengenakan seragam dominan hitam, dengan pola chevron hitam dan garis-garis merah-hitam di bawahnya, dipadukan dengan celana dan kaus kaki hitam, sementara seragam tandang tetap menggunakan desain tradisional.

Untuk musim Superliga Albania 2012–13, Flamurtari menggunakan desain dari Legea yang didominasi merah dengan garis hitam tebal, celana hitam, dan kaus kaki hitam, sedangkan klub meninggalkan desain tandang tradisionalnya dan menggantinya dengan seragam serba putih.

Prestasi

Domestik

Liga

  • Liga Super Albania
    • Juara (1): 1990–91
    • Runner-up (7): 1946, 1948, 1981–82, 1985–86, 1986–87, 1987–88, 2010–11
  • Liga Pertama Albania
    • Juara (1): 2005–06
    • Runner-up (1): 2024–25
  • Liga Dua Albania
    • Juara (1): 2021–22

Piala

  • Piala Albania
    • Juara (4): 1984–85, 1987–88, 2008–09, 2013–14
    • Runner-up (8): 1960, 1982–83, 1983–84, 1986–87, 1989–90, 1990–91, 1995–96, 1996–97
  • Piala Super Albania
  • Juara (2): 1990, 1991

Lainnya

  • Piala Jurnal Bashkimi
    • Juara (3): 1962, 1963, 1987
  • Piala Spartak
    • Juara (1): 1954
  • Piala Serikat Buruh Albania
    • Juara (1): 1948
  • Piala Partai Buruh Albania
    • Juara (1): 1976
  • Piala Birra Norga
    • Juara (1): 2007

Pemain

Per 15 Agustus 2025.

Catatan: Bendera menunjukkan tim nasional sesuai dengan peraturan kelayakan FIFA. Pemain bisa saja memiliki lebih dari satu kewarganegaraan non-FIFA.

No. Pos. Negara Pemain
1 GK Albania ALB Ariol Kaloshi
2 DF Republik Dominika DOM Joao Urbáez
5 DF Albania ALB Denis Pjeshka
6 DF Argentina ARG Luciano Squadrone
7 FW Venezuela VEN Heiderber Ramírez
8 MF Albania ALB Valentino Murataj
9 FW Italia ITA Alessandro Bolzan
10 MF Spanyol ESP José Rodríguez
11 MF Belgia BEL Samy Bourard
12 GK Makedonia Utara MKD Igor Aleksovski
14 FW Nigeria NGA Christ Evo Ememe
15 MF Albania ALB Idriz Batha
16 MF Makedonia Utara MKD Hamza Ramani
17 MF Albania ALB Bruno Telushi
No. Pos. Negara Pemain
18 MF Luksemburg LUX Eric Veiga
19 DF Albania ALB Lorenc Trashi (kapten)
20 FW Albania ALB Aldrit Oshafi
21 MF Albania ALB Herald Marku
22 MF Paraguay PAR Cristian Núñez
23 DF Albania ALB Stivian Janku
24 FW Belgia BEL William Baeten
25 MF Pantai Gading CIV Bangaly Diawara
30 DF Makedonia Utara MKD Todor Todoroski
44 DF Yunani GRE Dimitrios Chantakias
76 FW Albania ALB Erald Maksute
77 MF Albania ALB Paulo Pjeshka
78 GK Albania ALB Bruno Qarri

Tata kelola

Staf kepelatihan

Posisi Nama
Pelatih kepala Italia Francesco Moriero
Asisten pelatih Albania Lejdi Liçaj
Asisten pelatih Albania Andi Ribaj
Pelatih fisik Italia Cristian Parabita
Pelatih penjaga gawang Albania Luan Birçe
Asisten pelatih penjaga gawang Albania Erion Dinaj
Pelatih tim U-19 Albania Gani Myderozi
Pelatih tim U-17 Albania Aldo Guna
Fisioterapis Albania Enis Malaj
Doktor tim Albania Amarildo Prifti

Manajemen

Posisi Nama
Presiden Albania Sinan Idrizi
Wakil Presiden Albania Kreshnik Çipi
Direktur Olahraga Makedonia Utara Artim Položani
Direktur Teknik Albania Eqerem Memushi
Direktur Akademi Albania Dritan Resuli
Sekretaris Klub Albania Alfred Ferko

Pelatih

  • Albania Stavri Lubonja (–1968)
  • Albania Hasan Luçi (1968–)
  • Albania Bejkush Birçe (1975–1978)
  • Albania Agron Sulaj (1979–1983)
  • Albania Leonidha Çuri (1983–1988)
  • Albania Edmond Liçaj (1990–1994)
  • Albania Bejkush Birçe (1994–1996)
  • Albania Leonidha Çuri (1996–1997)
  • Albania Latif Gjondeda (1997)
  • Albania Uran Xhafa (1998)
  • Albania Vasil Ruci (1998–1999)
  • Albania Edmond Liçaj (1999–2000)
  • Albania Sokol Kushta (2000–2001)
  • Albania Gjergji Leka (2001)
  • Albania Mexhid Haxhiu (2001)
  • Bulgaria Nikolay Arabov (2002)
  • Albania Petraq Bifsha (2002)
  • Albania Leonidha Çuri (2003)
  • Albania Petraq Bifsha (2003)
  • Albania Alfred Ferko (2003–2004)
  • Albania Agim Canaj (2006)
  • Albania Eqerem Memushi (2006)
  • Albania Vasil Ruci (2006–2007)
  • Albania Gerd Haxhiu (2007)
  • Albania Eqerem Memushi (2007–2008)
  • Kroasia Slavko Kovačić (2008)
  • Albania Edmond Liçaj (2008–2009)
  • Albania Eqerem Memushi (2009)
  • Albania Gugash Magani (2009–2011)
  • Albania Edmond Lutaj (2011)
  • Albania Shkëlqim Muça (2011–2012)
  • Spanyol Julián Rubio (2012)
  • Albania Ernest Gjoka (2012–2014)
  • Italia Ernestino Ramella (2014–2015)
  • Ceko Stanislav Levý (2015)
  • Albania Gentian Mezani (2015–2016)
  • Makedonia Utara Zekirija Ramadani (2016)
  • Albania Gugash Magani (2016)
  • Albania Gentian Mezani (2016–2017)
  • Albania Shpëtim Duro (2017–2018)
  • Albania Ardian Behari (2018)
  • Albania Ilir Daja (2018–2019)
  • Brasil Marcello Troisi (2019)
  • Albania Gerd Haxhiu (2019)
  • Albania Dritan Sadedini (2019)
  • Albania Luan Birce (2019)
  • Albania Dritan Resuli (2020)
  • Brasil Marcello Troisi (2020)
  • Albania Dritan Resuli (2020 − September 2022)
  • Brasil Marcello Troisi (September 2022 – Maret 2023)
  • Italia Diego Longo (Maret 2023 – Juni 2023)
  • Albania Emiliano Çela (Juni 2023 − 27 November 2023)
  • Albania Dritan Resuli (28 November 2023 − 30 Januari 2024)
  • Albania Alfred Ferko (30 Januari 2024 − 2 Februari 2024)
  • Albania Eqerem Memushi (3 Februari 2024 – 1 Juni 2024)
  • Italia Andrea Agostinelli (13 Juli 2024 – 26 Maret 2025)
  • Makedonia Utara Artim Položani (27 Maret 2025 – 25 Mei 2025)
  • Spanyol Carlos García Badías (28 Juni 2025 – 6 Oktober 2025)
  • Italia Francesco Moriero (8 Oktober 2025–)

Referensi

  1. ^ "World Stadiums". Diarsipkan dari asli tanggal 25 Juli 2017. Diakses tanggal 25 Januari 2014.
  2. ^ "Tifozëve nuk iu pëlqen logo e re e Flamurtarit" (dalam bahasa Albania). Bota Sot. 4 Agustus 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 December 2018. Diakses tanggal 4 Februari 2019.
  3. ^ "Flamurtari ndërron logon, Bashkia: E jashtëligjshme" (dalam bahasa Albania). Panorama Sport. 5 Agustus 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2019. Diakses tanggal 23 Februari 2019.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement