Fitosemiotika

Fitosemiotika merupakan cabang ilmu biosemiotika yang mempelajari kemampuan pemrosesan tanda yang ada pada tumbuhan.[1] Beberapa fungsi yang dilakukan tumbuhan yang memanfaatkan semiosis sederhana ini meliputi pengenalan sel, persepsi tumbuhan, komunikasi antar sel,[1] dan transduksi sinyal tumbuhan.[2] Dibandingkan dengan pemrosesan tanda yang ada pada hewan dan manusia, fitosemiotika terjadi pada tingkat sel, dengan komunikasi antar sel tumbuhan bertindak sebagai sarana untuk mengamati lingkungan sekitarnya dan membuat keputusan dasar.[1]

Sejarah

Istilah 'fitosemiotika' diperkenalkan oleh psikolog dan semiotika Jerman, Martin Krampen, pada tahun 1981. Setelah berpartisipasi dalam sebuah eksperimen yang melibatkan subjek yang tinggal di rumah kaca berisi tanaman, Krampen menjadi tertarik pada kemampuan pemrosesan semiotik tanaman. Setelah berkonsultasi dengan karya-karya Jakob Johann von Uexküll, khususnya 'Teori Makna', Krampen mengembangkan konsep ini lebih lanjut dan akhirnya menulis "Fitosemiotika", esai pertama yang membahas topik tersebut.[3]

Perbandingan dengan zoosemiotika

Meskipun sistem biologis yang membentuk hewan dan tumbuhan pada dasarnya berbeda, terdapat perbandingan yang dapat dibuat dalam cara mereka menjalani semiotika. Salah satu kemungkinan kesamaannya adalah keberadaan semiotika vegetatif pada tumbuhan maupun hewan, karena komunikasi antarsel merupakan aspek penting dari semua kehidupan.[1] Contoh lainnya adalah kemampuan untuk membedakan aspek mana di lingkungan terdekat suatu makhluk (juga dikenal sebagai 'umwelt') yang penting bagi kelangsungan hidup mereka dan mana yang tidak.[3] Meskipun tumbuhan tidak memiliki umwelt dalam pengertian tradisional, mereka mampu menyimpulkan sumber daya di sekitarnya yang penting bagi mereka dan mana yang tidak.[3]

Aspek penting dari fitosemiotik adalah memahami bagaimana tanaman menjalani semiosis secara berbeda dari bagaimana hewan mengalaminya.[3] Salah satu perbedaan penting adalah kurangnya organ 'reseptor' dan 'efektor' pada tanaman, tidak seperti hewan yang dapat melihat lingkungan mereka dan berinteraksi dengannya dengan cara yang lebih langsung daripada tanaman.[3] Sementara tanaman mungkin tidak memiliki organ reseptor atau efektor tradisional dengan cara yang sama seperti hewan, tanaman menggunakan transduksi sinyal untuk mengirim sinyal eksternal ke seluruh tanaman untuk membuat keputusan sederhana.[2] Perbedaan penting lainnya adalah jenis tanda yang dapat diproses tanaman. Sementara tanaman hanya dapat memproses indeks, hewan juga dapat memproses ikon dan manusia dapat memproses lebih lanjut simbol.[3]

Kontroversi

Penambahan fitosemiotika ke dalam skala penelitian semiotik yang lebih luas masih menjadi kontroversi, karena menentukan sejauh mana tanaman benar-benar menunjukkan pemrosesan tanda masih menjadi perdebatan, karena jangkauan tanda apa yang dapat diproses oleh tanaman masih cukup terbatas dibandingkan dengan kemampuan semiotik manusia atau hewan.[2] Kurangnya kemampuan untuk memproses ikon[2] karena tidak memiliki organ reseptor[3] membuat semiotika tanaman secara fundamental berbeda dari semiosis pada hewan.

Tantangan lain dalam melegitimasi fitosemiotika sebagai bidang studi semiotika adalah kaburnya batasan antara kehidupan hewan dan tumbuhan. Dalam meneliti biologi tumbuhan, terdapat risiko memaksakan sifat-sifat manusia pada tumbuhan.[2] Fakta ini menyulitkan untuk memahami legitimasi semiosis tumbuhan dan komunikasi tumbuhan. Namun, jika diakui sepenuhnya, fitosemiotika dapat memperluas penelitian semiotik dari sekadar fokus pada semiotika manusia atau hewan ke ranah kehidupan lain, termasuk fungi dan bakteri.[1] Hal ini juga dapat mengubah cara kita memandang komponen-komponen yang membentuk pemrosesan tanda yang efektif dan bagaimana kehidupan non-manusia/hewan mampu melakukan pemrosesan tanda yang lebih maju.[2]

Referensi

  1. ^ a b c d e Kull, Kalevi (2000-12-31). "An introduction to phytosemiotics: Semiotic botany and vegetative sign systems". Sign Systems Studies (dalam bahasa Inggris). 28: 326–350. doi:10.12697/SSS.2000.28.18. ISSN 1736-7409.
  2. ^ a b c d e f Faucher, Kane (2014-10-01). "Phytosemiotics revisited: Botanical behavior and sign transduction". Semiotica (dalam bahasa Inggris). 2014 (202): 673–688. doi:10.1515/sem-2014-0053. ISSN 1613-3692.
  3. ^ a b c d e f g Krampen, Martin (1981-01-01). "Phytosemiotics". Semiotica (dalam bahasa Inggris). 36 (3–4): 187–209. doi:10.1515/semi.1981.36.3-4.187. ISSN 1613-3692.

Sumber

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement