Fesyen cepat

Fesyen cepat atau Mode cepat (bahasa Inggris: Fast Fashion) adalah istilah yang menggambarkan produksi pakaian murah dan berkualitas rendah secara cepat dan sering kali meniru gaya populer dari merek mode terkenal, label besar, dan desainer independen.[1] Beberapa merek terkenal dari fesyen cepat antara lain adalah H&M dan Zara.[2] Kemunculannya bermula setelah Perang Dunia II ketika biaya produksi pakaian menjadi lebih murah daripada sebelumnya sehingga membuat orang-orang Barat berhenti memperbaiki pakaian mereka yang rusak dan membeli pakaian hanya untuk sekali pakai atau langsung membuangnya ketika pakaian tersebut rusak.[3] Keberadaan fenomena fesyen cepat menjadi perhatian karena beberapa masalah yang ditimbulkannya, terutama pada kerusakan lingkungan. Industri mode diperkirakan menyumbang 8-10% emisi karbon dunia dan menyebabkan 20% polusi air dari aktivitas industri.[4]
Pengertian
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi VI daring, fesyen cepat didefinisikan sebagai produksi fesyen yang cepat, massal, dan dengan kualitas dan biaya rendah demi untuk mengikuti tren terbaru, dapat menimbulkan limbah tekstil yang merugikan lingkungan hidup.[5]
Sejarah
Fesyen cepat muncul sejak 1980-an sebagai model bisnis baru yang ditandai dengan produksi pakaian murah dan cepat yang meniru tren mode. Alih keluar dan dominasi pengecer besar memicu persaingan harga, mendorong strategi baru seperti promosi merek sendiri, perluasan produk mode, dan respons cepat terhadap perubahan tren. Berbeda dengan model tradisional yang mengandalkan dua musim produksi (semi/panas dan gugur/dingin) dengan siklus panjang, fesyen cepat memiliki siklus produksi singkat (beberapa minggu), memungkinkan penyesuaian cepat dengan tren dan selera konsumen. Model produksi ini mengurangi risiko pakaian tidak terjual, meminimalkan diskon, dan meningkatkan margin keuntungan. Perusahaan seperti H&M, Inditex, dan Forever 21 menjadi pelopor model ini, yang kini menyebar luas sejak 1990-an.[2]
Dampak lingkungan
Industri mode yang berorientasi pada fesyen cepat memiliki dampak kerusakan lingkungan yang signifikan. Industri mode diperkirakan mengonsumsi 79 triliun liter air setiap tahun dan menyumbang sekitar 20% polusi air industri. Selain itu, produksi dan distribusi pakaian termasuk aktivitas yang menghasilkan emisi gas rumah kaca terbesar, mencakup setidaknya 8% dari total emisi CO2.[2]
Masalah fesyen cepat bukan hanya pada industrinya saja, melainkan juga ada di pola konsumsinya. Frekuensi penggunaan pakaian secara umum menurun, dengan rata-rata pemakaian pakaian sebelum dibuang turun 36% dalam 15 tahun terakhir. Akibatnya, selain lonjakan produksi pakaian, semakin banyak pakaian yang dibuang setelah hanya digunakan beberapa kali.[4] Pakaian-pakaian yang dibuang tersebut kemudian berakhir di tempat pembuangan sampah di seluruh dunia, termasuk di tempat yang disebut “kuburan pakaian” di Gurun Atacama, Chili.[1]
Referensi
- ^ a b Kelleher, Dylan (05 September 2025). "Fast fashion". Britannica Encyclopaedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-26.
- ^ a b c Miranda, José Antonio; Roldán, Alba (2023-10-13). Fast Fashion (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). London: Routledge. hlm. 266–285. doi:10.4324/9780429295607-18. ISBN 978-0-429-29560-7.
- ^ Veenstra, Daria Yune Elizarrarás, Rute Carlos Matos Cardoso (07 Februari 2024). "The history of fast fashion". European Youth Portal (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-26. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ^ a b Long, Xiaoyang (26 Maret 2025). "How does fast fashion affect the environment?". Economics Observatory (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-26.
- ^ Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2016). "Fesyen cepat". KBBI VI Daring. Diakses tanggal 2025-09-26.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


