Festival Hantu
| Festival Hantu | |
|---|---|
Seorang pria melempar uang kertas sembahyang (Kim Cua) saat Festival Hantu Lapar di Vihara Gunung Timur, Medan, Indonesia. | |
| Nama resmi | |
| Nama lain | Festival Roh |
| Dirayakan oleh | Buddhisme dan Taoisme |
| Makna | Untuk memperingati pembukaan gerbang Neraka dan Surga, yang memungkinkan semua hantu menerima makanan dan minuman |
| Kegiatan | Penghormatan orang yang telah meninggal, persembahan makanan, pembakaran uang arwah, pembacaan mantra |
| Tanggal | Hari ke-15 bulan ke-7 dalam kalender lunar |
| Tahun 2026 | Error in {{Calendar date}} - Check |holiday= unknown holiday Festival Hantu |
| Tahun 2027 | Error in {{Calendar date}} - Check |holiday= unknown holiday Festival Hantu |
| Tahun 2028 | Error in {{Calendar date}} - Check |holiday= unknown holiday Festival Hantu |
| Terkait dengan |
|
| Festival Hantu | |||||||||||||||||||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Food offerings for the Ghost Festival | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 中元節 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 中元节 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Makna harfiah: | mid-origin festival | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||
| nama alternatif | |||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 盂蘭盆節 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 盂兰盆节 | ||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||

| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa 华人民间信仰 |
|---|
Festival Hantu atau Festival Hantu Lapar (Hanzi: 中元節; pinyin: zhōng yuán jié), atau juga dikenal sebagai Festival Zhongyuan dalam Taoisme dan Festival Yulanpen atau Ulambana dalam Buddhisme, adalah festival tradisional yang diadakan di beberapa negara Asia Timur dan Tenggara. Menurut kalender Imlek, Festival Hantu jatuh pada malam ke-15 bulan ketujuh (tanggal ke-14 di sebagian wilayah Tiongkok selatan).[1][2][3]
Festival ini dikenal sebagai Chit Gwee Pua (Hanzi Hokkien: 七月半; Pe̍h-ōe-jī: Chhit-goe̍h-pòaⁿ ) atau Chit Nyiat Pan (Hanzi Hakka: 七月半; Pha̍k-fa-sṳ: Chhit -ngie̍t-pan), Cioko atau Sembahyang Rebutan. Para pengunjung berkumpul di sekitar kelenteng atau vihara dan membawa persembahan kepada arwah yang meninggal secara sial, lalu membagikannya kepada fakir miskin. Cara orang-orang berebut persembahan inilah yang menjadi asal nama festival ini, dan festival ini lebih dikenal di Pulau Jawa dan Kalimantan. Daerah lain seperti Sumatera Utara, Riau, dan Kepulauan Riau juga mengadakan konser langsung yang dikenal sebagai Getai (Hanzi sederhana: 歌台; Hanzi tradisional: 歌臺; Pinyin: gētái).[4][5][6][7]
Sejarah
Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan 7 penanggalan Tionghoa. Bulan ke-7 Imlek juga dikenal sebagai Bulan Hantu (Chinese ghost month) di mana ada kepercayaan bahwa dalam kurun waktu satu bulan ini, pintu alam baka terbuka dan hantu-hantu di dalamnya dapat bersuka ria berpesiar ke alam manusia. Demikian halnya sehingga pada pertengahan bulan 7 diadakan perayaan dan sembahyang sebagai penghormatan kepada hantu-hantu tersebut. Tradisi ini sebenarnya merupakan produk masyarakat agraris pada zaman dahulu yang bermula dari penghormatan kepada leluhur serta dewa-dewa supaya panen yang biasanya jatuh di musim gugur dapat terberkati dan berlimpah. Adanya pengaruh Buddhisme memunculkan kepercayaan mengenai hantu-hantu kelaparan (makhluk Preta) yang perlu dijamu pada masa kehadiran mereka di dunia manusia.
Di dalam Buddhisme, tradisi ini disebut sebagai Ulambana yang juga dirayakan dan eksis dalam kebudayaan Jepang, Vietnam dan Korea. Namun, Ulambana tidak dapat diartikan langsung sebagai Festival Hantu dan sebaliknya juga. Terlepas dari semua mitologi religius di atas, hikmah dari perayaan ini sebenarnya adalah penghormatan kepada leluhur dan penjamuan fakir miskin. Pada hari itu diadakan pembacaan parita dan pesembahan untuk roh-roh gentayangan yang tidak berkeluarga atau yang ditelantarkan oleh keluarganya. Sebab itu, perayaan ini secara umum dikenal dengan nama Sembahyang Rebutan (Cioko).[7] Setelah perayaan selesai, barang-barang persembahan (makanan yang dipersembahkan) diberikan kepada fakir miskin.
Tanggal
| Tahun | Tanggal Masehi |
|---|---|
| 2551 | 14 Agustus 2000 |
| 2552 | 2 September 2001 |
| 2553 | 23 Agustus 2002 |
| 2554 | 12 Agustus 2003 |
| 2555 | 30 Agustus 2004 |
| 2556 | 19 Agustus 2005 |
| 2557 | 8 Agustus 2006 |
| 2558 | 27 Agustus 2007 |
| 2559 | 15 Agustus 2008 |
| 2560 | 3 September 2009 |
| Tahun | Tanggal Masehi |
|---|---|
| 2561 | 24 Agustus 2010 |
| 2562 | 14 Agustus 2011 |
| 2563 | 31 Agustus 2012 |
| 2564 | 20 Agustus 2013 |
| 2565 | 10 Agustus 2014 |
| 2566 | 28 Agustus 2015 |
| 2567 | 17 Agustus 2016 |
| 2568 | 5 September 2017 |
| 2569 | 25 Agustus 2018 |
| 2570 | 15 Agustus 2019 |
Lihat pula
Referensi
- ^ "Zhongyuan festival". China.org.cn. China Internet Information Center. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 19, 2017. Diakses tanggal 1 November 2017.
- ^ Chow 2015
- ^ Chow, page 4, quoting 1783 Qianlong era "Annals of Guishan County" (歸善縣志) Scroll 15 - Customs:
'鬼節原是農曆七月十五,但元末明初之際,有言客家為了躲避元兵,提前一日過節,以便南下走難,自此鬼節就變成七月十四,流傳至今。'
English translation:
'The Ghost Festival originally was on the 15th day of the 7th month in the lunar calendar, but during the late Yuan to early Ming period, it's said that the Hakkas in order to escape the Yuan troops, celebrated the Ghost Festival one day earlier, in order to escape disaster they fled southward. Since that time and continuing today, the date of the Ghost Festival changed to the 14th day of the 7th [lunar] month' [in parts of Southern China]. - ^ (Inggris)Cioko festival appeases the poor, hungry spirits[pranala nonaktif permanen], The Jakarta Post. Akses:01-09-2012
- ^ (Indonesia)Sembahyang Kubur dan Rampas Masih Sporadis, m.equator-news.com. Akses:01-09-2012
- ^ (Indonesia)Shen Mu Miau Siap Gelar Sembahyang Rebut, Bangkapos. Akses:01-09-2012
- ^ a b Bidang Litbang PTITD/ Matrisia Jawa Tengah. Juli 2007. "Pengetahuan Umum Tentang Tri Dharma", Edisi Pertama. Semarang: Benih Bersemi.
Pranala luar
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



