Festival Seni Multatuli
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Agustus 2025) |
Festival Seni Multatuli (disingkat FSM) adalah perhelatan budaya tahunan yang dilaksanakan di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia sejak tahun 2018. Festival ini digagas dengan tujuan membuka ruang interaksi kreatif antarbudaya dan melestarikan nilai-nilai kemanusiaan yang diusung oleh Multatuli (Eduard Douwes Dekker) melalui karya monumentalnya Max Havelaar.[1]
Pada tahun 2025, FSM mengusung tema "Orang-Orang Baru dari Banten", yang diadaptasi dari judul naskah drama karya Dhalia (Lembaga Kebudayaan Rakyat, 1959) berdasarkan novel "Sekali Peristiwa di Banten Selatan" karya Pramoedya Ananta Toer. Penyelenggaraan tahun ini juga bertepatan dengan peringatan seratus tahun kelahiran Pramoedya, sehingga festival difungsikan sebagai ruang refleksi atas warisan pemikirannya.
Latar Belakang
Festival ini lahir sebagai respons terhadap keprihatinan atas terkikisnya nilai-nilai luhur budaya daerah sekaligus sebagai upaya menghadirkan gagasan antikolonialisme dan prinsip dekolonialisasi dalam ruang kebudayaan.[2] FSM mengusung narasi kemanusiaan yang terkandung dalam novel karya Multatuli. Bersamaan dengan itu, FSM juga mengangkat nilai-nilai luhur dari kebudayaan lokal dalam bentuk ekspresi dan estetika, seperti kesenian tradisional dan pengetahuan lokal, sehingga mampu menarik minat berbagai kalangan masyarakat untuk mengunjungi dan mengapresiasi keberadaan Museum Multatuli.[1]
Program-program FSM menghadirkan upaya revitalisasi warisan budaya daerah dengan pendekatan kuratorial dan kolaboratif yang mempertemukan tradisi dengan bentuk-bentuk ekspresi seni kontemporer.[3] Pendekatan ini tampak, misalnya, dalam pementasan Opera Saidjah & Adinda (2018) yang melibatkan Ananda Sukarlan berkolaborasi dengan musisi tradisi beluk, menghadirkan kembali narasi kolonial dari Max Havelaar melalui idiom musikal khas Lebak.[3] Eksperimen serupa diwujudkan dalam kolaborasi angklung buhun dengan musik modern yang melahirkan kelompok musik Buhunna Sora (2021), sebagai jembatan antara warisan budaya dan generasi muda.
Tema-tema yang diangkat sejak penyelenggaraan pertama—seperti “Narasi sebagai Aset” (2018),[1] “Kopi dan Seni” (2019), “Tunggul Buhun” (2021), “Sora Karuhun” (2022), “Dari yang Kultur dan Menghibur” (2023), hingga "Jelajah Budaya Bumi Multatuli" (2024)—mencerminkan konsistensi festival dalam menghubungkan narasi lokal dengan wacana kemanusiaan universal, sembari menegaskan posisi budaya Lebak dalam percakapan global tentang dekolonialisasi.
Penyelenggaraan
Sejak pertama kali digelar pada tahun 2018 hingga 2021, Festival Seni Multatuli (FSM) diinisiasi oleh komunitas pegiat Museum Multatuli dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Lebak serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui Platform Indonesiana.
Pada periode 2022 hingga 2024, penyelenggaraan festival beralih di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak. Mulai tahun 2025, pengelolaan FSM dilaksanakan oleh Yayasan Multatuli Indonesia. Pada edisi ini, kegiatan festival diselenggarakan dengan dukungan dari Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Kementerian Kebudayaan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Pemerintah Kabupaten Lebak.
Referensi
- ^ a b c Asykura, Kayla Salma (2024). Strategi Komunikasi Pemasaran Museum Multatuli Melalui Kegiatan Festival Seni Multatuli Dalam Meningkatkan Minat Pengunjung di Kabupaten Lebak (Skripsi). Universitas Komputer Indonesia.
- ^ Deslatama, Yandhi (8 September 2018). "Semangat Lawan Kebodohan dalam Festival Anti-Kolonialisme Multatuli". Liputan6.
- ^ a b Firdausi, Fadrik Aziz (14 September 2018). "Opera Saidjah-Adinda: Kolaborasi Musik Klasik dan Beluk Banten". Tirto ID.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


