Festival Lumpur Boryeong
| Boryeong Mud Festival | |
|---|---|
| Jenis | Festival |
| Tanggal | Juli |
| Frekuensi | Tahunan |
| Lokasi | Boryeong, Chungcheongnam-do, Korea Selatan |
| Acara pertama | 1998 |
Festival Lumpur Boryeong (hangeul: 보령머드축제) merupakan acara tahunan di kota Boryeong, pesisir barat Korea Selatan, yang terkenal secara internasional dan menarik ribuan wisatawan setiap tahun, dan menjadikannya ajang promosi kesehatan dan kecantikan melalui festival ini.[1]
Sejarah dan perkembangannya
Pada awal 1990-an, Pantai Daecheon dikenal sebagai pantai dengan air laut keruh akibat lumpur dan pungutan harga yang berlebihan, sehingga menurunkan minat wisatawan. Kondisi ekonomi Boryeong semakin memburuk setelah penutupan tambang batu bara akibat kebijakan rasionalisasi industri.[2]
Pada tahun 1994, Wali Kota Park Sang-don berupaya memulihkan perekonomian daerah dengan memanfaatkan lumpur setempat sebagai potensi wisata dan bahan kosmetik. Berdasarkan penelitian Dr. Kim Jae-baek dari Universitas Wonkwang, lumpur Boryeong terbukti memiliki kualitas terbaik dan aman bagi tubuh manusia. Pemerintah setempat kemudian bekerja sama dengan lembaga penelitian kimia dan perusahaan kosmetik Amore Pacific untuk mengembangkan produk perawatan kulit berbahan dasar lumpur. Pada Juli 1994, dibuka Daecheon Cheonnyeon Jinheuk Masajihauseu (hangeul: 대천 천연 진흙 마사지하우스) merupakan rumah pijat lumpur alami sebagai sarana promosi wisata lumpur yang menarik minat wisatawan, terutama dari luar negeri. Keberhasilan ini mengantarkan proyek Boryeong Mud Pack meraih penghargaan nasional pada tahun 1995.[2]
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Kim Hak-hyun (1995–1997), pengembangan produk kosmetik lumpur dilanjutkan, meski penjualannya belum signifikan. Pada 1997, Kota Boryeong mengadakan lima festival, antara lain Festival Kepiting, Festival Budaya Manse Boryeong, Festival Han-nae Doldaribapgi, Festival Tiram Cheonbuk, dan Festival Budaya Pantai Daecheon. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Boryeong kemudian menugaskan sebuah penelitian berjudul Studi tentang Upaya Peningkatan Festival Budaya Manse Boryeong yang dipimpin oleh Prof. Jeong Kang-hwan dari Universitas Pai chai. Dalam kajian tersebut, ia mengusulkan agar festival yang berorientasi pada masyarakat lokal diubah menjadi festival pariwisata, dengan menjadikan Festival Lumpur sebagai tema khusus untuk mengangkat citra Boryeong sebagai destinasi unggulan di Provinsi Chungcheong Selatan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Pemerintah Kota Boryeong memutuskan untuk tidak lagi memodifikasi Festival Budaya Manse Boryeong, melainkan menciptakan sebuah festival baru bertema budaya dan pariwisata yang menonjolkan pengalaman lumpur serta mempromosikan produk kosmetik berbahan lumpur.[2]
Pada 16–19 Juli 1998 di Pantai Daecheon Festival Lumpur Boryeong pertama diselenggarakan dan berhasil melampaui target pemerintah. Prof. Jeong Kang-Hwan, yang juga merupakan anggota Komite Evaluasi Festival Budaya dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata saat itu, berperan penting dalam menjadikan festival ini diakui secara nasional sebagai salah satu festival budaya dan pariwisata resmi. Sejak saat itu, Festival Lumpur Boryeong berkembang menjadi salah satu festival terbesar di Korea Selatan dan diakui sebagai salah satu festival unggulan nasional oleh Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata. Festival ini melampaui batas negara, ras, dan usia, dengan partisipasi ribuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia.
Referensi
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


