Festival Laba

Festival Laba
Semangkuk bubur laba.
Nama resmiLàbā Jié, Lap Bak Jit (臘八節, 腊八节)
Dirayakan olehEtnis Tionghoa
MaknaPerayaan akhir tahun, perayaan pencerahan Buddha
KegiatanMengonsumsi bubur laba, dll.
TanggalHari ke-8 bulan lunar ke-12
Tahun 20257 Januari
Terkait denganHari Bodhi
Rohatsu (di Jepang)
Festival lain yang terkait:
Waisak (di Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos)

Festival Laba (Hanzi: 臘八節) merupakan perayaan tradisional Tiongkok yang jatuh pada hari kedelapan bulan La (atau Layue 臘月), yaitu bulan kedua belas dalam kalender Tiongkok. Perayaan ini menandai dimulainya masa menuju Tahun Baru Imlek, dan salah satu tradisi khasnya adalah menikmati bubur laba.

Awalnya, Festival Laba belum memiliki tanggal tetap hingga masa Dinasti Selatan dan Utara, ketika pengaruh ajaran Buddha mulai masuk. Sejak saat itu, festival ini ditetapkan pada hari kedelapan bulan kedua belas, yang bertepatan dengan hari pencerahan Buddha. Karena itu, banyak tradisi dalam Festival Laba berkaitan erat dengan ajaran Buddha dan memiliki hubungan langsung dengan perayaan Rohatsu di Jepang serta Hari Bodhi di Asia Selatan.

Festival Laba dipandang sebagai permulaan dari perayaan Tahun Baru Imlek, yang biasanya berlangsung sekitar tiga minggu setelahnya.[1] Pada masa lalu, terdapat tradisi menabuh genderang untuk mengusir penyakit dan roh jahat. Kebiasaan ini berakar dari praktik sihir kuno dan hingga kini masih dipertahankan di beberapa daerah, seperti di Xinhua, Provinsi Hunan.[2]

Sejarah

Nama Festival Laba berasal dari tanggal perayaannya dalam kalender Tiongkok. Kata la merujuk pada bulan kedua belas atau bulan terakhir dalam setahun, sedangkan ba berarti "delapan". Di Tiongkok kuno, angka delapan dikaitkan dengan upacara persembahan kepada delapan dewa pada akhir tahun.[3] Dalam bentuk awalnya, festival ini dirayakan dengan melakukan persembahan kepada para dewa dan leluhur sebagai ungkapan doa untuk keberuntungan, kesehatan, keselamatan, serta hasil panen yang melimpah di tahun yang baru. Istilah la sendiri awalnya digunakan untuk menyebut tradisi persembahan tersebut.[1]

Seiring dengan masuknya ajaran Buddha ke Tiongkok pada abad pertama Masehi, Festival Laba mulai diasosiasikan dengan peringatan pencerahan Siddhartha Gautama, atau Buddha. Pada masa Dinasti Utara dan Selatan, tanggal perayaan ini kemudian ditetapkan secara pasti, yakni pada hari kedelapan bulan kedua belas.[1] Selama Dinasti Qing, perayaan dan upacara untuk memperingati Festival Laba secara resmi diadakan di Kuil Yonghe yang terletak di Beijing.[4]

Festival Laba
Hanzi tradisional: 臘八
Hanzi sederhana: 腊八
Makna harfiah: "Delapan La"

Dalam budaya populer

Festival ini relevan dengan plot novel Jin Yong yang berjudul Ode to Gallantry.[5] Pada tahun 2011, Google menerbitkan Google Doodle untuk memperingati festival tersebut.[6]

Referensi

  1. ^ a b c "The Laba Festival". www.magzter.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 November 2022.
  2. ^ "腊八节的传说和习俗(图)". Diarsipkan dari asli tanggal 2011-01-14.
  3. ^ Guang, Xing (2013-11-01). "Buddhist Impact on Chinese Culture". Asian Philosophy. 23 (4): 305–322. doi:10.1080/09552367.2013.831606. ISSN 0955-2367.
  4. ^ "新年纳余庆 嘉节启新芳——古诗词里的春节习俗". guoqing.china.com.cn. Diakses tanggal 22 November 2022.
  5. ^ Jenxi. "Ode to Gallantry". wuxiasociety.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-08.
  6. ^ "Laba Rice Porridge Festival 2011". Diakses tanggal 11 January 2015.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement