Evi Mariani

Evi Mariani adalah seorang jurnalis Indonesia yang dikenal sebagai pendiri Project Multatuli, sebuah inisiatif jurnalisme publik yang mengutamakan pelaporan tentang orang-orang dan kelompok yang dipinggirkan.

Pendidikan

Evi meraih gelar sarjana di bidang jurnalisme dari program Ilmu Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM). Semasa berkuliah di UGM, Evi aktif di lembaga pers mahasiswa Sintesa sebagai reporter, penata letak, dan penggalang dana.[1] Di Sintesa, Evi sempat mengemban tugas sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan bersama Amalinda Savirani, sahabatnya yang pada Februari 2025 menjadi Guru Besar UGM di bidang bisnis dan politik.[2]

Evi melanjutkan pendidikan di bidang Kajian Urban dan memeroleh gelar master dari Universiteit van Amsterdam pada 2007.[3] Pada 2011–2012, Evi menerima beasiswa Fulbright sebagai Hubert H. Humphrey Fellow di University of Maryland.[4]

Karier

Semasa berkuliah di UGM, Evi meluncurkan Langkah Bergerak, sebuah publikasi yang bertujuan mempromosikan pendidikan politik di kalangan masyarakat Tionghoa pada 1997, tak lama sebelum berakhirnya pemerintahan Orde Baru di Indonesia.[4] Setelah lulus dari UGM, Evi menulis untuk majalah Pantau di bawah bimbingan redaktur Andreas Harsono dan Linda Christanty.[5]

Pada November 2002, Evi memulai karier di publikasi berbahasa Inggris terbesar di Indonesia, The Jakarta Post, sebagai reporter pemula. Setelah hampir 15 tahun di The Jakarta Post, Evi berlabuh ke kanal publikasi berbasis ilmiah The Conversation sebagai Redaktur Bidang Politik dan Masyarakat pada April 2017. Pada Februari 2018, Evi kembali ke The Jakarta Post sebagai Redaktur Pelaksana. Pada Januari 2021, Evi memilih mundur dari posisinya di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja di berbagai lembaga media menyusul pandemi COVID-19, termasuk The Jakarta Post.[6]

Pada April 2021, Evi mendirikan Project Multatuli, sebuah inisiatif jurnalisme publik yang fokus melaporkan isu-isu tentang orang-orang dan kelompok yang dipinggirkan, bersama Ahmad Arif dan Fahri Salam. Dalam tulisannya, Evi menyebut Project Mutatuli sebagai wadah mewujudkan jurnalisme yang "lebih mendengarkan dan melibatkan banyak pihak" serta "menjadi alternatif terhadap jurnalisme yang ditopang oligarki atau pasar."[7]

Penghargaan

Pada masanya sebagai Redaktur Pelaksana di The Jakarta Post, Evi turut berkontribusi dalam laporan investigasi kolaboratif #NamaBaikKampus bersama Tirto dan Vice Media yang menguak fenomena kekerasan seksual di perguruan tinggi di Indonesia.[8] Laporan yang memuat testimoni dari 174 penyintas kekerasan seksual dari 79 perguruan tinggi negeri, swasta, dan keagamaan ini mendapatkan penghargaan Excellence in Public Service Journalism dari Society of Publishers in Asia pada Agustus 2020.[9] Laporan #NamaBaikKampus serta laporan lain terkait kerusuhan akibat kejahatan rasisme di Wamena juga membawa Evi dan The Jakarta Post menerima Tasrif Award 2020 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI).[10]

Pada 2023, Evi menjadi salah satu juri World Press Photo Contest[11] serta mendapatkan nominasi Penghargaan Kebebasan Pers dari Reporters without Borders untuk kategori independensi atas kerjanya membangun Project Multatuli.[12]

Referensi

  1. ^ "PIPMI direktori pers mahasiswa Indonesia". pipmi.tripod.com. Diakses tanggal 2025-05-11.
  2. ^ "Akademisi sekaligus Aktivis Perempuan, Prof. Amalinda Dikukuhkan sebagai Guru Besar – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik". Diakses tanggal 2025-05-11.
  3. ^ Mariani, Evi. "Evi Mariani". projectmultatuli.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-10.
  4. ^ a b aminef (2019-01-28). "Evi Mariani Sofian". AMINEF - American Indonesian Exchange Foundation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-05-10.
  5. ^ DIVERANTA, ADITYA (2021-04-10). "Daniel Dhakidae Mewariskan Kearifan Seorang Intelektual". kompas.id. Diakses tanggal 2025-05-11.
  6. ^ "Remotivi - Pandemi dan PHK: Jurnalisme Indonesia Kehilangan Sebagian dari Wartawan Terbaiknya". Remotivi. Diakses tanggal 2025-05-11.
  7. ^ Mariani, Evi (2021-05-21). "Mengapa Kami Mendirikan Project Multatuli". Project Multatuli. Diakses tanggal 2025-05-10.
  8. ^ Post, The Jakarta. "Victims of sexual abuse on campus seek justice, support on social media - National". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-10.
  9. ^ Post, The Jakarta. "'The Jakarta Post' wins 2020 SOPA Award with #NamaBaikKampus collaboration - National". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-10.
  10. ^ Post, The Jakarta. "'The Jakarta Post' wins Tasrif Award for collaborative investigations - National". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-10.
  11. ^ "Evi Mariani | World Press Photo". www.worldpressphoto.org. Diakses tanggal 2025-05-11.
  12. ^ "Nominees for 2023 RSF Press Freedom Prize | RSF". rsf.org (dalam bahasa Inggris). 2023-11-06. Diakses tanggal 2025-05-11.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement