Enaktivisme

Enaktivisme adalah suatu posisi dalam ilmu kognitif yang berpendapat bahwa kognisi muncul melalui interaksi dinamis antara organisme yang bertindak dan lingkungannya.[1] Pendekatan ini menegaskan bahwa lingkungan suatu organisme dihadirkan atau diwujudkan melalui aktivitas sensorimotor organisme tersebut, bukan sebagai sesuatu yang sudah ada secara independen. Seperti dijelaskan oleh Varela dan koleganya:

“Poin kuncinya adalah bahwa suatu spesies membentuk dan menentukan sendiri ranah masalahnya... ranah ini tidak eksis ‘di luar sana’ dalam suatu lingkungan yang menjadi landasan bagi organisme yang seolah-olah dijatuhkan atau diterjunkan ke dunia. Sebaliknya, makhluk hidup dan lingkungannya berdiri dalam hubungan saling menentukan atau spesifikasi timbal balik.” (hlm. 198).[2]

Pendekatan ini menolak gagasan bahwa organisme secara pasif menerima informasi dari lingkungannya untuk kemudian diubah menjadi representasi internal. Sebaliknya, sistem kognitif alami berpartisipasi aktif dalam penciptaan makna, melakukan interaksi yang bersifat transformasional dan bukan sekadar informasional: dengan kata lain, mereka mewujudkan atau “menenun” dunianya sendiri.[3] Para penulis teori ini berpendapat bahwa meningkatnya penggunaan terminologi enaktif menandakan datangnya era baru dalam pemikiran ilmu kognitif.[3] Namun, bagaimana tindakan-tindakan yang terlibat dalam enaktivisme berkaitan dengan pertanyaan klasik tentang kehendak bebas masih menjadi perdebatan aktif hingga kini.[4]

Istilah enaktivisme berkaitan erat dengan istilah enaksi (enaction), yang didefinisikan sebagai “cara di mana subjek persepsi secara kreatif menyesuaikan tindakannya terhadap tuntutan situasi yang dihadapinya.”[5] Pengenalan istilah enaction dalam konteks ini dikaitkan dengan Francisco Varela, Evan Thompson, dan Eleanor Rosch dalam karya klasik mereka The Embodied Mind (1991),[5][6] yang memperkenalkan istilah tersebut untuk menekankan keyakinan bahwa kognisi bukanlah representasi dari dunia yang telah ada sebelumnya oleh pikiran yang telah ada sebelumnya, melainkan perwujudan dunia dan pikiran berdasarkan sejarah tindakan-tindakan organisme di dalam dunia.[2]

Gagasan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Thompson dan para pemikir lainnya,[1] dengan menekankan bahwa pengalaman tentang dunia merupakan hasil interaksi timbal balik antara kapasitas sensorimotor organisme dan lingkungannya.[6] Namun demikian, beberapa penulis berpendapat bahwa masih diperlukan fungsi mediasi representasional dalam derajat tertentu dalam pendekatan baru terhadap ilmu tentang pikiran ini.[7]

Fokus awal enaktivisme pada keterampilan sensorimotor telah dikritik sebagai “secara kognitif bersifat marjinal”,[8] tetapi teori ini kemudian diperluas untuk mencakup aktivitas kognitif tingkat tinggi, termasuk interaksi sosial.[3] Dalam pandangan enaktif, pengetahuan bersifat konstruktif: ia dibangun oleh agen melalui interaksi sensorimotornya dengan lingkungan, serta dikonstruksi bersama (co-constructed) di antara dan di dalam spesies melalui interaksi bermakna satu sama lain. Dalam bentuknya yang paling abstrak, pengetahuan juga dikonstruksi secara sosial dan linguistik di antara individu-individu manusia. Ilmu pengetahuan, dalam kerangka ini, dipahami sebagai bentuk khusus dari konstruksi sosial pengetahuan, yang memungkinkan manusia memahami dan memprediksi peristiwa di luar jangkauan kognitif langsungnya, serta membangun bentuk pengetahuan ilmiah yang lebih lanjut dan lebih kuat.

Enaktivisme memiliki keterkaitan erat dengan pendekatan kognisi terletak (situated cognition) dan kognisi terwujud (embodied cognition), serta dipandang sebagai alternatif terhadap kognitivisme, komputasionalisme, dan dualisme Cartesian.[9]

Referensi

  1. ^ a b https://lchc.ucsd.edu/MCA/Mail/xmcamail.2012_03.dir/pdf3okBxYPBXw.pdf
  2. ^ a b Varela, Francisco J.; Rosch, Eleanor; Thompson, Evan (1992-11-13). The Embodied Mind: Cognitive Science and Human Experience (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-26123-4.
  3. ^ a b c Stewart, John; Gapenne, Olivier; Paolo, Ezequiel A. Di (2010). Enaction: Toward a New Paradigm for Cognitive Science (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-01460-1.
  4. ^ "Wayback Machine" (PDF). www.humanamente.eu. Diakses tanggal 2025-11-07.
  5. ^ a b Protevi, John (2006-01-01). A Dictionary of Continental Philosophy (dalam bahasa Inggris). Yale University Press. ISBN 978-0-300-11605-2.
  6. ^ a b Wilson, Robert A.; Foglia, Lucia (2017). Zalta, Edward N.; Nodelman, Uri (ed.). Embodied Cognition (Edisi Spring 2017). Metaphysics Research Lab, Stanford University.
  7. ^ Rowlands, Mark (2010-08-13). The New Science of the Mind: From Extended Mind to Embodied Phenomenology (dalam bahasa Inggris). MIT Press. ISBN 978-0-262-28894-1.
  8. ^ "Philosophy". School of Philosophy, Psychology and language sciences (dalam bahasa Inggris). 2024-10-14. Diakses tanggal 2025-11-07.
  9. ^ Rohde, Marieke (2010-03-01). ENACTION, EMBODIMENT, EVOLUTIONARY ROBOTICS: Simulation Models for a Post-Cognitivist Science of Mind (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-91216-34-3.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement