Ekosida di kawasan Pantai Utara Jawa

Pengelolaan banjir tetap menjadi tantangan di wilayah Semarang karena kota ini rawan terhadap banjir rob (banjir pasang surut). Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Beberapa bagian Semarang, seperti kawasan perumahan Candi Baru yang ditampilkan di kiri bawah citra, berada tepat di atas permukaan laut.

Ekosida di kawasan Pantai Utara Jawa merupakan kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas hidup masyarakat secara sistematis di sekitar Pantai Utara Jawa (Pantura) akibat sejumlah proyek pembangunan dan pengembangan industri. Wilayah Pantura telah lama terdampak abrasi, penurunan muka tanah, dan banjir rob, tetapi kerusakan lingkungan ini kemudian dipercepat oleh proyek pemerintah dan swasta, antara lain Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Proyek Strategis Nasional (PSN).[1]

Pemerintah Indonesia telah menggunakan sekitar 18.882 hektar lahan untuk pengembangan kawasan industri di Pantura yang tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.[1] Pembangunan ini diiringi dengan eksploitasi air tanah dan migas. Dalam jangka panjang, ekosida di kawasan ini bisa berujung pada tenggelamnya daerah Pantura dalam waktu lebih cepat dari yang diperkirakan. Sebelumnya, Climate Central, organisasi nirlaba perubahan iklim yang terdiri atas ilmuwan dan jurnalis lingkungan, memprediksi wilayah Pantura akan tenggelam pada 2030 dan 2100.[1]

Beberapa dampak lingkungan yang telah dan sedang terjadi antara lain adalah perkampungan yang tenggelam, hilangnya kawasan hutan mangrove akibat alih fungsi lahan, penurunan muka tanah yang semakin cepat, banjir bandang, berkurangnya tangkapan ikan, dan kerusakan ekosistem pesisir.[2]

Kawasan terdampak

Pemandangan pesisir Kota Gresik
Pemandangan pesisir Kota Gresik

Wilayah Pantura membentang dari daerah pesisir Cirebon hingga Surabaya.[3] Ada empat daerah yang menjadi lokasi utama proyek pemerintah, yaitu Gresik (Jawa Timur), Batang dan Kendal (Jawa Tengah), serta Indramayu (Jawa Barat).[4] Sedangkan beberapa kawasan lainnya terdampak oleh alih fungsi lahan yang dilakukan perusahaan swasta, misalnya di Bukit Semarang Baru (BSB), Jawa Tengah oleh Sinar Mas. Sebelum menjadi kota terencana untuk kepentingan bisnis dan perumahan, lahan BSB merupakan hutan belantara. Pembangunan BSB berakibat pada banjir yang kini kerap menerjang wilayah tersebut.[5]

Harian Kompas menyebutkan bahwa di kawasan Pantura "terdapat 70 kawasan industri, 5 kawasan ekonomi khusus, 28 kawasan peruntukan industri, dan juga 5 wilayah pusat pertumbuhan industri".[6] Beberapa wilayah pesisir Jawa Tengah juga menjadi tujuan relokasi pabrik-pabrik dari Jawa Barat dan Banten. Para pengusaha memandang Jawa Tengah sebagai lokasi strategis karena upah minimum yang lebih rendah dan adanya fasilitas dari pemerintah berupa kawasan industri dan infrastruktur pendukungnya. Ada delapan kawasan industri di Jawa Tengah yang tercatat hingga Juli 2024.[5] Beberapa kota di Pantura yang disasar untuk relokasi di antaranya adalah Batang, Tegal, Pekalongan,[7] Semarang, Kendal, dan Demak.[8] Sebagian besar pabrik yang berada di sejumlah kawasan industri di pesisir Semarang, seperti di Kawasan Industri Lamicitra dan Pelabuhan Tanjung Emas,[9] dilaporkan masih melakukan eksploitasi air tanah, sehingga semakin memicu penurunan muka tanah di wilayah itu.[10]

Pemerintah di era Prabowo Subianto juga telah mencanangkan proyek PSN berupa revitalisasi akuakultur (tambak) di wilayah Jawa Barat, yang meliputi Kabupaten Karawang, Bekasi, Subang, dan Indramayu. Total lahan yang akan direvitalisasi mencapai 78.550 hektar tambak yang mangkrak selama 30 tahun lebih, dengan tahap awal pengelolaan seluas kurang lebih 20 ribu hektar.[11] Para pengamat khawatir upaya ini akan menambah kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah itu. Kawasan seluas 20.413,25 hektar yang diklaim merupakan bekas tambak telantar tersebut mencakup hutan lindung dan hutan produksi yang berada di empat kabupaten. Beberapa kawasan merupakan daerah yang sering terdampak banjir rob dan rentan abrasi.[12] Selain itu, revitalisasi tambak ini dikhawatirkan akan menghilangkan hutan mangrove dan merusak ekosistem di dalamnya, seperti habitat kepiting dan biota laut lainnya.[11]

Dampak kerusakan

Penurunan muka tanah

Pesisir Pantai Utara secara alami mengalami subsidensi tanah sekitar 1-2 cm per tahun. Adanya kawasan industri menambah beban penurunan hingga mencapai total minimal 4 cm setiap tahunnya.[1] Sumber dari Kompas bahkan menyebutkan penurunan muka tanah di sejumlah kota bisa mencapai 15 cm per tahun, salah satunya di Pekalongan.[6] Penurunan muka tanah ini semakin memperparah banjir rob yang sering terjadi.[2]

Banjir rob

Banjir rob yang terjadi di Desa Banyuwangi, Manyar, Gresik, cenderung semakin dalam, dari yang semula berkisar 5-10 cm, naik hingga mencapai 15-20 cm pada 2022[13] dan 60-70 cm pada 2024.[14] Warga menduga hal ini salah satunya diakibatkan oleh reklamasi lahan untuk proyek JIIPE (Java Integrated Industrial and Ports Estate).[13] Pada Desember 2024, banjir rob menggenangi Desa Banyuwangi di Kecamatan Manyar, Desa Campurejo di Kecamatan Panceng, Desa Pangkahwetan dan Pangkahkulon di Kecamatan Ujungpangkah, Desa Tajungwidoro di Kecamatan Dukun, dan Desa Sukorejo di Kecamatan Kebomas.[14] Saat itu, kedalaman air bisa mencapai 30-40 cm di beberapa desa, dan 60-70 cm di Desa Banyuwangi. Selain itu, fenomena superbulan juga turut memengaruhi intensitas banjir rob yang melanda wilayah tersebut.[15]

Wilayah pesisir yang tenggelam

Berdasarkan data WALHI, terdapat 109 desa tenggelam di Jawa Tengah dari 1.148 desa yang tenggelam di Indonesia pada 2020.[16] Diperkirakan pada 2030, sejumlah kecamatan yang berlokasi di pesisir Pantura dari Jawa Barat hingga Jawa Timur akan tenggelam. Di Jawa Barat, daerah terancam tenggelam meliputi pesisir Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, dan Cirebon.[17] Beberapa wilayah lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah area pesisir di Demak,[18][19] Pekalongan, Semarang, dan Surabaya.[20]

Penyempitan ruang tangkapan ikan dan sungai

Sejumlah nelayan di beberapa daerah Pantura telah mengalami krisis berupa penyempitan ruang tangkapan ikan dan menurunnya volume tangkapan. Selama beberapa tahun terakhir, nelayan di pesisir Manyar, Gresik mengeluhkan jumlah tangkapan ikan yang terus menurun. Pada akhirnya, banyak di antara mereka yang terpaksa beralih profesi menjadi pengemudi ojek daring. Hal ini diakibatkan oleh reklamasi, pengurukan, dan pembangunan industri Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik yang dimulai sekitar 2016.[2]

Penyempitan sungai disebut juga terjadi di Manyar, Gresik, sebagai akibat pembangunan megraproyek JIIPE, salah satunya karena pembangunan gorong-gorong. Hal ini mengakibatkan aliran air dari laut ke sungai dan tambak warga menjadi terganggu. Tersumbatnya aliran sungai yang mengairi tambak berimbas pada menurunnya hasil produksi tambak di daerah tersebut.[21]

Di kampung Celong, Batang, Jawa Tengah, para nelayan juga mengalami nasib serupa. Kampung nelayan ini terletak di antara kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batang dan KEK Industropolis Batang. Kapal-kapal berukuran besar yang hilir mudik telah memperkecil area tangkapan ikan dan menghambat aktivitas para nelayan.[2]

Pencemaran

Pencemaran akibat kegiatan pabrik di kawasan industri KEK JIIPE Gresik telah merugikan para petani tambak di Manyar, Gresik. Limbah pabrik membuat produktivitas tambak ikan warga menurun. Beberapa pabrik dilaporkan membuang limbah secara sembarangan ke laut dan udara, seperti yang terjadi di Kawasan Industri Maspion yang berlokasi di lingkungan Desa Manyarejo dan Desa Sidorukun, Kecamatan Manyar, Gresik.[21]

Di Sayung, Demak, ribuan ikan milik petani tambak mati karena terdampak pencemaran limbah pabrik pada sekitar Juni 2025. Akibatnya, para pemilik tambak tersebut merugi mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.[22] Di sepanjang jalan raya Pantura Semarang - Demak, ribuan bangkai ikan mujair dan bandeng mengambang dan menimbulkan bau tidak sedap.[23]

Daftar rujukan

  1. ^ a b c d Himawan, Furqon Ulya; Amindoni, Ayomi (2025-10-07). "'Ekosida' di Pantura: Pengembangan industri ancam pesisir utara Jawa makin cepat tenggelam – 'Banjir sudah puluhan tahun, ini pembiaran sistematis'". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-10-11.
  2. ^ a b c d Himawan, Furqon Ulya; Amindoni, Ayomi (2025-10-09). "'Ekosida' di Pantura: 'Kongkalikong' yang menggerus ruang hidup warga pesisir utara Jawa". BBC News Indonesia. Diakses tanggal 2025-10-11.
  3. ^ "Menjaga Garis Depan Negeri: Krisis Pesisir Pantura Jawa dan Urgensi Penanaman Mangrove -". 2025-05-05. Diakses tanggal 2025-10-11.
  4. ^ Putri, Mita (2025-10-11). "Ekosida di Pantura: Dampak Pembangunan Industri". Suara Kita News. Diakses tanggal 2025-10-11.
  5. ^ a b "Kerusakan Ekologis Pantura hingga Perampokan Hak Buruh". IndoPROGRESS. 2025-03-08. Diakses tanggal 2025-10-12.
  6. ^ a b Krisdamarjati, Yohanes Advent (2024-11-23). "Pertaruhan Nasib 50 Juta Penduduk akibat Penurunan Muka Tanah di Pantura Jawa". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-10-12.
  7. ^ "Relokasi Industri "Menyoal Relokasi Industri Hingga Polemik UU Cipta Kerja"". LBH Semarang. 2023-09-20. Diakses tanggal 2025-10-12.
  8. ^ Annizar, Baihaqi (2023-09-18). "Mengulik Alasan Jawa Tengah menjadi Tujuan Investasi Baru". tirto.id. Diakses tanggal 2025-10-12.
  9. ^ Annizar, Baihaqi (2023-03-27). "Eksploitasi Air Tanah Perlahan Menenggelamkan Kota Semarang". tirto.id. Diakses tanggal 2025-10-12.
  10. ^ "Semarang Mulai Tenggelam (1)". kumparan. Diakses tanggal 2025-10-12.
  11. ^ a b Asnawi, M. Asad (2025-10-09). "PSN Revitalisasi Tambak Tingkatkan Resistensi Pantura Jawa". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-10-13.
  12. ^ Ismanto, Aris (2025-09-06). "Bagaimana agar proyek jumbo tambak di pantura tidak mengancam mangrove dan masyarakat pesisir". The Conversation. Diakses tanggal 2025-10-12.
  13. ^ a b Purwodianto, Jemmi (2022-06-15). "Warga Sebut Semakin Dalamnya Banjir Rob di Manyar Gresik Akibat Reklamasi". detikjatim. Diakses tanggal 2025-10-13.
  14. ^ a b Rosidin, Khanif (2024-12-20). "Sering Kena Banjir Rob, Pemdes Banyuwangi Manyar Bakal Bangun Tanggul". info GRESIK. Diakses tanggal 2025-10-13.
  15. ^ "Pasang Laut Picu Banjir Rob di Lima Kecamatan Gresik". Gresik Satu. 2024-12-18. Diakses tanggal 2025-10-13.
  16. ^ R, Rahmadi (2024-04-12). "Ancaman Tenggelamnya Wilayah di Pesisir Utara Jawa Tengah Makin Nyata?". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-10-12.
  17. ^ Alhamidi, Rifat (2022-10-20). "Daftar Wilayah di Pesisir Pantura Jabar yang Terancam Tenggelam". detikjabar. Diakses tanggal 2025-10-12.
  18. ^ Sundari (2025-10-12). "Tanah di Demak Terus Turun 10 cm Per Tahun! BRIN Peringatkan Ancaman Tenggelam Diam Diam di Pantura". Viva. Diakses tanggal 2025-10-12.
  19. ^ "Pesisir Demak Terancam Tenggelam Pada 2030". tempo.co. 2025-06-05. Diakses tanggal 2025-10-12.
  20. ^ Ricky Pd., Mariyana (2022-04-22). "Perubahan Iklim di Indonesia, Pesisir Pantura Jawa Terancam Tenggelam". Espos Regional. Diakses tanggal 2025-10-12.
  21. ^ a b Dhoraiffha, Mas Cholidatul (2017-07-25). "Dampak Industrialisasi Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi dan Ekologis Masyarakat Desa (Studi Kasus : Dampak Pembangunan Kawasan Industri JIIPE Terhadap Masyarakat Desa Manyar, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik)". Universitas Brawijaya.
  22. ^ Aditya, Dicky (2025-06-11). "Terungkap, Ribuan Ikan Mati di Sayung Akibat Pencemaran Limbah Industri". RMOL Jateng. Diakses tanggal 2025-10-12.
  23. ^ Shani, Rhobi (2025-06-10). "Ribuan Ikan di Pantura Sayung Diduga Mati Tercemar Limbah Pabrik". Metrotvnews.com. Diakses tanggal 2025-10-12.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement