Efek Cinderella

Dalam psikologi evolusi, efek Cinderella adalah terjadinya perlakuan tidak menyenangkan terhadap anak-anak dari orang tua tiri. Efek Cinderella mengambil nama dari karakter dongeng Cinderella, seorang gadis yang diperlakukan buruh oleh ibu tiri dan saudari-saudari tirinya. Para pakar psikologi evolusi mendeskripsikan efek tersebut sebagai biproduk dari bias terhadap keluarga biologis dan konflik antara kerabat reproduktif yang campur tangan dengan anak muda yang tak berkerabat dengan salah satu pasangan.[1]

Latar belakang

Pada awal 1970an, sebuah teori timbul pada hubungan antara orangtua tiri dan perlakuan buruk anak-anak. Pada 1973, psikiatris forensik P. D. Scott menjelaskan informasi tentang contoh "kasus bayi babak belur yang berakibat fatal" yang dilakukan dengan nuansa marah, dan mendapati bahwa 15 dari 29 pembunuhan yang ia dipertimbangkan, atau 52%, dilakukan oleh ayah tiri.[1]

Catatan

  1. ^ a b Daly & Wilson (1999), p. 33

Referensi

  • Burgess, R. L., & Drais, A. A. (1999). Beyond the "Cinderella effect": Life history theory and child maltreatment. Human Nature, 10(4), 373–398. DOI:10.1007/s12110-999-1008-7
  • Martin Daly; Margo Wilson (1988). Homicide. Transaction Publishers. ISBN 978-0-202-01178-3. Diakses tanggal 4 November 2012.
  • Martin Daly; Margo Wilson (11 October 1999). The Truth about Cinderella: A Darwinian View of Parental Love. Yale University Press. ISBN 978-0-300-08029-2. Diakses tanggal 4 November 2012.
  • Crawford, Charles; Dennis Krebs (2008). Foundations of Evolutionary Psychology. New York: Lawrence Erlbaum Associates. ISBN 978-0-8058-5957-7.
  • Buss, David (1996). Sex, power, conflict: feminist and evolutionary perspectives. New York: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-510357-1.
  • White, Lynn (1994). Booth, A.; Dunn, J. (ed.). Stepfamilies. Who benefits? Who does not?. Hillsdale: Lawrence Erlbaum. ISBN 978-0-8058-1544-3.

Bacaan tambahan

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement