Dinasti Aceh-Wajo

Dinasti Diraja Bugis Wajo-Aceh atau dikenal juga sebagai Dinasti Aceh-Wajo merupakan garis keturunan raja-raja Kesultanan Aceh Darussalam yang berasal dari etnis campuran antara Aceh dan Bugis, khususnya dari Wajo, Sulawesi Selatan. Dinasti ini diketahui memiliki hubungan keturunan dengan dinasti dari Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan. Dinasti Aceh-Wajo adalah dinasti terakhir di Aceh, mereka mulai memegang kekuasaan di Aceh sejak pertengahan abad ke-18, setelah Sultan Alauddin Ahmad Syah, naik takhta sebagai sultan Aceh. Periode kekuasaan dinasti ini berlangsung hingga awal abad ke-20 dan runtuhnya Kesultanan Aceh.

Sejarah

Awal mula dinasti ini bermula dari pengaruh orang-orang Bugis di wilayah pesisir barat dan timur Sumatra, terutama setelah migrasi besar-besaran masyarakat Bugis dari Sulawesi akibat konflik internal pada abad ke-17 dan ke-18. Mereka mendirikan komunitas yang cukup berpengaruh di beberapa wilayah termasuk di Aceh, dan pada akhirnya salah satu tokohnya, Zainal Abidin dari Wajo, atau yang dikenal sebagai Sultan Alauddin Ahmad Syah (memerintah 1727–1735), naik takhta Kesultanan Aceh Darussalam. Ia adalah pendiri dinasti Aceh-Wajo dan menjadi sultan pertama dari garis keturunan Bugis di Aceh.[1]

Pengaruh Politik

Dinasti ini membawa perubahan dalam sistem pemerintahan dan struktur kekuasaan di Aceh. Keturunan Sultan Alauddin Ahmad Syah memerintah secara turun-temurun, menjadikan Kesultanan Aceh sebagai kerajaan yang banyak dipengaruhi oleh budaya dan sistem kemasyarakatan Bugis. Sultan-sultan penerus seperti Sultan Alauddin Johan Syah (memerintah 1760–1781) juga berasal dari garis keturunan ini.

Kedatangan dan pengaruh Dinasti Aceh-Wajo menunjukkan keterbukaan Kesultanan Aceh terhadap integrasi budaya, terutama dengan kelompok Bugis yang dikenal memiliki sistem kerajaan dan kemiliteran yang kuat.

Daftar Sultan dari Dinasti Aceh-Wajo

Berikut adalah beberapa sultan dari Dinasti Aceh-Wajo:

Diraja Bugis Wajo-Aceh
# Nama Masa pemerintahan Keterangan
25 Sultan Alauddin Ahmad Syah 1727-1735
26 Sultan Alauddin Johan Syah 1735-1760 putra dari No. 25
27 Sultan Alauddin Mahmud Syah I 1760-1764 putra dari No. 26, ditumbangkan oleh
28 Sultan Badruddin Johan Syah 1764-1765 dipulihkan dan dikembalikan kepada
29 Sultan Alauddin Mahmud Syah I 1765-1773
30 Sultan Sulaiman Syah 1773 dipulihkan dan dikembalikan lagi kepada
31 Sultan Alauddin Mahmud Syah I 1773-1781
32 Alauddin Muhammad Syah 1781-1795 putra dari No. 27
33 Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 1795-1823 putra dari No. 30. Wali dari No. 29 sampai tahun 1802. Digugat oleh
34 Sultan Syarif Saif al-Alam (Dinasti Diraja Syarif / Maulana) 1815-1820
35 Sultan Alauddin Jauhar al-Alam 1795-1823 Dikembalikan posisinya dengan bantuan Raffles, Inggris.[2]
36 Sultan Muhammad Syah 1823-1838 putra dari No. 31.
37 Sultan Sulaiman Ali Iskandar Syah 1838-1857 putra dari No. 33. Wali dari No. 35 sampai 1850, digugat oleh No. 35 pada 1870
38 Sultan Mansur Syah 1857-1870 putra dari No. 30.
39 Sultan Mahmud Syah 1870-1874 putra dari No. 34.
40 Sultan Muhammad Daud Syah 1874-1903 cucu dari No. 35. Berwalikan Tuanku Hasyim Banta Muda sampai 1884. Ditangkap oleh Belanda dan turun takhta pada 1903.

Warisan dan Peninggalan

Jejak peninggalan Dinasti Aceh-Wajo dapat dilihat dari makam-makam para raja Bugis yang tersebar di Aceh. Kompleks makam ini telah menjadi bagian dari wisata sejarah dan religi di Tanah Rencong. Salah satu situs penting adalah kompleks makam di dalam kawasan Museum Aceh, yang menyimpan nisan-nisan beraksara Arab dan Bugis sebagai penanda warisan budaya dua etnis ini.[1][3][4][5]

Dinasti ini memperkuat hubungan sejarah antara Aceh dan Wajo. Beberapa sumber lokal di Wajo juga mencatat hubungan kekerabatan dengan keturunan bangsawan Aceh, serta kontribusi politik dan budaya orang-orang Bugis dalam pemerintahan Aceh.[3][6]

Lihat Pula

Referensi

  1. ^ a b "Makam Raja-raja Keturunan Bugis, Wisata Religi di Tanah Rencong". MEDIAACEH.CO. 2021-07-16. Diakses tanggal 2025-05-04.
  2. ^ REID, Anthony. Asal Usul Konflik Aceh: Dari Perebutan Pantai Timur Sumatra hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005. Halaman 9. ISBN 979-461-534-X
  3. ^ a b PW, Adi (2023-05-28). "Menilik Jejak Raja-raja Dinasti Bugis yang Pernah Memerintah di Kesultanan Aceh Darussalam". KABARWAJO.ID. Diakses tanggal 2025-05-04.
  4. ^ "VIDEO Makam Raja-Raja Dinasti Bugis di Museum Aceh". Serambinews.com. Diakses tanggal 2025-05-04.
  5. ^ "Makam Raja-raja Keturunan Bugis, Wisata Religi di Tanah Rencong". MEDIAACEH.CO. Diakses tanggal 2025-05-04.
  6. ^ "Raja-raja Dinasti Bugis di Aceh Arsip". KABARWAJO.ID. 2023-05-28. Diakses tanggal 2025-05-04.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement