Data angka putus sekolah di Indonesia


Kawasan putus sekolah sering dicirikan oleh kemiskinan dan kurangnya akses pendidikan.[1]

Angka putus sekolah (APS) di Indonesia merujuk pada persentase siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya pada tahun berjalan. Data mengenai APS nasional secara lengkap dari tahun 1945 hingga kini masih terbatas, terutama untuk periode sebelum 1990-an.

Persentase siswa

Tahun SD (%) SMP (%) SMA/SMK (%) Keterangan/Sumber
1945–1965 >10 >20 >30 Estimasi, akses pendidikan rendah pasca kemerdekaan
1970 8 15 25 Program wajib belajar mulai digulirkan[2]
1980 5 12 20 Peningkatan sekolah & wajib belajar 6 tahun
1990 3,5 8 15 Wajib belajar 9 tahun dimulai
2000 2,2 5,5 12 Data BPS, BOS tahap awal
2010 1,1 2,7 7 Data BPS
2015 0,8 1,5 4,5 Data BPS, program PIP dimulai
2019/2020 0,24 0,39 0,55 Data BPS[3]
2020/2021 0,16 0,11 0,20 Data BPS
2022/2023 0,17 0,14 0,20 Data BPS[4]
2023/2024 0,19 0,18 0,19 Data BPS

Tren angka putus sekolah

Data angka putus sekolah (APS) di Indonesia menunjukkan pola dan tantangan yang bervariasi sepanjang sejarah kemerdekaan. Pada periode 1945 hingga 1980, angka putus sekolah tercatat sangat tinggi, terutama di luar Pulau Jawa dan di wilayah pedesaan.[5] Keterbatasan akses pendidikan, kondisi ekonomi pasca-kemerdekaan, dan infrastruktur yang belum memadai menjadi faktor utama penyebab tingginya angka ini. Data untuk periode ini umumnya merupakan estimasi yang didasarkan pada riset sejarah pendidikan, mengingat keterbatasan sistem pencatatan pada masa itu. Memasuki rentang tahun 1990 hingga 2010, terjadi perubahan signifikan dalam tren angka putus sekolah. Implementasi program Wajib Belajar 9 Tahun dan diluncurkannya Bantuan Operasional Sekolah (BOS) secara nasional menjadi pendorong utama penurunan APS secara drastis. Kedua kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi beban biaya pendidikan bagi keluarga dan memperluas akses pendidikan dasar hingga menengah pertama bagi seluruh anak Indonesia. Pada periode 2015 hingga 2024, upaya penurunan angka putus sekolah semakin dipercepat melalui berbagai inisiatif pemerintah seperti Program Indonesia Pintar (PIP) yang memberikan bantuan tunai kepada siswa miskin dan rentan, serta keberlanjutan program BOS dan berbagai kebijakan afirmasi pendidikan. Meskipun demikian, pandemi COVID-19 sempat menyebabkan kenaikan angka putus sekolah untuk sementara waktu karena tantangan pembelajaran jarak jauh dan dampak ekonomi pada keluarga. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2023/2024, angka putus sekolah mengalami kenaikan tipis di jenjang SD dan SMP, tetapi justru menunjukkan tren penurunan di jenjang SMA/SMK, mengindikasikan pergeseran dinamika dan tantangan yang berbeda di setiap jenjang pendidikan. Secara umum, angka putus sekolah cenderung meningkat seiring dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dengan APS di SMA/SMK lebih tinggi dibandingkan SD atau SMP. Selain itu, wilayah pedesaan secara konsisten menunjukkan angka putus sekolah yang lebih tinggi dibandingkan perkotaan, terutama pada jenjang SMP dan SMA. Faktor utama yang menyebabkan siswa tidak melanjutkan atau menghentikan pendidikan meliputi kondisi ekonomi keluarga, keterbatasan akses ke fasilitas sekolah, serta faktor sosial budaya yang masih memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pendidikan.

Referensi

  1. ^ Kompasiana.com (2022-04-27). "Faktor Kemiskinan Membuat Anak Putus Sekolah, Apa Upaya Pemerintah Mengatasi Hal Tersebut?". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-07-06.
  2. ^ Data, GoodStats. "Kasus Anak Putus Sekolah, Tantangan Mencapai Indonesia Emas 2045". GoodStats Data. Diakses tanggal 2025-07-06.
  3. ^ GoodStats. "Kondisi Angka Putus Sekolah di RI, Bisakah Donasi Rp1,2 Juta Usulan Prabowo Jadi Solusi?". GoodStats. Diakses tanggal 2025-07-06.
  4. ^ Data, GoodStats. "Simak Angka Putus Sekolah 2023/2024". GoodStats Data. Diakses tanggal 2025-07-06.
  5. ^ Satya, Institut Keberlanjutan. "Tantangan Putus Sekolah (School Dropout) di Indonesia dan Langkah Menuju Pencapaian SDG 4 – Satya Institute for Sustainability UIN Suska Riau" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-07-06.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement