Cupak Gerantang
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Maret 2016) |
Cupak Grantang (Dalam budaya Bali: I Cupak Lan I Grantang, aksara Bali: ᬘᬸᬧᬓ᭄ᬕᬦ᭄ᬢᬂ).[1][2]) adalah sebuah cerita dan teater rakyat tradisional khas Bali lalu menyebar ke Lombok pada masa Kerajaan Karangasem.
Sebuah kitab lontar dari Sukawati, Gianyar, Bali berangka tahun saka 1775 (1853 Masehi) memuat cerita ini dengan judul Geguritan I Cupak, Pada tahun 1978, Nengah Madera menerjemahkan isi lontar tersebut ke dalam Bahasa Indonesia sehingga bisa diakses oleh semua kalangan saat ini. Cerita ini sarat akan makna bahwa ''Dharma'' (kebenaran) akan selalu menang melawan ''Adharma'' (kebatilan)[3]
| Cupak Grantang | |
|---|---|
Penggalan lontar "Geguritan I Cupak" dari Sukawati, Gianyar, Bali | |
| Dongeng rakyat | |
| Nama | Cupak Grantang |
| Juga dikenal sebagai | I Cupak tekén I Grantang (Si Cupak dengan Si Gerantang) [4] |
| Data | |
| Negara | Indonésia |
| Kawasan | Bali |
| Diterbitkan di | Terjemahan Bahasa Indonesia pada 1978, Bali |
Isi cerita
Ceritanya berpusat pada dua tokoh kakak beradik yaitu Cupak dan Grantang. Cupak mencerminkan semua sifat yang yang buruk pada diri manusia, ia rakus, suka mendengki, sering kali berkhianat bahkan suka mencuri. Karakternya pun digambarkan dalam penampilan ataupun topengnya di mana ia berwajah buruk rupa, berbadan tambun, dan gerak geriknya mencerminkan sifat culas.[5], sedangkan Grantang sang adik, adalah seseorang yang rendah hati, jujur, budi pekertinya baik, dan tutur katanya pun sopan. karakternya digambarkan sebagai pemuda yang tampan, bertubuh bagai kesatria tegap tetapi luwes, gagah dan gerak-geriknya halus. Satu catatan kecil, ketika dipentaskan sering kali tokoh Gerantang yang lelaki ini diperankan oleh seorang wanita, untuk memudahkan diperlihatkannya ketampanan dan gerak gerik yang halus.[5]
Sang kakak Cupak sering kali mencurangi bahkan dalam salah satu lakon berusaha membunuh sang adik Grantang. Namun Grantang adalah seorang yang pemaaf dan tak pernah menyimpan dendam pada kakaknya. Hubungan di antara keduanya memang dimaksudkan untuk menggambarkan dua sifat pada manusia, baik dan buruk, yang terus mengalami pertentangan. Namun sebagai cerita rakyat yang mendidik, lakon ini selalu diakhiri dengan menangnya sifat baik yang ada dalam diri manusia.[5]
Lakon Cupak Grantang ini pada awalnya adalah sebuah bentuk seni prosa yang kemudian berubah menjadi drama tari topeng yang dipentaskan di Pura - Pura di Bali dengan tujuan menjadi media pendidikan yang dapat dicerna masyarakat, sering kali penuh dengan humor.[5]
Lihat pula
Referensi
- ^ "Satua Bali: Cupak Grantang". Diakses tanggal 2020-04-07.
- ^ Suwija, I Nyoman; Darmada, I Madé; Rajeg Mulyawan, I Nyoman (Séptémber 2019). "Laporan Final Hasil Penelitian Dasar: Inventarisasi Tradisi Lisan Dongeng Bali, Penulisan Ceritanya, dan Analisis Nilai Pendidikan Karakter" (PDF). repo.ikippgribali.ac.id. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2021-01-22. Diakses tanggal 17 Januari 2021.
- ^ Hassan Sadhily. Ensiklopedi Indonesia Volume 2. Jakarta: Ichtiar Baru-Van Hoeve.
- ^ Suwija, I Nyoman; Darmada, I Madé; Rajeg Mulyawan, I Nyoman (2019). Kumpulan Satua (Dongeng Rakyat Bali). Denpasar, Bali: Penerbit Pelawa Sari. hlm. 49–55. ISBN 978-602-8409-78-0.
- ^ a b c d Cupak gerantang Diakses 21 januari 2016
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


