Cigawiran
Cigawiran adalah seni lisan masyarakat etnis Sunda yang berkembang di Desa Cigawir, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Istilah ini berasal dari tempat asal tradisi ini bermula, yakni Desa Cigawir.[1] Tradisi lisan ini bisa juga dilantunkan dalam bahasa Arab.[2]
Meski sejenis, tembang Cigawiran berbeda dengan tembang Sunda lainnya, seperti Cianjuran dan Ciawian. Hal ini dikarenakan cigawiran dikenal dengan nuansa Islaminya yang kental.[3]
Pada mulanya, cigawiran hanya dipertunjukan di lingkungan masjid dan pesantren saja dengan isinya biasanya berkaitan dengan tema kematian dan kehidupan setelah mati, berdasarkan kitab Daqaiq Akhbar. Keberadaannya kemudian kian meluas karena ditampilkan juga di beberapa acara penting seperti acara penyambutan tamu, pernikahan hingga peringatan hari besar Islam.[1]
Popularitas cigawiran mulai menurun karena kurangnya minat generasi muda sehingga membuatnya terancam punah. Untuk melestarikannya, cigawiran mulai diajarkan di pesantren di Kabupaten Garut sebagai kurikulum pembelajaran.[1]
Pada tahun 2022, pemerintah menetapkan cigawiran sebagai salah 1 dari 19 warisan budaya takbenda Indonesia asal Provinsi Jawa Barat.[4]
Sejarah
Sejarah cigawiran dapat ditelusuri pada abad ke-19. Seorang ulama dari Desa Cigawir, Raden Hadji Djalari diyakini sebagai tokoh pertama yang pertama kali memperkenalkannya pada tahun 1823. Usai mempelajari agama Islam di Jombang, Jawa Timur, ia kemudian berdakwah dengan menerjemahkan lagu-lagu berbahasa Jawa menjadi bahasa Sunda. Sejak itulah cigawiran tercipta.[1]
Tradisi cigawiran lalu dilanjutkan oleh Raden Haji Abdullah Usman (1902—1945). Raden Mohamad Isya (1945—1980), Raden Agus Gaos dan Raden Muhammad Amin juga dikenal sebagai tokoh pelestari cigawiran. Setelah tokoh-tokoh tersebut meninggal dunia, cigawiran kini diteruskan oleh Raden Iyet Dimyati.[5]
Contoh
Berikut adalah contoh dari syair Cigawiran yang berjudul “Bubuka Lagu Ela-Ela”:[3]
Bismillah wiwitan kedah Muji ka Gusti Hyang Widi Salawat sinareng salam Mugi tetep ka kanjeng Nabi Miwah ka sakumna jalmi Anu turut sarta tumut Kana pilacak anjeuna Kukuh pengkuh teu (tur?) gumingsir Deungdeung mayeuh Dugi ka poe kiamat Cigawir ma’na nu asan (?) Cai nu ngalir na gawir Dugi ka yaumal jaza Mugi ulah saat deui Urang sungsi tur pilari Pibekeleun geusan hirup Aya naon di jerona Sihoreng ujudna seni Nu dicandak Ku para alim ulama
Referensi
- ^ a b c d Febrita, Nova (27 Maret 2025). "BRIN: Cigawiran, Seni Lisan Sunda Terancam Punah". RRI. Diakses tanggal 9 November 2025.
- ^ "Seni Cigawiran: Warisan Islami dari Garut". www.indonesia.travel (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ a b "Cigawiran, Seni Tarik Suara Islam Nusantara yang Berasal dari Jawa Barat". www.nahdliyin.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ Bagaskara, Bima. "Daftar 118 Warisan Budaya Tak Benda di Jabar". detikjabar. Diakses tanggal 2025-11-09.
- ^ "Cigawiran". Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Diakses tanggal 2025-11-09.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


