Chilseok

Chilseok
Gyeonu dan Jiknyeo akan berpisah, seperti yang digambarkan dalam lukisan mural Dinasti Goguryeo dari Makam Tokhung-ri, 408 M.
TanggalHari ke-7 bulan lunar ke-7
Tahun 202619 Agustus 2026
Tahun 20278 Agustus 2027

Chilseok (bahasa Korea: 칠석; secara harfiah berarti “Malam Ketujuh”) merupakan festival tradisional Korea yang dirayakan pada hari ketujuh bulan ketujuh dalam kalender lunisolar, dan berakar dari Festival Qixi di Tiongkok. Perayaan ini menandai masa ketika suhu mulai menurun dan musim hujan dimulai, dengan hujan yang turun pada waktu tersebut dikenal sebagai “hujan Chilseok”. Pada periode ini, tanaman seperti labu, mentimun, dan melon mulai tumbuh subur, sehingga masyarakat secara tradisional mempersembahkan hidangan labu goreng kepada bintang biduk sebagai bagian dari tradisi.

Asal-usul

Asal mula kisah ini berasal dari legenda romantis Tiongkok berjudul Gembala Sapi dan Gadis Penenun, yang kemudian diadaptasi ke dalam budaya Korea. Dalam versi Korea, diceritakan bahwa seorang raja di langit memiliki putri bernama Jiknyeo (직녀; 織女), seorang penenun yang sangat terampil. Suatu hari, ketika sedang menenun, Jiknyeo melihat seorang pemuda penggembala bernama Gyeonu (견우; 牽牛) di seberang Bima Sakti dan jatuh cinta padanya. Sang ayah akhirnya mengizinkan mereka menikah, tetapi setelah itu keduanya lalai terhadap tugas masing-masing. Jiknyeo berhenti menenun, sementara Gyeonu tidak lagi mengurus ternaknya.[1][2]

Karena murka, sang raja memisahkan mereka di dua sisi Bima Sakti dan hanya memperbolehkan mereka bertemu sekali setiap tahun. Pada hari ketujuh bulan ketujuh, mereka selalu menantikan pertemuan itu, namun terhalang oleh sungai bintang. Melihat kesedihan mereka, kawanan gagak dan murai membentuk jembatan agar keduanya bisa bertemu. Setelah perpisahan mereka, diyakini bahwa burung-burung itu kehilangan bulu di kepala karena diinjak pasangan tersebut, dan hujan yang turun pada malam itu dianggap sebagai air mata Jiknyeo dan Gyeonu yang bersedih karena harus menunggu satu tahun lagi untuk bertemu.[3]

Tradisi

Selama perayaan Chilseok, masyarakat Korea secara tradisional melakukan mandi sebagai ritual untuk menjaga kesehatan. Selain itu, mereka menikmati hidangan khas seperti mi dari tepung gandum dan kue gandum panggang. Chilseok juga dianggap sebagai waktu terakhir untuk menikmati makanan berbahan dasar gandum, karena setelahnya udara mulai mendingin dan mengurangi kualitas serta aroma gandum. Pada masa ini, orang-orang biasanya menyantap panekuk gandum yang disebut miljeonbyeong (밀전병) serta sirutteok, yaitu kue beras kukus yang diberi lapisan kacang azuki.[4]

Referensi

  1. ^ Brown, Ju; Brown, John (2006). China, Japan, Korea: Culture and customs. North Charleston: BookSurge. ISBN 1-4196-4893-4.
  2. ^ Griffis, William Elliot. Korean fairy tales. New York, Thomas Y. Crowell Company. 1922. pp. 155-160.
  3. ^ "Weaver and Herdsman: Jick-Nyo and Kyun-Woo". In: Riordan, James. Korean Folk-tales. Oxford Myths and Legends. Oxford: Oxford University Press, 2000 [1994]. pp. 14-20.
  4. ^ Bradley, Hallie (2023-11-20). "The Traditional Korean Food You're Supposed To Eat Each Month". The Soul of Seoul (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-24.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement