Channa (Buddha)

Infobox orangChanna

Suntingan nilai di Wikidata
Biografi
Floruit (mul) Terjemahkan6 abad SM Suntingan nilai di Wikidata
Kegiatan
PekerjaanPekerja rumah tangga, charioteer (en) Terjemahkan Suntingan nilai di Wikidata
Murid dariSang Buddha Suntingan nilai di Wikidata


Channa (Sanskerta: Chandaka) adalah seorang pelayan kerajaan dan kepala kusir Pangeran Siddhartha, yang hendak menjadi Buddha. Channa kemudian menjadi siswa Buddha dan mencapai arhat (penerangan sempurna), seperti yang dijelaskan dalam Dhammapada bait ke-78.

Channa adalah seorang pelayan di istana raja Suddhodana yang dipercaya untuk memenuhi kebutuhan Pangeran Siddhartha, dan melayaninya dalam istana yang dibangun khusus untuk melindunginya dari pikiran tentang kepedihan dan penderitaan. Hal ini dilakukan karena ramalan pertapa Asita, yang meramalkan bahwa Siddhartha akan meninggalkan takhta dan menjadi pemimpin spiritual jika dia merenungkan penderitaan manusia. Channa adalah pelayan yang bertugas sebagai kusir yang menarik kuda Kanthaka.

Setelah menjalani kehidupan di istana yang penuh kemewahan dan kegembiraan, Siddhartha keluar meninggalkan istana untuk pertama kalinya secara rahasia.[1] Ia dipandu mengelilingi kota oleh Channa.[2]

Dalam perjalanan, Pangeran Siddhartha mula-mula melihat orang yang tua.[3] Kemudian ia bertanya kepada Channa mengenai orang tua itu, dan menjelaskannya bahwa penuaan ialah sesuatu yang berlaku kepada setiap makhluk.[2]

Penglihatan Siddhartha yang kedua yaitu ketika melihat orang yang sakit dan ia terkejut terhadap apa yang dilihatnya. Kemudian Channa menjelaskannya bahwa semua makhluk dapat mengalami rasa sakit. Hal ini begitu menyusahkan hati Siddhartha.[2]

Penglihatan Siddhartha yang ketiga ialah mayat. Channa menjelaskannya kembali, bahwa kematian adalah sesuatu hakikat yang menimpa setiap orang.[2] Setelah melihat tiga penglihatannya, Siddhartha melihat penglihatan keempatnya, seorang pertapa yang mengabdikan hidupnya untuk menemukan penyebab penderitaan manusia.[4] Penglihatannya ini memberikannya harapan bahwa dia juga mungkin dapat dibebaskan dari penderitaan yang ada daripada terjadinya kelahiran kembali.[1] Oleh karena itu, Siddhartha memutuskan untuk mengikuti jejak sang pertapa.[2]

Setelah Siddhartha mencapai pencerahan sebagai Buddha dan kembali ke Kapilavastu, Channa menjadi bikkhu Buddha dan bergabung dengan Sangha. Karena ia adalah satu-satunya yang menemani Buddha saat ia meninggalkan kerajaan, Channa bersikap sombong terhadap biksu-biksu lain dan sering mengkritik dua murid utama Buddha, Sariputta dan Moggallana. Meskipun Buddha terus memberi nasihat, Channa tetap bersikap kasar kepada bhikkhu-bhikkhu yang lain. Sebelum parinibbana, Buddha memerintahkan Ananda untuk menerapkan brahmadanda pada Channa, sehingga para bhikkhu lain akan mengabaikannya. Setelah Sang Buddha parinibbana, Channa yang mengetahui keputusan tersebut merasa menyesal atas perilakunya, ia pingsan tiga kali sebelum meminta pengampunan dan mulai mengubah perilakunya dan mendorongnya untuk sungguh-sungguh melatih diri.[5] Ia akhirnya menjadi seorang arahat.

Referensi

  1. ^ a b McFaul, Thomas R. (2006). The future of peace and justice in the global village. Greenwood Publishing Group. hlm. 30, 31. ISBN 0275993132.
  2. ^ a b c d e Trainor, Kevin (2004). Buddhism. Oxford University Press. ISBN 0195173988.
  3. ^ Mehrotra, Chandra (2008). Aging and Diversity. CRC Press. hlm. 344. ISBN 041595214X.
  4. ^ Cooler, Richard. "Buddhism". Center for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University. Diarsipkan dari asli tanggal 2020-09-20. Diakses tanggal 2009-04-29.
  5. ^ Hecker 2006, hlm. 70.

Daftar Pustaka

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement