Chaikhana

Chaikhana[a] adalah istilah yang digunakan di Asia Tengah, Iran, Turki, Azerbaijan, dan Afghanistan untuk menyebut "rumah" atau "kamar" teh.[1] Chaikhana kadang disebut sebagai institusi tradisional yang ramah bagi pejalan atau petualang.[2]

Sejarah

Kemunculan chaikhana sudah lama sekali. Hal ini dipengaruhi oleh posisi sentral Asia Tengah dalam jaringan perdagangan darat kuno, Jalur Sutra. Teh dan tradisi porselen termasuk piyāla (mangkuk teh datar) berasal dari Tiongkok dan dikenal di Asia Tengah melalui perdagangan darat.[3] Seiring waktu, chaikhana banyak didirikan di rute-rute yang ramai, sebagai tempat singgah bagi para pedagang, pejalan (traveler), bahkan warga lokal yang habis melakukan perjalanan jauh nan melelahkan.[2] Persinggahan dan pertemuan berbagai individu dari berbagai latar belakang berbeda tersebut memperbanyak pertukaran informasi, cerita, dan tentu saja, barang.[1] Selama berabad-abad, chaikhana menjadi tempat berkumpulnya para cendekiawan. Layaknya rumah kopi di Eropa, chaikhana biasa menjadi lokasi bagi pembacaan puisi, debat, bahkan lecture atau penyampaian ide-ide progresif.[1]

Arsitektur

Chaikhana dibangun menyesuaikan tradisi arsitektur setempat. Tempat ini bukan hanya kafe yang melayani pengunjung saja, melainkan didesain sebagai tempat berkumpul masyarakat, termasuk kaum terpelajar. Chaikhana juga dilengkapi dengan bilik-bilik privat khusus untuk membicarakan topik-topik sensitif. Dindingnya kadang diberi ukiran yang indah, lantainya dilapisi karpet, dan susunan kursinya diatur sedemikian rupa demi memberikan kenyamanan. Beberapa chaikhana dibangun dekat dengan aliran sungai kecil.[1]

Berdasarkan negara

Afghanistan

Afghanistan merupakan bagian dari jaringan perdagangan kuno di pedalaman Asia. Negara ini memiliki dua institusi tradisional yang biasa mengakomodasi para pedagang dan pelancong yang melalui rute-rute ekstensif di Asia Tengah tersebut, yaitu karavanserai dan chaikhana.[2] Chaikhana di Afghanistan ada yang sangat sederhana, dengan karpet saja atau beberapa bangku kayu, dan hanya menyajikan tak lebih dan tak kurang daripada teh. Namun, ada juga beberapa yang cukup mewah, dengan desain interior yang indah, dilengkapi lukisan dan ukiran, serta sangat nyaman.[2] Pemilik chaikhana menerima siapa pun yang mampir singgah. Walaupun tidak menyediakan kamar, mereka memperbolehkan yang singgah untuk tidur. Banyak di antara mereka membawa semacam amtras yang digulung, yang biasa mereka bawa dalam perjalanan jauh.[2]

Azerbaijan

Orang Azerbaijan sering menghabiskan waktu luang dengan meminum teh di chaikhana. Laki-laki dewasa berkumpul di sana sambil memainkan backgammon yang disebut nard atau membaca koran.[4] Dahulu, perempuan Azerbaijan tidak terlalu sering berada di luar rumah, sehingga chaikhana menjadi tempat yang cukup ekslusif bagi laki-laki.[5]

Kirgizstan

Chaikhana memiliki peran penting pada masyarakat Kirgiz. Pada era Soviet, para pekerja pabrik mengunjunginya untuk beristirahat makan siang. Mereka meminum teh sembari duduk bersila di atas karpet. Chaikhana di Osh dibangun dengan pepohonan rindang. Perusahaan yang mendirikan pabrik, turut melengkapi area mereka dengan chaikhana bagi para pekerja.[6]

Turki

Selain chaikhana, laki-laki Turki dewasa akan berkumpul secara ekslusif pada sebuah taman dalam ajang perkumpulan sosial yang disebut kirathaane.[7] Sama halnya dengan di Azerbaijan, tradisi minum teh di Turki juga dibarengi dengan permainan backgammon.[8]

Catatan

  1. ^ Chaikhana dikenal dengan banyak nama, yaitu Persia: چاخانه, Azerbaijan: çayxana, Turki: çayhane, (Uzbek: choyxona, (Kyrgyz: chaykhana, Kazakh: shayhana.

Referensi

  1. ^ a b c d Fiedorczuk, Ola (20 June 2025). "The Hearth of Hospitality: The Importance of the Chaikhana in Central Asia". The Times of Central Asia. Diakses tanggal 18 November 2025.
  2. ^ a b c d e Walker, Harlan, ed. (1997). Food on the Move, Proceedings of the Oxford Symposium on Food and Cookery. Prospects Book. hlm. 269. ISBN 9780907325796. Diakses tanggal 19 November 2025.
  3. ^ Alimbaev, N.; Akhmetov, A.K., ed. (2011). "Kese" [Kese]. Qazaqtyn︠g︡ ėtnografii︠a︡lyq kategorii︠a︡lar, ūghymdar men ataularynyn︠g︡ dăstu̇rlī zhu̇ĭesī (dalam bahasa Kazakh). Almaty: Qazaqstan Respublikasy Memlekettīk Ortalyq Muzeĭī. ISBN 9786017026219. Diakses tanggal 18 November 2025. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
  4. ^ C. King, David (2006). Azerbaijan Culture of the World: Azerbaijan. New York: Marshall Cavendish Benchmark. hlm. 101. ISBN 0761420118. Diakses tanggal 19 November 2025.
  5. ^ Altstadt, Audrey L. (1992). The Azerbaijani Turks: power and identity under Russian rule. Hoover Institution Press, Stanford University. ISBN 9780817991821. Diakses tanggal 19 November 2025.
  6. ^ Vera Kondratenko (Januari 1981). "Osh a Town in the Mountains". Soviet Life. hlm. 40. Diakses tanggal 19 November 2025.
  7. ^ "Tea, a Turkish delight; Istanbul: Tourists meet real people in tea gardens, where the dark 'cay' is gaining popularity.; DESTINATION: TURKEY". The Baltimore Sun (dalam bahasa Inggris). 19 September 1999. Diakses tanggal 11 Desember 2021.
  8. ^ McGeary, Kacie (21 September 2018). "How to Best Experience Tea Culture in Istanbul". Passion Passport (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 24 April 2021.

Lihat pula

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement