Cekak Munsang

Cekak Munsang adalah pakaian khas laki-laki suku Melayu Riau yang digunakan untuk sehari-hari atau bekerja. Pengertian pakaian Melayu adalah semua alat dan bahan yang dipakai untuk menutupi tubuh secara etika dan estetika sehingga menunjukkan ciri khas Melayu.

Jenis lain pakaian khas laki-laki Melayu Riau adalah Baju  Melayu Teluk Belange dan Baju Melayu Gunting Cine.

Cekak Munsang dipakai dalam acara-acara adat bagi pekerja, misalnya tumang (menghidupkan api tungku) pada suatu kenduri, tukang hidang, pencuci piring dan sebagainya. Juga dipakai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya main gasing, layang-layang, galah, sepak rage atau bersilat.

Perbedaan baju Melayu

Baju Melayu Cekak Munsang memiliki ciri leher bulat tidak berkerah, sedangkan Teluk Belange dan Gunting Cine mempunyai kerah tegak kurang lebih 3 Cm. Berbeda dengan Teluk Belange dan Gunting Cine,  bagian tengah baju Cekak Munsang hanya terbelah sekitar sejengkal dari atas dada.

Cekak Munsang hanya memiliki satu kancing di bagian atas. Sedangkan Teluk Belange memiliki 5 kancing, meskipun belah dadanya sama dengan Cekak Munsang. Sedangkan Gunting Cine biasanya terbelah habis hingga bawah perut, tapi kancingnya tersembunyi di bawah lipatan kain.

Jumlah kancing pada baju Melayu khas laki-laki memeiliki makna tertentu. Jumlah satu, menunjukkan Tauhid kepada Allah Swt. Jumlah 5 menunjukkan Rukun Islam dan waktu-waktu Sholat.

Jumlah kantong Cekak Munsang biasanya dua, yaitu di kianan dan kiri bawah. Namun ada juga yang membuat kantong tersembunyi di sebelah dada kiri. Jenis baju Melayu khas laki-laki lainnya, biasanya tiga kantong. Selain dua di bagian bawah, ada satu di kiri atas, dekat dada, berupa kantong tersembunyi. Kantong ini untuk menaruh lipatan sapu tangan.

Pemakaian Teluk Belange dan Gunting Cine ketika dipakai harus disertai songket Melayu yang dipasang di luar baju. Sementara Cekak Munsang pasangannya adalah sarung, yang dipasang di dalam baju. Hal itu karena  Teluk Belange dan Gunting Cine dipakai untuk menakah (menghormati acara adat dan resmi lainnya), misalnya menjadi tamu pada kenduri, penunggu tamu, atau tuan rumah pada suatu helat.

Perihal bentuk pola gunting pada bagian ketiak baju, Teluk Belange harus menggunakan tapak Itik. Sedangkan yang lainnya, boleh tidak memakai itu.

Gunting Cine pada prinsipnya adalah pakain Melayu khas laki-laki yang lebih longgar aturan, sehingga bisa dipakain siapa saja dengan situasi apapun. Sehingga aturan-turan adat berkenaan tata cara memakai baju Melayu tidak terlalu diperhatikan pada baju jenis ini.

Pakaian Melayu juga disesuaikan dengan fungsinya. Yaitu, pakaian menutup malu (pakaian sebagai penutup aurat, menutup aib dan malu. Dalam arti yang luas, bila salah memakainnya akan menimbulkan malu), pakaian mejemput budi (pakaian berfungsi membentuk budi pekerti sehigga si pemakai tahu diri dan berakhlak mulia), dan pakaian menjunjung adat (mencerminkan nilai-nilai luhur adat dan tradisi), serta pakaian menolak bala (berpakaian dengan cara yang benar dan patut akan menghindarkan dari bala dan mara bahaya atau malapetaka).[1]

Referensi

  1. ^ Suhardi/Saputro, Wan/Wahyu (2018-05-01). "Baju dan Pakaian Melayu". Pemerintah Kabupaten Natuna. Diakses tanggal 2025-11-14.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement