Cagar Biosfer Gunung Leuser

Cagar Biosfer Gunung Leuser adalah kawasan konservasi yang ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari jaringan World Network of Biosphere Reserves pada tahun 1981. Kawasan ini mencakup wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Indonesia. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati tropis Sumatra sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar. [1]

Sejarah dan Penetapan

UNESCO menetapkan Gunung Leuser sebagai cagar biosfer melalui Program Man and the Biosphere (MAB) pada tahun 1981. Penetapan ini didasarkan pada nilai ekologis kawasan hutan tropis Sumatra yang menjadi habitat satwa endemik dan terancam punah. Selain itu, penetapan juga dimaksudkan untuk mendorong penelitian ilmiah, pendidikan lingkungan, serta integrasi konservasi dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Cagar biosfer ini termasuk dalam Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra bersama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Kawasan ini merupakan salah satu benteng terakhir bagi satwa besar langka Sumatra, seperti orangutan Sumatra, gajah Sumatra, badak Sumatra, dan harimau Sumatra. [2]

Lokasi

Cagar biosfer ini terletak di sepanjang Pegunungan Barisan, membentang di wilayah Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Luas keseluruhan Taman Nasional Gunung Leuser mencapai sekitar 2,6 juta hektare, menjadikannya salah satu kawasan konservasi terbesar di Asia Tenggara.

Keanekaragaman Hayati

Harimau Sumatra

Kawasan Gunung Leuser dikenal sebagai salah satu ekosistem paling kaya di dunia. Tercatat lebih dari 4.000 spesies flora hidup di dalamnya, termasuk pohon raksasa meranti dan damar.

Dari sisi fauna, cagar biosfer ini merupakan habitat bagi lebih dari 380 spesies burung dan ratusan spesies mamalia, reptil, dan amfibi. Empat satwa kunci yang sangat dilindungi adalah:

  • Orangutan Sumatra (Pongo abelii)
  • Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus)
  • Badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis)
  • Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae)

Kehadiran empat satwa langka ini menjadikan Gunung Leuser sebagai kawasan dengan nilai konservasi global yang tinggi. [3]

Fungsi

Cagar Biosfer Gunung Leuser memiliki tiga fungsi utama:

  1. Konservasi – menjaga keanekaragaman hayati hutan hujan tropis.
  2. Pembangunan Berkelanjutan – mendukung masyarakat sekitar melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu, ekowisata, dan pertanian ramah lingkungan.
  3. Dukungan Ilmiah – sebagai lokasi penelitian ekologi tropis dan konservasi satwa.

Namun, kawasan ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk deforestasi, perambahan hutan, dan konflik satwa-manusia. Aktivitas perkebunan kelapa sawit serta penebangan liar menjadi ancaman serius terhadap kelestarian ekosistem. [2] Sebagai cagar biosfer, Gunung Leuser berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekologis di Sumatra serta berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim global melalui cadangan karbon hutan tropisnya. Selain itu, kawasan ini juga menjadi sumber air penting bagi jutaan penduduk di sekitarnya. [1]

Referensi

  1. ^ a b https://plus.google.com/+UNESCO. "Gunung Leuser Biosphere Reserve, Indonesia". UNESCO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-26. ;
  2. ^ a b Centre, UNESCO World Heritage. "Tropical Rainforest Heritage of Sumatra". UNESCO World Heritage Centre (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-09-26.
  3. ^ "Landing". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-09-26.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement