Cagar Biosfer Blambangan

Cagar Biosfer Blambangan adalah kawasan konservasi yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai bagian dari jaringan World Network of Biosphere Reserves pada 2016. Cagar biosfer ini terletak di ujung timur Pulau Jawa, meliputi wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kawasan ini ditetapkan karena memiliki keanekaragaman hayati tinggi, ekosistem unik, serta peran penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan pantai pesisir selatan dan timur wilayah Jawa. [1]

Sejarah dan Penetapan

Cagar Biosfer Blambangan ditetapkan dalam sidang ke-28 International Coordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere (MAB) Programme UNESCO pada Maret 2016 di Lima, Peru. Penetapan ini menjadikan Blambangan sebagai cagar biosfer ke-11 di Indonesia pada saat itu.

Pengusulan kawasan ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pemerintah Daerah Banyuwangi, akademisi, dan lembaga internasional yang berfokus pada konservasi.

Lokasi dan Luas

Cagar biosfer ini mencakup beberapa kawasan konservasi utama di Banyuwangi, antara lain:

Total luas kawasan inti dan zona penyangga mencapai lebih dari 678.947 hektare, termasuk wilayah darat dan laut (perairan pesisir Banyuwangi). [2]

Keanekaragaman Hayati

Cagar Biosfer Blambangan dikenal memiliki ekosistem yang sangat beragam, mulai dari hutan hujan tropis dataran rendah, hutan musim, hutan mangrove, savanna, hingga ekosistem laut dan pesisir.

Beberapa flora khas yang dilindungi meliputi: kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), merbau (Intsia bijuga), serta beragam jenis anggrek liar.

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)

Untuk fauna, kawasan ini menjadi habitat satwa penting seperti:

Fungsi dan Manfaat

Sebagai cagar biosfer, Blambangan memiliki tiga fungsi utama:

  1. Konservasi menjaga keanekaragaman hayati darat dan laut di ujung timur Jawa.
  2. Pembangunan berkelanjutan mendukung sektor pariwisata alam (ekowisata Kawah Ijen, pantai, dan hutan), perikanan berkelanjutan, serta pertanian ramah lingkungan.
  3. Dukungan logistik menjadi pusat penelitian biodiversitas, pendidikan lingkungan, serta model pengelolaan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. [1]

Tantangan

Ancaman terhadap Cagar Biosfer Blambangan antara lain perambahan hutan, perburuan liar, alih fungsi lahan, dan tekanan pariwisata massal di destinasi populer seperti Kawah Ijen. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan ini dilakukan secara kolaboratif dengan mengedepankan prinsip ekowisata dan pemberdayaan masyarakat.

Penetapan Cagar Biosfer Blambangan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan cagar biosfer terbanyak di dunia. Kawasan ini juga menjadi contoh pengelolaan terpadu antara ekosistem hutan, pesisir, laut, serta budaya lokal masyarakat Banyuwangi yang memiliki tradisi ramah lingkungan.[1]

Referensi

  1. ^ a b c "Dinas Kehutanan". dishut.jatimprov.go.id. Diakses tanggal 2025-09-26.
  2. ^ "Landing". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-09-26.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement