Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum–Kapuas Hulu adalah kawasan konservasi di Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia, yang ditetapkan sebagai bagian dari World Network of Biosphere Reserves oleh UNESCO pada tahun 2018. Cagar biosfer ini mencakup Taman Nasional Betung Kerihun, Taman Nasional Danau Sentarum, serta kawasan penyangga yang meliputi Kabupaten Kapuas Hulu. Penetapan kawasan ini bertujuan untuk mengintegrasikan perlindungan ekosistem hutan hujan tropis dan lahan basah dengan pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat. [1]
Sejarah dan Penetapan
Cagar biosfer ini diresmikan oleh UNESCO dalam sidang International Coordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere (MAB) Programme pada 25 Juli 2018 di Palembang, bersamaan dengan penyelenggaraan 10th World Congress of Biosphere Reserves. Usulan penetapan berasal dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan dukungan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, LSM lingkungan, serta masyarakat adat Dayak yang telah lama menjaga ekosistem kawasan tersebut. [2]
Lokasi dan Luas
Cagar biosfer ini mencakup wilayah seluas lebih dari 2,5 juta hektare. Kawasan inti terdiri dari:
Zona penyangga meliputi hutan lindung, perkebunan masyarakat, serta desa-desa adat di Kabupaten Kapuas Hulu. [3]
Keanekaragaman Hayati
Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum–Kapuas Hulu memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi.
Flora: lebih dari 5.000 spesies tumbuhan, termasuk dipterokarpa, anggrek hutan, dan tumbuhan endemik rawa gambut.
Rangkong GadingFauna: tercatat lebih dari 500 spesies burung, 300 spesies ikan air tawar, serta satwa langka seperti orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus), macan dahan (Neofelis diardi), dan rangkong gading (Rhinoplax vigil). Danau Sentarum juga merupakan habitat penting bagi ikan arwana super red (Scleropages formosus), yang bernilai ekonomi tinggi.
Fungsi dan Peran
Sebagai cagar biosfer, kawasan ini menjalankan tiga fungsi utama:
Konservasi: melindungi ekosistem hutan hujan tropis, danau musiman, rawa gambut, dan satwa endemik.
Pembangunan berkelanjutan: mendukung ekowisata, perikanan tradisional, pengelolaan madu hutan oleh masyarakat Dayak, serta agroforestri.
Dukungan logistik: pusat penelitian ekologi, perubahan iklim, dan pendidikan konservasi yang melibatkan perguruan tinggi serta lembaga internasional. [2]
Tantangan
Ancaman utama kawasan ini meliputi deforestasi akibat illegal logging, kebakaran hutan dan lahan gambut, perburuan satwa liar, serta tekanan dari ekspansi perkebunan kelapa sawit. Mitigasi dilakukan melalui penguatan kelembagaan masyarakat adat, pengembangan usaha berbasis hutan lestari, dan kolaborasi lintas batas dengan Malaysia dalam pengelolaan ekosistem Heart of Borneo. [3]
Signifikansi
Cagar Biosfer Betung Kerihun–Danau Sentarum–Kapuas Hulu memainkan peran vital dalam menjaga fungsi ekologis Kalimantan Barat, termasuk sebagai daerah tangkapan air Sungai Kapuas, sungai terpanjang di Indonesia. Selain itu, kawasan ini mencerminkan harmoni antara konservasi alam dan kearifan lokal masyarakat Dayak yang menjaga hutan melalui sistem hukum adat. [2]