Cagar Alam Pagerwunung Darupono

Cagar Alam Pagerwunung Darupono adalah salah satu Cagar Alam di wilayah Jawa Tengah yang terdapat di Kabupaten Kendal. Cagar Alam Pagerwunung Darupono memiliki koleksi tanaman pohon Jati (Tectona grandis) yang berumur puluhan tahun. Salah satu koleksi Cagar Alam ini yaitu pohon Jati terbesar dengan lingkar batang mencapai 845 cm.[1]

Secara administrasi, Cagar Alam Pagerwunung Darupono terletak di wilayah Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan cagar alam sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK. 115/Menhut-II/2004.[1]

Luas Cagar Alam Pagerwunung Darupono sekitar 33,2 Ha. Berada di daerah dataran rendah dengan ketinggian antara 150-175 meter di atas permukaan laut dan memiliki jenis tanah latosol (inceptisol). Sebagian berupa dataran dengan topografi yang datar dan sebagian lagi memiliki topografi yang bergelombang dan agak berbukit. Kawasan konservasi ini berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Fergusson tergolong dalam tipe iklim C. Rata-rata curah hujan 3.092 mm/tahun dengan suhu rata-rta 28 derajat C.[2][3]

Sejarah Cagar Alam Pagerwunung Darupuno

Menurut sejarahnya, Cagar Alam Pagerwunung Darupono merupakan hutan tanaman jati yang kemudian dibiarkan mengalami proses suksesi sendiri. Kawasan ini menjadi hutan tanaman jati sekitar tahun 1776 hingga 1820. Pada tahun 1933, pemerintah Belanda menetapkannya sebagai Cagar Alam dengan Surat Penetapan GB. No.19 Stbl 965. Keputusan ini kemudian diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK. 115/Menhut-II/2004.[1]

Potensi flora dan fauna

Potensi flora yang dimiliki oleh Cagar Alam Pagerwunung Darupono antara lain Jati (Tectona grandis), Sonokeling (Dalbergia latifolia), Bendo (Artocarpus elastica), Kelayu, Jengkol (Archidendron pauciflorum), dan Salam (Syzygium polyanthum) dan lain-lain. Pohon Jati di kawasan ini banyak yang berusia tua. Salah satunya adalah pohon Jati berusia 70 tahun yang memiliki lingkar batang mencapai 8,45 meter.[2]

Selain tumbuhan, Cagar Alam Pagerwunung Darupono, Kendal, memiliki potensi fauna yang melimpah. Beberapa hewan yang tercatat menghuni kawasan konservasi ini diantaranya adalah beberapa jenis mammalia seperti Kijang (Muntiacus muntjak), Babi Hutan (Sus scrofa), Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascicularis), hingga reptil seperti Biawak (Varanus sp). Juga berbagai jenis burung seperti Sesap Madu (Meliphagidae) dan Kutilang (Pycnonotus aurigaster).[2]

Cagar Alam atau Nature Sanctuary adalah suatu kawasan suaka alam dengan keadaan alam atau ekosistem tertentu yang memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, maupun ekosistemnya. Kawasan tersebut perlu dilindungi dan dijaga agar perkembangannya berlangsung secara alami tanpa campur tangan manusia. Cagar Alam Pagerwunung Darupono, Kendal yang seratusan tahun silam merupakan hutan tanaman jati yang kemudian dibiarkan mengalami suksesi sendiri.[4]

Upaya pelestarian

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), direncanakan bakal membangun sebuah museum kayu di lokasi perkebunan pohon jati di Cagar Alam Pagerwunung Darupono. Pembuatan museum kayu akan dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, sekaligus meningkatkan konsep pelestarian tanaman jati yang telah berusia ratusan tahun di kawasan tersebut.[5]

Referensi

  1. ^ a b c Okezone (2021-02-14). "Kisah Pohon Jati Raksasa di Hutan Darupono Kendal : Okezone News". https://news.okezone.com/. Diakses tanggal 2025-09-29.
  2. ^ a b c alamendah (2015-02-07). "Cagar Alam Pagerwunung Darupono Kendal". Alamendah's Blog. Diakses tanggal 2025-09-29.
  3. ^ Kompas, Tim Harian (2024-07-16). "Sepotong Cerita dari Balik Hutan Darupono". Kompas.id. Diakses tanggal 2025-09-29.
  4. ^ "SATWA CAGAR ALAM DARUPONO KENDAL | ANTARA Foto". antarafoto.com. Diakses tanggal 2025-09-29.
  5. ^ online, inilah (2020-06-17). "Cagar Alam Darupono Kendal Bakal Didirikan Museum Kayu". Inilah Online. Diakses tanggal 2025-09-29.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement