Busana peranakan

Peranakan
Abdi dalem bertugas menjaga gerbang di Keraton Yogyakarta mengenakan Busana Peranakan.
JenisPakaian tradisional Jawa
BahanKain katun motif lurik telupat
Tempat asalYogyakarta, Indonesia
DiperkenalkanMasa pemerintahan Hamengkubuwana V

Busana Peranakan adalah busana yang dikenakan bagi abdi dalem yang mengabdi di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.[1] Busana ini wajib dikenakan ketika memasuki kompleks inti Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan di beberapa tempat yang menjadi bagian penting dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat termasuk di Pasareyan Kutha Gedhe (pemakaman raja-raja Mataram di Kotagede) dan di Pasareyan Imagiri (pemamakan raja-raja Mataram di Imogiri) atau saat abdi dalem bertugas di luar tembok keraton.

Sebagai busana abdi dalem laki-laki, peranakan pada dasarnya ditetapkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana V atas dasar falsafah persatuan dan kesatuan yang dicita-citakan Sri Sultan Hamengkubuwana I. Harapan dari pembuatan busana ini adalah agar para abdi dalem merasakan persaudaraan yang mendalam selayaknya saudara dalam satu kandungan atau "peranakan".

Nor Kholis dalam Jurnal Multikultural dan Multireligius menjelaskan bahwa pranakan ini memiliki pengertian rahim pada wanita. Saat dipakai maka akan terlihat seperti bayi dalam kandungan ibunya. Kata ‘peranakan’ juga membuktikan bahwa semua manusia sama karna pernah berada di dalam kandungan ibu.[2]

Sejarah

Busana Peranakan ini telah ditetapkan sebagai busana resmi atau seragam bagia abdi dalem laki-laki di Keraton Yogyakarta sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Busana ini terinspirasi dari pakaian santri putri saat Sultan melakukan kunjungan ke Banten tepatnya pada pertengahan abad ke-19.[3]

Kelengkapan busana

Samir abdi dalem ketika tidak dikenakan, diselipkan di pinggang bagian kanan

Sebagai penutup kepala, abdi dalem laki-laki mengenakan udheng/dhestar/blangkon dengan gagrag atau model khas Yogyakarta. Salah satu ciri khas udheng Yogyakarta adalah keberadaan mondholan, yaitu bagian belakang sebelah bawah udheng yang menonjol karena menutup gelung rambut. Udheng dikenakan dari depan kepala ke belakang agar mampu menarik rambut dan tidak menyisakannya sehelaipun di bagian dahi atau depan wajah.

Kelengkapan selanjutnyanya adalah kain batik yang digunakan sebagai penutup badan bagian bawah, disebut nyamping, sinjang, bebed, atau jarit. Kain nyamping yang dikenakan bercorak batik gagrag Yogyakarta di luar motif larangan. Kain dibebat pada pinggang dari kanan ke kiri. Sebelum dikenakan, nyamping harus diwiron engkol terlebih dahulu, yaitu wiru (lipatan) kain yang membentuk zigzag. Arah wiron engkol ujung paling bawah harus menunjuk ke arah kiri. Selain wiron engkol ada pula wiron pengasih yang berada di bagian dalam. Tambahan wiru ini berfungsi untuk melindungi saat abdi dalem laki-laki berada di posisi jongkok atau duduk.

Kelengkapan busana selanjutnya adalah lapisan penutup pinggang yang terdiri dari tiga bagian yang dipakai secara berurutan. Yang pertama adalah setagen, yaitu kain pengikat jarik yang dililit melingkari perut, kemudian lonthong atau kain polos yang mengelilingi dan menutup setagen, dan yang terakhir kamus, sabuk dengan kepala pengait yang disebut timang.

Selain itu juga ada kelengkapan yang bersifat atribut, yaitu berupa keris dan samir. Keris baru dikenakan oleh abdi dalem dengan pangkat Bekel ke atas dengan cara diselipkan pada kain pinggang bagian belakang. Samir merupakan kain atau pita penanda yang dikalungkan di leher hingga dada. Pemakaian samir menjadi tanda bahwa abdi dalem yang bersangkutan tengah melaksanakan tugas dari Sri Sultan. Jika tidak digunakan atau telah selesai melaksanakan tugas, samir diselipkan di bagian pinggang sebelah kanan.[4]

Referensi

  1. ^ crew, kraton. "Pranakan, Busana Abdi Dalem Jaler". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-02.
  2. ^ Hanin, Rafa (2024-08-26). "Makna Filosofis di balik Busana Abdi Dalem". goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 2025-05-08.
  3. ^ Hanin, Rafa (2010-08-26). "Makna Filosofis di balik Busana Abdi Dalem". goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 2015-05-08.
  4. ^ crew, kraton. "Pranakan, Busana Abdi Dalem Jaler". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-05-08.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement